He’s gone ‘n dry cleaning

Image


Sekali saja ternyata tak cukup
He’s gone dry cleaning
Sang pengganti pun kembali menantang
Pasang mimik jijik sambil menjilat-jilat
Terbayang kisah putri Rasulallah SAW, si bungsu kesayangan, Siti Fatimah Azzahra as.
Keteladanannya makin langka
Ketaatan dan kesetiaannya jadi impian

Utha pun memandang wajah-wajah dengan gemas Utha juga bertanya mengapa air mata selalu ada di pipi
Tapi Utha hanya mampu mengajakmu membiarkan bumi berputar menurut kehendakNYA

Januari pun sempat membuat siapa pun melayang
Hingga terbawa asap nirwana
Hm, semua memang tak pasti…

ca24214

Advertisements

Harlistas: Petualangan, Persahabatan, dan Impian Amerika


Alfredo de Villa director of Harlistas An American Journey1Ya, para Harlistas akan membawa kita ke dunia riding Harley bikers Amerika Latin dan memberi kita pandangan mendalam pada cerita-cerita mereka dan mengapa mereka riding dengan Harley.

Satu lagi film dokumenter tentang Harley Davidson dibuat dengan nafas yang berbeda. Rohnya masih tetap sama, yaitu Harley Davidson sebagai salah satu ikon Amerika. Digarap oleh sutradara Alfredo de Villa, film “Harlistas: An American Journey” mencoba mengangkat kisah-kisah perjalanan yang sangat menyentuh dan melintasi batas gaya hidup dan adat istiadat rider Harley Davidson dari negara Amerika Latin.

harlistas posterMenikmati film ini boleh jadi memberikan pencerahan tentang budaya tertentu dan juga gaya hidupnya. Namun ada hal yang lebih penting, yaitu sebuah pesan universal yang ingin didapatkan setiap penikmatnya. Film ini dirasa cukup untuk menggambarkan suatu perayaan kehidupan dengan berupaya mengeksplorasi nilai-nilai kebersamaan yang  tidak hanya dapat memperkuat ikatan kekeluargaan, tetapi juga bagaimana nilai-nilai kebersamaan itu dapat membangkitkan semangat yang sempat patah.

Harlista adalah sebutan bagi pengendara Harley-Davidson asal Amerika Latin.  Lewat “Harlistas: An American Journey,” sutradara Alfredo de Villa yang pernah mengarap “Nothing Like the Holidays” ini ingin menceritakan empat kisah perjalanan Harlistas yang mencari petualangan, persahabatan, dan juga upaya mereka meraih impian Amerika.

Rod n BrothersDimulai dari Danny Huerta, teknisi Harley-Davidson dari Baldwin Park, California, yang mencoba untuk berhubungan kembali dengan ayahnya yang telah meninggal dengan menciptakan perjalanan mereka berbagi bersama sebelum kematiannya. Sementara itu, Pat Rodriguez dan tiga saudaranya, Jay, Ernie, dan Vito dari Queens, New York, juga berkendara Harley-Davidson untuk menghormati ayah mereka serta kakak mereka yang tewas dalam pemboman World Trade Center tahun 1993. Lalu ada Carlos “Shorty” Tenorio,  pria yang sebelum berimigrasi ke Chicago, Illinois, ikut menjadi saksi dalam Revolusi Nikaragua, ingin memperkuat ikatan dengan anaknya, Shorty Junior, dengan melakukan perjalanan menuju pantai Oregon. Demikian pula dengan Lonnie Gallegos, pemilik outlet modifikasi di Los Angeles, California, yang mencoba menyiratkan jejaknya kepada anaknya, Jerry Ramirez.

harlistas1Dalam film ini, de Villa telah melakukan pekerjaan yang besar dengan memadukan empat kisah perjalanan secara bersama-sama dan mengangkatnya menjadi ide yang luar biasa yang jauh lebih besar tentang bagaimana hobi bisa menjadi cara hidup, atau lebih tepat menggambarkannya secara lebih personal. Salah satu hal yang menarik dalam “Harlistas: An American Journey” ini adalah cara penggambaran personal yang oleh de Villa dibuat sedemikian rupa dan begitu natural.

Harus diakui, de Villa membuat “Harlistas: An American Journey” berbicara begitu banyak lebih dari sekedar kehidupan Harlistas. Tapi juga meneliti topik dengan akurasi yang menyeluruh, memberikan gambaran yang jelas bagi penontonnya tentang kehidupan yang unik bahwa orang-orang dari budaya yang memiliki tujuannya masing-masing.

04Mungkin sebagian penikmat film ini banyak yang berharap akan melihat sejumlah peristiwa besar yang cenderung mendefinisikan gaya hidup pengendara Harley-Davidson seperti perjalanan yang dilakukan Rod bersaudara ke Sturgis, South Dakota, walau pada kenyataannya hanya sedikit yang dilihat dari apa yang terjadi di sana. Sementara pandangan menakjubkan tak boleh dilewatkan saat Danny mengunjungi banyak hotspot di kawasan Arizona, termasuk keindahan Grand Canyon yang mempesona. Jangan pula berharap akan ada produk-produk komersial Amerika yang biasa menjadi slogan dalam sebuah film yang berkaitan dengan ikon Harley-Davidson. Produk-produk seperti rokok Marlboro, KFC, Coke, dan Budweiser tak lagi muncul dan mendominasi. Gantinya, adalah semua hal yang benar-benar meliputi semua tradisi Amerika dan perasaan, yaitu Harley Davidson. Sepeda motor ikon Amerika yang mengatakan kepada dunia, “Yeah, aku adalah seorang pria dan aku orang Amerika!”

01Ya, pada akhirnya semua itu benar-benar tidak peduli, termasuk jika Anda adalah seorang Amerika sekalipun. Namun, ketika Anda riding dengan Harley-Davidson untuk satu alasan dan satu-satunya alasan, adalah untuk melarikan diri dari kenyataan dan kehilangan diri Anda di jalan terbuka. Ya, para Harlistas akan membawa kita ke dunia riding Harley bikers Amerika Latin dan memberi kita pandangan mendalam pada cerita-cerita mereka dan mengapa mereka riding dengan Harley.

Rangkaian empat kisah perjalanan Harlistas diwarnai dengan penuh hasrat dan emosional yang sangat berakar. Penonton akan  dibawa untuk ikut menyelami alasan riding para Harlistas, terutama untuk persaudaraan, kekeluargaan, dan rasa komunitas yang tinggi. Film dokumenter ini boleh jadi hanya akan menarik bagi mereka memang menyukai kehidupan sebagai rider atau fans berat Harley. Jika Anda tidak termasuk salah satu kategori tersebut, maka Anda kemungkinan besar sulit menemukan benang merahnya, bahkan mungkin akan merasa agak membosankan. Namun di sana ada pria-pria sejati yang memiliki gairah besar untuk Harley mereka dan biasanya tidak akan mudah membiarkan apa pun yang menghalanginya.

Sebagai a tribute to the Harley-Davidson, “Harlistas: An American Journey” merupakan film dokumenter produksi tahun 2011 dan diproduseri langsung oleh Harley-Davidson Motor Company.02

Kiprah Harley di Layar Lebar, Identik sebagai Ikon Amerika


Faktanya, Harley-Davidson telah menjelma menjadi bintang layar lebar lebih dari setengah abad.

———————–

Harley logoDengan usia yang sudah menginjak 110 tahun, Harley-Davidson Motor Company telah memproduksi produksi dan dan menjual jutaan unitnya di seluruh dunia. Sebagai salah satu ikon Amerika, Harley memang selalu menjadi sepeda motor yang menarik perhatian, tak terkecuali perannya dalam film layar lebar. Di antara ratusan film tersebut, beberapa di antaranya adalah “Ghost Rider” (Nicholas Cage, 2007), sekuel James Bond “Live and let Die” (Roger Moore, 1973) yang menghadirkan Harley-Davidson Aermacchi 350 SS, komedi “Pee-Wee’s Big Adventure” (1985) dengan Harley Super Glide 1974, komedi “Every Which Way But Loose” (Clint Eastwood, 1978) dan tampilnya beberapa varian Harley seperti Sportster, Panhead, dan Electra Glide. Film lainnya adalah “Wild Hogs” (John Travolta, 2007), komedi musical dan horror  “The Rocky Horror Picture Show” (Tim Curry, 1975) dengan Harley WLA, “In the Line of Fire” (Clint Eastwood, 1993) dengan Harley FLHTP Electra Glide, “Robocop 2” (Peter Weller, 1990) dengan Harley FXSTC Softail Custom, dan “Rocky III” (Sylvester Stallone, 1982) dengan Harley FLH Electra Glide 1978.

Ya, faktanya Harley-Davidson telah menjelma menjadi bintang layar lebar lebih dari setengah abad. Tak hanya puluhan, bahkan ratusan film dan juga tayangan televisi, menjadikan Harley-Davidson semakin identik sebagai ikon Amerika. Berbagai genre film pun mampu memadukan berbagai karakter Harley-Davidson dengan plot cerita yang banyak disukai penontonnya.  Film-film Hollywood, bagaimana pun juga memiliki peran dalam perjalanan Harley-Davidson, setidaknya lebih dari setengah abad terakhir. Ya, industri film Hollywood telah melemparkan standar industri Amerika, termasuk ketika Harley-Davidson Motor Company nyaris bangkrut. Dari situ pulalah nama Harley ikut bangkit dan membangun dirinya sebagai salah satu legenda ikon Amerika.

Sementara dari sisi komersial Harley Davidson sempat dalam kondisi kesulitan, di sisi lain penggambaran dalam film terus berkembang. Puncaknya bisa dilihat dari dirilisnya “Easy Rider” pada tahun 1969. Dengan mengambil peran menjadi bagian sebagai alat transportasi dalam modus favorit anak-anak nakal, membuat sosok Harley Davidson Chopper semakin dikenal memiliki kemampuan jelajah di jalan raya terbuka, termasuk menjadi lambang kebebasan dan pemberontakan. Mungkin inilah bagian dari dikotomi emosi, begitu melekat dan fundamental bagi sejarah Amerika dan “impian Amerika” yang telah menjadi tulang punggung dari performa dan daya tahan Harley.

easy rider posterEasy Rider

Film Harley-Davidson “Easy Rider” banyak disebut sebagai film paling klasik sepanjang masa yang dirilis pada tahun 1969. Dengan bintang utama seperti Peter Fonda, Jack Nicholson, dan Dennis Hopper, membuat “Easy Rider” yang menggunakan Harley-Davidson 1951 Panhead chopper, menjadi tren pengikut gaya hidup biker dan membuat popularitas sepeda motor besar meningkat secara signifikan. Sebuah penampilan cameo oleh Easy Rider, Henry Fonda, bahkan dimasukkan dalam film. Sayangnya, banyak kritikus menyoroti film tentang sepeda motor ini, dan sayangnya model dari Harley-Davidson yang digunakan tidak disebutkan sama sekali.

 

HarleyDavidson and The Marlboro ManHarleyDavidsonandtheMarlboroMan-PosterArt

Pada tahun 1991, film layar lebar Harley-Davidson and The Marlboro Man dirilis dengan bintang Mickey Rourke dan Don Johnson. Dalam film ini, Rourke digambarkan sangat akrab dengan Harley 1989 Harley Davidson 1200 XL Softtail Custom FXR. Belakangan diketahui kalau ada beberapa bagian seperti tangki yang memang dimodifikasi sendiri oleh Rourke. Dengan FXR custom-nya, Rourke mengendarainya melintasi gurun yang menggambarkan karakter yang kesepian, menemani karakter lain seperti Virginia Slims dan Jack Daniels.

 

wild-hogs posterWild Hogs

Sebagai ikon Amerika, Harley Davidson juga menjadi peran utama dalam film komedi ‘Wild Hogs’. Salah satunya adalah Harley-Davidson FLSTFSE Fat Boy. Wild Hogs sendiri merupakan sebuah julukan bagi kelompok pengendara di tahun 1970-an ini  yang dibintangi John Travolta, William H. Macy, Tim Allen, Martin Lawrence, and Marisa Tomei. Masalah demi masalah yang menimpa mereka selama perjalanan tak lepas dari karakter peran masing-masing.  Film ini mencoba mengangkat kisah empat pria paruh baya yang sangat ingin menjalani kehidupan biker untuk menghindari masalah yang selama ini membelit higup mereka. Bahkan mereka sendiri sebenarnya menyadari betapa mereka tidak berpengalaman dalam hal menjadi biker dan juga kehidupan biker. Cukup manusiawi dan menggambarkan bagaimana perseteruan yang berujung pada jalinan persahabatan. Dalam “Wild Hogs”, beragam tipe Harley-Davidson ikut tampil dan umumnya sudah dimodifikasi bergaya chopper.

 

the wild one posterThe Wild One

Dalam beberapa film tentang Perang Dunia II bisa dilihat sekilas sosok Harley-Davidson. Saat itu Harley-Davidson menjadi salah satu alat transportasi serbaguna yang diberikan kepada tentara selama dua Perang Dunia, sampai perannya diambil alih Jeep sebagai kendaraan serbaguna utama pada tahun 1942. Namun Harley-Davidson kembali berkibar pada tahun 1953 ketika Marlon Brando dan Lee Marvin terlibat dalam film “The Wild One”. Film ini yang menceritakan kisah genk motor pemberontak Jonny Strabler (Brando) yang bersaing dengan Beetles, plesetan dari The Beatles, genk-nya Lee Marvin yang riding dengan Harley Hydra Glide-nya.

 

Terminator 2 - Judgment DayTerminator 2: Judgment Day

Selanjutnya, siapa yang bisa melupakan film “Terminator 2: Judgment Day” yang dibintangi Arnold Schwarzenegger pada tahun 1991? Terminator 2 boleh jadi makin populer berkat gambaran sosok Arnie yang mengenakan jaket kulit dan gelap Ray-Ban, mengendarai motor besar yang membenak. Harley-Davidson Softail Fat Boy yang digunakan Arnie kini menjadi penghuni museum dan ditampilkan sebagai kolektor item. Dalam aksinya, adegan khas saat sang Terminator T-800 menunggangi Softail Fat Boy, menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya, termasuk dalam adegan aksi penyelamatan T-800 atas John dari amukan T-1000 dengan truknya.

 

X-Men 3 - The Last StandX-Men 3: The Last Stand

Memasuki tahun 2006, sekuel ketiga dari X-Men, “X-Men 3: The Last Stand”, juga tak ketinggalan menonjolkan Harley-Davidson. Karakter Cyclops yang diperankan oleh James Marsden terlihat riding ke danau dengan Harley-Davidson V-Rod. V-Rod sendiri dikenal sebagai salah satu varian Harley yang paling kuat dan merupakan salah satu dari beberapa model pertama yang dilengkapi dengan mesin revolusioner.

 

ghost-rider-evil-fireGhost Rider

Sementara Marvel Comics yang merilis film Ghost Rider dan dibintangi Nicholas Cage pada tahun 2007, juga menampilkan Harley-Davidson. Plot ceritanya berpusat tentang kehidupan Blaze Johnny, seorang pengendara akrobat yang takut sesuatu hal akan menimpanya, termasuk kehadiran setan. Dalam Ghost Rider, Blaze Johnny riding menggunakan chopper replika Harley 1960-1970 dengan mesin Panhead. Namun penampilan Harley dalam film ini sudah mendapat sentuhan digital untuk efek yang dibutuhkan.

In The Line Of Fire: Antara Cinta, Reputasi, dan Harga Diri


Tapi Horrigan juga punya semangat membara, termasuk ketika dirinya mengakui memiliki kekasih cantik yang jauh lebih muda.

Di sebuah tangga dengan latar belakang salah satu gedung di Washington DC, Agen Frank Horrigan sedang bercengkerama dengan mitranya, Lilly Raines. Mereka berbincang sambil menghadap ke White House. Selang beberapa saat kemudian, Raines beranjak meninggalkan Horrigan sendirian. Entah apa yang ada di pikiran Horrigan saat menggumam bahwa jika saja Raines sempat menegok ke arahnya, berarti Raines memang menyukainya. Dan, yup, Raines yang cantik itu pun menoleh.

In the Line of Fire merupakan film yang di-release medio 1993. Sutradara Wofgang Petersen awalnya sempat menawarkan kepada Robert De Niro untuk berperan sebagai seorang pembunuh (Mitch Leary), sekaligus menjadi lawan main Clint Eastwood yang memerankan Agen Frank Horrigan. Peran Mitch Leary akhirnya dimainkan oleh John Malkovich.

Skenario film yang ditulis Jeff Maguire mencoba mengangkat tentang kekecewaan yang mendalam sekaligus obsesi seorang mantan agen CIA yang berupaya menyelamatkan Presiden Amerika Serikat serta agen Secret Service yang terus melacak dirinya. Di sinilah mencuat kekuatan karakter Agen Frank Horrigan yang dihantui kegagalan saat ikut mengamankan Presiden John F. Kennedy di Dallas, Texas, pada tahun 1963. In the Line of Fire juga menghadirkan bintang cantik Rene Russo, Dylan McDermott, Gary Cole, John Mahoney, dan Fred Dalton Thompson.

Frank Horrigan sendiri sebagian hidupnya memang terus dihantui kegagalan. Apalagi dirinya menjadi satu-satunya yang tersisa dari tragedi 1963. Walau begitu, Horrigan masih punya asa untuk menebus kegagalannya walau di usianya yang sudah tak muda lagi. Sementara secara perlahan Horrigan juga dililit bunga asmara dengan salah satu Agen Secret Service, Lilly Raines (Rene Russo), yang tak hanya cantik, tapi juga jauh lebih muda.

Dalam menjalankan tugasnya, Frank Horrigan bermitra dengan Al D’Andrea (Dylan McDermott). Rintangan demi rintangan terus menghadang langkah Horrigan. Mulai dari Bill Watts (Gary Cole) yang iri dengan reputasi Horrigan hingga Kepala Staf Gedung Putih Harry Sargent (Fred Dalton Thompson) yang tidak mempercayai Horrigan. Sementara di sisi lainnya, ada Mitch Leary (John Malkovich), seorang psikopat cerdas yang tengah menyusun rencana matang untuk membunuh Presiden (Jim Curley).

Mungkin tak pernah terbayangkan jika sosok Clint Eastwood yang dikenal berkarakter kuat harus menangis. Tapi itulah sisi kemanusiaan yang juga ikut mewarnai film ini. Sebagai Agen Dinas Rahasia, Horrigan mulai terlihat menua di usianya menjelang pensiun dan tak bisa menutupi ketidakmampuannya di masa lalu dan terus dipermalukan. Tapi Horrigan juga punya semangat membara, termasuk ketika dirinya mengakui memiliki kekasih cantik yang jauh lebih muda.

Saat psikopat Mitch “Booth” Leary memberikan sinyal ancaman pembunuhan presiden, rupanya hanya Horrigan yang menanggapinya dengan serius. Bisa jadi hal itu disebabkan kisah masa lalunya, instingnya sebagai agen, serta obsesinya untuk menebus kesalahan. Permainan adu otak pun berkembang dan tentu saja semakin menegangkan. Ibarat permusuhan antara kucing dan tikus yang selalu diwarnai intrik yang masing-masing sebenarnya sudah saling mengetahui dan mengenal karakter lawannya. Selain untuk menebus kesalahannya di masa lalu, Horrigan juga menyikapinya sebagai peluang untuk membebaskan dirinya dari keterpurukan. Kehidupannya belakangan lebih diwarnai oleh kecanduannya terhadap alkohol. Horrigan juga selalu dihantui oleh perasaannya yang selalu mengasihani diri sendiri.

Sebagai mitra Horrigan, Agen Al D’Andrea juga punya masalah sendiri. Al D’Andrea merasa tak sanggup lagi menjadi Agen Secret Service dan berniat mengundurkan diri. Namun Horrigan tetap melecutya dan bersama agen Lilly Raines yang cantik, mereka berupaya mengalihkan perhatian sang psikopat untuk bertarung dengan cerdas. Pancingan Horrigan memang mampu mengusik Leary, apalagi Leary berhasil membunuh Al D’Andrea. Pada akhirnya Horrigan tak hanya mampu menyelamatkan sang presiden, tetapi juga menjaga reputasi pekerjaannya dan harga dirinya.

In the Line of Fire berhasil masuk nominasi Oscar 1994 untuk tiga kategori, yaitu Best Actor in Supporting Role, Best Film Editing dan Best Writing. Dengan durasi 128 menit dan menghabiskan biaya produksi $ 40 juta, In the Line of Fire juga berhasil masuk Top Box Office dengan pemasukan lebih dari $ 176 juta.

Rocky V, Ironi Panjang Sang Juara


Sebuah ironi berkepanjangan yang menggambarkan sisi lain kehidupan juara dunia tinju yang umumnya selalu diwarnai kemewahan.


Pertarungan Rocky Balboa (Sylvester Stallone) versus Ivan Drago (Dolph Lundgren) yang berlangsung pada hari Natal di Moskow tahun 1985, menjadi pembuka Rocky V. Jual beli pukulan dalam jarak dekat dan percikan darah seakan menegaskan salah satu kemenangan terindahnya atas petinju tangguh Uni Soviet yang baru berakhir hingga ronde 15. Saat itu, aturan pertandingan tinju profesional masih menggunakan 15 ronde yang kemudian dikurangi menjadi 12 ronde. Rocky V yang dirilis tahun 1990 juga menandai kembalinya John G. Avildsen yang juga menyutradarai sekuel perdana Rocky pada tahun 1976. Entah kebetulan atau tidak, namun sepertinya Rocky V penuh dengan ironi, bahkan hingga lebih dari dua dekade setelah dirilis.

Sylvester Stallone mulai mengenyam sukses di Hollywood ketika merilis film Rocky. Lewat Rocky (1976), Stallone memulai segalanya dengan menulis sendiri kisahnya. Perannya sebagai Rocky Balboa, petinju yang tak pernah diperhitungkan yang mampu tampil sebagai juara. Memang cukup klise dan sentimental. Namun dengan menggambarkan perjuangan seorang anak manusia yang merambat dari kehidupan paling bawah ini, akhirnya mampu menjerat para juri Oscar untuk menobatkannya sebagai Film Terbaik Oscar 1976. Penonton pun memang menyukainya. Dalam Rocky (1976) Stallone sangat meyakinkan dengan aktingnya saat berlaga di ring tinju. Begitu pula romantismenya dalam menggapai cintanya. Dan itu semua mampu menyeret penonton dalam suasana kemenangan saat Ricky Balboa menjadi juara. Kolaborasi Stallone dan sutradara John G. Avildsen saat itu memang menyuguhkan heroisme khas Hollywood. Namun laga-laga berikutnya dalam sekuel lanjutannya yang ditunggu-tunggu justru berbalik menjadi kritikan pedas. Termasuk Rocky V yang mencoba mengambil dari sisi lain yang terkesan lebih manusiawi.

Seperti pada empat sekuel sebelumnya, kali ini Stallone kembali tampil di Rocky V dengan gaya khasnya yang datar dan cenderung tanpa ekspresi, bahkan ketika melontarkan dialog-dialog yang sebenarnya mengundang senyum. Demikian pula dengan karakter Rocky yang tanpa cela di sepanjang film. Kali ini Rocky Balboa dipaksa untuk pensiun lebih dini karena mengalami cedera yang parah berupa kerusakan pada otaknya setelah melawan musuh beratnya yang berasal dari Soviet, Ivan Drago. Di sisi lain, Rocky juga harus menghadapi kenyataan bahwa semua hasil jerih payahnya telah “dicuri” dan belakangan juga diketahui jika pajaknya selama beberapa tahun tak dibayarkan oleh manajemennya. Investasi propertinya merugi lantaran pasar yang lesu. Rocky pun merasa semua perjuangannya hingga menggapai juara dunia telah hilang begitu saja dan membuat diri dan keluarganya bangkrut.

Sebelumnya Rocky sempat frustrasi ketika dokter memvonisnya harus pensiun untuk menghindari risiko kerusakan otak yang tengah dideritanya. Kondisi tersebut ditutupnya rapat-rapat agar tetap mendapat lisensi bertinju. Sementara istrinya, Adrian (Talia Shire), memohon Rocky tidak berjudi dengan hidupnya. Adrian bersikeras dirinya tak lagi peduli dengan uang dan ingin Rocky bersama keluarganya baik-baik saja.. Namun sejumlah media sudah terlanjur memberitakan Rocky resmi pensiun dan menyerahkan gelar juara dunianya. Juga tentang kondisi Rocky yang telah mengumumkan kebangkrutan, menggugat mantan akuntan, dan sedang melelang rumah, mobil, barang-barang, dan sejumlah memorabilianya. Hasrat sebagai ayah ditunjukkannya kepada Rocky Jr. yang kebetulan diperankan anaknya sendiri, Sage Moonblood Stallone. Rocky berupaya meyakinkan anaknya yang terlihat terganggu oleh perubahan mendadak dalam hidupnya. “Aku akan mendapatkan semuanya kembali. Kita hanya harus tetap bersatu…” ujar Rocky.

Sebuah ironi berkepanjangan yang menggambarkan sisi lain kehidupan juara dunia tinju yang umumnya selalu diwarnai kemewahan. Boleh jadi banyak yang menganggapnya hari-hari bertanding dan rentetan kemenangannya telah berakhir dan tak mungkin lagi berlanjut. Tapi skenarionya berkata lain. Rocky tetaplah sebagai Rocky yang memiliki hasrat yang tinggi walau harus memperjuangkannya dengan cara lain. Dengan sasana yang masih tersisa, Rocky mencoba mengais asa dan meraih kembali miliknya yang hilang lewat Tommy “Machine” Gunn (Tommy Morrison), petarung jalanan yang ingin menjadi petinju sukses seperti Rocky.

Intrik-intrik dalam gemerlapnya dunia tinju profesional di Amerika pun silih berganti mewarnai jalannya skenario. Juga bagaimana ketika Rocky berdebat dengan Tommy Gunn, serta melibatkan peran media tinju seperti majalah Ring dan KO. Memang tak ada kemenangan yang abadi, tetapi kemenangan hakiki akan terus tertanam. Mungkin itulah pesan di penutup film dengan gambar latar belakang pintu masuk Philadelphia Art Museum. “Well, Anda tidak pernah terlalu tua untuk mulai belajar sesuatu yang baru. Kau akan mencintai Picasso,” ujar Rocky Junior kepada sang ayah. Lanskap kota Philadelphia dari belakang patung Rocky pun menjadi penutup Rocky V diiringi lagu Elton John The Measure of A Man.

Rocky V dibuat dengan anggaran sebesar $50 juta dengan total pemasukan sekitar $160 juta. Namun kali ini tak ada Oscar untuk Rocky V. Gantinya, Rocky V diganjar tujuh nominasi terburuk (worst) versi Razzie Award dan tak satu pun yang dimenangkannya. Mulai dari kategori Worst Actor (Stallone), Worst Actress (Shire), Worst Director (Avildsen), Worst Original Song (Alan Menken, “The Measure of a Man”), Worst Picture, Worst Screenplay (Stallone), and Worst Supporting Actor (Burt Young).

Namun ironi Stallone masih saja terus melekat. Terakhir, pada pertengahan tahun ini, Sage Moonblood Stallone meninggal dunia dalam usia 36 tahun. Stallone memang memiliki kesibukan yang luar biasa dari satu film ke film lainnya. Dan itu membuat Sage jarang berinteraksi dengan ayahnya. Hal itu pernah diakui Sage kepada majalah People pada tahun 1996. “Saya sebenarnya mudah bergaul, tapi di sekolah banyak yang menantang saya berkelahi. Mereka bilang, ‘Rambo! Rocky!'” ujar Sage saat itu ketika masih berusia 20 tahun.

Now you can love, now you can lose

Now you can choose

That’s the measure of a man*

(*)The Measure of A Man”, Elton John (Alan Menken)

The Punisher: 1989 Vs Reboot


Dan letak bedanya dengan The Punisher versi reboot 2004, Frank Castle justru memiliki mobil dan tak menggunakan Harley seperti di The Punisher versi 1989.

Salah satu perbedaan dari versi komiknya terletak pada tokoh utama Frank Castle. Dalam versi film (1989), The Punisher tak lagi menggunakan logo tengkorak di dadanya. Jika diperhatikan, ada sejumlah perbedaan yang lumayan mencolok dan menarik disimak. Perbedaan lainnya, Frank Castle selalu berambut hitam di versi 1989, tapi di versi 2004 rambutnya pirang. Sedangkan dari aspek cerita, pada versi 1989, tidak ada orang yang mengetahui jati diri Frank Castle, walau ada dua petugas kepolisian yang mencurigainya. Sementara dalam versi 2004, sosok Frank Castle bukanlah sesuatu yang dirahasiakan dan justru memang langsung diplot untuk keluar membalas dendam.

Salah satu perbedaan yang paling mencolok adalah properti sepeda motor yang digunakan Dolph Lundgren di The Punisher (1989). Sepeda motor dalam The Punisher (1989) adalah Harley Davidson Shovelhead Wide Glide yang memiliki mesin berpendingin udara V-twin 45 derajat. Sejak diproduksi pada tahun 1966 hingga 1984, Harley Davidson Shovelhead Wide Glide diusung oleh mesin berkapasitas 1.208 cc. Namun sejak 1978, kapasitas mesinnya ditingkatkan menjadi 1.340 cc sebagai bagian dari jajaran Big Twin Harley Davidson. Dan letak bedanya dengan The Punisher versi reboot 2004, Frank Castle justru memiliki mobil dan tak menggunakan Harley seperti di The Punisher versi 1989.

 

 

 

 

The Punisher (1989): Vigilante Versus Mafia


Sutradara Mark Goldblatt mengedepankan tokoh Frank menjadi seorang vigilante alias menjadi hakim bagi dirinya sendiri..

Tema balas dendam boleh jadi sangat dominan dalam film bergenre action dari masa ke masa. Termasuk bintang-bintangnya yang tampan dan berotot. Begitu pula dengan penerbit Marvel lewat salah satu komiknya yang diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama, The Punisher. Ya, film The Punisher yang dibintangi Dolph Lundgren dan berdurasi 90 menit ini mencoba memberikan alternatif hiburan yang kala itu diramaikan sejumlah film laga dengan aktor Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, dan Jean Claude Van Damme.

Dengan dana produksi 9 juta Dollar, The Punisher yang diproduksi tahun 1989 dan mengambil lokasi syuting di Australia dan Amerika Serikat ini dilatarbelakangi kentalnya keinginan untuk membalas dendam. Sebagai The Punisher, Frank Castle (Dolph Lundgren) mewakili sebuah karakter fiksi antihero yang dibuat oleh Gerry Conway, John Romita Sr, dan Ross Andru. Sutradara Mark Goldblatt mengedepankan tokoh Frank menjadi seorang vigilante alias menjadi hakim bagi dirinya sendiri. Baginya, tindakan main hakim sendiri yang dilakukannya seperti pembunuhan, pemerasan, penculikan, termasuk kekerasan dan penyiksaan, adalah sebuah strategi atau taktik yang bisa diterima saat berhadapan dengan kejahatan.

Berawal dari kematian keluarganya yang dibunuh oleh mafia ketika secara tak sengaja mereka menyaksikan sebuah eksekusi mati sekelompok genk yang terjadi di kawasan Central Park, New York. Dari situlah, Punisher mulai mencanangkan balas dendamnya. Dengan gagah berani Frank melancarkan perang antara dirinya dengan mafia, termasuk berbagai kejahatan yang dianggapnya harus dibasmi. Seorang diri dalam menghadapi mafia, Frank menggunakan bermacam-macam persenjataan yang memang sudah dikuasainya. Sedangkan target utamanya adalah pembunuh keluarganya. Sebagai seorangveteran perang, Frank Castle memang memiliki keahlian bela diri, taktik penyamaran, dan mahir menggunakan berbagai jenis senjata. Salah satu yang menarik, Frank tetaplah manusia biasa yang tidak memiliki sebuah kekuatan super untuk melumpuhkan targetnya. Frank hanya mengandalkan kemampuan menggunakan berbagai senjata, intelijen dalam bertarung, serta kesadisannya sebagai The Punisher. Kesadisannya itulah yang justru menguatkan karakternya sebagai sang penghukum antihero seperti superhero lain dalam koleksi komik Marvel Universe.

The Punisher adalah manusia tanpa memiliki rasa takut. Bahkan tak pernah menunjukkan keraguan saat hendak membunuh setiap korbannya. Dunia di sekelilingnya hanya dilihat sebagai dunia yang sangat hitam dan putih saja. Tak banyak bicara, namun selalu menutupnya dengan sebuah kalimat ketika usai menuntaskan sebuah masalah. Menyerang dengan keras adalah pilihan tindakan yang diambil untuk menutupi reaksi keraguannya. Sebuah paduan karakter sempurna bagi The Punisher.

Sebagai mantan polisi, Frank Castle tercatat pernah bergabung di kesatuan Green Barrett, dan sejumlah penugasan penting lainnya. Dalam perjalanan aksi balas dendamnya, Frank Castle berkarib dengan Shake (Barry Otto), pria tua yang alkoholik dan selalu bicara dengan irama sajak yang tak pernah jelas maksudnya. Dengan aksi brutal dan sadisnya, Frank Castle pun menjadi orang yang paling diburu dan sangat misterius di penjuru kota. Genderang dendamnya terhadap mafia, ditorehkan dengan catatan 125 orang yang telah dibunuhnya dalam lima tahun terakhir. Kelompok mafia yang dikomando oleh salah satu keluarga mafia Gianni Franco (Jeroen Krabbé) menjadi semakin tak berdaya. Namun kondisi tersebut tercium oleh para Yakuza yang memang dikenal sebagai sindikat kejahatan terkuat dari Asia. Dipimpin oleh Lady Tanaka (Kim Miyori), Yakuza berupaya mengambil alih keluarga mafia yang jadi target Frank Castle, termasuk semua kepentingan dan urusan bisnisnya. Yakuza pun mulai menculik anak-anak keluarga mafia untuk menekan posisi tawar-menawar yang lebih kuat dengan mafia.

Kabar yang sampai di telinga Frank Castle, ikut ditanggapi Shake dengan lebih manusiawi. Shake membujuk Frank Castle untuk menyelamatkan anak-anak yang tak berdosa karena khawatir mereka akan jadi korban trafficking Yakuza. The Punisher pun mulai bertindak dengan mengandalkan senapan mesin ringan Thompson M1928 dan berhasil membebaskan sebagian besar anak-anak, namun putra Franco tak berhasil dibawanya. Frank Castle yang ditahan polisi akhirnya dibebaskan oleh Gianni Franco untuk membantu menyelamatkan putranya sekaligus menyingkirkan Yakuza dari Amerika. Frank Castle dan Franco berhasil membunuh semua Yakuza, termasuk Lady Tanaka dan putrinya. Sampai di sini, ternyata Franco menyimpan siasat busuk untuk membunuh Frank Castle. Namun yang terjadi justru Franco terbunuh saat meladeni duel dengan Frank Castle. Sisi manusiawi Frank Castle pun terusik dan meminta putra Franco tak mengikuti jejak ayahnya.

Setelah dirilis pada tahun 1989, The Punisher kembali dibuat pada tahun 2004 dengan bintang Thomas Jane dan John Travolta, serta di-reboot lagi pada tahun 2008 dengan peran utama Ray Stevenson. Uniknya, The Punisher (1989) yang dirilis di seluruh dunia pada tahun yang sama, namun tak pernah secara resmi dirilis di Amerika Serikat dan Swedia. Profil Dolph Lundgren dinilai banyak kalangan sebagai sosok yang paling tepat memerankannya. Faktor ketampanan seorang pria yang biasa ditonjolkan dalam sebuah film laga sama sekali tak terlihat. The Punisher lebih natural dan lebih terlihat sebagai pria kesepian yang setiap langkah dan nafasnya selalu dipenuhi aroma dendam yang membara.

Nyaris Sempurna


Pesannya hanya satu, hati-hati jangan sampai ketagihan…
Untuk memenuhi rasa penasaran, Terompah jadi semakin tak sabar menyantap kudapan favorit café Aria. Sebagai pembuka, suguhan Crispy Chicken with Rucola and Sweet and Sour Sauce Salad mengundang beberapa pertanyaan menarik. Terutama tampilan visualnya yang diimbuhi buliran jeruk Bali. Terbayang kesegaran dengan paduan rasa khas jeruk Bali. Begitu pula dengan saus ala Thai yang menggoda. Ayamnya digoreng dengan baluran tepung yang agak spicy. Dipadu dengan coriander leaves, rucolla leaves, buliran Jeruk Bali, dan saus asam, menjadikan menu pembuka yang rasanya agak manis dirasa sangat cocok dan tak juga terlalu ringan.
Tak lama kemudian giliran Roast Chicken with Orange Sauce sudah menanti untuk segera disantap. Menu ini terlihat lebih berat dan yummy! Tampak luar Roast Chicken yang lumayan berisi ini kelihatan kering. Didampingi dengan orange sauce dan potato nugget, membuat jemari tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memanjakan lidah. Wow, tak menyangka kalau tampilan luar yang kering sangat berbeda ketika sudah dicicipi. Selain sangat lembut, Roast Chicken-nya juga terasa gurih di lidah.
Bagaimana dengan potato nugget-nya? Nyaris sempurna dan tak terlalu creamy, juga rasa asin yang tak berlebihan. Campuran ladanya pun tak terlalu banyak. Bisa jadi ini merupakan salah satu potato nugget terbaik yang pernah dinikmati. Ya, potato nugget yang nyaris sempurna yang belum tentu bisa ditemui di tempat lain. Pesannya hanya satu, hati-hati jangan sampai ketagihan…
Usai menu utama, kini tiba saatnya merasakan menu penutup. Namanya Biley’s Pannacota. Tampilannya sejak tadi sudah menggoda. Rasanya sangat terasa lembutnya, namun tak terlalu kenyal. Juga tak terlalu manis. Sangat pas sebagai penutup yang mengesankan.
Selanjutnya Melon Cooler di meja sudah menunggu. Sangat menggugah dahaga. Melon Cooler merupakan paduan Melon Syrup, Lemon Juice, dan Watermelon Juice. Segar dan mix-nya terbilang pas dengan rasa semangka yang memupus dahaga. Diiringi irama nge-beat Over My Shoulder dari Mike and The Mechanics, Terompah juga mencoba Pineapple Salsa yang merupakan paduan buah kiwi dan nanas. Namun masih banyak menu dan minuman lain, termasuk ritual khas Café Aria pada beberapa menunya.
Café Aria
Gedung Panin Pusat, Lantai 1
Jl. Jendral Sudirman Kav. 1, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Telepon: (021) 739 5828  Faks: (021) 725 7234

Cozy with Concept Store


Café Aria menyediakan menu beragam ala Asia, dim sum, internasional, hingga western.

Lokasi yang strategis di salah satu sudut bundaran Senayan, membuatnya mudah diakses. Yup, Café Aria pun makin mudah terlihat karena berada di salah satu sisi gedung Panin Pusat I dan berdekatan dengan beberapa mal dan pusat perbelanjaan. Eksteriornya yang menggunakan kanopi yang cukup transparan seakan menggambarkan kehangatan suasana teras café yang cozy dan diisi beberapa set meja dan kursi kayu.
Menyimak namanya, kesan awalnya langsung mencerna layaknya café lokal pada umumnya. Namun begitu melangkahkan kaki dan masuk melalui pintu utama, sekilas desain unfinished yang ditimpali keramahan layanan menyirnakan kesan awal. Kental dengan konsep kasual yang hangat. Sangat nyaman untuk menikmati suasana dan juga pengaturan tata letak yang lebih terbuka. Namun pikiran sempat juga melayang soal pricey. Hmmm…
Apalagi langsung disambut dengan bar dengan aksen kayu yang mendominasi yang tembus pandang ke area koleksi wine dan ruang belakang. Hingga tak sadar Anisa Savitri, PR Café Aria sudah menyambut Terompah dengan senyumnya yang ramah. Anisa pun langsung mengkisahkan café yang baru berdiri sejak akhir tahun 2011 lalu. Nama Aria sendiri, menurutnya diambil dari bahasa Italia yang memiliki makna ‘udara’. Pantas saja desainnya didominasi kaca bening yang menyiratkan keleluasaan dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Anisa memang belum menjelaskan hal-hal menarik yang bisa didapatkan oleh setiap pengunjung café, tetapi justru mengajak Terompah melihat hingga ke setiap sudut yang terbuka. “Café Aria didesain dengan konsep store atau dengan kata lain sebagai one stop shopping khas Café Aria,’ ujar Anisa.
Mencoba memutari bar dan langsung menuju belakang bar yang memamerkan koleksi minuman terbaiknya. Penataan panel dengan cahaya tungsten mampu menciptakan kehangatan yang terbilang apik. Dan ketika melihat lebih dekat koleksi di salah satu sudutnya, boleh jadi Terompah harus menyingkirkan praduga soal pricey tadi. Selain berkualitas dan branded, ternyata harganya mulai 10 hingga 30 % jauh lebih murah dibandingkan tempat lainnya.
Pertanyaan berikutnya muncul mengikuti lirikan mata ke arah koleksi fashion di concept store yang memajang rancangan Kle, Yosafat, Jefry Tan, Some Are Thieves, Jenggala, dan Happa. Hanya beberapa langkah di satu sudut lainnya ada cakery yang mengundang untuk menikmati penganan khas jajanan pasar. Propeti mesin hitung jadul dan mesin ketik diletakkan mengisi jeda di salah satu sisi dinding Café. Begitu pula dengan book store yang menawarkan koleksi terbatasnya.
Lalu bagaimana dengan kudapannya? Ternyata banyak pilihan karena Café Aria menyediakan menu beragam ala Asia, dim sum, internasional, hingga western. Walau begitu, Café Aria juga memiliki menu lokal yang tak kalah menarik seperti Mie Ayam Jembatan Lima, Mpek-Mpek Palembang, atau Ayam Goreng Kampung. Menu favorit lainnya adalah Crispy Chicken Rucola, Braised Lamb Shank, Duck Pasta berupa Spaghetti Aglio Olio dengan bebek, Roast Chicken with Orange Sauce, Hot Stone Tenderloin, dan Bailey’s Pannacotta.
Penasaran ingin mencicipi? Ajak saja pasangan Anda atau dengan keluarga. Café Aria buka mulai breakfast pada pukul delapan pagi dan tutup pukul 24.00.

Dominasi Choppers



Walau film Wild Hogs bergenre petualangan komedi, namun menarik disimak penampilan Harley Davidson yang jadi ‘bintang’ dalam sejumlah aksi kocak. Perhatikan saja sepeda motor yang digunakan geng Del Fuegos. Sebagian besar sepeda motor yang digunakan geng Del Fuegos dimodifikasi ala choppers. Cocok dengan karakter geng itu yang menghanyutkan namun bisa tiba-tiba berubah menjadi urakan dan meresahkan.

Sementara geng Wild Hogs juga serupa. Dudley Frank yang berkarakter jenius menggunakan XL1200C Sportster Custom. Bobby Davis yang takut istri memakai FXSTS Springer Softail. Sedangkan dokter gigi Doug Madsen terlihat pas dengan Black Fatboy dengan modifikasi chrome pada roda depannya. Sementara Woody Stevens mendapat jatah Harley Davidson Screaming Eagle Fatboy.

Kesesuaian desain setiap Harley Davidson yang digunakan pemeran utama Wild Hogs tak lepas dari campur tangan Tim Allen yang berperan sebagai Doug Madsen. Tim Allen dalam kesehariannya memang memiliki hobi otomotif, bahkan dikenal juga sebagai desainer otomotif. Untuk film Wild Hogs ini, Tim Allen banyak memberikan masukan soal desain yang sesuai dengan karakter setiap peran, khususnya empat karakter peran utama di Wild Hogs. Sesuai dengan pameo bahwa setiap unit Harley Davidson yang ada di belahan dunia mana pun, akan berbeda satu dengan lainnya karena perbedaan karakter pemiliknya itu sendiri yang membuatnya berbeda.