Mulanya Hanya Setetes Air


airKeluargaku, kerabatku, dan sahabatku yang dirahmati Allah Swt…

Mengutip dari sebuah posting tentang Sufi Agung dari Persia, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) yang mengatakan, “Engkau bukanlah setetes air dalam samudera, tetapi engkau (sejatinya) adalah samudera itu sendiri yang menjadi setetes air.”

Ya, manusia ciptaan Tuhan memiliki potensi yang luar biasa; tergantung dirinya sendiri apakah potensi itu hanya akan berhenti sebagai potensi atau bahkan tidak disadari dimilikinya. Ataukah potensi itu akan dikembangkan sejauh mungkin bagi kebaikannya serta kebaikan masyarakat serta lingkungannya.

Hmmm…

Bahkan pengarang terkemuka dari Prancis, Marcel Proust (1871-1922), mengatakan, “Seyogyanya kita perlu berterima kasih kepada orang-orang yang telah membuat kita bahagia. Mereka itu ibarat para pekebun bunga yang membuat jiwa kita bermekaran.”

Ya, kebahagiaan adalah hasil dari sebuah keterlibatan antara seseorang dengan pihak lain. Antara diri saya bersama orang terdekat dan rekan-rekan terbaik di sini dengan warnanya masing-masing. Selama ini saya hanya punya naluri ingin selalu berbagi dengan apa yang saya miliki. Dan memang sudah sepatutnya saya sangat berterima kasih kepada kalian semua yang selalu berada di sekitar saya yang sadar atau tidak, sejatinya telah ikut bersaham dalam kebahagiaan kita….

Terima kasih banyak ya Allah atas limpahan orang-orang tercinta dan rekan-rekan selama ini. Hari ini hanya sekadar penanda bahwa sebuah tetesan masih ada di antara luasnya samudera raya silaturahim dan persahabatan. Masing-masing diri kita adalah setetes air yang hanya sedikit saja memberikan makna dalam luasnya samudera. Takkan bermakna jika tak didukung tetesan lain yang akan berlimpah menjadi kemaslahatan buat kita semua.

Insya Allah…

 

Salam,

Jie Ao

Menyimak Bincang Hati Ibuku


Di usia senjanya yang 6 Maret lalu telah menjejak 83 tahun, kerut-kerut di wajahnya seakan menjadi catatan lelahnya perjalanan hidup yang panjang. Sepertinya tak ada satu kata pun yang sia-sia untuk didengarkan. Dan perlahan seiring lanjutnya usia, semakin menyiratkan kesabaran yang luar biasa, kesederhanaan yang terus dijaga, serta keikhlasan yang perlu ditiru.

Dalam bincang pagi ini di tangga teras rumah si bungsu di Depok (22/3/2014), banyak hal luar biasa yang terus melekat di hati dan pikiran. Sudah pasti banyak perbedaan pola pikir. Tapi berjalannya waktu membuat kita sama-sama belajar. Terus mencoba saling memahami dan menyamakan persepsi, dan menghindari ego. Subhanallah, pagi yang luar biasa walau hanya diisi bincang tak lebih dari tiga jam. Tapi itu sudah sangat luar biasa karena hati kita ikut bicara.

Subhanallah, sikap istiqomah dan kesabarannya luar biasa. Setiap kata yang meluncur selalu mendekati Sang Khalik dan menyentuh hati yang mendengarnya. Adem rasanya. Seakan tak ingin beranjak dan terus berdialog tentang apa saja yang disukainya. Tapi semua topik selalu diajak untuk dikembalikan ke hati kita. Ya, seakan kita bicara dari hati ke hati dalam arti harfiahnya. Sekuat tenaga menahan luapan air mata melihat kesejukan hatinya.

Andai waktu bisa diputar ulang, ingin rasanya mengganti beribu kesalahan, kebohongan, dan keserakahan yang pernah membelenggu dan menghijab hati. Ingin rasa isi hati tercurah sepenuhnya buat ibu tersayang.

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo. Aamiin yaa robbal alamiin.

Sebuah Dialog


Sejak pagi tadi sudah buat beberapa draft. Tapi anehnya semua batal di-posting. Lho, kenapa?

Entah kenapa setiap kali selesai dan diperiksa kembali, sepertinya tak pantas di-posting untuk umum. Ada rasa tanggung jawab ketika berpikir ulang pantas atau tidaknya di-posting. Artinya di situ ada rasa untuk menahan diri. Ya, boleh jadi tulisan tersebut terbilang agak keras dan yang membacanya bisa salah persepsi.

Justru karena kesadaran untuk membatalkannya itulah yang membuat hari ini harus merenungkannya kembali. Lumayan lugas. Lumayan tegas. Cukup bernas. Dan yang terpenting adalah tak menggurui, karena sasarannya adalah orang dewasa yang selama ini mengaku paham tentang topik yang diangkat.

Tapi ada satu hal penting lagi bahwa berdasarkan beberapa tulisan sebelumnya yang sudah di-posting, ternyata masing-masing menanggapinya sebagai bentuk apresiasi yang positif. Padahal justru isi posting-an itu untuk menjewer telinga kita semua. Aneh ya?

Tapi takkan jadi aneh jika memahami siapa saja penanggapnya. Penanggap yang pasti merasa lebih pintar dan selalu cepat mengerti. Penanggap yang merasa tulisan tersebut menjadi bentuk keperpihakan. Penanggap yang mencoba mengganggu independensi. Penanggap yang tak mengerti di mana posisi dirinya berada. Bahkan penanggap yang siap langsung menghakimi, bahkan membunuh karakter siapa pun yang tak sepaham. Luar biasa bukan?

Tapi asyik sekali jika merunut prosesnya. Beberapa tulisan yang belum di-posting itu langsung dihapus tanpa disimpan di folder draft. Jadi butuh keberanian dan keikhlasan untuk memutuskan tidak di-posting dan dihapus. Butuh telaah dan kajian yang cukup matang untuk menyikapinya. Dan alhamdulillah, keputusan itu memang ada hikmah yang luar biasa. Ya, kemampuan untuk menahan gejolak, risau hati, dan tentu saja gemas dengan kondisi yang melingkupi setiap hari, serta berujung pada dialog penuh kejujuran dengan hati.

Insya Allah, langkah selanjutnya akan menjadi lebih baik, setidaknya untuk diri sendiri.

Di Antara Semangat dan Inspirasi*


(*)Sebuah catatan kehidupan seorang sahabat terbaik

Banyak kisah menarik tentang seorang sahabat terbaikku, Sugeng Prayitno. Mungkin saya tak mengenalnya lebih dekat jika dibandingkan dengan beberapa rekan dekatnya yang saya kenal. Namun setidaknya saya mendapat beberapa kisah menarik yang menjadi momentum dalam perjalanan semasa hidupnya.

Sugeng dan keluarga (2007). Anak bungsunya, Ganin, baru lahir tahun 2011. (Foto: koleksi pribadi Sugeng Prayitno)

BAJAJ

Sugeng Prayitno yang kadang disapa Gus Geng ini punya memori dengan angkutan roda tiga Bajaj yang berisiknya minta ampun serta peredam kejutnya yang dikenal lumayan rigid. Memori yang paling indah adalah ketika Sugeng menceritakan sendiri bagaimana cara menikmati naik Bajaj saat pertama kali datang ke Jakarta. Tiba di Stasiun Kereta Api Senen, Sugeng merasa tak punya pilihan angkutan umum menuju Lenteng Agung, di selatan Jakarta yang berbatasan dengan Depok. Bisa dibayangkan bagaimana ‘menikmati’ perjalanan bersama Bajaj sepanjang sekitar 30 kilometer. Namun semangatnya merasakan kehidupan Jakarta, membuatnya bisa menyukuri bisa tiba di Lenteng Agung dengan selamat.

FOTOGRAFI

Ya, fotografi memang menjadi bagian hidup Sugeng hingga sebelum terkena stroke. Namun siapa yang menyangka saat berkenalan dengan dunia fotografi bisa melambungkan mimpinya sebagai salah satu penopang hidupnya. Uniknya, Sugeng berkenalan dengan kamera SLR konvensional seperti mahasiswa baru yang harus melewati masa perploncoan. Yang menarik, Sugeng justru sangat menikmati masa perkenalannya dengan kamera profesional walau harus jungkir balik menncoba sejumlah angle (sudut pengambilan) yang ‘aneh’ hingga memanjat pohon. Sugeng tak sungkan ketika tawa dan ledekan mampir ke telinganya. Pasalnya, selama bergaya menggunakan kamera SLR profesional tersebut, Sugeng sama sekali tak diberikan bekal satu rol film negatif, apalagi sekadar film potongan. Ya, kamera kosong tanpa film menjadi momentum perkenalannya dengan dunia fotografi. Dan momentum itu menjadi langkah awal kiprahnya di dunia fotografi.

JALAN

Salah satu ciri khas pendatang baru di Jakarta adalah sulitnya mengenal nama sebuah jalan atau kawasan. Itu pula yang kerap dialami Sugeng. Tanpa malu, Sugeng kerap bertanya soal nama jalan atau kawasan yang ingin diketahui atau ingin dituju. Dan tanpa sungkan pula, Sugeng selalu bertanya tentang patokan sebuah jalan atau kawasan. Jika info yang didapatnya masih dirasa minim, Sugeng juga tak malu merajuk minta tolong untuk ditemani. Sehingga kadang justru memancing ledekan rekannya untuk sekadar merekayasa patokan yang membuat Sugeng akan lebih merajuk lagi. Ibarat kate kayak orang ‘Bogor’, biar tekor asal kesohor, hehehe….

PILIH MINUM JAMU

Sugeng memang dikenal memiliki semangat yang tinggi walau kadang tak pernah diperlihatkan secara terus terang. Perlahan Sugeng akan mengamati, mempelajari, dan memastikan setiap langkah yang akan diambilnya. Namun jika kondisi fisiknya sedang tidak fit, pantang baginya berurusan dengan medis, apalagi berhubungan dengan dokter. Jarum suntik menjadi salah satu phobia-nya. Tak heran jika Sugeng dikenal getol mengkonsumsi jamu kala kondisi tubuhnya menurun. Sepahit apapun rasa jamu yang harus diminum akan rela dihabiskan asal tidak ke dokter atau harus berurusan dengan jarum suntik. Bahkan Sugeng pernah mengaku tak pernah mau masuk rumah sakit walau yang dirawat adalah keluarga atau saudaranya sendiri.

MAKAN

Perawakan Sugeng memang lumayan tambun. Walau tak mengetahui persis berat badannya, namun tak terlihat sedikit pun kejengahan Sugeng dengan postur tubuhnya. Salah satu kegemarannya adalah menyantap makanan yang disukainya tanpa membuatnya harus memantang makanan tertentu. Walau kerap membicarakan tentang berbagai penyakit, termasuk ketika saya harus menjalani operasi ganti katup jantung, sepertinya semangat Sugeng menikmati makanan tak pernah surut, termasuk kebiasaan merokok Dji Sam Soe-nya. Baginya, kenikmatan itu memang tak harus menjadi kendala. Sugeng mencoba menikmati alur hidupnya bagai air yang terus mengalir dari mata airnya hingga hilir sungai.

SUNAT

Salah satu yang kerap dibicarakan Sugeng sebelum terkena stroke adalah niatnya mengkhitankan anak sulungnya Punjung. Rencananya Punjung akan dikhitankan saat libur panjang kenaikan kelas kemarin. Namun entah kenapa, rencana tersebut belum juga terealisir. Punjung yang kini sudah duduk di SD kelas VI memang ingin dikhitan. Insya Allah, jika memang Allah SWT mengijinkan, Punjung akan segera dikhitan, sekaligus memenuhi salah satu keinginan Sugeng.

PENSIUN

Tingginya semangat Sugeng menjalani hidup, setinggi obsesinya mengisi hari tuanya bersama istri dan ketiga anaknya. Beberapa alternatif pun sudah mulai dipikirkannya, termasuk apa saja yang ingin dilakukan menjelang pensiunnya nanti. Mulai dari usaha fotografi, percetakan, desain grafis, hingga kuliner, menjadi deretan aktivitas yang diproyeksikan Sugeng menjadi lahan keberuntungannya. Bahkan saking semangatnya, Sugeng kerap mengulang cerita kenikmatan beberapa kuliner unggulan yang dibidiknya sebagai peluang usaha. Ya, Sugeng memang sudah merancang masa pensiunnya dengan mimpi yang lebih realistis. Sugeng boleh saja menyusun rencana terbaiknya untuk masa pensiunnya kelak. Namun Allah SWT ternyata telah memiliki rencana terbaiknya dan lebih berkenan memanggilnya untuk ‘pensiun’ lebih dulu ke pangkuanNYA.

KUNINGAN

Beberapa rekan dekat, termasuk saya, memang sempat mendengar keinginan Sugeng untuk mengisi masa pensiunnya di Kuningan, Jawa Barat, kampung halaman istrinya. Namun ternyata keinginan Sugeng tersebut ‘lebih cepat’ terlaksana daripada perkiraannya. Ya, keinginan Sugeng menikmati sisa hidup hari tuanya memang sudah terpenuhi. Hanya saja Sugeng harus menikmatinya dalam alam yang berbeda dan abadi. Dengan kebersahajaannya, Sugeng telah menjadi sahabat terbaik bagi yang sudah mengenalnya lebih dekat. Sahabat baik yang sudah memberikan ’pesan’ selamat tinggalnya tanpa kita mengetahui maknanya sebelumnya. Ya, kami memang telah kehilangan sosok sahabat terbaik yang ‘ora pateken’ dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Selamat jalan sahabatku. Sampai jumpa di sana…

__________________________
Cagar Alam, Depok
31 Agustus 2011/1 Syawal 1432 H

kataku


“Mengagumi seseorang akan menambah lekatnya silaturahim, tapi dengan menilik kelemahan dan kekurangannya justru akan semakin melebarkan jarak silaturahim”

jie

cagar alam, 28 april 2011

Bapakku Tidur


Assalamualaikum Wr Wb,

Terima kasih buat semua doa yang disampaikan terkait wafatnya bapak saya, Sabtu, 7 Agustus 2010. Alhamdulillah, semua prosesi berjalan lancar dan dimudahkan oleh Allah SWT hingga saat pemakaman di TPU Malaka, Pondok Kelapa, Minggu, 8 Agustus 2010. Mohon maaf jika info awal yang saya sampaikan kurang lengkap, terutama soal alamat rumah duka. Mohon maaf pula jika saya tidak sempat membalas begitu banyaknya komen dan pesan di inbox fb, serta email di milis, termasuk incoming sms dan voice di ponsel.

Buat saya dan keluarga besar, tak ada yang menyangka kepergian bapak saya begitu cepat. Terakhir kali bertemu satu minggu yang lalu saat hadiri haul di Depok, almarhum tak banyak bicara dan hanya sedikit memuji masakan nasi kebuli istri saya. “Akhirnya kesampaian juga ya ngerasain nasi arab,” katanya.

Bahkan satu minggu terakhir, beliau selalu mengajak ibu saya untuk mengunjungi adik-adiknya, termasuk adik ibu saya. Sabtu, 7 Agustus 2010, beliau dengan sedikit memaksa mengajak ibu ke kantor pos di Jatikramat untuk membayar telepon dan mengambil pensiun, termasuk membeli sirup kesukaannya. Hari itu bapak terlihat lebih bersemangat dengan merapikan semua tanaman di halaman dan mencat tembok pagar rumah. Bahkan sore harinya, saat melihat isi kulkas, beliau minta kepada adik saya untuk menggorengkan tahu isi yang semuanya dihabiskannya.

Saat adzan maghrib, seperti biasa bapak sholat di masjid, lalu diikuti dengan makan malam di rumah. Namun ketika usai kumandang adzan Isya, ibu sempat bertanya kenapa tidak ke masjid. “Kita sholat berjamaah aja di rumah ya?” ujar Bapak kepada Ibu. Ibu hanya menuruti saja. Usai sholat Isya, ibu langsung istirahat dan bapak melanjutkan mengaji. Setelah mengaji, bapak pun menyusul istirahat ke kamar. Sempat berujar, “Bu, hidup kita kayaknya bahagia banget ya….”. Ibu mengisahkanbagian ini cukup detail kepada saya.

Hanya beberapa menit, bapak bangun dan keluar kamar mengajak ibu menuju bale-bale di ruang teve. Bapak sempat mengeluhkan seperti sulit bernafas. “Itighfar, ya istighfar,” ujar Ibu. Ibu bilang bapak sempat beristighfar tiga kali, lalu kalimat dua syahadat dua kali. Hingga akhirnya hanya mampu menyebut Allah hampir tiga kali.

Saya yang saat itu sedang menjemput anak dan istri, sempat ditelepon adik saya, bahkan saya hanya menyarankan segera dibawa ke dokter saja. Namun, begitu ditelepon kedua kalinya, saya merasa agak gugup. Saat itu pula saya mencoba menghubungi adik paling bungsu untuk segera menelepon ibu dan memastikan kondisinya, jika perlu datang langsung ke Jatibening.

Sampai di rumah, kembali telepon berdering dan langsung diterima istri saya. Entah apa yang didengarnya, tapi tiba-tiba saja tangis dan airmatanya tumpah tak tertahan. Begitu juga dengan anak saya yang menagnis sejadi-jadinya. Saya jadi gamang dan hanya terpaku di depan komputer yang masih menyisakan pekerjaan untuk diselesaikan. Sampai akhirnya saya sadar kalau bapak sudah dipanggil oleh Allah SWT. Secepat itu pula jemari saya menari di atas kibor memberi kabar ke beberapa milis dan status di fesbuk. Saya tidak tahu apakah mudah dipahami atau tidak, dan sudah lengkap atau belum info yang saya sampaikan. Sempat pula saya hubungi teman untuk meminta pengunduran deadline satu atau dua hari untuk penulisan edisi kemerdekaan yang seharusnya diselesaikan hari Minggu.

Masih dalam keadaan bingung, saya sempat cek kondisi lalu lintas yang sejak Sabtu petang dilanda macet yang berkepanjangan. Sampai akhirnya saya putuskan istri dan anak berangkat lebih dulu mobil diantar oleh ipar, sementara saya memutuskan menggunakan sepeda motor. Pelan tapi pasti, saya pun mulai menyusuri jalan dengan kecepatan rendah. Air mata tak henti mengalir. Nyaris tak ada emosi sepanjang jalan. Bayangan bapak seperti menemani selama perjalanan menuju Jatibening. Kemacetan parah memang terjadi di Margonda, Pasar Minggu sampai Pancoran, dan Kalimalang (lalu-lintas sempat dialihkan lewat Pondok Bambu). Padahal saat itu waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul 22.00 dan tiba di Jatibening sekitar pukul 23.00.

Jejeran mobil sudah memenuhi kiri dan kanan jalan menuju rumah. Sejumlah pelayat nampak ada di depan rumah dan sebagian lagi berbincang di garasi. Ternyata saya tiba lebih dulu daripada istri dan anak saya. Saya langsung masuk ke dalam rumah dan memeluk ibu. Tak ada air mata di wajah ibu. Sepertinya ibu sudah sangat siap dan ikhlas melepas kepergian bapak yang menemaninya selama setengah abad. Hanya wajah kakak dan adik yang terlihat sembab. Sempat bersalaman dengan dua teman SMA, Suherman dan Yuli. Pelan saya ambil Surah Yassin dan membacanya. Sambil berdoa, saya mencoba melepaskannya seikhlas mungkin. Sempat saya pandangi wajah almarhum yang lebih terlihat layaknya sedang tertidur.

Selebihnya, saya dan adik bungsu coba berkoordinasi dengan RT dan pengurus Masjid, serta Yayasan Kamboja. Sampai akhirnya beberapa teman semasa SMP, SMA, dan kuliah sudah mulai berdatangan. Juga beberapa sanak keluarga. Ya, banyak yang kehilangan sosok seorang ayah, suami, sahabat, sesepuh, dan pastinya sosok yang jarang bicara tanpa tujuan. Jika ditanya, saya akan menjawab bahwa bapak menjadi orang yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidup saya. Sikap, ketelitian, keuletan, suka berorganisasi, dan silaturahim, serta pemerhati Bahasa Indonesia, seakan melekat dalam diri saya.

Hingga akhir hayatnya, tak ada riwayat kesehatan yang serius dideritanya. Fisiknya terbilang tangguh. Di usia awal 70 tahunan, beliau masih sangggup bepergian jauh dengan mengemudikan mobil sendiri hingga ke luar kota. Sampai akhirnya sekitar dua bulan lalu mengakui bahwa fisiknya sudah jauh menurun dan meminta mobil dijual saja. Jika adik bungsu tak sempat mengantar, beliau bersama ibu lebih memilih naik angkutan umum atau taksi untuk bepergian.

Sekali lagi terima kasih buat keluargaku yang sudah ikhlas melepas kepergian Bapak. Juga kepada sanak famili, warga perumahan Jatibening Dua, serta pihak-pihak yang sudah banyak membantu doa dan materi. Mohon maaf pula kepada kerabat dan kolega yang sempat tercecer mengingat banyaknya mobil pengantar yang mengiringi ke pemakaman yang penuh dengan peziarah jelang Ramadhan.

Terima kasih buat teman-teman, kerabat, kolega, yang sudah memberikan doa via sms, milis, maupun fesbuk yang tidak sempat saya balas. Moga doa yang dikirimkan dijabah oleh Allah SWT. Dan Insya Allah, amal dan ibadah almarhum diterima Allah SWT dan keluarga besar kami diberikan kekuatan iman dan ketaqwaan. Amin ya robbal alamin.

Wassalamualaikum Wr Wb

Bapakku