Optimisme LPI Terhadap Pengurus Baru PSSI


PSSI kini tengah menggodok formula kompetisi sepak bola di bawah naungannya. LPI sendiri harus siap dan mematuhi semua keputusan Exco PSSI, karena arah kebijakan sepak bola Indonesia ada di tangan Exco.

Dari hasil Kongres PSSI di Solo yang berlangsung 9 Juli lalu, Djohar Arifin Husin dan Farid Rahman telah terpilih sebagai Ketua Umum dan Wakil ketua Umum PSSI. Ya, setelah dua tahun kisruh di tubuh PSSI, akhirnya seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional bisa bernafas agak lega. Mereka sangat berharap agar pengurus baru PSSI akan mampu mengakomodir dan memberikan solusi terbaik dari sejumlah persoalan yang muncul selama ini. Salah satunya adalah pembinaan pemain usia dini dan tentu saja mampu mengangkat prestasi tim nasional yang hampir satu dasawarsa terakhir kering akan prestasi internasional, termasuk di tingkat regional sekalipun.

Liga Primer Indonesia yang sejak awal sangat berharap dan menginginkan berafiliasi ke PSSI, menyambut positif kepengurusan baru PSSI. Lewat pernyataan Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar yang merangkul LPI dan dilanjutkan dengan komunikasi intensif LPI bersama Komite Normalisasi, diharapkan bisa memberikan solusi yang terbaik bagi semua pihak. Apalagi Djohar Arifin Husin sebagai Ketum PSSI telah memberikan sinyal kuat bahwa LPI akan berada di bawah koordinasi PSSI. Menyangkut hasil Kongres PSSI dan langkah pengurus baru PSSI terkait dengan kelanjutan kompetisi LPI, memang telah menuai komentar bernada optimis, termasuk dari semua komponen yang ada di LPI.

Juru Bicara LPI, Abi Hasantoso, menyambut baik kalau semua warga negara Indonesia berhak membela tanah airnya dan membela Tim Merah-Putih. “Tidak boleh ada diskriminasi. Untuk LPI sendiri, sebenarnya sejak 11 April lalu sudah diakui. Jadi tidak ada masalah. Cuma kemarin, ada keraguan dari pelatih Alfred Riedl, sehingga dia tidak memasukkan pemain dari LPI. Terakhir Pak Agum dan KN sudah mengakui LPI, hanya tinggal proses afiliasinya saja kok,” kata Abi.

Mantan pelatih tim nasional yang kini menjadi pelatih di Jakarta FC, Bambang Nurdiansyah, menyikapi hasil kongres dengan positif. Mengaku pro sepak bola nasional, Banur, sapaan akrab Bambang Nurdiansyah, tak menampik banyak persoalan krusial yang dihadapi pengurus yang baru. Menurutnya, biarkanlah mereka bekerja dan kita lihat apa yang mereka kerjakan. “Kita dukunglah. Tentunya dengan semua koreksi dan dikritisi jika memang tidak baik. Harapan saya bahwa kepengurusan sekarang selagi semuanya baru, tentunya mereka akan belajar dan pasti banyak yang harus mereka kerjakan ke depan,” kata Banur.

Para pemain yang selama ini berkiprah di kompetisi LPI pun seakan mendapat peluang membela tim nasional yang sebelumnya tertutup. Salah satunya adalah andalan Persebaya 1927 yang menjuarai paruh musim LPI, Andik Vermansyah. Menurut striker bertubuh mungil ini, dirinya pasti senang karena pemain LPI bisa masuk tim nasional. Andik juga berharap agar kepengurusan yang baru bisa mengangkat prestasi tim muda dan tim senior. “Ya, termasuk wasit yang banyak memprovokasi suporter dan bisa merusak sepak bola Indonesia. Ulah-ulah wasit yang berat sebelah harus diperbaiki. Juga dengan kondisi lapangan yang harus diperbaiki lagi,” ujar Andik.

Sementara itu penyerang Persibo, Samsul Arif, lebih mensyukuri hasil kongres. “Artinya, saya juga bersyukur dan menyambut positif aja hasil kongres kemarin,” kata Arif. ”Itu memberi sinyal kepada pemain LPI juga untuk ke timnas. Kalau dulu agak diskriminatif kan. Berarti ada perubahan seperti itu, ya kita menyambut baiklah. Mungkin yang dulu-dulu kompetisinya amburadul, jadwalnya kacau, dan ada kerusuhan di sana-sini. Banyaklah. Jadi mudah-mudahan mulai sekarang ini ngga terulang lagi,” ujar Arif mengomentari peluang pemain LPI di tim nasional.

Irfan Bachdim yang ikut membela Tim Merah-Putih di ajang Piala AFF tahun lalu, sempat ditolak Alfred Riedl. Nama Irfan kembali dipanggil setelah pengurus PSSI yang baru membuka peluang bagi pemain mana pun untuk membela tim nasional. “Ya, itu positif. Irfan (Bachdim) kemarin sudah dimasukkan, hanya yang besok (pertandingan pertama melawan Turkmenistan) mungkin tidak bisa bermain karena cedera,” ujar Didied Affandy, CEO Persema. Persema sendiri memiliki pemain potensial seperti Kim Kurniawan dan Reza Mustofa. “Kim mungkin untuk timnas U-23, sedangkan untuk timnas senior baru Irfan. Kalau pemain lainnya, saya lihat Reza juga bagus. Untuk Reza, yang penting tetap disiplin,” kata Didied lagi.

Pihak LPI sendiri melalui CEO LPI, Widjajanto, tetap optimis terhadap pengurus PSSI yang baru. “Kami tidak ada pesimisme, kami tidak ada sinisme. Kami selalu memandang semua dalam pikiran yang konstruktif dan positif karena kami juga sudah melihat dari Permendagri No. 22 tahun 2011. Di situ jelas tertulis larangan penggunaan APBD untuk olahraga profesional. Artinya, pemerintah sudah mengambil sikap. Kita harus sepakat membangun liga profesional yang mandiri tanpa menggunakan APBD. Jadi kita berharap dan tetap optimis,” ujar Widjajanto.

PSSI kini tengah menggodok formula kompetisi sepak bola di bawah naungannya. LPI sendiri harus siap dan mematuhi semua keputusan Exco PSSI, karena arah kebijakan sepak bola Indonesia ada di tangan Exco. “Jadi kita tetap berpegang pada jadwal bahwa kita akan mulai putaran kedua pada 17 September. Tapi sekiranya sebelum tanggal itu ada keputusan penting dari Exco mengenai model kompetisi Indonesia untuk masa depan, tentu saja kami akan mengikuti apa pun keputusan Exco,” kata Abi menambahkan.

KOKOH


Namun gol demi gol yang tercipta takkan berarti jika barisan belakang tak mumpuni, termasuk peran penjaga gawang sebagai palang pintu terakhir.

Sepanjang jalannya putaran pertama kompetisi Liga Primer Indonesia, bisa dipastikan setiap klub akan menargetkan kemenangan. Para pemain yang menonjol biasanya merupakan penyerang yang didukung oleh gelandang dan barisan pertahanan yang solid. Simak saja pemuncak top skor seperti Fernando Soler (Real Mataram), Juan Cortez (Batavia Union), Laakkad Abdelhadi (Medan Chiefs), Emanuel de Porras (Jakarta FC), Samsul Arif (Persibo), Irfan Bachdim (Persema), Marwan Sayedeh (PSM), Cosmin Vancea (Bintang Medan), dan Perry N. Somah (Bandung FC).

Namun gol demi gol yang tercipta takkan berarti jika barisan belakang tak mumpuni, termasuk peran penjaga gawang sebagai palang pintu terakhir. Penjaga gawang dari legiun asing di LPI tercatat ada Dennis Romanovs (Cendrawasih Papua) dan Aleksandar Vrteski (Solo FC). Vrteski bahkan dipercaya mengawal gawang tim Putih dalam laga Starbol di Stadion Gelora Bung Karno (22/6). Sementara juara paruh musim Persebaya 1927, sekaligus sebagai tim paling produktif dan paling minim kemasukan gol, justru mempercayakan kepada Endra Prasetya yang kokoh di bawah mistar gawang.

Endra Prasetya (Persebaya 1927) (Dok LPI)

Ya, Endra Prasetya yang hanya kebobolan 13 gol, berhasil mengungguli Sukasto Efendi (Persema) maupun Ngurah Arya Perdana (Bali Devata) yang kebobolan 17 gol. Kepiawaian Endra pun berhasil membawa Persebaya 1927 juara paruh musim berbekal selisih gol lebih baik dibandingkan Persema. Sosok penjaga gawang boleh jadi masih kalah mentereng dibandingkan penyerang dan gelandang. Namun peran dan aksinya sangat krusial dan mampu menambah kepercayaan pemain lainnya.

Optimistis Menuju Putaran Kedua


Dengan evaluasi, perbaikan, dan sikap optimis seluruh unsur yang terlibat, LPI memang diharapkan pecinta sepak bola di tanah air sebagai kompetisi yang mengusung komitmen fair play, profesional, dan mandiri.

Masa libur jeda kompetisi Liga Primer Indonesia selama tiga bulan, ternyata tak mengurangi semangat klub peserta untuk tetap beraktivitas. Bahkan sejumlah klub berinisiatif menggelar turnamen yang diikuti beberapa klub LPI. Simak saja turnamen empat klub dalam Battle of Fantastic Four yang digelar di Surabaya. Sementara Real Mataram juga menggelar turnamen serupa bertajuk Real Mataram Cup. Sedangkan Bali Devata tak mau kalah dengan menggelar turnamen futsal yang melibatkan 32 tim yang berasal dari Bali.
Secara resmi, LPI melalui juru bicaranya Abi Hasantoso menyatakan bahwa kompetisi LPI putaran kedua akan berlanjut mulai 17 September mendatang. “Kami sudah memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kami bisa menjalankan kompetisi profesional mandiri. Masyarakat sudah percaya kepada LPI sebagai kompetisi mandiri, jadi kami senang,” ujar Abi.
Kepercayaan itu juga terlihat dari lahirnya kerjasama baru antara produsen penyadia alat olahraga asal Inggris, Mitre, dengan tiga klub LPI. Sementara Indosiar yang menjadi mitra LPI dalam siaran langsung sejumlah pertandingan, dikabarkan akan membuat program baru yang lebih menarik. “Kami salut dan bangga dengan Indosiar yang berani membangun sepak bola profesional dan mendapat laporan dari Indosiar bahwa respon penonton sangat baik. LPI dan Indosiar sedang menjajaki kemungkinan membuat program baru seperti rangkuman pertandingan atau keseharian pemain di luar lapangan,” kata Abi menambahkan.
Pihak LPI sendiri pernah menegaskan bahwa dalam libur jeda kompetisi akan dimanfaatkan untuk mengevaluasi seluruh klub. Sebagai kompetisi yang baru bergulir, harus diakui masih banyak yang harus diperbaiki. Namun demikian, nada optimis terus terlontar dari jajaran pemain, CEO, hingga wasit. Mereka mengkritisi sekaligus tetap optimistis LPI akan semakin membaik. Pelatih Bandung FC, Budiman Yunus, tak memungkiri jika di LPI didominasi oleh klub-klub baru dan banyaknya pemain muda yang belum berpengalaman. “Jadi wajar jika permainannya perlu ditingkatkan. Tapi yang perlu diapresiasi adalah soal jadwal yang tersusun rapi. Setiap tim hanya main sekali seminggu. Jadi sebagai pelatih kita bisa menyiapkan laga selanjutnya lebih matang,” ujar Budiman.
Pemain Batavia Union, Tantan, juga melepas nada optimis. “Kalau saya lihat pertandingannya (di putaran pertama) banyak yang menarik kok. Banyak laga yang menghasilkan banyak gol. Memang masih ada kekurangan, tapi paling tidak LPI sudah berusaha menjalankan kompetisi lebih profesional,” ujar Tantan, salah satu andalan di lini depan Batavia Union.
Sedangkan striker Persebaya 1927, I Made Wirahadi, mengaku puas terlibat di kompetisi LPI. “LPI lebih teratur, penjadwalannya bagus. Jadi tim bisa membuat perencanaan lebih matang. Buat putaran kedua nanti, kayaknya tak perlu banyak perbaikan. Sejauh ini sudah terorganisir,” kata Wirahadi.
Namun demikian, baik Tantan maupun I Made Wirahadi tak menampik jika banyak pihak yang menaruh harapan besar terhadap kelangsungan LPI. “Harapan saya di putaran kedua nanti, LPI lebih seru lagi, penontonnya banyak yang datang. Lalu untuk Batavia, kalau bisa jadi juara,” ujar Tantan.
Soal harapan tersebut, Abi pun menyambut positif dan mengakui masih banyak yang harus diperbaiki. “Permulaan memang sulit. Yang penting kami bersama masyarakat tetap berusaha menciptakan kompetisi profesional mandiri. Kami juga ingin membangun komunitas penonton yang lebih baik dan memperoleh penonton dari berbagai segmen karena sepak bola untuk semua,” kata Abi.
Lalu bagaimana dengan sang pengadil di lapangan hijau? Menurut Budiman Yunus, kehadiran wasit asing sangat membantu. “Wasit (asing)-nya cukup tegas, tapi kondisi fisiknya masih kurang. Jadi kadang-kadang kurang maksimal dalam memberikan keputusan. Tapi secara umum, lumayan cukup baguslah,” ujar Budiman.
I Made Wirahadi pun merasakan manfaatnya. Menurutnya, keberadaannya wasit asing sangat signifikan, tegas, dan bisa membuat keputusan lebih adil sehingga pemain lebih sungkan. “Keberadaan wasit asing harus dipertahankan karena wasit lokal bisa belajar banyak dari mereka. Kalau wasit lokal bisa lebih bagus lagi, mungkin wasit asing sudah tak perlu dipakai lagi,” kata Wirahadi lagi.
Lalu, apa tanggapan Ketua Asosiasi Wasit LPI, Fiator Ambarita? Fiator melihat ada beberapa wasit asing yang kualitasnya di atas wasit lokal. “Keberadaan mereka boleh dilanjutkan, asal jangan terlalu banyak. Nanti bagaimana dengan nasib wasit lokal? Padahal kualitas wasit lokal tak kalah dibandingkan mereka,” ujar Fiator yang dipercaya memimpin laga Starbol di Stadion Gelora Bung Karno (22/6).
Fiator juga menilai bahwa penampilan wasit lokal sudah 80 persen. “Ada beberapa kesalahan teknis, tapi masih wajar. Buktinya nggak ada banyak protes dari pemain. Pemain percaya kepada aparat pertandingan. Pemain percaya bahwa kita sudah memimpin dengan adil, tanpa titipan,” kata Fiator. “Saya selalu tegaskan kepada teman-teman (wasit) jangan sampai ‘bermain’. Kita juga tekankan kepada semua pihak bahwa wasit sudah berusaha memimpin pertandingan sesuai peraturan,” ujarnya lagi.
Dengan evaluasi, perbaikan, dan sikap optimis seluruh unsur yang terlibat, LPI memang diharapkan pecinta sepak bola di tanah air sebagai kompetisi yang mengusung komitmen fair play, profesional, dan mandiri. Bahkan sejak awal LPI memprediksikan investasi yang ditanam akan kembali dalam 3-5 tahun. “Selain itu, di sini ada perputaran uang dan itu dipakai untuk kesejahteraan pemain dan semua klub. Jadi keuntungan yang didapatkan bukan untuk jajaran pengurus,” kata Abi menjelaskan tentang masa depan LPI.
Setidaknya bergulirnya LPI akan ikut menyelamatkan dari efek buruk penggunaan dana APBD di sepak bola yang cenderung sering dimanipulasi. “LPI justru memberikan pendapatan kepada negara melalui pajak karena kami semua di sini bayar pajak. Jadi, kami di sini bukan cuma menyelamatkan uang negara,” ujar Abi lagi.

DERBY JAWA TIMUR!


Salah satu laga penting Liga Primer Indonesia pekan ini akan mempertemukan pemuncak klasemen Persema melawan Persebaya 1927 yang berada di posisi kedua klasemen. Ya, laga ini layak dijuluki super big match, bahkan ada juga yang menyebut sebagai laga derby Jawa Timur.
Sebagai tim mapan dan sarat pengalaman, kedua tim diprediksi akan menyajikan pertandingan yang sengit. Bahkan laga ini mengingatkan super big match di English Premier League pekan lalu yang mempertemukan dua kandidat juara musim ini, Manchester United dan Chelsea. Manchester United yang memenangi laga 2-1, tinggal membutuhkan hasil imbang dari dua laga terakhirnya sekaligus mengukuhkan rekor 19 kali sebagai juara EPL. Sedangkan kemenangan bagi Persebaya, akan membuka peluangnya untuk menyamakan poin dan mengambil alih puncak klasemen berkat selisih gol yang lebih baik.
Berbekal sebagai laga kandang terakhir dalam putaran pertama, kemungkinan besar tuan rumah Persebaya akan minus penyerang Andrew Barisic yang sedang sakit. Trio pemain lokalnya I Made Wirahadi, Andik Vermansyah, dan Rendy Irawan, akan ditopang John Tarkpor di sektor gelandang. Sementara Persema dipastikan kembali tanpa striker andalannya, Irfan Bachdim, akibat terkena kartu merah saat laga menjamu Semarang United pekan lalu. Akibatnya lini depan Persema pun dibebankan kepada penyerang asal Korea, Han Sang Min, serta dukungan lini tengahnya yang digalang Ngon Mamoun dan Bimasakti.
Apa pun hasil laga big match yang disiarkan langsung oleh Indosiar, Minggu (15/5) ini, perebutan gelar juara “paruh musim” perdana dipastikan semakin ketat.

John Tarkpor (Persebaya 1927)/Dok LPI
____________
LIGA PRIMER INDONESIA
INDOSIAR

Sabtu, 14 Mei 2011, pukul 15.00 WIB
Persibo vs Solo FC (Stadion Letjen H. Sudirman, Bojonegoro)

Minggu, 15 Mei 2011, pukul 15.00 WIB
Persebaya 1927 vs Persema (Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya)

BANGKIT!


Memasuki beberapa laga terakhir putaran pertama kompetisi Liga Primer Indonesia, sejumlah klub bertekad memperbaiki kinerja tim untuk meraih hasil optimal. Sebagai bekal untuk menghadapi putaran kedua, sejumlah klub juga sudah memberikan isyarat akan melakukan evaluasi dan menjanjikan perubahan. Bahkan bursa transfer di pertengahan musim tampaknya akan dimanfaatkan betul oleh beberapa tim yang akan memperkuat skuadnya.

Simak saja Bandung FC yang sejak awal musim terseok-seok di papan bawah, beberapa pekan terakhir telah memperlihatkan perbaikan yang menjanjikan. Dari tujuh pertandingan terakhir, Bandung FC meraih tiga kemenangan, dua kali seri, dan dua kali kalah, serta meraih 11 poin dari maksimal 21 poin. Pada laga pekan ini (8/5), melawan Medan Chiefs yang kini berada di peringkat kelima, peluang Bandung FC untuk bangkit dan memenangkan laga sangat terbuka. Dengan dukungan penonton tuan rumah, pelatih Budiman Yunus tampaknya akan tetap mempertahankan formasi timnya seperti dua laga terakhirnya ketika menekuk Real Mataram 5-3 (23/4) dan menahan imbang 1-1 ketika laga tandang melawan Manado United pekan lalu. Perry N Somah akan tetap menjadi andalan di lini depan dan Lee Hendrie akan berperan sebagai gelandang sekaligus pengatur serangan. Medan Chiefs sendiri tak mau kehilangan poin dan akan tetap mengandalkan skuad asingnya serta Febrianto Wijaya di lini depan.

Sementara Sabtu ini (7/5), tim papan bawah Real Mataram akan berupaya bangkit mengandalkan top skornya Fernando Soler saat laga tandang melawan tuan rumah Bogor Raya yang akan minus Diego Bogado di lini depannya akibat hukuman kartu merah.

LAGA KANDIDAT JUARA


Foto: Dok. LPI

Menjelang akhir putaran pertama kompetisi Liga Primer Indonesia, sejumlah klub penghuni papan bawah mencoba bangkit dan memanfaatkan sisa laga untuk hasil optimal. Real Mataram, Bandung FC, Tangerang Wolves, Manado United, dan Cendrawasih Papua, menjadi lima klub terbawah. Bahkan Cendrawasih Papua menjadi klub yang belum pernah menang dan diprediksi sulit untuk beranjak dari dasar klasemen.

Sedangkan Solo FC yang kini bercokol di peringkat 14, posisinya bisa terancam disalip klub papan bawah. Pekan ini (1/5), Solo FC akan menghadapi laga big match melawan tuan rumah Semarang United. Mengakhiri putaran pertama, peluang Solo FC menjauhi zona papan bawah terbilang berat. Selain Semarang United, lawan berikutnya adalah tiga klub lawas, Persebaya 1927, Persibo, dan PSM Makassar. Walau begitu, duet penyerang Solo FC, Zarko Lazetic dan Stevan Racic, tetap optimistis meraih poin maksimal.

Sementara dalam laga big match Sabtu (30/4), Jakarta FC akan menjamu pemimpin klasemen sementara, Persema. Jakarta FC akan mengandalkan duet striker Emanuel De Porras dan gelandang Gustavo Ortiz. Sedangkan Persema, Han Sang Min akan menjadi andalan di lini depan mengingat kondisi Irfan Bachdim yang belum fit 100%. Dengan kemenangan dan memiliki satu laga lebih banyak, Jakarta FC berpeluang menduduki posisi tiga besar. Sementara Persema bertekad membawa pulang poin penuh sekaligus menjadi kandidat pemuncak klasemen putaran pertama dan menjauhi pesaingnya, Persebaya 1927.

LAGA PANAS TIM LAWAS


Persebaya 1927 akhirnya sukses menggeser Persema dan merebut puncak klasemen Liga Primer Indonesia setelah laga pekan ke-15 dengan menumbangkan tuan rumah Semarang United, 1-0. Seperti halnya Persema yang sempat bertahan lama di puncak, Persebaya 1927 pun menghadapi beratnya mempertahankan singgasana. Apalagi lawannya pekan ini (24/4) adalah PSM Makassar yang berupaya menjejakkan di peringkat yang lebih baik.

Pertandingan dengan dua kepentingan berbeda tersebut diperkirakan akan berlangsung ketat. PSM berusaha mempertahankan tren kemenangannya setelah dua pekan lalu menjungkalkan tim papan atas Semarang United yang saat itu duduk di peringkat kedua. Kini giliran Persebaya 1927, pemuncak klasemen, akan dijamu PSM dalam laga panas antartim lawas.

Namun yang tak kalah panasnya adalah laga antara tuan rumah Bogor Raya yang akan menghadapi Bintang Medan dan disiarkan langsung oleh Indosiar dari Stadion Persikabo, Bogor (23/4). Dua tim anyar ini memang belum saling mengenal karakter lawannya. Walau begitu, barisan gelandang Bogor Raya yang terdiri dari Luciano Rimoldi, Diego Bogado, Andrija Jukic, dan Nofrizal, tetap yakin dan ngotot meraih poin penuh dengan memberikan dukungan kepada duet penyerang Oscar Alegre dan Isoewardi.

Bintang Medan pun tak ingin dianggap remeh. Penghuni peringkat 12 ini juga sedang menunjukkan grafik yang meningkat, terutama sejak pulihnya pilar mereka, Gaston Salasiwa, serta bek Amine Kamoun. Raihan kemenangan akan membawa Bintang Medan di posisi sepuluh besar.


Isoewardi (Bogor Raya)

______________
LIGA PRIMER INDONESIA
INDOSIAR

Sabtu, 16 April 2011, pukul 15.00 WIB
Bogor Raya FC vs Bintang Medan (Stadion Persikabo, Bogor)

Akhirnya PSSI Merangkul LPI



“LPI adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Ini harapan masyarakat. LPI sendiri sudah mengikuti visi-misi FIFA dan AFC,” ujar Juru Bicara LPI, Abi Hasantoso.

Tanggal 19 April 2011, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) genap berusia 81 tahun. Tak ada perayaan khusus. Namun dalam tubuh PSSI telah terjadi perubahan yang patut dicatat dalam sejarah sepak bola di Tanah Air. Dibentuknya Komite Normalisasi oleh institusi sepak bola dunia, FIFA, menandai babak baru jalannya struktur organisasi PSSI yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan berbagai kalangan.
Salah satu keputusan Komite Normalisasi (KN) yang dipimpin oleh Agum Gumelar adalah dirangkulnya Liga Primer Indonesia (LPI). Keputusan tersebut tentu saja disambut gembira oleh stake holder sepak bola Indonesia. Salah satu keputusan FIFA menyangkut kondisi kisruh di tubuh PSSI adalah memberikan dua opsi yang terkait dengan keberadaan LPI, yaitu merangkul atau menghentikannya. Dalam keterangannya kepada pers di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Senin (11/4), Agum Gumelar menjelaskan keputusan Komite Normalisasi menyangkut LPI. “Kita mengakomodir (LPI). Rangkaian aktivitas LPI di bawah PSSI melalui Komite Normalisasi,” kata Agum saat itu.
Pihak LPI sendiri tentu saja menyambut baik dan menilai tepat keputusan Komite Normalisasi yang mengizinkan kompetisi LPI yang mengusung kemandirian, profesionalisme, dan fair play tetap berlangsung. Juru Bicara LPI Abi Hasantoso kembali memaparkan bahwa kehadiran LPI didasari visi dan misi FIFA dan AFC yang dituangkan dalam FIFA For the Good of the Game dan AFC Professional League Committee. “LPI adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Ini harapan masyarakat. LPI sendiri sudah mengikuti visi-misi FIFA dan AFC,” ujar Abi Hasantoso.
Munculnya Komite Normalisasi merupakan sejarah terburuk dalam sepak bola Indonesia. “Ini pertama kalinya FIFA mengintervensi sepak bola Indonesia, karena FIFA tidak percaya dengan pengurus PSSI yang sebelumnya. Dari sebutannya saja Komite Normalisasi. Itu membuktikan bahwa FIFA menganggap sepak bola kita tidak normal. Ini sangat disayangkan. Kenapa FIFA harus sampai campur tangan,” kata Abi.
Pengamat sepak bola dan mantan pemain tim nasional Bob Hippy pun mengakui bahwa LPI telah membawa perubahan dalam dunia sepak bola di Indonesia. “Kompetisi LPI sendiri membawa sejumlah perubahan. Terutama sepak bola profesional tidak tergantung lagi dengan dana APBD. Kompetisi sebelumnya (LSI) memang sudah memiliki rencana itu. Tiap klub yang ada diatur oleh PT (perusahaan), tapi sejauh ini profesionalisme di LSI masih sebatas wacana saja,” ujar Bob mengenai keunggulan LPI.
Selain tidak ada ketergantungan kepada dana APBD, keberadaan LPI untuk mempercepat pertumbuhan liga sepak bola di Indonesia menjadi industri. “Kami senang dengan keputusan Komite Normalisasi. Buat kami yang terpenting adalah menjaga komitmen untuk menggelar kompetisi yang kredibel agar bisa mencetak pemain-pemain muda berbakat bagus,” kata Abi menambahkan.
Keputusan penting Komite Normalisasi itu juga dinilai sebagai keputusan bijak oleh berbagai pihak. Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar juga dianggap sangat memahami kondisi persepakbolaan nasional saat ini. Pelatih Persibo Bojonegoro Sartono Anwar menilai keputusan yang diambil Komite Normalisasi memang harus demikian. Menurut pelatih klub kebanggaan masyarakat Bojonegoro yang sebelumnya bermain di kompetisi LSI, kehadiran LPI harus dirangkul demi kepentingan nasional. “Kalau saya sebagai pelatih tak ada kepentingan. Bagaimana caranya? Biar ahlinya yang menentukan,” ujar Sartono. “Kita harus berterima kasih kepada LPI karena berhasil melakukan reformasi sepak bola,” sambung Sartono Anwar.
Soal kelanjutan kompetisi musim berikutnya, pihak LPI tetap bergeming dengan keputusannya. “LPI harus jalan terus karena ini amanat Kongres Sepakbola Nasional 2010 di Malang,” kata Abi menegaskan.
Dengan dirangkulnya LPI oleh PSSI, bisa jadi peluang para pemain yang bermain di klub peserta LPI untuk membela tim nasional akan semakin terbuka. Pemain yang berkiprah di LPI seperti Irfan Bachdim, Kim Kurniawan (Persema Malang), Andik Vermansyah, dan Rendy Irawan (Persebaya 1927) dinilai oleh sejumlah pihak layak untuk memperkuat tim nasional. Bahkan Irfan Bachdim telah ikut membela tim nasional di ajang Piala AFF, Desember tahun lalu. Namun setelah kompetisi LPI bergulir, Irfan Bachdim justru ditolak PSSI untuk memperkuat timnas dengan alasan mengikuti kompetisi yang tidak diakui PSSI. Bahkan Irfan sempat menolak ketika diminta untuk pindah klub agar bisa membela timnas. Sejumlah pemain yang berkiprah di LPI memang sempat dilirik dan digadang-gadang bisa membela timnas, termasuk Andik Vermansyah. Andik mengaku sangat senang dengan keputusan Komite Normalisasi, karena dengan demikian pemain LPI bisa memperkuat timnas. “Saya kurang tahu peluangnya sebesar apa. Yang penting ketika dipanggil ikut seleksi, saya bisa menampilkan yang terbaik. Kalau tidak lolos, tidak masalah. Saya tak mau memaksakan diri harus lolos,” ujar Andik Vermansyah.
Tak hanya Andik, Kim Kurniawan pun menanggapi positif. Dengan PSSI merangkul LPI, Kim menganggap tidak ada lagi masalah. “Saya senang jika pemain LPI juga boleh ikut timnas. Dengan pemain seperti Irfan dan Andik, timnas Indonesia pasti lebih kuat. Di timnas Indonesia, pemain paling bagus harus masuk,” ujar Kim bersemangat.
Soal hak pemain LPI memperkuat tim nasional, banyak pihak yang mendukungnya. “Kita ingin Indonesia bisa lolos lagi ke Piala Dunia seperti pada tahun 1938. Kita yakin karena Indonesia sebenarnya punya pemain bagus. Sebetulnya seluruh anak bangsa yang punya potensi memang berhak membela timnas,” kata Abi lagi.

Bajul Ijo Siap, The Blue Devils Optimis


Pekan lalu, beberapa pertandingan Liga Primer Indonesia diwarnai hujan gol. Tiga pertandingan yang berlangsung hari Minggu (10/4) itu diawali dengan Persibo yang menaklukkan tamunya Medan Chiefs 5-1, diikuti Persema yang menundukkan Real Mataram 5-2. Dan yang terbesar adalah saat Solo FC menjungkalkan Manado United dengan skor 7-3.

Kompetisi LPI yang mengusung kemandirian, profesionalisme, dan fair play, memang diharapkan terus memberikan kejutan, sekaligus menghibur penontonnya, khususnya yang datang langsung ke stadion. Tak ada jaminan tuan rumah akan selalu menang atau tim tamu bakal jadi pecundang di kandang lawan. Ketatnya persaingan tak hanya terjadi di papan atas klasemen, tetapi juga di papan tengah dan tak kalah sengitnya juga melibatkan pertarungan tim-tim di papan bawah.

Hingga pekan ke-14, statistik pertandingan mulai memberikan gambaran jalannya kompetisi. Mulai dari top skor, produktivitas gol, tim terproduktif, pencetak hattrick, rata-rata gol setiap pertandingan, skor terbesar, serta jumlah kemenangan besar. Tim peringkat kedua Bajul Ijo, Persebaya 1927, hingga kini menjadi tim paling produktif dengan selisih gol 31-9. Dalam laga big match pekan ini (16/4), pasukan Bajul Ijo akan dijamu ‘The Blue Devils’ Semarang United yang berada di peringkat ketiga. Bomber I Made Wirahadi dan Andik Vermansyah (Persebaya) dipastikan siap bertarung meladeni optimisme Semarang United yang digalang gelandang Amancio Fortes serta penyerangnya, Simone Quintieri. Untuk memuncaki klasemen, Persebaya mutlak harus menang dengan catatan raihan maksimal Persema hanya bermain imbang saat berlaga di kandang Manado United (17/4).


Simon Quintieri (Semarang United)/dok LPI
_________________
LIGA PRIMER INDONESIA
INDOSIAR
Sabtu, 16 April 2011, pukul 15.00 WIB
Semarang United vs Persebaya 1927 (Stadion Jatidiri, Semarang)

Minggu, 17 April 2011, pukul 15.00 WIB
Real Mataram vs Batavia Union (Stadion Mandala Krida, Yogyakarta)

Jadwal Lengkap Liga Primer Indonesia Pekan Ke-13


JADWAL PERTANDINGAN PEKAN Ke-13

Sabtu, 2 April 2011

Minangkabau FC vs PSM, Stadion H. Agus Salim, Padang, pukul 16.00 WIB
Jakarta FC vs Semarang United, Stadion Lebak Bulus, Jakarta, pukul 15.00 WIB*
Bali Devata vs Tangerang Wolves, Stadion Kapten Dipta, Gianyar, pukul 15.00 WIB
Cendrawasih Papua vs Bandung FC, Stadion Mandala, Jayapura, pukul 15.30 WIT
Bintang Medan vs Batavia Union, Stadion Teladan, Medan, pukul 19.00 WIB

Minggu, 3 April 2011

Aceh United vs Persema, Stadion Harapan Bangsa, Aceh Besar, pukul 16.15 WIB
Real Mataram vs Solo FC, Stadion Maguwoharjo, Sleman, pukul 15.00 WIB*
Medan Chiefs vs Persebaya 1927, Stadion Baharoeddin Siregar, Deli Serdang, pukul 15.30 WIB

Selasa (5/4)
Manado United vs Persibo, Stadion Manahan, Solo, 15.00 WIB

*Siaran langsung Indosiar