Membangun Karakter Bangsa Lewat Pramuka dan Sampah


Praja Muda Karana atau Pramuka merupakan gerakan kepanduan yang bisa diikuti semua golongan usia. Kata pandu sendiri yang bermakna menjaga, mengawal, dan mengamankan, secara pelahan mulai tenggelam dengan berbagai alasan. Dan semakin hilang ketika pramuka dimasalkan ditingkat sekolah dasar yang berdampak terkuburnya pramuka di mata kalangan remaja yang lebih melirik kultur baru yang dianggap lebih modern. Namun bagi sosok wanita seperti Lita Udiutomo yang alumnus Institut Teknologi Bandung ini, justru Pramuka memiliki nilai tambah yang dirasakan banyak manfaatnya. Apalagi Lita juga telah mengenal dan mengikuti aktivitas kepramukaan sejak kecil di lingkungan komunitas di lingkungan ITB. Semakin berkurangnya aktivitas kepramukaan di sekolah mulai tingkat sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas, dirasakan Lita sangat berpengaruh terhadap kualitas dan karakter pelajar. Itu pula yang menjadi kepedulian Lita bersama suaminya, Agus Udiutomo, memberikan skala prioritas buat tiga anaknya mengikuti kegiatan yang lebih menunjang ke arah pembangunan karakter yang dinilainya lebih penting daripada sekedar mengejar prestasi akademik. Itu pula yang menyebabkan Lita tak pernah berkecil hati menjadi ibu rumah tangga karena pada akhirnya Lita merasakan mendapat banyak kesempatan untuk memperhatikan pendidikan ketiga buah hatinya serta lebih leluasa berkarya sesuai dengan keinginannya.
Soal kepramukaan yang dirintis bersama suaminya, Lita mengaku banyak kendala dan tantangan. Selain program baku, di gugus depan yang dirintisnya bersama suami akan membentuk karakter anak bangsa yang tumbuh dan berkembang serta mampu bersosialisasi, bekerjasama, berjiwa pemimpin, peduli lingkungan, kreatif, memiliki ketrampilan yang tinggi, menjaga kehormatan diri, dan tetap memijakkan kakinya pada bumi Indonesia yang memberinya kehidupan. “Banyak contoh orang-orang ‘berkarakter kuat’, yang lahir dari pendidikan kepramukaan,” ujar Lita sambil menyebut kakaknya Onno W Purbo yang juga berasal dari “produk” kepramukaan telah memberikan insprasi untuk terus berkarya bagi lingkungan.. Sejak mulai beraktivitas pada Februari 2007, akhirnya gugus depan teritorial 2255 dan 2256 yang berlokasi di Perumahan Griya Depok Asri (PGDA) secara resmi dikukuhkan pada tanggal 20 Mei 2008. Gudep 2255-2256 pun akhirnya mulai berkembang dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk kalangan orang tua. Mereka pun mengikuti kegiatan JOTA JOTI (Jamboree On The Air Jamboree On The Internet) internasional dengan mendirikan stasiun JOTA di sanggar PGDA bekerjasama dengan ORARI lokal Depok pada tahun 2008. Pada tahun 2009 stasiun JOTA dengan format Perkemahan Angkasa berhasil dilaksanakan di Kwarcab Depok yang diikuti 217 penggalang.
Ya, membangun anak bangsa yang lebih berkarakter memang bisa dilakukan oleh siapa saja dan bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Selain Pramuka, soal sampah juga bisa mencerminkan karakter bangsa yang peduli. Tak hanya yang muda, yang berusia senja seperti Sobirin Supardiyono, 65 tahun, terus berkarya demi lingkungan hidup yang lebih baik. Dengan fakta perilaku masyarakat terhadap sampah dalam kehidupan sehari-hari yang masih jauh dari harapan, membuat anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) ini semakin giat menyuarakan kepeduliannya untuk menjaga mutu lingkungan hidup, termasuk pelestarian hutan dan pendampingan masyarakat desa. Menurutnya, sudah saatnya perhatian pemerintah yang dituding lebih mementingkan pembangunan infrastruktur, sudah saatnya mulai dialihkan dengan upaya sosialisasi dan edukasi. Sobirin sendiri melalui gerakan zerowaste, yaitu pengelolaan sampah secara mandiri.
Dengan mengusung konsep 3R (reduce, reuse, and recycle), Sobirin tak henti-hentinya memacu semangat masyarakat perkotaan menyelesaikan masalah sampah secara proaktif, termasuk alternatif pengolahan sampah untuk menghasilkan kompos hingga menjadi energi listrik. Ide awal gerakan zerowaste dimulai dari kendala yang muncul di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, yang kondisinya semakin tidak representatif. “Di Bandung saja produksi sampah bisa mencapai sekitar enam hingga tujuh meter kubik setiap harinya, dengan jumlah penduduk tiga juta orang,” ujar Sobirin. Sobirin pun mengajak masyarakat kota untuk ikut memikirkan mengelola sampahnya sendiri agar setiap elemen masyarakat tidak semakin menambah persoalan sampah ini di kotanya masing-masing. Ya sebuah pemikiran sederhana yang berdampak komunal. Sobirin memberikan persepsinya soal penanganan sampah yang kini menjadi persoalan bersama yang harus diatasi secara sinergis oleh pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat. Langkahnya sangat sederhana, yaitu penanganan sampah harus dimulai dari produsennya masing-masing yaitu dari keluarga atau rumah. Ayo, kita mulai!

Advertisements

Pandji Pragiwaksono: Menciptakan Perubahan Lewat Indonesia Unite


Nama Indonesia Unite mengemuka sebagai sebuah gerakan komunitas yang berupaya mengajak siapa pun untuk bangkit dan terus berkarya untuk Indonesia. “Kebetulan, momentumnya pas sesaat setelah kejadian ledakan bom yang mengguncang hotel JW Marriot untuk yang kedua kalinya,” ungkap penggagasnya, Pandji Pragiwaksono. Walau begitu, Pandji mengelak jika Indonesia Unite lahir karena bom JW Marriot II yang terjadi 17 Juli 2009. Peristiwa JW Marriot II yang menjadi topik pemuncak di jejaring sosial twitter dijadikan momentum untuk membangkitkan semangat dan mengabarkan kepada dunia bahwa Indonesia masih punya semangat. Bahkan Panji menekankan bahwa tidak ada yang membentuk Indonesia Unite, karena Indonesia Unite memang bukan organisasi. Walau begitu, gerakan Indonesia Unite telah dideklarasikan lewat pembacaan Amanat Bersama pada 17 Agustus 2009. Salah satu isinya tertulis “Kami adalah generasi baru, yang akan membangun sebuah bangsa dan negara yang bermartabat dan terhormat, mampu mempersatukan Indonesia, melindungi hak-hak individu, berdiri di atas semua golongan, serta memuliakan manusia-manusia yang menjadi rakyatnya”.

Panji pun menyoroti dua kelompok muda di dunia yang di satu sisi menuntut perubahan, sementara kelompok lainnya adalah pelaku yang menciptakan perubahan. Ketika memasuki era reformasi pada tahun 1998, siapa pun bebas mengemukakan pendapat. Namun Pandji melihat tidak semua orang bebas berkarya. Di sinilah peran Indonesia Unite yang memicu gerakan-gerakan yang menciptakan perubahan seperti Coin a Chance, Indonesia Bertindak!, atau Bike to Work. Dan semangat yang ditularkan Indonesia Unite itu kini sudah berkembang di seluruh pelosok Indonesia. Bahkan kaos oblong Indonesia Unite “Kami Tidak Takut” yang dipakai Pandji merupakan pemberian orang yang memiliki semangat serupa. Pandji juga mengakui masih ada pandangan dan kebencian terhadap Indonesia Unite yang dianggap sebagai organisasi eksklusif. “Padahal justru Indonesia Unite adalah semangat yang bisa diikuti oleh siapa pun asal memiliki dan memahami isi Amanat Bersama,” tambah Pandji yang memposisikan dirinya untuk mengkomunikasikan semangat dari gerakan Indonesia Unite ke berbagai kalangan, termasuk pelajar. Sampai saat ini, hampir 450 ribu member sudah bergabung di Indonesia Unite di jejaring Facebook ditambah sekitar 25 ribu follower di twitter-nya Pandji.

Semangat dan kepedulian Pandji sudah terlihat ketika ikut aktif di C3 (Community for Children with Cancer) sejak tahun 2006. Juga menulis buku “How I Sold 1000 CDs in 30 Days” (2009). Menariknya lagi, Pandji pun telah meluncurkan dua album musiknya Provocative Proactive (2008) dan You’ll Never Know When Someone Comes In And Press Play On Your Paused Life (2009) yang kental bernuansa hip-hop dan R&B. Beberapa lagu di antaranya berkolaborasi dengan Tompi, Joeniar Arief, Angga “Malik & D’Essential” Puradiredja, Steny Agustaf, dan istrinya, Gamila. Pria enerjik yang lahir di Singapura, 18 Juni 1979 ini, sudah malang melintang di dunia broadcast. Usai menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Panji mengawali karir sebagai penyiar dan program director di Hard Rock FM Bandung yang dilanjutkannya mengasuh program Good Morning Hardrockers di Hard Rock FM Jakarta bersama Steny Agustaf. Pandji juga menjadi host sejumlah reality show lainnya di beberapa stasiun televisi. Dan “Kena deh!” menjadi program di sebuah stasiun televisi swasta yang melambungkan sosok pria ramah yang murah senyum ini. Dengan gaya dan mimik khasnya, mampu mengajak penontonnya untuk menikmati kebanyolan dan kejutan yang dilakoninya. Pandji yang memang lebih dikenal sebagai presenter dan penyiar radio ini berkomitmen untuk terus menyuarakan aksi dan semangatnya bersama siapa pun lewat Indonesia Unite. “Ya, kami tidak takut!” ujar Pandji.

Semua foto: S. Dwiyanthoputra

Kompak Menjadi Pemandu Sorak Nasionalisme


Iwan Esjepe dan Indah Esjepe. Pasangan suami istri ini kompak menjadi pemandu sorak melalui INDONESIA BERTINDAK, sebuah gerakan yang mengajak untuk cinta dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Walau sempat dipandang sebelah mata oleh birokrat dan sempat bertanya pada diri sendiri, namun berkat dukungan dari berbagai kalangan dekatnya, Iwan dan Indah terus bergerak. Berkampanye. Ya, Iwan (42 tahun) dan Indah (38 tahun) bahu membahu berkampanye bersama siapa saja untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Politikus, pengusaha, selebritis, mahasiswa, penjahit, sampai tukang becak dirangkulnya. Pernah suatu kali Iwan mendatangi penjahit di salah satu sudut Pasar Tanah Abang untuk membordir salah satu tema kampanyenya. Ketika penjahit bertanya dan Iwan menjelaskan, kontan penjahit tersebut menolak meminta bayaran sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsanya. “Mungkin tak ada yang tahu, tapi saya merasa ikut berjuang untuk bangsa ini,” ujar Iwan menirukan ucapan sang penjahit. Hampir seluruh kota besar di Indonesia sudah dijelajahi Iwan dan Indah dengan INDONESIA BERTINDAK-nya, bahkan kini sudah merambah ke lima benua.

Indonesia Bertindak

Saat terjadi musibah tsunami di Aceh, 26 Desember 2004, Iwan, Indah, dan anak mereka, Ikyu, sedang berlibur di Bali. Info tsunami yang diterima Iwan via pesan singkat dari kerabatnya di Australia saat itu, langsung menggugah dan menyentuh nuraninya untuk membantu. Begitu pula ketika terjadi gempa tektonik yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, 27 Mei 2006, Iwan dan Indah berupaya membantu dengan cara sederhana dan mengingatkan nasib sesama dengan menjual kaos oblong sederhana bersablon “Eling Sedulur” yang seluruh keuntungannya mereka sumbangkan bagi korban bencana. Indah masih ingat ketika mendesain kaos “Eling Sedulur” yang hanya membutuhkan 10 menit dan menjadi bagian dari embrio gerakan mereka.  Itulah cikal-bakal berdirinya INDONESIA BERTINDAK yang memunculkan kampanye provokatif TRAVEL WARNING: INDONESIA DANGEROUSLY BEAUTIFUL. Iwan memang mengakui bahwa Indonesia, seperti  juga dengan berbagai negara lain, bukanlah sebagai tempat yang benar-benar 100% aman. Namun demikian, Iwan dan Indah pun sepakat bahwa gerakan yang mereka cetuskan adalah untuk membuktikan bahwa Indonesia tetap memiliki kecantikan yang luar biasa yang patut dikunjungi siapa pun.

“Kini bukan lagi eranya “bambu kuning” untuk berjuang. Penjahit atau tukang becak pun ikut berjuang dengan caranya dan nasionalismenya mungkin lebih tinggi daripada politikus atau wakil rakyat yang duduk di DPR,” ujar Iwan. Menurut Iwan, ada tiga hal yang mendasari gerakan INDONESIA BERTINDAK, yaitu menambah rasa cinta, membangun rakyat untuk introspeksi, dan membela bangsa secara eksternal. Dengan dasar itulah INDONESIA BERTINDAK menggelar sejumlah event sepeti “Ayo Bangun Indonesia” dalam ranggka menyambut 100 tahun Kebangkitan Nasional pada tahun 2008, Kemah Merah Putih setiap Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Kemah Pelangi sebagai sarana penyegaran dan tukar pikiran, lomba poster propaganda pariwisata Indonesia, termasuk berbagai bentuk kampanye di sejumlah tempat dan media. Indah menambahkan, INDONESIA BERTINDAK juga akan melebarkan sayap melalui kampanye sebutir telur tiap hari mengingat Indonesia merupakan negara dengan asupan protein terendah di Asia Tenggara.

Indonesia Bertindak di tvone

Iwan Esjepe sendiri kini aktif sebagai Executive Creative Director di IDEASPHERE dan aktif dalam berbagai agenda dunia periklanan, termasuk juri dalam berbagai ajang lomba iklan, serta juri Anugerah Kebudayaan 2005, 2006, dan 2007. Berlatar belakang pendidikan jurnalistik di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Iwan kerap menulis untuk majalah remaja Hai dan Femina. Namun sejak tahun 1992, Iwan mulai menulis naskah iklan dan sempat bergabung di beberapa agensi multinasional. Sejumlah kota di Indonesia dan mancanegara yang pernah dikunjunginya membuatnya lebih matang berkomunikasi dengan orang lain melalui berbagai media. Sementara Indah yang sejak kecil hobi membaca dan menggambar, menyelesaikan studinya di desain grafis Universitas Trisakti. Bidang periklanan pun pernah digelutinya saat bergabung di Grey Indonesia, hingga akhirnya memutuskan menjadi desainer grafis independen dengan alasan tak cocok dengan ritme jam kantor. Di rumahnya di kawasan Bintaro, aktivitas Indah sempat menjadi sorotan para tetangganya lantaran Indah selalu berkutat dengan desain, dan bahkan alat sablon yang selalu siap menjadi teman perjuangannya di INDONESIA BERTINDAK. “Alhamdulillah, setelah mereka mengetahui aktivitas kami, akhirnya mereka ikut mendukung dan menyemangati,” ujar Indah.

Ada satu hal yang membuat Iwan, dan juga Indah merasa prihatin, yaitu semakin maraknya budaya saling curiga dalam kehidupan masyarakat Indonesia. “Saya prihatin ketika sebagian besar masyarakat Indonesia lebih melihat siapa dan bukan apa yang diucapkan atau dilakukan,” ungkap Iwan. Demikian pula ketika Iwan dan Indah melihat “konfrontasi” antara Indonesia dan Malaysia yang menurut mereka sangat tak mungkin mendukung untuk “mengganyang” atau meng-counter Malaysia. Iwan lebih memilih kampanye lewat kaos yang didesain Indah dengan tulisan “Kibarkan Merah Putih di Kuala Lumpur” dan “Saya Kapok Melancong ke Malaysia”. Artinya, Iwan lebih mengedepankan prestasi daripada konfrontasi. Dari situ pula Iwan mencoba mengajak semua elemen bangsa Indonesia untuk bersama-sama menghindari nasionalisme yang sempit.

Untuk itulah Iwan merasa penting bahwa bangsa Indonesia sangat membutuhkan kehadiran Departemen Propaganda atau Departemen Penerangan untuk memicu kekompakan. Di lain sisi, Iwan juga sangat berharap sektor pendidikan mendapat perhatian serius untuk memerangi tarik-menarik konsumerisme yang setiap jengkal selalu membuntuti langkah kita dengan berjuta iming-iming.

Iwan dan Indah mengakui bahwa berbagai upaya yang dilakukan melalui INDONESIA BERTINDAK hanyalah langkah kecil yang sebenarnya juga bisa dilakukan oleh siapa pun. Begitu pula dengan keberadaan Provotoko di kawasan Kemang Timur sebagai toko propaganda pro Indonesia pertama di Indonesia yang kerap dikunjungi wisatawan asing atau ekspatriat. Menurut Iwan dan juga Indah, produk yang ada di Provotoko setidaknya bisa mencerminkan sikap bangsa ini walau hanya berupa cindera mata seperti kaos atau pernak-pernik lainnya. Filosofi “pasir” pun diadaptasi Iwan dan Indah untuk mengajak siapa pun bergabung memberikan spirit bagi bangsa Indonesia. Iwan dan Indah pun rela jika dijuluki sebagai pemandu sorak, “kompor”, agen provokator, atau sejenisnya. Dan yang pasti, menurut Iwan, INDONESIA BERTINDAK bukan penjual kaos, melainkan menawarkan semangat nasionalisme. Kaos bagi Iwan dan Indah hanyalah alat propaganda. Dan pemikiran Iwan dan Indah memang membutuhkan begitu banyak dukungan. Setidaknya, gerakan atau hal-hal yang sudah dilakukan oleh Iwan dan Indah, diakui atau tidak, telah memberikan inspirasi bagi siapa saja yang mengaku menjadi komponen bangsa Indonesia. Itu saja dulu, boleh kan?