Jadilah Pemenang


Pasar saham ibarat sebuah permainan dan kadang-kadang Anda harus mengakui kekalahan.

—-

Semakin meningkatnya orang yang ingin memulai investasi di pasar saham, setidaknya menggambarkan semakin meningkatnya kepercayaan investor. Namun di sisi lain masih banyak di kalangan masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana untuk memulai investasi di pasar saham. Pada umumnya mereka mengaku takut akan kehilangan banyak uang. “Yang penting pelajari saja dulu. Tak perlu buru-buru mempelajari cara kerja pasar saham. Ketika niat berinvestasi sudah dicanangkan, maka proses belajar akan semakin efektif sekaligus memulai memulai investasi di pasar modal,” ujar Suherli, Direktur PT Sinarmas Sekuritas.

Investor kini bisa memonitor perkembangan sahamnya di mana saja dan kapan saja, termasuk lewat ponsel. “Sekarang makin banyak layanan yang juga semakin memudahkan investor. Kinerja regulator pun semakin baik dan ikut memberikan rasa aman investor. Sehingga investor pun dapat mengkontrol investasinya jauh lebih mudah dan tentu saja menghemat banyak uang,” kata Suherli. Walau demikian, Suherli juga mengingatkan agar untuk memulai berinvestasi, investor memiliki anggaran yang cukup dan tak mengganggu kebutuhan rutin yang utama. Hal ini sangat penting! Banyak investor yang mendapatkan saham dan meyakininya akan memberikan keuntungan yang sangat baik, sehingga investor mau melakukan pembelian dan menginvestasikan jauh lebih banyak uangnya ke dalamnya.

“Saya menyarankan mulailah dari yang kecil dan biarkan bertumbuh sambil mempelajari karakteristiknya. Sikap investor seperti ini akan menghemat banyak uang dan membantu mendapatkan pengalaman yang berharga untuk investasi besar di masa depan. Ini merupakan langkah yang sangat penting dalam mempelajari bagaimana untuk memulai investasi di pasar saham,” ujarnya menambahkan.

Langkah penting dalam mempelajari bagaimana untuk memulai investasi di pasar saham adalah jangan pernah bergerak tanpa pertimbangan dan perhitungan. Jika Anda menemukan sebuah saham dan memiliki perasaan akan bergerak dengan baik, jangan buru-buru mengambil keputusan! Cobalah meluangkan sedikit waktu dan cari informasi yang akurat. Bisa jadi ada suatu perusahaan yang setiap hari merilis berita dan berdampak pada penurunan harga saham yang Anda investasikan. Pastikan keputusan pembelian telah dipikirkan dan direncanakan dengan baik.

Investor akan mendapat pelajaran berharga, termasuk mengetahui dan bisa memprediksi hal-hal yang kadang tidak terduga, bahkan tidak sesuai dengan yang kita perkirakan. Pasar saham ibarat sebuah permainan dan kadang-kadang Anda harus mengakui kekalahan (baca: kerugian). Dengan latihan dan kesabaran, Anda akan menjadi pemenang walau pada saat Anda kehilangan, dan sikap itulah yang dibutuhkan. “Syukurilah, karena kita tidak pernah tahu jika pada lain waktu kita akan mengernyitkan kening. Semua itu adalah bagian dari perjalanan. Cobalah menikmatinya!” kata Suherli.

Advertisements

Butuh Komitmen dan Pertimbangan


Investor juga harus memperhatikan proses keputusan investasi dengan memahami benar dalam hal hubungan antara return yang diinginkan serta risiko dalam berinvestasi.

Membicarakan peluang dengan berinvestasi sepertinya akan terus berkembang, apalagi jika mengingat tingkat kepercayaan investor terhadap Indonesia juga sedang bagus-bagusnya. Dalam satu dekade terakhir, tren berinvestasi di Indonesia memang sudah menunjukkan peningkatan. Namun investasi bisa juga untuk menggandakan dana berlebih yang dimiliki. Sementara di sisi lain, tak sedikit pula masyarakat yang masih bingung. Ya, mereka masih bingung bagaimana dan dari mana untuk memulainya. Setidaknya kini semakin banyak orang yang mulai menganggap investasi sebagai kebutuhan dan juga penghasilan tambahan demi kesejahteraannya di masa mendatang.

Menurut Suherli, Direktur PT Sinarmas Sekuritas, secara umum orang berinvestasi untuk melindungi kekayaan (aset) terhadap pengaruh inflasi atau demi mendapatkan keuntungan lebih besar di masa akan datang. Prinsipnya, mengamankan tingkat kehidupan. Selain itu, ada juga orang berinvestasi sebagai tindakan antisipasi atas ketidakpastian pendapatan. Mungkin juga untuk memenuhi kebutuhan masa depan saat pensiun, serta rencana-rencana lainnya seperti pendidikan. Investor harus memahami investasi yang merupakan komitmennya atas sejumlah dana atau aset lainnya yang nantinya akan mendatangkan keuntungan baginya. Misalnya saja investasi pada saham di mana investor akan berharap meraih keuntungan dari kenaikan harga saham atau pembagian deviden.

Untuk memulai berinvestasi pada saham dibutuhkan komitmen untuk mempelajari seluk-beluk saham, termasuk pengelolaan aset finansial. Investor juga harus memahami jenis aset yang real dan aset finansial. Aset real biasanya berupa tanah, emas, bangunan, atau aset bergerak seperti mesin. Sementara asset financial biasanya berupa klaim yang berbentuk deposito, saham, obligasi, options, warrants, atau futures. “Selain itu, investor juga harus memahami profil investor individu maupun investor institusional,” ujar Suherli yang juga aktif di Harley Owners Group (HOG) Jakarta Chapter.

Bro Herli juga menekankan pentingnya memahami manfaat berinvestasi. Selain untuk meningkatkan keuntungan dan kehidupan masa depan yang lebih layak bagi investor, aktivitas berinvestasi juga akan memberikan dampak mengurangi tekanan inflasi serta dorongan yang timbul untuk menghemat pajak.

Ya, dalam menjalankan proses investasi, investor harus memiliki kejelian dan mencari informasi seluas-luasnya. Dengan begitu, investor akan semakin memahami dasar-dasar keputusan investasi yang diambilnya, termasuk bagaimana mengorganisir aktivitas-aktivitas dalam proses keputusan berinvestasi tersebut. Investor juga harus memperhatikan proses keputusan investasi dengan memahami benar dalam hal hubungan antara return yang diinginkan serta risiko dalam berinvestasi. Juga dengan melihat hubungan risiko dan return yang diinginkan dari investasinya sebagai hubungan searah dan liniar. “Dengan begitu, investor akan memiliki pemahaman dan pertimbangan strategis dengan tetap mengingat prinsip bahwa semakin besar keuntungan yang diharapkan, maka semakin besar pula tingkat risikonya,” katanya.

“Jadi ada tiga aspek yang perlu dipahami benar oleh investor, terutama bagi yang baru mau memulai berinvestasi. Yaitu dengan memperhatikan aspek-aspek yang mendasari keputusannya untuk berinvestasi, yaitu sejauh mana tingkat return yang diinginkan, tingkat risiko, serta memahami benar hubungan antara return dan risikonya,” ujar Bro Herli.

Dalam menentukan instrumen investasi, investor bisa memilihnya dengan ikut memperhitungkan tingkat fluktuasi. Bisa saja saham yang dipilihnya memiliki tingkat fluktuasi tinggi, namun di sisi lain investor bisa mengimbanginya dengan investasi emas yang relatif lebih stabil.  Sebaiknya hindari berinvestasi pada instrumen yang memiliki karakter serupa, seperti emas dan properti, di mana kedua jenis investasi tersebut memiliki karakter serupa untuk jangka panjang.

Dengan memperhatikan sejumlah langkah awal untuk memulai berinvestasi, diharapkan investor akan semakin memahami bahwa setiap investasi yang dilakukan tetap didasari kebutuhan subjektif, sekaligus membantu menentukan pilihan tanpa mengabaikan faktor eksternal agar tujuan investasinya bisa sesuai dengan target. Salah satu faktor luar misalnya inflasi, yang perlu diperhitungkan lantaran bakal mengurangi nilai kekayaan di masa mendatang. Demikian pula dengan gejolak di Yunani dan Eropa. Perhatikan pula nilai tukar maupun suku bunga, serta informasi pendukung lainnya sebanyak-banyaknya yang bisa berpotensi mempengaruhi investasi.

Peran Kelas Menengah Meningkatkan Daya Saing


 

Potensi besar yang dimiliki oleh kelas menengah di Indonesia merupakan tantangan dan peluang untuk meningkatkan daya saingnya.

 

Sebagai bentuk kepedulian terhadap perekonomian Indonesia, Yayasan Bakti BCA melalui BCA Learning Service menggelar seminar tahunan bertajuk “The Rise of the Indonesian Middle Class” yang berlangsung di Grand Ballroom, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta (7/12). Seminar dibuka oleh Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia, Tbk. “Dalam seminar ini, kita akan mengetahui sejauhmana penguasaan informasi dan timbulnya kelas menengah di Indonesia sebagai bagian penting dari perekonomian bangsa,” ujar Jahja Setiaatmadja.
Sebagai pembicara kunci, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, menekankan potensi besar yang dimiliki oleh kelas menengah di Indonesia merupakan tantangan dan peluang untuk meningkatkan daya saingnya. Apalagi, menurut Mari, Indonesia kini menduduki peringkat ke-17 dari 139 negara yang memiliki daya saing sumber daya alam dan kekayaan budaya di peringkat ke-39, Indonesia memiliki peluang dalam mengembangkan ekonominya seiring dengan tumbuhnya kelas menengah. Kementeriannya pun kini memiliki 15 subsektor industri kreatif, termasuk kuliner. “Kita telah mendapat pembelajaran berharga ketika tahun 2009 terjadi krisis global yang menurun hingga 12 persen. Saat itu tourism mancanegara di Indonesia justru naik 0,36% dan wisatawan nusantara naik 1,7 persen,” ujarnya.
Bahkan Mari menyebutkan bahwa pada Juli 2011, menjadi pencapaian tertinggi dalam hal kunjungan turis mancanegara. Demikian pula dengan potensi wisnus yang mencapai 235 juta perjalanan setiap tahunnya. Namun demikian, untuk mencapainya Mari meminta agar infrastruktur yang ada dapat segera diperbaiki, termasuk pelayanan kepada para wisatawan mulai dari bandara, di perjalanan, hotel, tujuan wisata, kuliner, hingga mereka kembali mengakhiri perjalanan wisatanya. Mari pun memberikan tantangan kepada perbankan untuk mulai melirik potensi industri kreatif.
Pada sesi sebelumnya, Cyrillus Harinowo, Komisaris BCA dan Komisaris Unilever Indonesia, memaparkan tema “Menuju Perekonomian 1 Triliun USD”. Cyrillus mengungkapkan pertumbuhan middle class di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatannya terlihat dari sejumlah indikator seperti makin banyaknya pemilik kendaraan, tingkat hunian hotel tinggi, serta penjualan di sektor properti. Bangkitnya kelas menengah di Indonesia juga menyebabkan terjadinya pergeseran permintaan produk ke arah life style. Menurutnya, IMF telah memprediksi Indonesia akan mencapai PDB 1 triliun.

Sementara pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia M. Chatib Basri menyoroti potensi demographic transition, yaitu perubahan proporsi kelompok usia penduduk yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi, keseimbangan fiskal, ketersediaan tenaga kerja, inflasi, belanja kesehatan, kebutuhan perumahan, hingga populasi di kota-kota besar.
Pembicara lainnya adalah Joko Widodo, Walikota Surakarta, yang berhasil mengembangkan kota Solo dalam berbagai aspek. Jokowi, sapaan akrabnya, mampu membuat terobosan dalam setiap kebijakannya yang humanis. Seperti proses pemindahan pedagang kaki lima dari Taman Banjarsari ke Pasar Klitikan yang tanpa kekerasan dan diberikan secara gratis. Para PKL hanya dipungut Rp 2.600 per hari yang dalam jangka waktu 8,5 tahun akan mampu mengembalikan biaya relokasi yang telah dikeluarkan. Jokowi juga sukses mengembangkan pariwisata meluncurkan bus tingkat pariwisata pertama di Indonesia, “sepur kluthuk”, serta kereta kencana. Usaha mikro pun didukungnya lewat kebijakan perijinan gratis.
Sedangkan pengusaha batik Afif Syakur dan pengusaha bakmi Wahyu Saidi, memaparkan kiat sukses dalam meniti usaha. Bahkan Wahyu Saidi sempat mengungkapkan kegagalannya yang berujung tutupnya 392 gerai dan hanya menyisakan 12 gerai.
Pada sesi lain, Frans S. Sunito, Presiden Direktur PT Jasa Marga (Persero) Tbk., menyampaikan paparan soal pembangunan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sedangkan Hendra Heryadi Widjonarko selaku Chief Operating Officer PT Mulia Industrindo Tbk., mencoba memberikan gambaran prospek industri manufaktur di Indonesia. Sementara Sandiaga S Uno pun menyampaikan tanggapannya tentang perubahan gaya hidup kelas menengah di Indonesia. Menurutnya, tantangannya adalah dengan mempertanyakan kepada diri sendiri, apakah kita akan menjadi pemain atau hanya sebagai penonton saja.