Izinkan Mini Market Kembali Jual Bir, Ahok Tak Paham Aturan


images (2)ed

 

Jakarta, terompahku —Penyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menyatakan tidak ada larangan mini market menjual miras golongan A (bir dan sejenisnya) dinilai sebagai bentuk ketidakpahaman seorang kepala daerah terhadap regulasi terkait miras. Oleh karena itu, Ahok diminta mencabut pernyataannya yang membolehkan mini market di Jakarta menjual bir karena menimbulkan keresahan dan tentunya melanggar aturan.

“Saya berpikiran positif saja, mungkin beliau lagi banyak persoalan jadi tidak fokus, sehingga pernyataannya keliru. Hingga detik ini, Permendag 06/2015 masih berlaku. Artinya seluruh mini market di Indonesia dilarang menjual miras. Kalau melanggar (menjual bir) izin usahanya bisa dicabut. Pak Ahok kan terkenal dengan orang yang paling taat dengan konstitusi, jadi ikuti aja aturan, jangan buat tafsir sendiri,” kata Senator Jakarta Fahira Idris yang juga Ketua Gerakan Nasional Anti Miras (Genam), di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (25/5).

Pernyataan Ahok yang menyatakan bahwa aturan mengenai peredaran miras di Jakarta dikembalikan ke Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum sehingga bir boleh dijual di mini market juga sebagai bentuk ketidakpahaman Ahok terhadap konstruksi hukum dan aturan soal miras di Indonesia.

Fahira mengungkapkan, pasal soal miras di Perda Ketertiban Umum cuma satu, yaitu Pasal 46 yang menyatakan ‘setiap orang atau badan dilarang mengedarkan, menyimpan dan menjual minuman beralkohol tanpa izin dari pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan’. Artinya, DKI Jakarta belum punya aturan khusus atau perda tentang miras sehingga harus mengikuti peraturan perundang-undangan soal miras yaitu Perpres No. 74/2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol yang menjadi dasar keluarnya Permendag No. 06/2015 yang melarang total semua mini market/toko pengecer di Indonesia menjual segala jenis miras.

“Saya minta beliau tunjukkan pasal mana dalam Perda Ketertiban Umum yang membolehkan mini market jual bir? Saran saya sebelum lempar penyataan ke media, soal regulasi miras, beliau konsultasi dulu ke Biro Hukum Pemprov DKI Jakarta, jadi tidak keliru dan membuat warga resah. Saya minta beliau cabut pernyataannya yang mengatakan mini market boleh jual bir,” ujar Wakil Ketua Komite III DPD ini.

Fahira menambahkan, salah satu alasan terbitnya Permendag No. 6/2015 yang melarang mini market menjual bir adalah karena memang semua mini market di Indonesia letaknya berada di permukiman di mana sebagaimana kita tahu sesuai Permendag 20/2014, terdapat 10 lokasi yang dilarang keras ada aktivitas penjualan miras, salah satunya di permukiman.

“Semua mini market di Jakarta itu letaknya di permukiman. Jadi tidak ada alasan apalagi dasar hukum, Pak Ahok izinkan mini market jual miras. Kalau tetap ngotot, kita akan lawan. Jadi jangan coba-coba keluarkan izin,” kata Fahira.

Harusnya saat ini, lanjut Fahira, Pemprov DKI fokus kepada tindakan pelanggaran yang masih banyak dilakukan bar dan restoran di Jakarta. Selain masih banyak dari mereka yang tidak punya Surat Keterangan Penjual Minuman Golongan A (SKP-A)/Surat Keterangan Penjual Langsung Minuman Golongan A (SKPL-A), mereka juga masih menjual miras kepada siapa saja tanpa memeriksa identitas pembeli, sudah di atas 21 tahun atau belum. (j13)

Advertisements

Bupati Muara Enim H. Kalamudin D, SH, MH: Meningkatkan Kemampuan dan Kemandirian Daerah


Program Gerbang Serasan yang digulirkan oleh Pemerintah Kabupaten Muara Enim, sebenarnya telah dimulai sejak H. Kalamudin D, SH, MH, menjabat sebagai wakil bupati pada periode sebelum terpilih menjadi Bupati untuk periode 2003-2008. Gerbang Serasan (Gerakan Pembangunan Melalui Pemberdayaan Masyarakat di Bumi Serasan Sekundang) merupakan program strategis Pemkab Muara Enim  dalam upaya memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.

Program yang telah berjalan lebih dari lima tahun tersebut terbukti mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat di Kabupaten Muara Enim. Namun demikian, Kalamudin D sebagai pencetus program tersebut, tak mau gegabah untuk menargetkan dan memberikan penilaian keberhasilan yang telah dicapainya. Padahal sejumlah kabupaten di Indonesia telah mempelajari dan menerapkannya. Keberhasilan Gerbang Serasan diharapkan dapat menjadikan Kabupaten Muara Enim sebagai kabupaten yang mampu meningkatkan pelayanan dan pendapatan masyarakatnya.

 

Sejauh mana Anda melihat potensi keberhasilan dari program Gerbang Serasan yang bahkan sempat dipelajari dan diterapkan oleh daerah lain?

Dari hasil evaluasi, ternyata yang paling berhasil adalah dari sektor peternakan yaitu ayam pedaging. Untuk sektor perkebunan belum ada hasil karena belum ada pengembalian. Berikutnya adalah sektor perikanan. Gerbang Serasan merupakan salah satu kebijakan daerah untuk mengurangi kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan. Para petani pun diberikan pinjaman modal dengan bunga yang sangat rendah.

Saya sempat bertanya kepada salah satu bupati di Sulawesi Tenggara yang telah menjalankan program yang hampir sama dengan Gerbang Serasan. Ternyata mereka telah datang ke Muara Enim untuk melakukan studi banding.

Dengan program Gerbang Serasan, Pemkab Muara Enim telah meletakkan pondasi yang kuat dalam pemberdayaan masyarakat. Bisakah diperkirakan kapan target keberhasilan itu akan dicapai?

Saya tidak bisa menjawab soal target dari program ini, karena kita selalu tetap berusaha. Jika memang ada pertumbuhan, kita akan pacu terus peningkatannya. Kita juga tidak bisa membatasi karena jika program ini memang diminati, tentu akan banyak yang datang ke sini.

Bagaimana dengan sumber dana bantuan yang diberikan kepada masyarakat?

Program Gerbang Serasan memanfaatkan dana bergulir yang dipermudah agar beban masyarakat tidak berat. Terutama bagi mereka yang benar-benar punya keinginan untuk meningkatkan pendapatannya. Program ini, selain memberikan pinjaman modal, juga diberikan bimbingan dan penyuluhan dengan menempatkan petugas penyuluhan lapangan, pelatihan, pembentukan koperasi, dan kelompok-kelompok tani. Dengan demikian, ke depannya diharapkan di wilayah tersebut akan menjadi sentra usaha. Pemerintah sebagai fasilitator melalui aparatnya harus memiliki keikhlasan dan kebesaran hati untuk terus memberikan dorongan. Bahkan bila perlu dibantu carikan pemasaran dan jalur distribusinya, atau bahkan pemerintah yang membelinya.

Dan satu hal yang perlu diingat adalah bahwa program ini bukan untuk profit pemerintah, tapi sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Dengan jumlah kredit sebesar Rp. 31.549.752.700,-, apakah sudah sesuai dengan target dan sasaran?

Sebenarnya dana guliran tersebut sangat diminati oleh masyarakat dengan permintaan yang terus meningkat. Namun kita perlu membatasi dan memberikan pengertian kepada ,masyarakat bahwa Gerbang Serasan merupakan pilot project yang berupaya memberikan penyadaran kepada masyarakat luas bahwa dengan bekerja sungguh-sungguh akan menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan keluarga.

Dengan luas lahan 62,9% untuk pertanian, apa yang menjadi daya tarik investor?

Dalam rangka proses otonomi daerah dan pengurangan angka pengangguran dan kemiskinan, sudah banyak investor yang masuk di sektor perkebunan dengan pola inti plasma 50:50. Kita pun memberikan kemudahan untuk iklim investasi di sini. Pemkab juga telah mendirikan perusahaan daerah. Juga dalam pendirian PLTU, kita mendapatkan saham 10%. Itu semua untuk meningkatkan pendapatan asli daerah sekaligus menunjang program Gerbang Serasan. Demikian pula dengan potensi geothermal yang berada di dua lokasi, satu milik Pertamina dan satu lagi diupayakan menjadi kerjasama antara pemkab dan pihak swasta.

Dengan keberhasilan program Gerbang Serasan, bagaimana Anda melihat prospeknya di masa mendatang?

Sebenarnya keinginan saya adalah bersinergi dengan BUMN dalam mengembangkan potensi perkebunan kelapa sawit dan karet dengan melakukan peremajaan. Artinya, walaupun sudah mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, ternyata masih banyak pula yang perlu diberikan bantuan.  Yang pasti, kita akan terus membenahi dan mengkaji program tersebut dengan terlebih dahulu mengauditnya. Setidaknya program ini berjalan sesuai dengan misinya yaitu menjalankan pemerintahan yang baik. Juga meningkatkan kemampuan dan kemandirian daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Jadi, berikan juga kesempatan bagi perusahaan daerah untuk ikut berpartisipasi. Dan yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan ketahanan budaya.

Profil OKI: Menyentuh kepentingan masyarakat


Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) seluas 19.023,47 Km2 terdiri dari 18 kecamatan dan 283 desa/kelurahan. Dataran rendah berupa 75% rawa-rawa membentang dari utara ke selatan dan 25% sisanya berupa daratan. Namun begitu, OKI dikenal sebagai salah satu lumbung beras Provinsi Sumatera Selatan, di samping beberapa komoditi unggulan lainnya seperti ubi kayu, jagung, dan pisang. Demikian pula dengan sektor peternakan berupa kerbau potong dan kerbau perah, serta sapi potong yang pengembangannya sangat menjanjikan, termasuk potensi ternak itik dan perikanan (ikan air tawar dan ikan air laut) yang sesuai dengan kondisi perairan di OKI.

Sementara di sektor perkebunan dengan luas areal 192.470,28 hektar didominasi tiga komoditi unggulan berupa kelapa sawit (73.124,81 ha), karet (112.332,87 ha), dan kelapa (7.058 ha). Khusus kelapa sawit dan karet, masih terbuka peluang investasi berupa pencetakan lahan perkebunan baru melalui pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) dan plasma. Dan itu artinya terbuka pula untuk mendirikan industri hilir seperti pabrik minyak goreng, margarin, sabun, kosmetik, minyak pelumas, serta pabrik crumb rubber di sentra perkebunan seperti di Kecamatan Tulung Selapan.

Sedangkan untuk pengembangan pertambangan dan energi, OKI diyakini memiliki potensi cukup besar seperti batubara, pasir kwarsa, batu granit, dan pasir besi. Cadangan batubara yang terdapat di Kecamatan Mesuji diperkirakan berjumlah 325 juta ton.

Secara umum, program pembangunan di Kabupaten OKI yang dilakukan sejak era kepemimpinan Bupati Ishak Mekki memang dirasakan langsung menyentuh kepentingan masyarakatnya. Setidaknya program yang digulirkan lebih fokus dan terukur, sehingga ada percepatan pembangunan dengan menselaraskan seruan global dalam hal penanggulangan kemiskinan, pengangguran, keamanan, pelayanan publik, pemberantasan korupsi, dan sebagainya. Khusus pelayanan publik, merupakan suatu tolok ukur keberhasilan dengan mengupayakan pelayanan satu atap yang pada tahun 2008 nanti akan ada pimpinan unitnya.

Ishak Mekki mengakui masih banyak desa-desa yang belum dialiri listrik, terutama dari jaringan listrik PLN ke lokasi desa-desa yang membutuhkan sangat jauh. Sehingga dibangunlah jaringan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), bantuan listrik tenaga angin di pesisir pantai, serta bantuan generator di daerah yang sulit terjangkau listrik. Penerangan jalan juga mendapat perhatian, khususnya yang termasuk dalam jaringan PLN.

Mengenai air bersih, OKI memang memiliki kendala tersendiri. Seperti di Air Sugihan, diberikan bantuan sebuah kapal pengolah air bersih berkapasitas 30 ton yang didistribusikan kepada masyarakat. Demikian pula dengan keberadaan sumur bor, sumur gali, sumur pompa tangan, dan sumber air lainnya sebagai salah satu fokus perhatian Pemkab OKI. Pemerintah Kabupaten OKI juga memberikan perhatian pada pembangunan bidang agama seperti mushola dan pondok pesantren.

Salah satu visi Pemkab OKI adalah memperkuat pemberdayaan perekonomian masyarakat di pedesaan. “Kini pedesaan sudah merupakan daerah produksi dengan hasil pertanian dan perdagangan. Selama ini kondisinya sangat memprihatinkan dan sangat kurang tersentuh. Jadi yang kita lakukan adalah membangun pedesaan agar memiliki daya saing dengan perkotaan,” ungkap Ishak Mekki.

Menurut Ishak Mekki, kalau petani atau desa itu tidak maju, jangan lagi salahkan pemerintah yang sudah banyak memfasilitasi, memberi dukungan, dan bantuan dana. “Sebenarnya sudah luar biasa kita berupaya mewujudkan kesejahteraan kepada masyarakat. Masyarakat pun jangan hanya menonton proses pembangunan, tetapi kita ajak untuk ikut melaksanakan dan mendapatkan penghasilan dari situ,” ungkapnya.

Kini, pembangunan infrastruktur di OKI terus berjalan semakin baik, termasuk semua akses jalan darat ke pedesaan kini sudah terbuka. Dengan perhatian ke semua lini, kini telah diikuti dengan peningkatan pendapatan perkapita sudah mencapai di atas Rp. 5 juta. Dengan dibukanya lahan menjadi lebih bermanfaat, ke depannya diharapkan mampu mengundang investor, sekaligus mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

Untuk mengenal lebih jauh tentang berbagai potensi yang dimilikinya, Pemkab OKI telah melakukan upaya promosi melalui berbagai kegiatan budaya maupun pameran dalam skala kabupaten dan provinsi. Cerita tentang pendatang yang saat tiba atau melintas di kota Kayuagung dan bertanya tentang di mana kota Kayuagung, kini sudah tak terdengar lagi. Kayuagung yang kini menjadi ibukota Kabupaten OKI, telah berkembang pesat dengan ikon taman segitiga emas yang menjadi pusat aktivitas warganya di setiap akhir pekan. Berbagai prestasi pun telah diraih oleh OKI. Dengan dana yang boleh dibilang terbatas jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya, OKI berhasil membangun dengan efisiensi dana dan tepat sasaran.

Ir. H. Ishak Mekki, MM, Bupati Ogan Komering Ilir: Mewujudkan OKI yang Mandiri dan Sejahtera


Selayaknya masyarakat di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mulai merasakan dampak dari program pembangunan yang dicanangkan oleh Bupatinya Ir. H. Ishak Mekki, MM. Bupati kelahiran Kayuagung ini mengenal betul kendala dan potensi di wilayahnya. Tak heran jika program pembangunan di OKI langsung menyentuh kepentingan masyarakat, khususnya pemberdayaan perekonomian di pedesaan.

Kesederhanaan dan kedekatannya secara langsung dengan warganya, menjadi salah satu kesuksesan jalannya pembangunan di OKI. Bahkan di sela perbincangan, Ishak Mekki memberikan isyarat kesiapan dirinya untuk maju kembali dalam Pilkada tahun 2008, sekaligus merealisasikan kelanjutan program pembangunan selama masa periode 2003-2008. Berikut petikan perbincangannya.

 

Apa yang Anda bayangkan pertama kali saat menjadi Bupati OKI?

Pada awal sebelum bertugas, sebenarnya sudah terbayang tentang kondisi OKI yang merupakan daerah pertanian, rawa, dan daratan. Penduduknya tersebar dan sulit dijangkau. Yang pertama kali saya pikirkan adalah bagaimana mewujudkan infrastruktur pedesaan sekaligus membantu pembangunan di pedesaan. Jadi program saya adalah memberikan prioritas pembangunan infrastruktur dengan tahap pertama adalah membangun jalan-jalan kabupaten di OKI. Kondisi jalan kabupaten di OKI pada tahun 2004 sangat rusak parah. Jalan-jalan tersebut kita perbaiki dan jembatan kayu diganti dengan jembatan beton.

Pada tahun 2004, kita sukses membantu pelaksanaan Pilpres, Pemilihan Legislatif, dan PON XVI yang menjadi penyelenggara cabang olahraga dayung dan ski air. Khusus PON XVI, OKI hanya punya sarana Danau Teluk Gelam yang dikelilingi hutan, tanpa ada tempat penginapan dan sebagainya. Alhamdulillah, akhirnya kita dapat membangun sarana pendukungnya, sukses, dan bahkan mendapat penilaian terbaik dibandingkan saat penyelenggaraan kedua cabang olahraga tersebut di daerah lain.

Upaya apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan perekonomian?

Pada tahun 2006 kita menguatkan ekonomi masyarakat, khususnya di pedesaan dengan membantu pendanaan yang digulirkan kepada masyarakat, peralatan bagi industri rumah, serta bantuan modal dan sebagainya. Untuk pembangunan di pedesaan, dibantu dengan program otonomi desa, termasuk infrastrukturnya.

Demikian pula dengan sektor pendidikan yang menyisihkan 20% dari total dana APBD seperti yang diamanatkan undang-undang. Jadi akan banyak yang dirasakan masyarakat dengan anggaran sebesar itu. Salah satunya adalah membebaskan biaya pendidikan hingga tingkat SLTA. Pada tahun 2007 ini pula, diprioritaskan bagi gedung SD, SMP, dan SMA yang rusak ringan dan berat untuk direnovasi, termasuk penambahan ruang kelas maupun gedung baru. Jadi kita memang memiliki komitmen yang tinggi pada masalah pendidikan di OKI, karena erat kaitannya dengan pengentasan kemiskinan. Kita juga telah mewujudkan berdirinya Universitas Islam OKI (Uniski) yang akan menjadi jembatan penyetaraan pendidikan guru-guru yang umumnya masih lulusan SPG, D1, maupun D2. Selain itu, Uniski juga memberikan beasiswa kepada lulusan SLTA yang berprestasi, termasuk pegawai negeri maupun insansi lain yang ingin mencapai tingkat S1.

Bagaimana dengan masalah kesehatan?

Untuk masalah kesehatan, juga telah diupayakan melengkapi sarana dan prasarana rumah sakit. Demikian pula dengan upaya pemerataan layanan kesehatan bagi masyarakat, seperti Puskesmas dan Pustu yang banyak kondisinya sangat memprihatinkan. Kita juga akan mewujudkan di setiap desa ada Puskesdes dengan bentuk kerjasama seperti masyarakat yang menyiapkan tempat dan kita menyediakan tenaga medis dan peralatannya. Di samping itu ada juga layanan pengobatan gratis bagi masyarakat miskin.

Apa obsesi Anda terhadap pembangunan di OKI?

Saya memiliki obsesi mewujudkan OKI yang mandiri dan sejahtera. Mengingat wilayah OKI adalah daerah pertanian, jadi bagaimana kita mengembangkan sektor ini menjadi maju dan meningkatkan penghasilan para petani. Bekerja sama dengan masyarakat, sejumlah areal lahan kritis kita bantu secara padat karya menjadi lahan produktif dengan mencetak sawah baru. Sehingga diharapkan OKI mampu menjadi lumbung pangan penopang Sumatera Selatan, khususnya beras, seperti di Lempuing dan Air Sugihan.

Wilayah OKI yang terdapat banyak rawa juga sangat potensial bagi pengembangan perikanan dan sangat berharap sentra perikanan Sumatera Selatan ada di OKI. Demikian pula dengan potensi peternakan yang sempat saya paparkan di Departemen Transmigrasi agar kota Pampangan bisa menjadi kota terpadu mandiri. Di sektor perkebunan, sejauh mata memandang dipenuhi kelapa sawit dan karet. Walau kontribusi investor kepada pemerintah kabupaten sedikit sekali, tapi dampaknya kepada masyarakat sangat dirasakan peningkatan kesejahteraannya.  Pada sektor kehutanan, potensi OKI yang memiliki salah satu hamparan hutan terbesar se-Asia Tenggara yaitu 580.000 hektar, dengan Hutan Tanaman Industri (HTI) akan menjadi aset berharga sekaligus menyerap tenaga kerja yang besar dan pemasukan bagi APBD.

Merambah Potensi Wisata dan Lingkungan Hidup


Sebagai salah satu kabupaten yang sedang berkembang, OKI terus berupaya mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya. Lokasi OKI yang strategis juga merambah peluang di sektor pariwisata. Salah satunya adalah kawasan wisata Danau Teluk Gelam seluas 300 hektar yang telah sukses menjadi penyelenggara PON XVI tahun 2004 untuk cabang olahraga dayung dan ski air. Danau Teluk Gelam terletak 28 Km dari Kayuagung atau 93 Km dari Palembang, tepatnya di pinggir Jalan Lintas Timur dan dikelilingi perkebunan kelapa sawit.

Selain sedang dikembangkan untuk wisata air, Danau Teluk Gelam juga cocok sebagai tujuan wisata agro dengan komoditi lokal berupa durian, duku, dabn lainnya. Sarana yang tersedia juga sudah cukup lengkap, mulai dari hotel berbintang dua, olahraga bermotor, olahraga air, permainan anak-anak, home stay (rumah adat sistem bongkar pasang), serta lintasan jogging dan bersepeda santai di sekeliling danau. Lomba burung tingkat regional dan nasional juga sudah beberapa kali diselenggarakan di situ. Bupati Ishak Mekki pun memberikan peluang kepada investor untuk mengelola kawasan tersebut menjadi salah satu tujuan wisata utama OKI.

Di pesisir pantai timur Kabupaten OKI, terdapat Pulau Maspari yang merupakan pulau karang dengan pantai alami berhampar pasir putih. Perairan karangnya didiami beragam biota laut yang indah, membuatnya sangat cocok sebagai tujuan wisata bahari seperti memancing (fishing) dan menyelam (diving).

Dan satu lagi potensi unik yang dimiliki oleh OKI adalah wisata legenda di Bukit Batu, Kecamatan Pampangan. Di situ terdapat sejumlah benda bernilai mistis seperti Batu Gajah, Batu Pengantin, Batu Lesung, dan Pohon Jerangkung (pohon aren) yang dianggap pohon beracun dan memiliki kekuatan mistis. Keberadaan Bukit Batu juga erat kaitannya dengan cerita legenda rakyat tentang tokoh sakti Si Pahit Lidah yang bertempur dengan Si Mata Empat.

Selain potensi wisata. OKI juga memberikan perhatian dengan menggalakkan kegiatan industri kecil dan menengah, kerajinan rakyat, termasuk industri rumah tangga seperti kerupuk, tikar, keramik, ukiran kayu, furnitur, dan dodol durian. Setidaknya citra positif Kabupaten OKI sudah mulai tercermin dari berbagai potensi yang mulai mencuat dan terus berkembang, sekaligus menenggelamkan status sebagai salah satu kabupaten terbelakang di Indonesia.

OKI memang sedang menggeliat. Namun OKI juga tetap berupaya menguatkan perekonomian di pedesaan dengan tetap memperhatikan pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup. Salah satunya adalah upaya pelestarian dengan penanaman kembali hutan bakau yang rusak berat dan rusak ringan. Pemkab OKI juga melakukan peningkatan penanggulangan titik api (hot spot) untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan. Demikian pula dengan potensi pemanfaatan lahan gambut yang diperkirakan berjumlah 2,5 milyar m3 sebagai sumber eneergi alternatif.

 

Mengangkat Harkat dan Potensi Alam Serasan Sekundang


Menjadi salah satu kabupaten terkaya di Provinsi Sumatera Selatan, tentu saja harus diikuti dengan rencana strategis Pemerintah Kabupaten Muara Enim untuk mendorong peningkatan sumber daya mineral dan energi yang dimilikinya. Kabupaten Muara Enim memiliki sumber daya mineral dan energi yang melimpah seperti batubara (± 6,25 milyar ton), minyak bumi (2,94 juta MSTB), gas bumi (1,383,68 BSCF), air –Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro— (± 2.190,97 KW), panas bumi (± 1.310 Mwe), dan coal bed methane (34,305 TSCF). Itu berarti menunjukkan adanya peluang dan tantangan untuk dapat mengolahnya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan energi yang mencukupi. Dari usaha pertambangan tersebut, Pemkab Muara Enim mendapatkan kontribusi pajak, retribusi, dan royalti.

Sementara potensi sumber daya pertanian di Kabupaten Muara Enim meliputi sub sektor perkebunan, tanaman pangan, peternakan, kehutanan, dan sub sektor perikanan. Karet, kopi, dan kelapa sawit menjadi primadona produk perkebunan. Sub sektor tanaman pangan diisi produk padi, jagung, ketela, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan. Sedangkan budidaya ternak ayam ras pedaging dan ayam petelur ikut menopang keberhasilan sektor peternakan. Sektor peternakan memperlihatkan kegairahan tersendiri dengan keberhasilannya mengentaskan kemiskinan dalam program Gerbang Serasan.

Di sub sektor kehutanan yang relatif kecil dengan produk utama kayu gelondongan, kayu bakar, dan lainnya, hingga kini masih terkendala dengan upaya-upaya pelestaraian lingkungan hidup. Sedangkan sub sektor perikanan yang kerap mengalami pasang surut dalam pertumbuhannya, lebih banyak mengalami kendala dengan kerusakan ekosistem pengairannya.

Lalu bagaimana dengan potensi wisata di Muara Enim?

Dengan memprioritaskan pada wisata alam dan budaya, Pemkab Muara Enim telah menetapkan sejumlah kawasan wisata yang memiliki keindahan panorama alam, kebudayaan masyarakat, dan bangunan peninggalan sejarah. Demikian pula dengan lokasi tambang batubara dengan proses produksinya yang dapat dijadikan objek wisata ilmu pengetahuan.

Untuk mendukung pengembangan pariwisata di kawasan Kabupaten Muara Enim, hingga kini terus dilakukan penambahan berbagai fasilitas pendukungnya, seperti rumah makan, penginapan, termasuk infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan moda transportasi yang semakin baik dan memudahkan untuk mencapai lokasi wisata yang akan dikunjungi. Gedung Kesenian Putri Dayang Rindu pun dibangun sebagai wadah aktivitas budaya.

Beberapa obyek wisata yang diunggulkan Pemkab Muara Enim, di antaranya adalah Air Terjun Curug Tenang di Desa Bedegung, Tanjungagung, yang tak pernah kering walau saat kemarau panjang. Lokasinya dikelilingi lahan pertanian yang subur dan hutan lindung yang hijau. Namun jika ingin sedikit memacu adrenalin, lokasi Curug Ayun Ambatan Pulau bisa menjadi tujuan wisata bagi penggemar olahraga arum jeram.

Potensi wisata lainnya adalah keindahan panorama Air panas Gemuhak dan Danau Segayam. Lokasi Air Panas Gemuhak yang berudara sejuk berjarak sekitar 90 Km dari Muara Enim, tepatnya di desa Penindaian, Kecamatan Semendo Darat Laut. Sadangkan Danau Segayam yang kaya dengan biota ikan hiasnya sangat cocok untuk perkemahan dan olahraga dayung. Yang tak kalah menariknya adalah Candi Bumi Ayudi di Kecamatan Tanah Abang. Candi Bumu Ayu merupakan satu-satunya komplek percandian di Sumatera Selatan yang memiliki sembilan buah candi yang menempati areal seluas 75, 56 ha.

Dengan beragam kekayaan yang dimiliki, bumi Serasan Sekundang akan ikut terangkat harkatnya, termasuk potensi-potensi alam yang akan terus memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Kabupaten Muara Enim.