Hari Terakhir


Kemarin tetaplah sebagai kemarin
kubiarkan darahku mengental
mengalir lambat
menikmati merdunya rintihan
adakah yang menatapku?

Sampai jelang senja yang masih terik
aku hanya membaca dan menikmatinya
aku hanya diam
tetap membaca

sampai akhirnya kulangkahkan kaki menuju timur
mengantarkan ruang maya yang kau minta
dan kutinggalkan kedigdayaanmu sambil tertatih dan melayang
pelan dan semakin menderu
lengang dan menggeram

ah, ternyata ini memang jadi hari terakhir
melihat kotak obat bening yang tak ada lagi sisa dosis untuk nadiku

juga ruang mayaku telah berhenti berdenyut
bertanya apa ini jadi hari terakhir juga untuknya

cagar alam, 30 juni 2014

Advertisements

“Kopi-kopi malam”


kepada penikmatmu

kepada penikmatmu

Berpadunya aroma liong dan temaram rembulan mengantarkan syair ini ke peraduan
Nikmatnya hidup tak lepas dari berkarib
Ibarat kopi pahit yang tetap terasa nikmat di kesendirian
Sepikah di sana?

Satu seruput lagi
Kau tebar buliran untuk sedikit dikunyah
Matang dan beraroma
Aku suka menahannya di antara gemeretak gigi
Sayangnya tak bisa lama
Karena sejenak aku ingin mencicipi pastel hangat

Bocah lucu itu selalu kembali dengan senyum
Bahagia rasanya masih bisa menikmati senyumnya walau sudah terlelap
Seusianya mengingatkan kepada sang putri
Yang selalu kupandang tanpa jenuh

Kopi pahit itu masih tersisa setengah cangkir
Banyak yang bilang panas lebih nikmat
Tapi pahitnya lebih terasa saat tak panas lagi
Seperti juga hujan deras sore tadi
Agak mengerikan dengan gelegar dan angin kencangnya
Moga di sana tak banjir, gumamku

Sedikit menyeruput sekadar membasahi lidah
Tanya karib yang kena serempet adab
Menuang kembali air putih ke dalam gelas di samping cangkir kopi
Karib pun berbisik lirih karena ada sedikit perih
Kudiamkan saja dan membuka daun pintu selebarnya
Semilir angin mengiringi reda hujan
Oh, masih sejuk terasa

Menjelang malam, ada riba terdengar syahdu
Mengalun dan mendera hati
Kucoba menyeruput lagi
Juga sedikit kukunyah
Alamak, semua sudah diatur dengan perannya
Dan tak mungkin ada yang mendustai
Tidak juga kau

Kucoba sentuh bibirmu
Mengatupkannya perlahan
Tapi lakonmu tak sampai di balik panggung
Dan tak cukup hanya dengan berbisik
Karena kau bukan pasir pantai yang selalu dibelai debur ombak
Kau seperti tukik
Yang harus kembali ke habitat alammu dan melepaskan diri dari pekik hati yang jujur

Hmmm, seruput kali ini mengajak ampasnya lebih banyak lagi
Agak tersedak, lelah
Tanganku sempat menyentuh kuping cangkir
Pecah, tapi tak mengejutkanku
Aku hanya tersenyum dan mulai membersihkannya
Terima kasih kopi nikmat
Moga masih bisa kunikmati di lain waktu dengan lakon berbeda

Mungkin dalam nyenyak dini hari nanti akan kupeluk guling agar cangkir kopi berikutnya tetap terasa nikmat dengan ampasnya

Cagar Alam, 5 Februari 2014

Ilalang


Ilalang

Ilalang

Ketika rasa cinta itu hadir
Selalu menunggu secuil kisah apa pun isinya
Mencederai kasih yang dirajut
Meremukkan dada yang rapuh

Andai kau tahu perbedaan itu
Kau yang sempurna dan aku yang lemah
Menjadi lukisan yang tak ternilai
Lukisan hidup penuh warna
Gelap dan terang

Garis itu kita ciptakan untuk kesempurnaan
Ibarat indahnya ilalang yang selalu bercengkerama dengan tiupan angin
Semakin tinggi semakin menutupi keangkuhan jiwa
Memberi luka dari duri halus yang menggerus

Tapi ilalang tak pernah dibiarkan semakin meninggi
Ilalang harus siap ditebas ketidakramahan dan atas nama kebaikan semu dan keadilan

Topeng-topeng tak pernah lahir sendiri
Tapi diciptakan oleh sang empu
Topeng yang penuh lakon
Dan tak ada yang berani bilang sebuah topeng itu ciptaan Sang Ilahi

Cagar Alam, 2-4 Februari 2014

Telanjang


Hidup itu indah saat dikelilingi senyum yang polos
Senyum yang telanjang
Bahkan lebih indah saat menderit diterpa angin kencang
Sayangnya masih ada yang terbawa ranting yang rapuh
Ramahnya tangan-tangan sang peri kini makin menjauh
Menyibak balutan selimut yang tersangkut di belukar
Memperlihatkan sisi hati yang telanjang
Hati yang kini kadang mendua
Di antara balutan selimut dan angin kencang yang membuatnya melayang


ca21214

Sujud


sayup rintik hujan menepi bak sahabat
tepat usai alunan kalam ilahi
memberi rasa yang sempat hilang
meluruhkan cadasnya ketegaran manusia
dengan getar bibir menahan nikmatMU
atas lumur khilafku yang terus mendera

sujudku hanya untukMU

ca 195

menulis di atas air


hanya bisa meraba…
hanya bisa mengharap…
hanya ingin…
karena aku masih buta…
dan hanya bisa menulis dengan jari di atas air…

cagar alam, 22 april 2011

makna seorang sahabat



Kala diamku sebagai diam sahabat…
Hanya Dia yang tahu…
Apalah aku…
Langkah pun tersendat…
Indahnya memaknai dirimu…
Layaknya kekasih pertama…
Andai kutahu…

Diammu hanya Dia yang tahu…
Entah kenapa jendela itu masih tertutup…
Episode ini memang baru dimulai…

Sayapmu sudah mengepak…
Di altar itu kau menguak hati…
Pena milikmu pun menari lagi…

cagar alam, 21 April 2011

pikiran jalang


Ketika kau nyatakan cinta kepadanya, aku tak kuasa menghapus kata hati…
Ketika kau berani berpaling, aku tetap menatapmu…
Ketika kau tertidur, aku hanya bisa terpekur…
Meretasi pikiran jalang manusia yang tak sempurna…

cagar alam, 4 feb 2011

nasibmu



Baru dan buluk…
Coba bertahan dan setia mendekap panas, ciprat, dan debu…
Ditekuk, dan teronggok ditemani bau khas kaos kaki…
Siap jadi etalase sang empunya…
Nasibmu, sepatu blue jeansku…

cagar alam, 6 feb 2011