Interaksi


Interaksi dalam keseharian

Interaksi dalam keseharian

Manusia memang kerap alpa, bahkan dalam hal yang sepele sekali pun. Manusia jugalah yang kerap tak sadar telah merusak kedamaian hidupnya sendiri.

Itulah sekelumit yang didapat saat menepi selama tiga hari di Desa Sukabirus, Bogor, akhir pekan kemarin. Saat berinteraksi dengan masyarakat dan juga sesama pendatang, kerap terlihat jelas bagaimana seseorang selalu membandingkan kekurangan dirinya dengan kelebihan orang lain.

Begitu pula saat muncul sebuah masalah, sikap kekuranghati-hatian dan emosional jelas lebih mengemuka. Bahkan ada yang bereaksi dengan bersikap kasar terhadap sesuatu yang sebenarnya sangat bisa ditangani dengan lebih santun.

Juga didapati salah satu penyakit yang ada di masyarakat yang kadang malah jadi kebiasaan dan dianggap lumrah. Jadi ketika sangat memungkinkan, baiknya memang tak lagi menunda melakukannya, apalagi diketahui hal itu memang masih mudah dilakukan sendiri atau bersama-sama. Karena dengan menunda, itu berarti siap untuk ditinggalkan.

Dan salah satu hal yang paling menyedihkan adalah ketika mengetahui ada yang sangat meyakini bahwa hanya orang tidak jujur sajalah yang akan mendapat kesempatan. Keyakinan seperti inilah yang sangat merusak mental, karena akan melegitimasi apa pun yang dilakukan hanya demi mendapatkan kesempatan dan pengakuan sebagai sebuah bentuk keberhasilan dalam memanfaatkan peluang.

Dalam berinteraksi, sering juga kita terlibat dalam pembicaraan tentang kiprah dan keberhasilan seseorang. Tapi jika diperhatikan lebih jeli, selalu saja ada yang melihat keberhasilan orang lain sebagai keberuntungan dan justru menganggap kesulitan diri sendiri sebagai nasib. Tak ada sesuatu pencapaian atau keberhasilan yang diraih karena faktor kebetulan atau keberuntungan.

Jadi apa pun kondisinya, tetaplah berusaha sebaik-baiknya. Sadarilah bahwa siapa pun punya peluang dan kesempatan yang sama. Soal hasil akhirnya, apa pun yang didapat, termasuk kegagalan, semuanya adalah proses menuju keberhasilan yang tetap harus disyukuri.

Insya Allah…

Advertisements

Menyimak Bincang Hati Ibuku


Di usia senjanya yang 6 Maret lalu telah menjejak 83 tahun, kerut-kerut di wajahnya seakan menjadi catatan lelahnya perjalanan hidup yang panjang. Sepertinya tak ada satu kata pun yang sia-sia untuk didengarkan. Dan perlahan seiring lanjutnya usia, semakin menyiratkan kesabaran yang luar biasa, kesederhanaan yang terus dijaga, serta keikhlasan yang perlu ditiru.

Dalam bincang pagi ini di tangga teras rumah si bungsu di Depok (22/3/2014), banyak hal luar biasa yang terus melekat di hati dan pikiran. Sudah pasti banyak perbedaan pola pikir. Tapi berjalannya waktu membuat kita sama-sama belajar. Terus mencoba saling memahami dan menyamakan persepsi, dan menghindari ego. Subhanallah, pagi yang luar biasa walau hanya diisi bincang tak lebih dari tiga jam. Tapi itu sudah sangat luar biasa karena hati kita ikut bicara.

Subhanallah, sikap istiqomah dan kesabarannya luar biasa. Setiap kata yang meluncur selalu mendekati Sang Khalik dan menyentuh hati yang mendengarnya. Adem rasanya. Seakan tak ingin beranjak dan terus berdialog tentang apa saja yang disukainya. Tapi semua topik selalu diajak untuk dikembalikan ke hati kita. Ya, seakan kita bicara dari hati ke hati dalam arti harfiahnya. Sekuat tenaga menahan luapan air mata melihat kesejukan hatinya.

Andai waktu bisa diputar ulang, ingin rasanya mengganti beribu kesalahan, kebohongan, dan keserakahan yang pernah membelenggu dan menghijab hati. Ingin rasa isi hati tercurah sepenuhnya buat ibu tersayang.

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo. Aamiin yaa robbal alamiin.

“Kopi-kopi malam”


kepada penikmatmu

kepada penikmatmu

Berpadunya aroma liong dan temaram rembulan mengantarkan syair ini ke peraduan
Nikmatnya hidup tak lepas dari berkarib
Ibarat kopi pahit yang tetap terasa nikmat di kesendirian
Sepikah di sana?

Satu seruput lagi
Kau tebar buliran untuk sedikit dikunyah
Matang dan beraroma
Aku suka menahannya di antara gemeretak gigi
Sayangnya tak bisa lama
Karena sejenak aku ingin mencicipi pastel hangat

Bocah lucu itu selalu kembali dengan senyum
Bahagia rasanya masih bisa menikmati senyumnya walau sudah terlelap
Seusianya mengingatkan kepada sang putri
Yang selalu kupandang tanpa jenuh

Kopi pahit itu masih tersisa setengah cangkir
Banyak yang bilang panas lebih nikmat
Tapi pahitnya lebih terasa saat tak panas lagi
Seperti juga hujan deras sore tadi
Agak mengerikan dengan gelegar dan angin kencangnya
Moga di sana tak banjir, gumamku

Sedikit menyeruput sekadar membasahi lidah
Tanya karib yang kena serempet adab
Menuang kembali air putih ke dalam gelas di samping cangkir kopi
Karib pun berbisik lirih karena ada sedikit perih
Kudiamkan saja dan membuka daun pintu selebarnya
Semilir angin mengiringi reda hujan
Oh, masih sejuk terasa

Menjelang malam, ada riba terdengar syahdu
Mengalun dan mendera hati
Kucoba menyeruput lagi
Juga sedikit kukunyah
Alamak, semua sudah diatur dengan perannya
Dan tak mungkin ada yang mendustai
Tidak juga kau

Kucoba sentuh bibirmu
Mengatupkannya perlahan
Tapi lakonmu tak sampai di balik panggung
Dan tak cukup hanya dengan berbisik
Karena kau bukan pasir pantai yang selalu dibelai debur ombak
Kau seperti tukik
Yang harus kembali ke habitat alammu dan melepaskan diri dari pekik hati yang jujur

Hmmm, seruput kali ini mengajak ampasnya lebih banyak lagi
Agak tersedak, lelah
Tanganku sempat menyentuh kuping cangkir
Pecah, tapi tak mengejutkanku
Aku hanya tersenyum dan mulai membersihkannya
Terima kasih kopi nikmat
Moga masih bisa kunikmati di lain waktu dengan lakon berbeda

Mungkin dalam nyenyak dini hari nanti akan kupeluk guling agar cangkir kopi berikutnya tetap terasa nikmat dengan ampasnya

Cagar Alam, 5 Februari 2014

Ilalang


Ilalang

Ilalang

Ketika rasa cinta itu hadir
Selalu menunggu secuil kisah apa pun isinya
Mencederai kasih yang dirajut
Meremukkan dada yang rapuh

Andai kau tahu perbedaan itu
Kau yang sempurna dan aku yang lemah
Menjadi lukisan yang tak ternilai
Lukisan hidup penuh warna
Gelap dan terang

Garis itu kita ciptakan untuk kesempurnaan
Ibarat indahnya ilalang yang selalu bercengkerama dengan tiupan angin
Semakin tinggi semakin menutupi keangkuhan jiwa
Memberi luka dari duri halus yang menggerus

Tapi ilalang tak pernah dibiarkan semakin meninggi
Ilalang harus siap ditebas ketidakramahan dan atas nama kebaikan semu dan keadilan

Topeng-topeng tak pernah lahir sendiri
Tapi diciptakan oleh sang empu
Topeng yang penuh lakon
Dan tak ada yang berani bilang sebuah topeng itu ciptaan Sang Ilahi

Cagar Alam, 2-4 Februari 2014

Kokohnya Sebuah Bangunan


Sebuah bangunan biasanya dibuat seindah dan sekokoh mungkin untuk jangka panjang dengan banyak manfaat. Begitu pula dengan silaturahim yang pada awalnya tentu diniatkan dengan baik-baik.

Dari Abu Musa r.a. berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain itu adalah sebagai bangunan yang sebagiannya mengokohkan kepada bagian yang lainnya,” dan beliau SAW menjalinkan antara jari-jarinya -perumpamaan karena saking dekatnya hubungan setiap mukmin, bagai jari yang satu dengan jari lainnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Berkaitan dengan hadits tersebut, Imam Al-Qurthubi berkata, “Apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW itu adalah sebagai suatu tamsil perumpamaan yang isi kandungannya adalah menganjurkan dengan sekeras-kerasnya agar seorang mukmin itu selalu memberikan pertolongan kepada sesama mukmin lainnya, baik pertolongan apapun sifatnya (asal bukan yang ditujukan untuk sesuatu kemungkaran)”.

Ini adalah suatu perintah yang dikokohkan yang tidak boleh tidak, pasti kita laksanakan. Perumpamaan yang dimaksudkan itu adalah sebagai suatu bangunan yang tidak mungkin sempurna dan tidak akan berhasil dapat dimanfaatkan atau digunakan, melainkan wajiblah yang sebagian dari bangunan itu saling mengokohkan dan erat-erat saling memegang dengan bagian yang lain. Jikalau tidak demikian, maka bagian-bagian dari bangunan itu pasti berantakan sendiri-sendiri dan musnahlah apa yang dengan susah payah didirikan.

Begitulah semestinya kaum muslimin dan mukminin antara satu dengan yang lainnya, antara kelompok satu dengan kelompok lainnya, antara satu bangsa dengan bangsa yang lain. Masing-masing tidak dapat berdiri sendiri, baik dalam urusan keduniaan, keagamaan, dan keakhiratan, melainkan dengan saling menolong, saling bantu, serta saling mengokohkan.

Ketika hal-hal tersebut tidak dilaksanakan dengan baik, maka jangan harap akan muncul keunggulan dan kemenangan, bahkan sebaliknya akan terjadi kelemahan seluruh umat Islam, tidak dapat mencapai kemaslahatan yang paling sempurna, tidak kuasa pula melawan musuh-musuhnya, ataupun menolak bahaya apapun yang menimpa tubuh kaum muslimin secara keseluruhan.

Semua itu mengakibatkan tidak sempurnanya ketertiban dalam urusan kehidupan duniawi, juga urusan diniyah (keagamaan) dan ukhrawiyah. Dan yang pasti akan ditemui adalah kemusnahan, malapetaka yang bertubi-tubi, serta bencana yang tiada habis-habisnya.

Subhanallah…

Sebuah Dialog


Sejak pagi tadi sudah buat beberapa draft. Tapi anehnya semua batal di-posting. Lho, kenapa?

Entah kenapa setiap kali selesai dan diperiksa kembali, sepertinya tak pantas di-posting untuk umum. Ada rasa tanggung jawab ketika berpikir ulang pantas atau tidaknya di-posting. Artinya di situ ada rasa untuk menahan diri. Ya, boleh jadi tulisan tersebut terbilang agak keras dan yang membacanya bisa salah persepsi.

Justru karena kesadaran untuk membatalkannya itulah yang membuat hari ini harus merenungkannya kembali. Lumayan lugas. Lumayan tegas. Cukup bernas. Dan yang terpenting adalah tak menggurui, karena sasarannya adalah orang dewasa yang selama ini mengaku paham tentang topik yang diangkat.

Tapi ada satu hal penting lagi bahwa berdasarkan beberapa tulisan sebelumnya yang sudah di-posting, ternyata masing-masing menanggapinya sebagai bentuk apresiasi yang positif. Padahal justru isi posting-an itu untuk menjewer telinga kita semua. Aneh ya?

Tapi takkan jadi aneh jika memahami siapa saja penanggapnya. Penanggap yang pasti merasa lebih pintar dan selalu cepat mengerti. Penanggap yang merasa tulisan tersebut menjadi bentuk keperpihakan. Penanggap yang mencoba mengganggu independensi. Penanggap yang tak mengerti di mana posisi dirinya berada. Bahkan penanggap yang siap langsung menghakimi, bahkan membunuh karakter siapa pun yang tak sepaham. Luar biasa bukan?

Tapi asyik sekali jika merunut prosesnya. Beberapa tulisan yang belum di-posting itu langsung dihapus tanpa disimpan di folder draft. Jadi butuh keberanian dan keikhlasan untuk memutuskan tidak di-posting dan dihapus. Butuh telaah dan kajian yang cukup matang untuk menyikapinya. Dan alhamdulillah, keputusan itu memang ada hikmah yang luar biasa. Ya, kemampuan untuk menahan gejolak, risau hati, dan tentu saja gemas dengan kondisi yang melingkupi setiap hari, serta berujung pada dialog penuh kejujuran dengan hati.

Insya Allah, langkah selanjutnya akan menjadi lebih baik, setidaknya untuk diri sendiri.

He’s gone ‘n dry cleaning

Image


Sekali saja ternyata tak cukup
He’s gone dry cleaning
Sang pengganti pun kembali menantang
Pasang mimik jijik sambil menjilat-jilat
Terbayang kisah putri Rasulallah SAW, si bungsu kesayangan, Siti Fatimah Azzahra as.
Keteladanannya makin langka
Ketaatan dan kesetiaannya jadi impian

Utha pun memandang wajah-wajah dengan gemas Utha juga bertanya mengapa air mata selalu ada di pipi
Tapi Utha hanya mampu mengajakmu membiarkan bumi berputar menurut kehendakNYA

Januari pun sempat membuat siapa pun melayang
Hingga terbawa asap nirwana
Hm, semua memang tak pasti…

ca24214

Telanjang


Hidup itu indah saat dikelilingi senyum yang polos
Senyum yang telanjang
Bahkan lebih indah saat menderit diterpa angin kencang
Sayangnya masih ada yang terbawa ranting yang rapuh
Ramahnya tangan-tangan sang peri kini makin menjauh
Menyibak balutan selimut yang tersangkut di belukar
Memperlihatkan sisi hati yang telanjang
Hati yang kini kadang mendua
Di antara balutan selimut dan angin kencang yang membuatnya melayang


ca21214

Senyum Anakku


Nikmatnya berandai-andai…
Membuai
Melenakan
Andai tak menjemput
Andai tak menanjak
Andai tak terpeleset
Andai memiliki tangan yang kuat
Andai tak ada bunyi telepon
Andai tak ramai gonjang-ganjing

Senandung petang pasti tetap melantun
Senyum anakku juga pasti tersungging

ca 200214

MALU KEPADA HATI


Aku malu

Jika hanya terlihat hitam tanpa ragu

Hanya terbesit pahit yang membisu

Seburuk apa pun, kita tetaplah manusia sebagai mahluk paling berbudi dan berakal

Usia tak tertahan makin dekat dengan kematian

Tapi lisan dan perilaku makin menjauh dari hati dan makin terjal

Makin tajam dan kelabu tak seperti sempurnanya keperempuanan dan kelelakian

Menepilah barang sejenak

Menghirup nafas anugerahNYA

Merasakan nikmat yang tak bisa disekutukan

Untuk makin mendekat menyebut namaNYA

MALU KEPADA HATI

@Curug Nangka, Bogor

16 Feb ’14