Membangun Bangsa Dari Desa*



GORIS Mustaqim tengah bersiap-siap ke Kopenhagen, Denmark, kemarin. Bersama pemenang British Council Climate Change lainnya, Inggried Dwi Wedhaswary, Goris menumpang pesawat yang lepas landas pukul 18.00 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jawa Barat.

Mereka berdua akan menghadiri pertemuan tingkat tinggi COP15 di Denmark pada 7-18 Desember 2009, bergabung dengan 200 juara dari 40 negara lain.
Pada ajang perundingan iklim itu, harapan Goris cukup membubung tinggi.

“Agar dihasilkan protokol yang mengikat negara peserta dan semoga mengucur dana untuk kegiatan anak muda agar lebih berperang melawan perubahan iklim,” kata Goris, Selasa(2/11).

Goris bukan seorang aktivis lingkungan yang sibuk melakukan advokasi lingkungan dan menyuarakan perubahan iklim dengan vokal. Dia pengusaha muda. Namun, semua produk yang dia kembangkan di bawah perusahaannya ramah lingkungan.

“Kalau kita baik kepada alam, dia pasti akan memberikan sesuatu kepada kita. Apa pun bentuknya,” ucapnya.

Goris pun terpilih berangkat ke Denmark karena usahanya menggiatkan penggunaan energi alternatif untuk memproduksi minyak aromatik bersama 4.000 petani akar wangi di Garut, Jawa Barat. Kini, pria yang memilih menjadi pengusaha karena ingin hidup mandiri itu mendirikan PT Resultan Nusantara.

Perusahaan miliknya ini bergerak di bidang RFID (radio frequency identification). Produknya sejenis smart card yang bisa diaplikasikan untuk berbagai hal, misalnya absensi ataupun akses kontrol. Ke depan, Goris merencanakan proyek panas bumi dan akan bekerja sama dengan Pertamina untuk menyuling minyak di sebuah lokasi.

Membangun desa Setelah lulus dari ITB pada 2006, Goris kembali ke kampung halamannya di Garut, Jawa Barat. Dia menginisiasi Garut Entrepreneur Challenge pada 2008. Misinya memancing para pemuda Garut untuk menggali potensi lokal. “Garut itu punya semuanya! Gunung, bukit, pantai, situ. Garut itu luar biasa!” ucap pemuda 26 tahun itu penuh semangat.

Kemudian ia membangun Asgar Muda, sebuah komunitas pemuda Garut untuk mewujudkan kepedulian terhadap kota mereka. “Bukan berarti semua harus kembali ke Garut setelah lulus kuliah. Beberapa anggota Asgar Muda sekarang sedang kuliah di luar negeri. Tapi mereka aktif di milis. Dukungan terhadap Garut bisa berupa apa saja, tidak melulu kehadiran fisik,” ucapnya sambil tersenyum.

Terbukti, wadah yang memiliki 500 anggota tersebut bisa berperan aktif dalam proses pengembangan daerah. Salah satu bidangnya ialah penelitian dan pengembangan. Mereka melakukan pembinaan kepada pemuda dan ibu-ibu di Desa Jelawu, Garut, untuk mengembangkan kerajinan akar wangi. Asgar Muda membantu masyarakat Jelawu mengemas tumbuhan yang konon hanya tumbuh di Garut itu menjadi lebih cantik yang akhirnya berpengaruh pada nilai jual. Selain itu, Asgar Muda membantu pemasaran hasil kerajinan tersebut.

Goris juga berupaya menghasilkan panas dari tanaman akar wangi. “Karena saat pemerintah mengonversi minyak tanah menjadi gas elpiji, banyak yang bangkrut dan tidak bisa memenuhi urusan perutnya,” jelasnya singkat.

Kepedulian Goris tidak berhenti di akar wangi. Insinyur sipil itu juga menggaet teman-teman kuliahnya dan Chevron untuk membangun satu pembangkit listrik tenaga air untuk daerah tersebut. “Karena daerah adalah ujung tombak kemajuan suatu bangsa,” ucapnya lugas.
____________

GORIS MUSTAQIM
TEMPAT, TANGGAL LAHIR: Garut, 14 Maret 1983
PENGHARGAAN:
· Juara 1 Jejaka Bandung (2003)
· Nominasi Indonesia Berprestasi XL 2009 (3 besar)
· Competition Entrepreneur Awards (British Council)
· Finalis Asia’s Best Young Entrepreneur 2009 (Business Week)
· International Climate Champions British Council

*Diambil dari Media Indonesia 3 Desember 2009
*maria@mediaindonesia.com

Advertisements

Menghindari Dunia dari Sumber Konflik Terbesar


Studi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon

Sebuah studi bertajuk “Understanding Carbon Capture and Storage Potential in Indonesia” telah diluncurkan di Jakarta, 10 November 2009 lalu. Studi tersebut merupakan hasil kerjasama antara kelompok kerja Carbon Capture and Storage (CCS) yang terdiri atas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian Negara Lingkungan Hidup, PT PLN (Persero), Komite Nasionel Indonesia–World Energy Council (KNI-WEC), Kedutaan Besar Inggris Jakarta, International Energy Agency (IEA), the Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), Expert Group On Clean Fossil Energy (EGCFE), serta sektor swasta. Studi CCS ini secara resmi diluncurkan Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh, serta Duta Besar Inggris yang diwakili oleh Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Inggris Jakarta Matthew Rous.

Peluncuran studi ini akan mengajak para pemegang kebijakan, peneliti, praktisi industri, dan masyarakat untuk membahas dan mendiskusikan pokok-pokok hasil studi, perkembangan teknologi CCS saat ini dalam skala internasional dengan berfokus pada kebijakan, termasuk aspek-aspek teknis, lingkungan, kesadaran masyarakat akan teknologi ini dan peraturannya. Menurut Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Inggris Jakarta Matthew Rous, kelompok kerja ini telah bekerja bersama selama satu tahun sejak diselenggarakannya Pelatihan CCS Nasional I yang berlangsung pada bulan Oktober 2008 lalu. Temuan-temuan awal studi ini menjelaskan CCS sebagai pilihan yang memungkinkan bagi Indonesia, mengingat beragamnya sumber-sumber emisi di Indonesia seperti gas asap, industri produk sampingan, pembangkit listrik, serta tempat penyimpanan geologis terpilih. Selain rancangan teknis proyek CCS di Indonesia, diperlukan juga mengembangkan sebuah kerangka regulasi nasional yang komprehensif dan mengumpulkan dukungan dari komunitas internasional untuk mempercepat pembelajaran teknologi implementasi demi mengurangi emisi dan menjaga ketahanan energi.

Di Indonesia, wilayah Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan merupakan kawasan yang sangat potensial dalam pengembangan CCS di Indonesia. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh, di kedua kawasan tersebut terdapat banyak reservoir kosong yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan proyek CCS. “Keberadaan reservoar-reservoar kosong di Kalsel dan Sumsel, berada di dekat aktivitas pertambangan migas dan pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang berpotensi menghasilkan karbondioksida dalam jumlah yang cukup besar,” ujar Darwin Zahedy Saleh.

Selain kedua kawasan tersebut, lanjut Darwin, karakter yang hampir sama juga dimiliki Kepulauan Natuna, sekaligus sebagai wilayah yang cukup menjanjikan bagi pengembangan proyek CCS. Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dengan 3.000 ilmuwan yang tergabung di dalamnya yang meraih nobel perdamaian pada tahun 2007, CCS memiliki potensi untuk membantu mengurangi separuh dari total emisi yang dapat mendukung stabilnya tingkat CO2 secara global pada akhir abad 21 ini sekaligus menghindari dampak perubahan iklim yang lebih ekstrim dari sekarang. Penangkapan dan Penyimpanan Karbon yang lebih dikenal dengan CCS tersebut merupakan sebuah proses pemisahan CO2 yang terintegrasi dan diterapkan pada pembangkit industri seperti pembangkit listrik bertenaga batubara, pembangkit pemroses minyak dan gas, dan sebagainya, yang dikirimkan ke tempat penyimpanan, dan diinjeksi ke dalam formasi di bawah tanah.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2005 lalu tercatat hampir 293 juta ton emisi CO2 yang dihasilkan dari sektor energi nasional. Dari sektor ini pula, teridentifikasi akan tercipta 1.150 juta ton CO2 pada tahun 2025. Harus diakui, hingga kini belum ditemukan solusi terbaik yang dapat membatasi emisi CO2. Hal itu lebih banyak dipicu oleh peningkatan permintaan energi, serta ketergantungan dunia terhadap energi fosil yang terus saja berlanjut. Nah, di sinilah letak peran CCS yang akan menawarkan potensi yang baik dalam upaya mengurangi emisi CO2 dari berbagai sumber penghasil terbesar seperti pembangkit listrik bertenaga batubara serta pengolah minyak dan gas di Indonesia. Tantangan utama dalam penyebaran sistem ini diperkirakan akan muncul dari sejumlah aspek nonteknis seperti kebijakan dan berbagai elemen komersial. Walau begitu, upaya-upaya semacam ini perlu mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, melakukan upaya efektif secara kongkret untuk menghindarkan dunia dari bencana lingkungan yang dapat menjadi sumber konflik terbesar pada masa mendatang.