Pentingnya Antisipasi Negatif


Sikap kita yang benar adalah sudah seharusnya kita mengurangi kecepatan, menghindari, dan melakukan antisipasi negatif!

Dengan sering terjadinya kecelakaan di beberapa grup touring, perlu kembali diingatkan tentang betapa pentingnya antisipasi negatif. Ada contoh kasus yang bisa dijadikan ilustrasi. Saat touring, tiba-tiba dikejutkan adanya kendaraan roda dua yang menyeberang dalam jarak dekat. Walau arus lalu-lintas searah dan dibatasi dengan trotoar, umumnya kita memperkirakan tidak mungkin ada yang menyeberang. Kita tidak tahu jika trotoar tersebut telah ‘dibongkar’ sehingga mampu memberikan ruang yang cukup bagi sebuah sepeda motor untuk melintas dan menyeberang.

Nah, dengan perkiraan yang salah dan berharap tidak ada dan tidak memungkinkan ada kendaraan yang menyeberang, akhirnya terjadi kecelakaan. Pengendara yang menyeberang tersebut ternyata tidak memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan telah berusia di atas 50 tahun. Terlebih pengendara tersebut kemudian diketahui baru belajar mengendarai dan tidak mengetahui mengenai aturan atau tata cara berlalu-lintas.

“Menghadapi kondisi demikian, sikap kita yang benar adalah sudah seharusnya kita mengurangi kecepatan, menghindari, dan melakukan antisipasi negatif! Dengan bersikap demikian, kecelakaan pun dapat dihindari,” ujar Bro Joel Deksa Mastana.

Advertisements

Wajib Menghindar Walau Posisi Benar


Setiap kecelakaan yang terjadi selalu diawali dengan ‘melihat’ dan ‘terlihat’, serta diakhiri dengan refleks dan eksekusi yang tidak tepat.

Pentingnya safety riding sudah seharusnya tak ditawar lagi. Ketika kesadaran akan bahaya dan kemungkinan kecelakaan bisa terjadi di mana dan kapan saja, akan membuat safety riding menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap pengendara. Bahkan Bro Joel Deksa Mastana, instruktur safety riding bersertifikasi internasional pun selalu menekankannya dalam setiap pelatihan yang dipandunya. “Dalam pelatihan safety riding, saya sering mengatakan bahwa 70% kecelakaan melibatkan orang lain dengan berbagai hal dan kasus. Sebagai contoh saja, ada sebuah kendaraan yang tiba-tiba berhenti untuk menanyakan jalan atau hal lain yang tidak terduga,” ujar Bo Joel.

Dalam berbagai kesempatan Bro Joel memang tak pernah bosan untuk mengingatkan. Menurutnya, selain menggunakan perlengkapan keselamatan berkendara, juga diperlukan persiapan kendaraan, fisik, serta mental pengendara. Jangan pernah mengabaikan persiapan kendaraan. Demikian pula fisik dan mental yang diupayakan selalu siap untuk menghadapi berbagai kondisi saat berkendara.

Prinsip lainnya adalah berbagi jalan. Dalam hal ini Bro Joel mengingatkan bahwa setiap pengendara wajib mengendarai secara dinamis yang selalu bersikap waspada dengan melihat sekelilingnya depan, samping, dan belakang melalui kaca spion dan melakukan tengok untuk mengkonfirmasi keselamatan. Ada tiga aspek penting yang harus diperhatikan setiap pengendara, yaitu:

  • Search: melihat potensi risiko
  • Evaluate: evaluasi kondisi dan situasi
  • Execute: eksekusi yang tepat

Setiap kecelakaan yang terjadi selalu diawali dengan ‘melihat’ dan ‘terlihat’, serta diakhiri dengan dengan refleks dan eksekusi yang tidak tepat. Terkait dengan kecelakaan, masih segar dalam ingatan ketika akhir bulan April 2012 lalu HOG Jakarta Chapter melakukan touring dalam rangka menghadiri Jogja Bike Rendezvous (JBR). Dan salah satu insiden kecelakaan dalam touring tersebut melibatkan Bro Sahat Manalu, Sekjen HOG Jakarta Chapter. Akibatnya Bro Sahat mengalami luka dan bagian depan Harley-nya rusak parah.

Menanggapi kecelakaan yang menimpa Bro Sahat, hal itu langsung dijadikan contoh oleh Bro Joel. Menurut Bro Joel, contoh peristiwa kecelakaan yang dialami Bro Sahat, terjadi dengan kondisi adanya kendaraan dari arah berlawanan arah yang melanggar lalu-lintas. “Dalam hal ini, apabila kendaraan tersebut terlihat, kita wajib menghindar karena adanya risiko kecelakaan walau sebenarnya kita berada pada posisi yang benar. Hal itu biasanya tergantung dari kecepatan kita juga. Kalau pada kecepatan tinggi, tentunya kita membutuhkan scan atau search dan analisa, serta antisipasi yang lebih baik. Tak hanya sampai di situ, karena setelah itu eksekusinya juga memerlukan refleks yang baik,” kata Bro Joel lagi.

Bro Joel pun kembali menekankan bahwa bukan hanya cukup dengan menggunakan perlengkapan atau terlihat orang lain saja, tetapi setiap pengendara juga perlu mengetahui dan memperkirakan pergerakan kendaraan lain. Dan hal penting yang juga perlu diingat adalah kondisi lalu-lintas di negara kita sudah seperti di rimba raya. Jadi bukan hanya aturan dan tata cara berlalu-lintas saja, tetapi diperlukan juga scanning, analisa, dan eksekusi tepat untuk berbagi di jalan atau menghadapi situasi dan kendaraan yang melanggar.