Basic Life Support, Pertolongan Pertama Saat Terjadi Kecelakaan


Pemahaman dan praktik Basic Life Support ternyata tidak mudah, terutama ketika kita diharapkan bisa memberi pertolongan pada seseorang yang sedang mengalami cedera atau kecelakaan di tempat umum.
first aidKeselamatan di jalan raya merupakan hal yang utama dan tak bisa ditawar. Namun demikian masih kerap dijumpai biker yang menganggap sepele penggunaan body protector saat riding. Alasannya pun klise, yaitu merepotkan dan tidak nyaman. Sesungguhnya body protector dirancang untuk melindungi tulang kering, tulang paha, hingga tulang belakang dan cervical (leher). Jadi mulailah menghargai tulang dengan merawatnya lebih dini untuk menghindari dari patah, degeneratif, osteoporosis, atau penyakit lainnya. Olahraga teratur bisa jadi pilihan gaya hidup sehat.
Berkaitan dengan hal keselamatan, sudah saatnya ada edukasi dan pelatihan Basic Life Support tentang keselamatan, P3K, hingga kemampuan dasar yang benar saat menyelamatkan orang pada peristiwa kecelakaan. Tindakan penyelamatan itu tak bisa dilakukan dengan cara sembarang. Jadi tidak bisa langsung menolong begitu saja tanpa memperhatikan cara yang benar agar tidak menambah penderitaan korban kecelakaan, bahkan bisa mempercepat kematiannya. Dengan pelatihan tersebut, diharapkan setiap biker atau masyarakat bisa memahami dan mampu memberikan pertolongan tanpa menimbulkan trauma lain atau kematian (do no harm). Setidaknya biker atau pengguna jalan lainnya mampu memahami bagaimana memberikan pertolongan pertama pada seseorang yang mengalami cedera atau kecelakaan di jalan raya atau di lokasi lainnya.
Namun demikian, pemahaman dan praktik Basic Life Support ternyata tidak mudah, terutama ketika kita diharapkan bisa memberi pertolongan pada seseorang yang sedang mengalami cedera atau kecelakaan di tempat umum. Kemungkinan terburuknya, kondisi korban akan bertambah parah atau malah meninggal dunia. Dalam prinsip-prinsip dasar Basic Life Support, kita akan mengetahui cara memberikan pertolongan pertama seperti:
1. Jika melihat korban terjadi pendarahan, segera hentikan pendarahan dengan cara diperban atau dibalut agar aliran darah terhenti.
2. Bagaimana mengangkat korban yang benar jika korban mengalami patah tulang.
3. Bagaimana cara memberi nafas buatan jika korban pingsan sebelum pertolongan medis datang.
4. Bagaimana cara membalut luka korban dengan benar supaya tidak terjadi pendarahan yang lebih parah.
5. Apabila melihat ada korban yang mengalami cidera, sebaiknya mencari bantuan orang lain atau panggil paramedis dan jangan melakukan pertolongan sendiri.
6. Membawa korban dengan menggunakan kendaraan yang nyaman agar luka korban tidak semakin parah.
Selain itu, ada pula pertolongan pertama yang perlu diketahui. Di antaranya adalah Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), Critical Thinking pada Kedaruratan, Penanggulangan Shock, Pendarahan dan Fraktur, Penanggulangan Kedaruratan Nafas, Penanggulangan Kedaruratan Jantung. Bantuan Hidup Dasar (BHD), Estrikasi/Stabilisasi (Balut Bidai), dan Evakuasi Gadar (Transportasi). SPGDT merupakan pendekatan sistematis dalam penanggulangan penderita gawat darurat (GD) di tempat kejadian perkara (TKP) dan membawanya ke tempat pelayanan definitif/rumah sakit. Penanggulangan di TKP meliputi cara meminta bantuan, mengontrol pendarahan, memasang balut atau bidai, hingga korban dibawa ke rumah sakit dengan transportasi yang memadai dan aman.
Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau resusitasi jantung-paru Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) merupakan cara pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada pasien/korban  yang mengalami fungsi henti jantung-paru agar korban tetap hidup serta kerusakan otak dapat dicegah, sambil menunggu datangnya pertolongan medis. BHD merupakan teknis yang sederhana dan tidak memerlukan peralatan khusus, sehingga dapat dilakukan semua orang dengan hanya sedikit latihan, namun bila dilakukan dengan benar sangat besar manfaatnya bagi pasien/korban dan dapat menyelamatkan jiwa.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam BHD, di antaranya; bila seseorang menemukan korban yang tampaknya tidak sadar, hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan apakah korban tersebut betul-betul tidak sadar dengan cara membangunkannya dengan ditepuk, panggil nama, goncangkan perlahan untuk menilai ada respon atau tidak. Bisa juga dengan melihat apakah ada tanda-tanda korban bernafas. Bila pasien ternyata sadar dan ada respon, jangan lakukan BHD, karena hal itu justru akan menyakiti. Bila ternyata tidak ada respon dari korban, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah meminta pertolongan orang lain untuk menghubungi rumah sakit.
Untuk Kedaruratan Jantung, mungkin di antara kita pernah mendengar seseorang yang sebelumnya diketahui sehat, tiba-tiba terjatuh saat sedang bekerja atau sedang melakukan aktivitas olahraga, bahkan kemudian meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Banyak kemungkinan yang dapat menyebabkan hal ini, antara lain stroke, serangan jantung, tersedak, sengatan listrik, ataupun overdosis. Perlu juga diketahui adanya dua jenis pendarahan, yakni pendarahan luar dan dalam. Pendarahan luar terjadi pada permukaan luar tubuh. Sedangkan pendarahan dalam pada penderita tidak tampak berdarah.
Basic Life Support sendiri kini semakin banyak digunakan di sejumlah negara dan telah memberikan banyak manfaat. Masyarakat dan juga pengguna jalan menganggap bahwa prinsip-prinsip Basic Life Support ini sangatlah penting, karena dalam keseharian sering terjadi kecelakaan atau musibah di jalan raya. Bisa dibayangkan jika ada salah satu anggota keluarga kita mengalami kecelakaan atau luka berdarah, paling tidak orang yang berada di dekatnya bisa memberi pertolongan pertama sebelum memanggil paramedis atau dibawa ke rumah sakit.
Ok Bro, safe ride!
 
 
*Diolah dari berbagai sumber

Pentingnya Gaya Hidup Sehat Demi Kesehatan Jantung


Sangat dianjurkan untuk bergaya hidup sehat demi menjaga kesehatan dari serangan penyakit jantung yang bisa menyerang setiap saat

medical check up

Soal pola hidup (life style), terutama bagi penyuka riding, kerap merasa kesulitan untuk mengontrol asupan, baik makanan maupun minuman. Untuk mengontrol asupan yang berlebihan sebenarnya bisa disiasati atau dikurangi. Hanya saja ketika sudah menikmati hidup yang enak, yang terjadi justru semakin sulit menahannya. Sebagai contoh, jika sudah mengetahui rendang daging itu mengandung kolesterol yang tinggi, tetapi ketika kondisi kita sedang lapar, ternyata kita tidak selalu ingat bahwa rendang itu kolesterolnya tinggi.

Nah, perlu juga diketahui bahwa salah satu penyebab serangan jantung adalah faktor genetik. Itulah sebabnya mengapa masyarakat sangat dianjurkan untuk melakukan medical check up minimal satu kali dalam setahun dan diikuti pemeriksaan darah lengkap setidaknya enam bulan sekali. Perlu juga diingat bahwa dari sekian banyak penyakit jantung, yang paling banyak terjadi dan kerap berujung sudden death adalah penyempitan pembuluh darah. Terjadinya penyempitan pembuluh darah tentu saja tak sekonyong-konyong muncul begitu saja, karena biasanya penyempitan pembuluh darah itu merupakan penyakit kronis yang kerap luput dari perhatian. Penyuka riding pun sering mengabaikannya. Terutama dialami oleh orang yang berpotensi mengalami obesitas, memiliki kadar kolesterol tinggi, hipertensi, dan juga stres.

dr Sigit Tjahyono Sp BMenurut Dr A Sigit Tjahyono Sp B, BTKV (K), MPH-MMH-MMr, ketika usia sudah memasuki lebih dari 35 tahun, tubuh memang terlihat masih aktif dan produktif. Namun bila pola hidup yang dijalankan kurang baik, maka bukan hal yang mustahil jika hal tersebut akan mempengaruhi kesehatan, termasuk kesehatan jantung. “Nah, untuk penyuka riding yang berusia lebih dari 35 tahun, sangat dianjurkan untuk bergaya hidup sehat demi menjaga kesehatan dari serangan penyakit jantung yang bisa menyerang setiap saat,” ujar dokter yang aktif di komunitas Med Docs dan penyuka touring dengan Harley-nya.

Berikut ada sejumlah kiat yang bisa dilakukan penyuka riding, terutama  untuk menjaga kesehatan jantungnya:

Relaksasi

Cobalah untuk selalu berada dalam kondisi rileks. Dengan rileks, tubuh akan lebih mudah mengontrol tingkat stres. Jika sedang menghadapi masalah pekerjaan di kantor atau hal lainnya, upayakan hindari ketegangan dengan tetap tenang dan rileks. Untuk lebih mudah mengontrolnya, cobalah berolahraga untuk membantu memberikan kenyamanan yang lebih baik.

Olahraga

Berolahraga secara rutin memang sangat dianjurkan untuk menjaga kondisi jantung agar tetap sehat. Dengan melakukan olahraga ringan dan hanya sekitar 15 hingga 30 menit setiap harinya, akan terasa manfaatnya bagi kesehatan jantung.

Asupan sehat

Risiko penyakit jantung dan juga penyakit lainnya bisa dipicu oleh makanan yang banyak mengandung kalori dan dapat meningkatkan kadar kolesterol. Jadi sangat dianjurkan menghindari makanan yang tidak sehat. Mulailah dengan memilih makanan yang rendah kolesterol, mengandung karbohidrat kompleks, dan kaya protein. Hindari pula minuman yang mengandung alkohol dan berkarbonasi.

Istirahat yang cukup

Bagi penyuka riding, sangat dianjurkan meluangkan waktu untuk beristirahat yang cukup. Setidaknya tidur yang cukup selama enam hingga delapan jam setiap malamnya. Jika waktu istirahat (tidur) kurang dari lima jam, akan berpotensi memicu serangan penyakit jantung.

Pentingnya Sarapan

Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk memulai beraktivitas. Di sisi lain, sarapan pagi sangat dianjurkan. Pentingnya sarapan pagi karena mampu memberikan energi bagi tubuh untuk menunjang aktivitas hingga siang hari. Jangan lupa, pilihlah menu sarapan pagi yang baik.

Konsumsi garam dan gula

Saat touring atau berolahraga yang berat, tubuh kita memerlukan energi yang besar dan memerlukan asupan yang baik berupa gula (coklat) yang lebih mudah dicerna menjadi energi. Kondisi tubuh juga banyak kehilangan garam (elektrolit) sehingga harus digantikan dengan minuman yang mengandung kadar elektrolit tinggi.

Bagi bikers penderita sakit gula (diabetes) dan hipertensi, harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

– Pastikan gula darah anda terkontrol, baik dengan obat-obatan yang diminum atau disuntik.

– Lebih dianjurkan touring dengan boncengers atau beramai ramai.

– Sangat diharapkan rekan touring lainnya mengerti penyakit anda dan membawa obat pribadi. Khusus untuk penderita hipertensi, jangan lupa membawa obat pribadi karena setiap obat mempunyai daya kerja yang berbeda.

Nah, bagi siapa pun, termasuk biker, menurut Dr A Sigit Tjahyono, sangat penting untuk merasa bertanggung jawab terhadap kesehatan dirinya sendiri, termasuk dengan membawa obat-obatan pribadi saat riding atau touring. Bahkan bagi yang menderita diare, dampak dari dehidrasi yang dialami saat riding bisa juga mempengaruhi hemodinamik (sirkulasi tekanan darah) yang menjadi pemicu serangan jantung. Bahkan bagi penderita diare akut berusia lanjut bisa juga terkena serangan jantung. “Serangan jantung sendiri merupakan penyakit kronis yang sebenarnya bisa dideteksi sejak dini. Jadi bisa diatasi sebelumnya dengan langkah-langkah pencegahan yang sangat dianjurkan seperti medical check up dan periksa darah lengkap,” katanya.

Tips Hindari Dehidrasi: Minum yang Cukup dan Teratur


Jangan lupa, berhenti dan beristirahat setiap dua jam perjalanan.
Melihat gambaran gangguan dan kerusakannya, dehidrasi harus dihindari. Dalam touring, biker membutuhkan kesegaran dan kebugaran agar tetap dapat berkonsentrasi dalam perjalanan dan selamat sampai di tujuan. Kebutuhan asupan cairan secara normal adalah 2 mm/kg berat badan/jam. Jadi jika memiliki berat badan 50 kg, maka setiap jamnya harus minum cairan minimum 100 cc. Cairan tersebut harus ditambah lagi untuk mengganti keluarnya cairan melalui keringat yang meningkat akibat panas dan juga penguapan melalui pernafasan.
Jadi usahakan selalu minum yang cukup dan teratur. Pada dasarnya semua air mengandung elektrolit yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun bagi yang mengalami dehidrasi, penambahan cairan minuman berelektrolit juga sangat bermanfaat. Jangan lupa, berhenti dan beristirahat setiap dua jam perjalanan. Hindari makanan yang mengenyangkan, termasuk alkohol dan amphetamine.

Jangan Pernah Anggap Sepele Dehidrasi


Secara umum, dehidrasi ringan tidak sampai menyebabkan gangguan berarti, namun sebaliknya pada dehidrasi berat tidak dapat ditoleransi oleh tubuh kita.

Ketika melakukan perjalanan dengan kendaraan kesayangan kita, terutama saat perjalanan jauh dan panas, sangat memungkinkan pengendara mengalami lesu, lemah, lemas, pusing, mual, muntah, kejang otot, hingga berkurangnya refleks? Kondisi tersebut besar kemungkinan disebabkan telah terjadi dehidrasi, yaitu berkurangnya cairan serta elektrolit dalam tubuh. Jika diabaikan hal itu bisa menyebabkan kecelakaan yang berakibat fatal.

Menurut Dr Radja Simanjuntak, SpAn, MM, anestesiolog yang juga Direktur Umum RS PGI Cikini, Jakarta, komponen terbesar yang ada dalam tubuh adalah airyang berfungsi srebagai pelarut bagi semua zat terlarut dalam tubuh, baik dalam bentuk suspensi maupun larutan. Sebagai catatan, jumlah air dalam tubuh (total body water) adalah persentase dari berat airdibandingkan dengan total berat badan. “Air membentuk sekitar 60% dari berat badan seorang pria dan sekitar 50% dari berat wanita. Jadi semua sel dalam jaringan tubuh manusia terendam dalam cairan yang komposisinya mirip air laut. Dengan lemak yang pada dasarnya bebas air, maka makin sedikit lemak seseorang akan menyebabkan makin tingginya persentase air dari berat badannya,” ujar Dr Radja Simanjuntak.

Dengan kandungan larutan yang terdiri dari air dan zat terlarut seperti elektrolit dan bicarbonate, elektrolitnya sebagai zat kimia menghasilkan pertikel-pertikel bermuatan listrik (ion) jika berada dalam larutan. Nah, agar fungsi sel normal, komposisi cairannya harus relatif konstan yang dipelihara tubuh melalui mekanisme faal yang sangat kompleksdan melibatkan banyak sistem tubuh lainnya. “Jika terjadi gangguan keseimbangan, maka akan menjadi dasar penyebab suatu penyakit yang bisa menyebabkan gangguan secara menyeluruh dari sistem tubuh,” katanya.

Menurut Dr Radja Simanjuntak, keseimbangan cairan dan elektrolit menggambarkan kondisi distribusi yang normal dari total air tubuh dan elektrolit di dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangannya saling bergantung karena jika salah satunya terganggu, maka yang lainnya akan terganggu pula. Pemahaman dehidrasi secara umu adalah suatu kondisi kekurangan cairan pada tubuh yang secara umum dapat disebabkan oleh kurangnya asupan cairan atau pengeluaran yang berlebihan dan berakibat terjadi defisit total cairan tubuh.

“Jadi semakin jelas bahwa asupan cairan berasal dari minuman dan makanan. Sedangkan pengeluaran cairan dari tubuh secara fisiologis (normal) dapat berupa keringat melalui kulit, penguapan melalui paru-paru, dan air seni (kencing) melalui ginjal. Sedangkan dalam keadaan patologis (tidak semestinya) dapat disebabkan oleh penyakit seperti panas, muntah-muntah, diare, kencing manis, luka bakar, serta obat-obatan seperti diuretic, atau obat perangsang seperti golongan amphetamine, alkohol, dan lain-lain,” ujarnya menjelaskan.

Ya, meningkatnya kehilangan cairan tubuh bisa terjadi melalui keringat pada udara panas sebagai akibat penyesuaian tubuh terhadap cuaca. Terdapat tiga jenis defisit cairan (dehidrasi), yaitu dehidrasi ringan, dehidrasi sedang, dan dehidrasi berat. Secara umum, dehidrasi ringan tidak sampai menyebabkan gangguan berarti, namun sebaliknya pada dehidrasi berat tidak dapat ditoleransi oleh tubuh kita. Yang juga penting untuk diketahui adalah gejala dan tanda kekurangan volume cairan yang juga tergantung dari kecepatan dan besarnya perubahan. Namun dari banyaknya kasus yang ditemui, gejala dan tanda kekurangan cairan itu terjadi secara perlahan.

Pada dehidrasi sedang hingga berat, gejalanya bisa berupa lesu, lemah, lelah, rasa haus, tidak nafsu makan, turunnya tekanan darah sedikitnya 10 mmHg, peningkatan denyut nadi, berkurangnya berat badan, hingga penurunan produksi urin (urin lebih pekat dan berwarna kuning). Dehidrasi berat dapat menyebabkan shock, gangguan fungsi ginjal, gangguan elektrolit tubuh yang dimanifestasikan berupa keram otot, keram perut, gangguan kesadaran, kejang, hingga gangguan irama jantung.

Ujung-ujungnya, jangan pernah sepelekan dehidrasi. Terutama bagi biker yang kerap melakukan perjalanan jauh. Kesehatan tetap lebih utama.

Melatih Otot Demi Ketahanan Tubuh


Dengan kinerja yang tinggi, tentu saja otot-otot tersebut perlu dilatih secara rutin agar mampu menunjang aktivitas yang membutuhkan gerak lebih fleksibel sekaligus menghindari cedera otot.

Aktivitas berkendara, khususnya biker, memang membutuhkan kondisi tubuh yang fit agar kebugaran selalu terjaga. Dengan begitu, konsentrasi jadi lebih prima sekaligus menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama di perjalanan. Bagi biker berusia muda, menurut dr Tedjo Rukmoyo, SpOT, Spine (K), ada tiga olahraga yang dianjurkan dan sangat bermanfaat untuk ketahanan biker, yaitu bersepeda, renang, dan jogging. “Bagi biker yang berusia lebih tua atau berusia lanjut, cukup berlari-lari kecil bisa dilakukan secara rutin. Walau begitu masih ada yang mampu melakukan jogging dan renang,” ujar spesialis bedah tulang belakang ini.

Menurutnya, aktivitas berkendara yang tidak diikuti dengan aktivitas olahraga, sangat rentan berdampak pada ketahanan tubuh. Terkadang punggung atas dan yang lebih sering punggung bawah bisa mengalami pegal. Demikian pula dengan bahu, khususnya pada lengan atas kiri dan kanan yang kerap terasa pegal. Yang perlu diwaspadai juga adalah penggunaan helm jangka panjang yang bisa berefek pada otot leher belakang. Juga dengan otot paha bagian depan yang kerap bergerak untuk manuver, termasuk menahan beban sebagai penyangga sepeda motor saat hendak parkir, berhenti, atau ketika akan memulai perjalanan.

Dengan kinerja yang tinggi, tentu saja otot-otot tersebut perlu dilatih secara rutin agar mampu menunjang aktivitas yang membutuhkan gerak lebih fleksibel sekaligus menghindari cedera otot. Olahraga ringan seperti bersepeda, jogging, dan renang akan sangat membantu membiasakan melatih gerakan otot. Aktivitas olahraga tersebut sangat dianjurkan untuk dilakukan secara rutin, setidaknya tiga kali seminggu. Secara perlahan, efeknya akan terasa pada kebugaran. Tubuh pun tak lagi mudah capai, tidak mudah sakit, dan lebih fit. “Kalaupun tidak bisa secara rutin, selain tiga jenis olahraga tersebut, sangat dianjurkan melatih gerakan otot-otot tersebut sejak tiga minggu hingga satu bulan jelang touring. Otot-otot pun akan menjadi semakin kuat, semakin besar, dan tentu saja gerakannya akan semakin terlatih,” kata pria yang akrab disapa Yoyok sekaligus menjadi Ketua Med Docs Yogyakarta Chapter.

Bagi biker yang masih berusia muda, bisa dimulai dengan gerakan pertama berupa push up yang bisa dilakukan melalui beberapa tahapan. Tak perlu push up seperti karateka, tetapi gunakan bar sebagai pegangan tangan untuk menyangga lengan seperti gerakan push up biasa dengan tumpuan kaki pada jari-jari kaki. Bisa juga dengan posisi kaki diangkat. Tapi ingat, gerakan ini cukup berat sehingga hanya dianjurkan dilakukan oleh biker muda. Bagi yang jarang berolahraga dan memiliki perut agak buncit, bisa melakukan push up yang lebih mudah dengan menggunakan lutut sebagai penyangga kaki. Bagi yang berusia lanjut pun masih bisa melakukan push up dengan bantuan dinding sebagai penyangga. Jika merasa mampu, lakukan dengan posisi tubuh membentuk sudut kemiringan yang lebih besar terhadap dinding. Namun jika dirasa berat, posisi tubuh bisa disesuaikan dengan membentuk sudut kemiringan yang lebih tegak terhadap dinding.

Ada pula gerakan vital bagi biker dengan bantuan alat berbentuk roda berdiameter 20 hingga 25 sentimeter dengan pegangan tangan di bagian kiri dan bagian kanannya. Gerakan ini menjadi gerakan utama. Diawali dengan posisi seperti hendak merangkak dengan lutut sebagai penyangga kaki serta kedua tangan memegang alat tersebut. Secara perlahan punggung dan pinggul diturunkan bersamaan dengan gerakan tangan yang menjalankan roda alat tersebut ke arah depan hingga posisi perut mendekati lantai. Lalu gerakan dilanjutkan dengan menarik kembali alat tersebut sambil mengangkat punggung dan pinggul hingga kembali ke posisi semula. Gerakan ini vital karena memberikan latihan secara bersamaan bagi otot-otot pada lengan bawah, lengan atas, bahu, leher, punggung, pinggul, perut, hingga otot paha bagian depan.

Selajutnya adalah gerakan ketiga yang akan melatih otot leher dan otot bahu bagian atas. Gerakannya cukup mudah karena hanya memposisikan tubuh berdiri dan memutar tangan dengan gerakan putaran ke belakang dengan radius agak lebar. Gerakan ini sangat bermanfaat untuk otot leher dan sangat dianjurkan untuk dilakukan saat beristirahat di tengah perjalanan jauh. Manfaatnya adalah untuk mengembalikan kondisi otot leher bagian belakang agar tetap fleksibel setelah bekerja dalam posisi statis menahan beban helm dan memegang setang kemudi.

Gerakan keempat adalah back up dengan melatih otot punggung. Perlu lebih hati-hati melakukannya, khususnya bagi biker yang pernah sakit pinggang dan usia yang sudah tidak muda lagi. Diawali dengan meletakkan kedua tangan membekap pipi dan telinga dan dilanjutkan dengan mengangkat posisi badan dan kepala ke atas. Bagi yang mampu, bisa juga dilakukan dengan variasi yang lebih berat dengan cara menggantungkan badan dan kepala di tepi meja atau tempat tidur dan mengangkat badan sambil menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri.

Gerakan selanjutnya adalah squatting. Diawali dengan posisi berdiri dengan lengan membekap pipi dan telinga dan posisi kaki agak terbuka. Secara perlahan lutut diturunkan membentuk sudut 90 derajat, pinggul di tekuk dan seperti posisi hendak duduk. Dilanjutkan dengan menaikkan tubuh ke posisi semua dan dilakukan berulang naik turun. “Gerakan ini bermanfaat untuk menahan beban Harley dan manfaatnya serupa dengan gerakan jogging. Gerakan ini juga sangat baik untuk kesehatan jantung, paru-paru, dan sirkulasi darah,” ujar dr Yoyok. Menurutnya, seluruh gerakan tersebut sangat dianjurkan dilakukan secara bertahap.

Merawat Tulang Memperlambat Degeneratif


Bagi biker sendiri, masih kerap menganggap sepele penggunaan body protector saat riding. Alasannya pun klise, yaitu merepotkan dan tidak nyaman. Sesungguhnya body protector dirancang untuk melindungi tulang kering, tulang paha, hingga tulang belakang dan cervical (leher).

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­

Salah satu faktor penting yang ikut menentukan kebugaran pengendara adalah kesehatan pada tulang. Yang perlu disadari juga adalah faktor usia. Jika sudah berusia di atas 40 tahun, sangat dianjurkan untuk mulai merawat tulang karena sudah mulai memasuki masa degeneratif. Namun kondisi tulang sejak lahir hingga usia 40 tahun, masih merupakan masa yang baik bagi tulang tanpa perlu harus didukung dengan vitamin atau berlatih dengan gerakan-gerakan tertentu, termasuk dengan berolahraga.

Degeneratif sebenarnya bermakna sebagai penurunan berbagai fungsi tubuh manusia. Tulang sendiri berfungsi sebagai rangka yang menopang tubuh manusia yang didukung oleh sendi dan otot. Menurut Dr. Hanrizal Satria, HOGers di komunitas Med Docs yang juga spesialis orthopedi dan traumatologi di RS Puri Indah ini, untuk merawat tulang, khususnya bagi yang berusia di atas 40 tahun, perlu dijaga dengan menghindari gerakan-gerakan impact seperti dalam olahraga bulutangkis, tenis, dan sepak bola yang bisa merusak sendi. Jadi mulailah dengan gerakan terbaik lewat olahraga ringan seperti joging, bersepeda statis, atau renang. Proses degeneratif bisa dialami lebih cepat oleh kaum wanita yang disebabkan proses alami seperti melahirkan dan menopause, yang membuat tulangnya lebih cepat ‘rusak’ dibandingkan pria. Suplemen yang mengandung kalsium bisa dijadikan penunjang untuk memperlambat degeneratif pada tulang.

Berkaitan dengan pengendara sepeda motor dan berlaku secara umum, termasuk Harley Davidson, harus lebih berhati-hati dalam beraktivitas dengan sepeda motor. Misalnya saja mulai dari mendirikan sepeda motor dan cara menaikinya, ada baiknya memperhatikan trik khusus yang berbeda dengan pengendara muda di bawah usia 40 tahun. “Khusus bagi pengendara Harley, dengan bobot sepeda motor sekitar 400 kilogram yang jauh lebih berat dibanding pemgendaranya, jika tak menerapkan trik khusus, kemungkinan bisa menyebabkan pergeseran pada tulang dan sendi,” kata Dr Satria mengingatkan.

Bagi pengendara Harley yang kerap melakukan perjalanan jauh, sebaiknya melakukan persiapan sebelumnya seperti stretching (peregangan) yang sangat bermanfaat untuk merelaksasi otot. Dengan merelaksasi otot, maka tulang-tulang pun akan ditopang dengan baik karena otot-otot tidak secara mendadak dipaksa menopang berbagai gerakan tubuh. Selain stretching, setidaknya tiga hari sebelum touring sebaiknya berolahraga yang menunjang kebugaran, termasuk menjaga kondisi tulang, otot, dan persendian. Renang dan fitness bisa membantu otot bekerja lebih optimal.

Pada saat riding, menurutnya pengendara harus bisa membuat sepeda motornya senyaman mungkin. Jangan mengendarai sepeda motor yang tidak layak. Misalnya saja kopling yang harus dibuat seringan mungkin. Kopling yang agak keras dan berat jangan dipaksa untuk tetap dikendarai karena bisa menimbulkan cedera. Lebih baik sepeda motor diperiksa secara menyeluruh sebelum melakukan perjalanan. Selain kopling, periksa pula handling sepeda motor, serta aspek lain yang bisa mempengaruhi gerakan pada tulang. Dengan kondisi sepeda motor yang ideal, maka beban kerja pada tulang, otot, dan persendian tidak menjadi berlebihan. Dampaknya akan terasa setelah riding dengan kondisi tubuh yang tidak kaku dan sakit. ”Jangan lupa pula, maksimal setiap dua jam perjalanan harus beristirahat setidaknya selama 15-30 menit, barulah perjalanan dilanjutkan kembali,” ujarnya.

Setelah berkendara jarak jauh, pada umumnya tulang, otot, dan persendian akan mengalami fatigue (kelelahan). Segera lakukan relaksasi kembali yang disertai istirahat yang cukup sekaligus memberi waktu istirahat yang cukup pula bagi otot-otot usai bekerja keras. Istirahat yang cukup akan membuat tulang, otot, dan persendian akan kembali fresh.

Yang juga harus diperhatikan adalah soal makanan dan minuman. Dan mau tak mau setiap pengendara harus menyadari risiko penyakit yang kerap dialami seperti kolesterol, asam urat, atau radang sendi. Jangan memaksakan diri jika kondisi tubuh tidak benar-benar fit karena bisa menyebabkan sakit yang luar biasa dan fatal sekali. Jadi sebaiknya periksa (check-up) dulu sebelum touring, sehingga ada kesempatan untuk memperbaiki dan merawat kondisi menjadi normal. Untuk check-up, dianjurkan setidaknya dilakukan setiap enam bulan.

Bagi biker sendiri, masih kerap menganggap sepele penggunaan body protector saat riding. Alasannya pun klise, yaitu merepotkan dan tidak nyaman. Sesungguhnya body protector dirancang untuk melindungi tulang kering, tulang paha, hingga tulang belakang dan cervical (leher). Jadi mulailah menghargai tulang dengan merawatnya lebih dini untuk menghindari dari patah, degeneratif, osteoporosis, atau penyakit lainnya. Olahraga teratur bisa jadi pilihan gaya hidup sehat. “Manfaat body protector sudah dialami sendiri oleh Dr. Errawan (HOGers, Director Med Docs) saat terjadi kecelakaan dengan tubuh terlempar membentur pohon kelapa. Dr. Errawan pun bisa kembali berdiri berkat penggunaan full body protector,” ujar Dr Satria.

Berkaitan dengan uraian di atas, Medd Docs telah mencanangkan akan memberikan pelatihan Basic Life Support tentang keselamatan, P3K, hingga kemampuan dasar yang benar saat menyelamatkan orang pada peristiwa kecelakaan. Tindakan penyelamatan itu tak bisa dilakukan dengan cara sembarang. Jadi tidak bisa langsung menolong begitu saja tanpa memperhatikan cara yang benar agar tidak menambah penderitaan korban kecelakaan, bahkan bisa mempercepat kematiannya. Dengan pelatihan tersebut, diharapkan setiap biker bisa memahami dan mampu memberikan pertolongan tanpa menimbulkan trauma lain atau kematian (do no harm).

Ok Bro, safe ride and remember your heart!

Perlu Dukungan Regulasi


Indonesia sendiri kini merupakan negara kedua terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman hayati.

Kementerian Kesehatan melalui pencanangan pengembangan dan promosi herbal asli Indonesia, terus berupaya mendorong dan menggalakkan kembali penggunaan herbal asli Indonesia, termasuk pengembangan manfaatnya oleh dokter dalam bidang kedokteran. Hingga kini sudah tersedia enam fitofarmaka dan 26 herbal terstandar yang sudah teregistrasi untuk digunakan di sarana pelayanan kesehatan
Indonesia sendiri kini merupakan negara kedua terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman hayati. Tak kurang dari 30.000 jenis (spesies) yang telah diidentifikasi dan 950 spesies di antaranya diketahui memiliki fungsi biofarmaka, yaitu tumbuhan, hewan, maupun mikroba yang memiliki potensi sebagai obat, makanan kesehatan, nutraceuticals, baik untuk manusia, hewan maupun tanaman. Dengan kekayaan yang sangat melimpah tersebut, Indonesia memiliki peluang besar sebagai negara terbesar dalam industri obat tradisional dan kosmetika alami berbahan baku tumbuh-tumbuhan. Bahkan peluang pasarnya pun diyakini cukup besar.
Sementara di sisi lain, pentingnya komitmen dari berbagai pihak, baik di pusat maupun di daerah, untuk melaksanakan pelayanan kesehatan tradisional secara formal sudah ditekankan oleh Slamet Riyadi Yuwono selaku Dirjen Bina Gizi-KIA, Kementerian Kesehatan RI. Bahkan Direktorat Bina Yankes Tradkom juga telah menyusun formularium herbal asli Indonesia. Formularium ini bukan untuk mengganti pengobatan standar, tetapi sebagai salah satu acuan bagi tenaga kesehatan dalam melayani kesehatan sebagai alternatif atau komplementer terhadap 24 jenis penyakit dengan menggunakan 65 jenis obat tanaman obat.
Dengan membangun sistem yang terintegrasi melalui pengembangan dan pengintegrasian pelayanan kesehatan tradisional ke dalam sistem pelayanan kesehatan akan menjadi modal dasar yang kuat dalam pengembangan kesehatan tradisional di Indonesia. Dan yang tak kalah pentingnya adalah dukungan akselerasi regulasi dalam pelaksanaannya di pelayanan kesehatan formal.

Kesehatan Tradisional dalam Pelayanan Kesehatan Nasional


Obat-obatan yang termasuk obat tradisional pun kini sudah bisa berdampingan dengan obat modern, termasuk jamu yang sejak turun-temurun sudah menjadi obat tradisional dan dipercaya masyarakat sebagai bagian dari upaya penyembuhan.

Selama ini pengembangan dan pelaksanaan pelayanan program kesehatan tradisional kurang mendapat perhatian secara komprehensif. Motivasi yang cukup tinggi masih memerlukan dukungan kemampuan sumber daya manusia dalam bidang kesehatan tradisional. Selain itu, dukungan pemerintah daerah diyakini akan berdampak positif terhadap penyediaan pembiayaan, termasuk juga sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Untuk implementasi layanan integrasi tersebut, yang perlu diperhatikan adalah bahwa kesehatan merupakan hak azasi manusia dan bukan hak institusi. Itu artinya setiap orang berhak mendapat pelayanan kesehatan di mana pun di seluruh dunia. Jadi memang sudah seharusnya disediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang komprehensif.
Pelayanan kesehatan, khususnya yang menyangkut obat-obatan, kini tak lagi didominasi oleh obat-obat modern. Obat-ubatan yang termasuk obat tradisional pun kini sudah bisa berdampingan dengan obat modern, termasuk jamu yang sejak turun-temurun sudah menjadi obat tradisional dan dipercaya masyarakat sebagai bagian dari upaya penyembuhan. Ya, jamu sebagai Brand of Indonesia memang sudah dicanangkan sejak 2008 lalu dalam Gelar Kebangkitan Jamu oleh Presiden. Pencanangan itu sekaligus mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi jamu yang dapat dipertanggungjawabkan keamanan dan manfaatnya dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Apalagi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sudah mengeluarkan public warning-nya 4 Oktober 2011 terkait adanya temuan bahan kimia obat berbahaya pada obat tradisional. Tak tanggung-tanggung, dari 21 jenis obat tradisional yang ditemukan BPOM yang menggunakan bahan kimia obat, Jenis jamu menjadi temuan terbanyak.
Semua temuan itu pun telah dipastikan tidak terdaftar di BPOM. Regristrasi yang digunakan adalah registrasi fiktif. Masyarakat pun diminta untuk tidak mengkomsumsi obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (OT-BKO) karena dapat membahayakan kesehatan. Pemerintah pun tak pernah main-main. Apalagi pemerintah juga telah berkomitmen sesuai hasil Konferensi International Kesehatan Tradisional ASEAN ke-2 di Hanoi, Vietnam, tahun lalu, yang menghasilkan kesamaan pandangan perlunya integrasi kesehatan tradisional dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Sementara dari hasil analisis BPOM, temuan selama lima tahun terakhir, telah terjadi penurunan temuan obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat dari 1,65 persen menjadi 0,72 persen dari seluruh obat tradisional.
Melihat data dan sejumlah temuan tersebut, integrasi pelayanan kesehatan tradisional (yankestrad) memang menjadi penting, termasuk integrasi ke dalam fasilitas pelayanan formal di rumah sakit dan Puskesmas. Integrasi itu sangat dimungkinkan mengingat potensi kekayaan hayati obat tradisional yang dimiliki Indonesia menempati urutan kedua terbesar setelah Brasil. Selain itu, pelayanan kesehatan tradisional juga sudah diatur dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009. Di antaranya Pasal 59 yang menjelaskan Yankes tradisional meliputi yankestrad ketrampilan dan yankestrad ramuan. Juga dijelaskan bahwa yankestrad dibina dan diawasi oleh pemerintah untuk menjamin manfaat dan keamanannya.
Pembinaan dan pengawasan itu bukan berarti mempersempit ruang mayarakat untuk mengembangkannya, tetapi justru memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan, meningkatkan, dan menggunakan pelayanan kesehatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.
Kepada masyarakat pun diharapkan jangan asal memilih obat tradisional. Kesalahan dalam memilih obat tradisional bisa berdampak buruk dan membahayakan tubuh. Pasalnya saat ini, banyak obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat berbahaya. Bahkan di beberapa kota besar di Indonesia, peredarannya sudah marak.

Fitur Kesehatan pada AC


Produk air conditioner (AC), pada awalnya hanya menggunakan filter biasa dan tidak mampu menetralisir atau mematikan bakteri, bahkan menghilangkan bau-bau yang tak sedap yang membahayakan kesehatan. AC pun identik dengan perangkat penyedot energi listrik terbesar. Namun imej AC kini sudah bergeser. Rasanya konsumen dan pengguna AC kini tak melulu mencari produk AC yang mampu menghemat energi listrik saja, tetapi sudah mulai peduli terhadap fitur kesehatan. Apalagi sejak maraknya kasus flu burung dan flu babi yang menebar ancaman ke seluruh penjuru dunia. Di pasaran pun semakin mudah ditemui AC dengan berbagai fitur kesehatan seperti:

  1. Teknologi Plasma. Teknologi ini mampu menghasilkan ion positif dan ion negative yang berfungsi mengikat bakteri atau virus yang ada dalam sebuah ruangan. Selain mampu menghilangkan bau rokok atau apek, teknologi ini juga mampu menghilangkan stres.
  2. Filter Vitamin C. Mengandung antioksidan untuk meningkatkan kekebalan tubuh agar tubuh menjadi lebih sehat dan bugar.
  3. Ionizer. Memiliki kemampuan mengubah, menguraikan, dan memecah molekul-molekul di udara, sekaligus membersihkan udara dan mengurangi bau, sehingga menciptakan udara yang segar dan bersih, serta bermanfaat bagi kesehatan. Ionizer diyakini juga mampu mencegah flu burung.
  4. Gelombang ultrasonik. Memiliki kemampuan merusak fungsi antena penerima rangsangan pada nyamuk yang akhirnya membuat nyamuk mati.

Dengan berbagai fitur yang bermanfaat bagi kesehatan yang melekat pada berbagai produk AC terkini, setidaknya hidup sehat pun menjadi lebih mudah diperoleh. Hidup sehat, siapa yang tak mau?

Kini, Rumah Sakit Tak Lagi Tabu Berpromosi


Pelayanan kesehatan kini memang menjadi perhatian dan slogan pemerintah sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. Namun di sisi lain, persepsi masyarakat tentang pelayanan rumah sakit di Indonesia bisa dikatakan masih sangat rendah. Uang muka, penanganan yang tak memadai, sikap kurang profesional, serta biaya yang mahal menjadi bagian dari potret pelayanan rumah sakit di Indonesia yang selalu membuat dahi berkerut saat hendak memasuki rumah sakit. Dengan kecenderungan persepsi masyarakat seperti itu, tak heran jika sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya dari kalangan strata ekonomi menengah ke atas, lebih memilih untuk berobat ke luar negeri. Bahkan ironisnya, jumlah mereka yang berobat ke luar negeri, terutama Singapura, jumlahnya semakin bertambah setiap tahunnya. Peningkatan jumlah masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri itu, justru semakin memperkuat biasnya persepsi bahwa pelayanan dan kemampuan rumah sakit di Indonesia masih berada di bawah sejumlah rumah sakit terkemuka di luar negeri. Lalu, seberapa jauh kecenderungan berobat ke luar negeri tersebut akan berlanjut? Benarkah pelayanan rumah sakit di Indonesia memang kalah kualitasnya jika dibandingkan dengan rumah sakit di luar negeri? Dan perlukah sebuah rumah sakit berpromosi?

Jika menilik mengenai kualitas pelayanan rumah sakit, tentu tak bisa lepas dari manajemen sebuah rumah sakit. Tak cukup hanya dengan membenahi sektor manajemen, tetapi juga memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan medik melalui sejumlah upaya dan komitmen untuk selalu meningkatkan pelayanan dan kemampuan sebuah rumah sakit, sehingga pada akhirnya rumah sakit di Indonesia justru akan menjadi rujukan utama masyarakat dan mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Apalagi jika semua itu diiringi dengan pemanfaatan teknologi terkini yang mendukung dalam hal penanganan kesehatan yang bersifat khusus.

Dalam upaya pemerataan peningkatan kualitas pelayanan dan kemampuan rumah sakit di Indonesia, peran Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) sebagai sebuah asosiasi diharapkan mampu mengedepankan kepedulian dalam bentuk layanan yang lebih profesional, sekaligus menumbuhkan persepsi positif di kalangan masyarakat mengenai kualitas pelayanan kesehatan dan biaya pelayanan yang wajar. Tentang persepsi terhadap citra pelayanan yang masih banyak dikeluhkan masyarakat, Ketua Umum Persi Dr. Adib A. Yahya MARS menganggap hal itu sebagai tantangan bagi Persi untuk membenahinya. Menurut mantan Kepala RSPAD Gatot Soebroto ini, pelayanan rumah sakit di Indonesia secara umum sebenarnya sudah bagus dan kurang lebih sama dengan yang ada di luar negeri. “Satu hal yang perlu dibenahi adalah sikap rumah sakit yang kurang mendekatkan diri kepada pasien. Selama ini pasien tidak mengetahui tentang kemampuan sebuah rumah sakit yang menyebabkan rumah sakit itu punya ekspektasi sendiri. Di sisi lain, kemampuan sebuah rumah sakit bisa saja berbeda dengan ekspektasi pasien. Jadi semestinya RS itu memberikan informasi kepada pasien seperti yang dilakukan oleh rumah sakit di luar negeri,” ujarnya.

Salah satu faktor yang mendorong sebagian masyarakat untuk berobat ke luar negeri adalah pengetahuan mereka tentang kemampuan sebuah rumah sakit melalui promosi dan informasi yang mereka terima dari rumah sakit negara lain. Hal itu tampaknya juga menjadi kegemasan Dr. Adib. “Setelah mengunjungi sejumlah rumah sakit di luar negeri, sebenarnya alat-alat yang digunakan maupun kemampuan para dokter di rumah sakit luar negeri sama dengan di Indonesia, bahkan ada rumah sakit di Indonesia yang memiliki peralatan lebih canggih,” katanya.

Menghindari “kebutaan” masyarakat

Di tengah tuntutan peningkatan pelayanan, rumah sakit juga harus menjunjung tinggi jati dirinya sebagai institusi yang memiliki fungsi sosial yang dipenuhi dengan norma, moral, dan etika. Sebagai unit pelayanan terdepan yang langsung berhadapan dengan masyarakat, memang sangat diharapkan dapat memperkenalkan dirinya agar masyarakat juga dapat mengetahui informasi yang jelas dan benar terhadap produk pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit. Dan itu menjadi salah satu tantangan bagi PERSI, terutama menyangkut adanya anggapan selama ini bahwa rumah sakit yang melakukan promosi itu adalah sebuah hal yang tabu. “Sejak dulu tidak ada satu larangan pun bagi rumah sakit untuk berpromosi. Bahkan ada anggapan bahwa rumah sakit itu tidak selayaknya beriklan karena pasien pasti akan datang ke rumah sakit. Itu salah dan menyebabkan pasien datang ke rumah sakit dalam keadaan “buta”. Sehingga yang terjadi adalah pasien sangat berharap dilayani sebaik mungkin,” tambah Dr. Adib.

Hingga saat ini, masih ada rasa “tabu” bagi rumah sakit yang melakukan promosi, karena kata promosi itu sendiri bagi rumah sakit bisa saja dianggap melanggar garis batas etika ketika promosi diterjemahkan dengan makna upaya membujuk atau mengarahkan seseorang untuk datang ke sebuah rumah sakit. Untuk menghindari “kebutaan” masyarakat dan anggapan pasien pasti datang ke rumah sakit, termasuk rasa “tabu” berpromosi, menurut Dr. Adib harus ditarik benang merahnya dan mesti segera diperbaiki, yaitu kesenjangan komunikasi antara rumah sakit dan masyarakat. Bahkan PERSI bersama Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit (MAKERSI) telah membuat Pedoman Etika Promosi Rumah Sakit (PEPRS) yang telah berlaku sejak tahun 2006. PEPRS dibuat mengingat selama ini rumah sakit di Indonesia hanya berpedoman pada Kode Etik Rumah Sakit Indonesia yang belum memuat aturan yang jelas mengenai promosi yang dilakukan rumah sakit. Apalagi kini Indonesia telah menjadi ladang promosi bagi rumah sakit dari negara lain yang gencar memperkenalkan pelayanannya kepada masyarakat di Indonesia.

Menurut Dr Adib, selama ini pemerintah sebagai regulator tidak pernah melarang rumah sakit untuk berpromosi. Namun demikian, di masa mendatang Indonesia bisa seperti di beberapa negara lain yang telah mengeluarkan undang-undang tentang publikasi rumah sakit (hospital publicity act) yang sudah pasti diserta sanksi hukum yang jelas. Tentang sanksi, walau dalam PEPRS belum bisa memberikan sanksi tegas, namun sudah tercantum sanksi bagi rumah sakit yang melanggar etika berpromosi, mulai dari teguran secara lisan dan tertulis, informasi lewat media massa, hingga rekomendasi kepada yang berwenang untuk meninjau kembali ijin rumah sakit tersebut.

“Kita tak perlu malu belajar dari apa yang telah dilakukan oleh rumah sakit di negara lain. Selain berpromosi, rumah sakit juga harus bisa berkomunikasi seperti aktivitas kehumasan (public relation) yang menjembatani antara rumah sakit dan masyarakat. Jadi jangan lagi ada staf humas di rumah sakit yang cuma bisa duduk dan memenuhi struktur organisasi saja,” ungkap Dr. Adib yang sangat berharap rumah sakit di Indonesia mampu bersaing dengan pelayanan rumah sakit luar negeri. Dr. Adib juga berharap agar pedoman promosi tersebut dapat melindungi kepentingan rumah sakit yang berpromosi, termasuk kepentingan masyarakat luas terhadap promosi yang menyesatkan. Khusus bagi rumah sakit asing/luar negeri yang akan berpromosi di Indonesia juga diatur dalam pedoman tersebut dan harus sepengetahuan organisasi profesi dan PERSI.

Moment of Truth

Dalam PEPRS yang diterbitkan PERSI disebutkan bahwa yang dimaksud dengan promosi rumah sakit adalah salah satu bentuk dari pemasaran rumah sakit (hospital marketing), dengan cara penyebarluasan informasi tentang jasa pelayanan serta kondisi rumah sakit secara jujur, mendidik, informatif, dan dapat membuat seseorang memahami tentang pelayanan kesehatan yang akan didapatkannya. Dengan pengertian promosi yang tercantum dalam pedoman etika yang telah dikeluarkan PERSI tersebut, kini setiap rumah sakit memiliki kesempatan untuk berpromosi dengan rambu-rambu etika yang harus ditaati, serta tetap menjunjung tinggi sebagai institusi sosial. Dengan semakin terbukanya kesempatan berpromosi, artinya sebuah rumah sakit kini mau tak mau harus menjadi bagian dari “industri” yang bisa saja nantinya menggabungkan sisi sosial dan di sisi lain dari segi ekonomi. Perilaku bisnis pun akan menjadi hal yang “wajib” dalam “industri” rumah sakit.

Sebagai pelaku dalam “industri” rumah sakit, tentunya kesempatan dan peluang berpromosi tak akan disia-siakan begitu saja. Masyarakat pun tak lama lagi akan menyaksikan tayangan promosi rumah sakit melalui media massa, baik cetak maupun elektronik, serta beragam media promosi lainnya. Hanya saja “kue” promosi itu jangan sampai dinikmati oleh segelintir rumah sakit di tingkat “pemain besar” saja, sementara rumah sakit lainnya masih tertatih-tatih membenahi diri dan bahkan belum sempat memikirkan tentang promosi.

“Ada satu hal yang sebenarnya amat penting untuk diperhatikan dan dilakukan oleh sebuah rumah sakit. Yaitu ketika seorang pasien bersinggungan langsung dengan rumah sakit seperti saat memasuki areal parkir, di meja informasi,.saat mendaftar, konsultasi, dan sebagainya. Itu yang namanya moment of truth. Kalau perlu jemput pasien ke rumahnya,” ujar Dr. Adib memberikan contoh pelayanan. Ditambahkannya, pelayanan itu tidak terbatas kepada pasien lokal saja, tetapi juga siap melayani pasien yang datang dan berasal dari negara lain.

Pada akhirnya masyarakat memang bisa menentukan keputusan yang paling menguntungkan untuk kebutuhan pelayanan kesehatannya. Namun di sisi lain, promosi gencar yang dilakukan sebuah rumah sakit, setidaknya akan membuat beban biaya pelayanan kesehatan juga akan semakin meningkat. Lalu akankah fungsi sosial sebuah rumah sakit akan menjadi terpinggirkan di kemudian hari? Pelayanan, kemampuan, dan fasilitas rumah sakit yang baik sebenarnya tak harus menjadi mahal, karena kepercayaan masyarakatlah yang harus dipelihara.