About Ao S Dwiyanthoputra

berjalan dengan sederhana

N.I.A.T.


N.I.A.T. Sering kali kita dipaksa melihat, membaca, dan mendengar tentang sikap kebencian dan tidak menyukai satu sama lain, bahkan melecehkan. Sampai akhirnya tanpa disadari tercipta sebuah jurang yang justru mempersulit untuk saling memahami perbedaan itu sendiri. Bibit pemisah itu terus dipupuk tumbuh dan menciptakan kekaguman semu para penikmatnya. Luar biasa!

Entah apa enaknya hidup jadi terkotak-kotak, menganggap diri atau golongannyalah yang lebih baik, atau menganggap golongan yang lain mutlak salah. Saling tuduh, saling curiga, saling sindir, bahkan ada yang terang-terangan bersikap menantang. Itulah kehebatan-kehebatan yang sebelumnya tak pernah muncul, namun kini justru kerap menyita perhatian dibanding hal-hal yang menyejukkan hati.

Ujung-ujungnya tak ada yang diuntungkan. Malah kerugianlah yang didapat. Tak ada lagi sifat rendah hati, tapi justru hati yang kian meninggi. Dan yang paling menyedihkan adalah dengan menjual kapasitas dan kapabilitas diri yang terus dipacu untuk mendapat pengakuan khalayak dan mendapat simpati. Tak juga ada keinginan untuk melatih diri menyikapi perbedaan, termasuk membiasakan diri menelaah segala sesuatu sebelum berlanjut.

Saya pun masih belajar untuk jujur kepada diri sendiri dan belum bisa sepenuhnya melekatkan sifat rendah hati dalam berperilaku, bersikap, atau bertutur. Jadi masih perlu banyak belajar tentang kesadaran diri sebagai makhluk sosial tentang peran diri yang memang harus diakui tidak bisa hidup sendirian. Karena pertentangan dalam diri itu akan selalu ada setiap saat. Siapa pun bisa menjadi egois dan ekslusif walau pada akhirnya tidak akan menghasilkan kebaikan yang sempurna.

Dalam satu dasawarsa terakhir, perkembangan bersosialisasi sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat, bahkan sebagai bagian dari sebuah komunitas begitu pesatnya. Eksis, narsis, egois, ambisius, dari yang halus seperti diayak berkali-kali, hingga yang tendensius, kehadirannya terasa lebih sadis dibanding upaya-upaya demi kemaslahatan khalayak.

Entah sampai kapan kita dipaksa memelototinya sebagai tontonan layaknya arena sirkus yang di setiap akhir atraksi selalu ada penghormatan dan keriuhan tepuk tangan. Dan rasanya semua akan menjadi hambar sehambar-hambarnya.

Itulah yang membuat saya malu dan seperti kebetulan karena tak sengaja sempat mencoba menghindar dari hiruk-pikuk dan gonjang-ganjing dalam bersosialisasi. Ada kenikmatan ketika jauh dari godaan dan gangguan gelombang frekuensi yang semakin kusut. Kenikmatan dalam diam. Tak banyak bicara. Juga tak mengumbar komentar keberpihakan. Hasilnya berupa puluhan ribu postingan diabaikan, pesan pribadi tak terbalas, telepon tak terjawab, dan rupa lainnya yang tak tersentuh.

Sampai akhirnya menemukan satu kata yang membuat kita yakin jika segala sesuatunya bisa terjadi atas izin-NYA dan satu kata itu adalah NIAT. Kekuatan niat itu nyatanya sangat dahsyat.

Wallahu ‘alam

Cagar Alam, Depok

24 Desember 2016

Izinkan Mini Market Kembali Jual Bir, Ahok Tak Paham Aturan


images (2)ed

 

Jakarta, terompahku —Penyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menyatakan tidak ada larangan mini market menjual miras golongan A (bir dan sejenisnya) dinilai sebagai bentuk ketidakpahaman seorang kepala daerah terhadap regulasi terkait miras. Oleh karena itu, Ahok diminta mencabut pernyataannya yang membolehkan mini market di Jakarta menjual bir karena menimbulkan keresahan dan tentunya melanggar aturan.

“Saya berpikiran positif saja, mungkin beliau lagi banyak persoalan jadi tidak fokus, sehingga pernyataannya keliru. Hingga detik ini, Permendag 06/2015 masih berlaku. Artinya seluruh mini market di Indonesia dilarang menjual miras. Kalau melanggar (menjual bir) izin usahanya bisa dicabut. Pak Ahok kan terkenal dengan orang yang paling taat dengan konstitusi, jadi ikuti aja aturan, jangan buat tafsir sendiri,” kata Senator Jakarta Fahira Idris yang juga Ketua Gerakan Nasional Anti Miras (Genam), di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (25/5).

Pernyataan Ahok yang menyatakan bahwa aturan mengenai peredaran miras di Jakarta dikembalikan ke Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum sehingga bir boleh dijual di mini market juga sebagai bentuk ketidakpahaman Ahok terhadap konstruksi hukum dan aturan soal miras di Indonesia.

Fahira mengungkapkan, pasal soal miras di Perda Ketertiban Umum cuma satu, yaitu Pasal 46 yang menyatakan ‘setiap orang atau badan dilarang mengedarkan, menyimpan dan menjual minuman beralkohol tanpa izin dari pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan’. Artinya, DKI Jakarta belum punya aturan khusus atau perda tentang miras sehingga harus mengikuti peraturan perundang-undangan soal miras yaitu Perpres No. 74/2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol yang menjadi dasar keluarnya Permendag No. 06/2015 yang melarang total semua mini market/toko pengecer di Indonesia menjual segala jenis miras.

“Saya minta beliau tunjukkan pasal mana dalam Perda Ketertiban Umum yang membolehkan mini market jual bir? Saran saya sebelum lempar penyataan ke media, soal regulasi miras, beliau konsultasi dulu ke Biro Hukum Pemprov DKI Jakarta, jadi tidak keliru dan membuat warga resah. Saya minta beliau cabut pernyataannya yang mengatakan mini market boleh jual bir,” ujar Wakil Ketua Komite III DPD ini.

Fahira menambahkan, salah satu alasan terbitnya Permendag No. 6/2015 yang melarang mini market menjual bir adalah karena memang semua mini market di Indonesia letaknya berada di permukiman di mana sebagaimana kita tahu sesuai Permendag 20/2014, terdapat 10 lokasi yang dilarang keras ada aktivitas penjualan miras, salah satunya di permukiman.

“Semua mini market di Jakarta itu letaknya di permukiman. Jadi tidak ada alasan apalagi dasar hukum, Pak Ahok izinkan mini market jual miras. Kalau tetap ngotot, kita akan lawan. Jadi jangan coba-coba keluarkan izin,” kata Fahira.

Harusnya saat ini, lanjut Fahira, Pemprov DKI fokus kepada tindakan pelanggaran yang masih banyak dilakukan bar dan restoran di Jakarta. Selain masih banyak dari mereka yang tidak punya Surat Keterangan Penjual Minuman Golongan A (SKP-A)/Surat Keterangan Penjual Langsung Minuman Golongan A (SKPL-A), mereka juga masih menjual miras kepada siapa saja tanpa memeriksa identitas pembeli, sudah di atas 21 tahun atau belum. (j13)

Dipertanyakan, Sensitivitas Pemerintah yang Ingin Cabut Perda Miras


131214-NAS-3-300x169Jakarta, terompahku — Munculnya kebijakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang memberikan rekomendasi kepada daerah-daerah untuk mencabut perda miras karena dianggap tumpang tindih, tidak sesuai dengan peraturan yang lebih tinggi, dan menghambat investasi, dianggap tidak berdasar dan mencerminkan tidak adanya sensitivitas pemerintah terhadap maraknya kejahatan akibat miras yang terjadi belakangan ini.

“Saya mau ingatkan, yang paling bahaya dari sebuah pemerintahan adalah jika dia sudah kehilangan sensitivitasnya terhadap persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Ada aturan saja, miras masih jadi momok, apalagi kalau aturan mau dicabut. Saya nggak habis pikir, pemerintah ini maunya apa sih?” kata Ketua Gerakan Nasional Anti Miras (Genam) Fahira Idris, di Jakarta (20/5).

Menurut Fahira, ini sudah kali kedua pemerintah mencoba-coba melonggarkan aturan mengenai miras. Pertama dengan merelaksasi Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen Dagri) No. 04/PDN/PER/4/2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A, yang sempat membuat gaduh dan kemudian dianulir. Kedua, dengan merekomendasi pencabutan perda-perda miras yang saat ini mulai bergulir.

“Masyarakat lelah dan bisa marah, kalau pemerintah terus test the water soal miras. Janganlah dalih investasi dijadikan alasan untuk mencabut perda-perda miras. Presiden kan sudah sampaikan tidak masalah negara kehilangan triliunan rupiah karena pelarangan penjualan miras. Karena jika dibiarkan kerugian yang akan ditanggung negara ini lebih besar. Tetapi kenapa instruksi presiden ini tak dihiraukan bawahannya. Lagi pula, pendapatan negara dari miras tidak signifikan. Yang signifikan itu kerusakannya,” ujar Fahira yang juga Wakil Ketua Komite III DPD RI ini.

Menurut Fahira, alasan perda miras tumpang tindih dan bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi juga tidak berdasar. Saat ini, lanjut Fahira, aturan Pemerintah Pusat soal Miras masih Perpres No. 74/2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Ada poin khusus dalam Perpres ini, di mana kepala daerah diberikan wewenang untuk mengatur peredaran miras sesuai dengan kondisi kulturnya. Artinya, daerah bukan hanya punya wewenang membuat perda yang mengatur miras, tetapi juga diberi ruang untuk membuat perda antimiras. Kedua, Permendag No. 06/2015 yang melarang total semua minimarket/toko pengecer di Indonesia menjual segala jenis minol.

“Itulah kenapa Papua membuat Perda Anti Miras yang mengharamkan segala aktivitas miras di daerahnya, karena Perpres membolehkan. Terus kalau sekarang perda-perda miras mau dicabut, dasarnya apa? Setiap kebijakan pemerintah itu, harus memenuhi aspek filosofis, yuridis, dan sosiologis. Kebijakan pencabutan ini, sama sekali tidak memenuhi ketiga aspek tersebut,” katanya.

Untuk itu, lanjut Fahira, Kemendagri harus menjelaskan secara terbuka kepada publik, keterdesakan apa yang membuat perda-perda miras di Indonesia harus dicabut secara filosofis, yuridis, sosiologis.

“Saya dorong Kemendagri menjelaskan kebijakannya ini ke publik secara terbuka dan langsung. Jangan coba-coba batalkan perda miras kalau tidak ada alasan yang logis,” ujar Fahira. (J1e)

Kasus Perkosaan 58 Anak, Ada yang Salah di Republik Ini


Fahira reklamasi

Kasus dugaan perkosaan terhadap 58 anak oleh seorang pengusaha di Kediri menambah deretan kebiadaban kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia. Kasus ini sudah masuk kategori kejahatan kemanusiaan. Karena ada 58 anak yang hak asasinya sebagai manusia sudah diinjak-injak.

“Korbannya anak-anak yang tidak punya kekuatan apa-apa. Ini sudah perbudakan seksual, tidak hanya diperkosa, anak-anak ini dan keluarganya diancam keselamatan, dibuat takut, psikologisnya ditindas oleh pelaku dengan kekuasaannya. Ini sudah pelanggaran HAM berat, kejahatan kemanusian. Kalau nanti terbukti dan hukuman bagi pelaku biasa-biasa saja, berarti ada yang salah dengan republik ini,” ujar Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris, saat menghadiri konferensi pers Tim Masyarakat Peduli Kediri (TMPK) tentang perkosaan atas 58 anak SD dan SMP yang dilakukan seorang pengusaha di Kediri, di Jakarta (16/5).

Menurut Fahira, apa yang dilakukan pemerkosa anak ini sudah melecehkan negara karena dilakukan dengan mudah, berulang-ulang, dan dengan cara yang biadab. Diduga setiap anak yang diperkosa dipaksa memakan obat yang memberi efek pusing, mual, gemetar, sampai pingsan, serta mencabuli dua sampai tiga korban secara bergantian di dalam satu kamar. Korban dan keluarganya yang hendak melapor juga diduga diancam keselamatannya oleh pelaku. Bahkan banyak korban yang putus asa dan putus sekolah.

“Pelaku menganggap karena kekuasaan dan uangnya, hukum tidak akan bisa menyentuhnya. Ini sudah melecehkan negara. Andai ada hukuman yang lebih berat dari hukuman mati, orang kayak gini pantas menerimanya. Saya lebih memilih HAM pemerkosa-pemerkosa anak seperti ini yang dilanggar demi keselamatan anak-anak kita,” kata Wakil Ketua Komite III DPD ini.

Fahira mendesak, mulai dari polisi, jaksa, dan hakim yang menangani kasus ini berani membuat terobosan hukum dalam mengadili pelaku pemerkosaan anak ini agar hanya ada opsi hukuman mati dan paling ringan hukuman seumur hidup. Untuk itu, Polri, Kejagung, dan Mahkamah Agung harus memonitor dan mengawasi kasus ini, termasuk Komisi Yudisial.

“Kasus ini sudah jadi perhatian nasional, jadi dalam prosesnya harus transparan dan memenuhi rasa keadilan. Buat terobosan, gunakan pasal berlapis, beri tafsir lain terhadap kasus ini yang mengutamakan korban. Kita tidak ingin dengar lagi putusan hakim yang biasa-biasa saja,” ujar Senator Jakarta ini.

Fahira juga meminta Kementerian dan komisi terkait untuk secepatnya memberikan konseling, pelayanan, dan bantuan medis, bantuan hukum, serta rehabilitasi kepada korban dan keluarganya.

“Saya minta negara bergerak cepat untuk segera memenuhi hak-hak korban. Kasus Kediri ini saya harap membuat pemerintah untuk lebih cepat lagi menerbitkan Perppu Kebiri, segera merevisi UU Perlindungan anak, dan segera merampungkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual,” kata Fahira.

Mulanya Hanya Setetes Air


airKeluargaku, kerabatku, dan sahabatku yang dirahmati Allah Swt…

Mengutip dari sebuah posting tentang Sufi Agung dari Persia, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) yang mengatakan, “Engkau bukanlah setetes air dalam samudera, tetapi engkau (sejatinya) adalah samudera itu sendiri yang menjadi setetes air.”

Ya, manusia ciptaan Tuhan memiliki potensi yang luar biasa; tergantung dirinya sendiri apakah potensi itu hanya akan berhenti sebagai potensi atau bahkan tidak disadari dimilikinya. Ataukah potensi itu akan dikembangkan sejauh mungkin bagi kebaikannya serta kebaikan masyarakat serta lingkungannya.

Hmmm…

Bahkan pengarang terkemuka dari Prancis, Marcel Proust (1871-1922), mengatakan, “Seyogyanya kita perlu berterima kasih kepada orang-orang yang telah membuat kita bahagia. Mereka itu ibarat para pekebun bunga yang membuat jiwa kita bermekaran.”

Ya, kebahagiaan adalah hasil dari sebuah keterlibatan antara seseorang dengan pihak lain. Antara diri saya bersama orang terdekat dan rekan-rekan terbaik di sini dengan warnanya masing-masing. Selama ini saya hanya punya naluri ingin selalu berbagi dengan apa yang saya miliki. Dan memang sudah sepatutnya saya sangat berterima kasih kepada kalian semua yang selalu berada di sekitar saya yang sadar atau tidak, sejatinya telah ikut bersaham dalam kebahagiaan kita….

Terima kasih banyak ya Allah atas limpahan orang-orang tercinta dan rekan-rekan selama ini. Hari ini hanya sekadar penanda bahwa sebuah tetesan masih ada di antara luasnya samudera raya silaturahim dan persahabatan. Masing-masing diri kita adalah setetes air yang hanya sedikit saja memberikan makna dalam luasnya samudera. Takkan bermakna jika tak didukung tetesan lain yang akan berlimpah menjadi kemaslahatan buat kita semua.

Insya Allah…

 

Salam,

Jie Ao

Menyikapi “Postingan” Provokatif


Interaksi di dalam sebuah komunitas atau grup seperti grup mailing list (milis) facebook, fanpage, hingga messenger (BBM, WhatsApp, LINE, dan lain sebagainya), diyakini makin semarak dan beragam dengan dinamika perbedaannya. Makin menarik karena member grup diisi dengak watak yang beragam pula, mulai dari yang paling pendiam (silent member), akrobatik, hingga member yang ekstrim.

Pertanyaannya adalah apa yang akan kita lakukan jika membaca sebuah postingan (tulisan/komentar atau gambar/video) yang berbau vulgar atau SARA, hingga berpotensi memancing kemarahan?

Mungkin saja ada member yang akan langsung balas menyerang. Saling menyerang dan debat kusir yang berkepanjangan siap saji di depan mata. Bisa jadi juga ada member yang menyikapinya dengan diam saja alias membisu.

Dalam sebuah komunitas atau grup, sangat sulit menghindari yang namanya “trolling”. Istilah “trolling” dalam dunia maya dan media sosial, istilah tersebut dimaknai sebagai perilaku seseorang yang menulis atau berkomentar di komunitas dunia maya dan media sosial yang bertujuan untuk memprovokasi dan memancing emosi. Boleh jadi yang mempostingnya tidak menyadari efek dominonya karena dalam dirinya sudah ada kepentingan yang tentu saja dianggap “baik” menurut versinya sendiri atau kelompoknya yang lebih kecil. Para postinger ini boleh jadi gagal paham berorientasi pada komunikannya (audiens) dalam komunitas atau grupnya.
Sebagai contoh, dalam sebuah komunitas atau grup ada yang mem-posting menyerang ke pribadi seseorang atau berkomentar kasar yang tidak sesuai dengan topik yang sedang dibahas. Nah, sang pelakunya inilah yang disebut “troller”. Dalam dunia maya, “trolling” dimaknai sebagai provokator.

Nah, bagi yang sehari-harinya “rajin” bergelut dengan dunia maya atau media sosial, mungkin audah waktunya memahami makna “troller”. Karena faktanya kini, “pengacau suasana” akan selalu hadir di dunia maya dan media sosial. Sebagian orang akan menganggapnya sangat menyebalkan, menyakitkan, dan bisa berujung membuat suhu interaksi jadi memanas. Efek lainnya bisa jadi ada yang “left group”, hingga yang paling ekstrim adalah memutuskan hubungan silaturahim dengam cara memblok atau men-delete contact.

Saya, dan juga Anda atau siapa pun, mungkin sudah beberapa kali menemukan postingan berupa tulisan, komentar, foto, dan video, yang kadang membuat senyum penikmatnya menjadi kecut dan bisa jadi ada keinginan untuk membalas postingannya. Kadang saya sendiri tak sadar dan tak mampu menahan diri atau berpikir ulang karena efek spontanitas. Tapi setelah disempatkan untuk berpikir ulang, ada rasa penyesalan dan tak aa gunanya pula melayani sikap-sikap nyinyir yang tendensius. Akan terlihat betapa bodohnya kalau harus dilayani. Itulah keputusan yang kerap saya ambil. Ya, mari kita abaikan saja!

Dan ternyata itulah salah satu saran terbaik dalam berinteraksi di dunia maya atau media sosial. Sempat terpikir pula untuk memposting soal kode etik di dunia maya dan media sosial untuk bisa memahami dan memilah dalam menyikapi setiap postingan “troller”. Namun saya tetap berpikiran positif bahwa semua itu adalah dinamika dalam berinteraksi dan butuh sikap dewasa agar silaturahim dan interaksi tak terganggu.

Pikirkan dulu sejenak, ambil keputusan untuk abaikan, dan jangan pedulikan ulah “troller” yang memang dikenal sangat ajaib. Dengan bersikap mengabaikan postingan, apalagi kalau sudah menjurus kepada hal-hal yang bertujuan negatif seperti menghujat, menghasut, mencaci-maki, dan melibatkan SARA, dijamin para troller akan capai dan kesal sendiri karena targetnya tak tercapai.

Dan seperti biasa, selalu ada hikmah di balik cara menyikapi postingan para “troller”. Karena dengan selalu mencoba menelaah dan berpikir terlebih dahulu sebelum menanggapinya, akan melatih kita untuk selalu berupaya menjauhkan diri dari sikap seperti para “troller” yang bisa merugikan kredibilitas diri kita sendiri. Selain tak ada manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain, perilaku seperti “troller” tersebut akan sangat merugikan dan mengganggu keharmonisan dalam sebuah komunitas atau grup.

Hari Terakhir


Kemarin tetaplah sebagai kemarin
kubiarkan darahku mengental
mengalir lambat
menikmati merdunya rintihan
adakah yang menatapku?

Sampai jelang senja yang masih terik
aku hanya membaca dan menikmatinya
aku hanya diam
tetap membaca

sampai akhirnya kulangkahkan kaki menuju timur
mengantarkan ruang maya yang kau minta
dan kutinggalkan kedigdayaanmu sambil tertatih dan melayang
pelan dan semakin menderu
lengang dan menggeram

ah, ternyata ini memang jadi hari terakhir
melihat kotak obat bening yang tak ada lagi sisa dosis untuk nadiku

juga ruang mayaku telah berhenti berdenyut
bertanya apa ini jadi hari terakhir juga untuknya

cagar alam, 30 juni 2014

Interaksi


Interaksi dalam keseharian

Interaksi dalam keseharian

Manusia memang kerap alpa, bahkan dalam hal yang sepele sekali pun. Manusia jugalah yang kerap tak sadar telah merusak kedamaian hidupnya sendiri.

Itulah sekelumit yang didapat saat menepi selama tiga hari di Desa Sukabirus, Bogor, akhir pekan kemarin. Saat berinteraksi dengan masyarakat dan juga sesama pendatang, kerap terlihat jelas bagaimana seseorang selalu membandingkan kekurangan dirinya dengan kelebihan orang lain.

Begitu pula saat muncul sebuah masalah, sikap kekuranghati-hatian dan emosional jelas lebih mengemuka. Bahkan ada yang bereaksi dengan bersikap kasar terhadap sesuatu yang sebenarnya sangat bisa ditangani dengan lebih santun.

Juga didapati salah satu penyakit yang ada di masyarakat yang kadang malah jadi kebiasaan dan dianggap lumrah. Jadi ketika sangat memungkinkan, baiknya memang tak lagi menunda melakukannya, apalagi diketahui hal itu memang masih mudah dilakukan sendiri atau bersama-sama. Karena dengan menunda, itu berarti siap untuk ditinggalkan.

Dan salah satu hal yang paling menyedihkan adalah ketika mengetahui ada yang sangat meyakini bahwa hanya orang tidak jujur sajalah yang akan mendapat kesempatan. Keyakinan seperti inilah yang sangat merusak mental, karena akan melegitimasi apa pun yang dilakukan hanya demi mendapatkan kesempatan dan pengakuan sebagai sebuah bentuk keberhasilan dalam memanfaatkan peluang.

Dalam berinteraksi, sering juga kita terlibat dalam pembicaraan tentang kiprah dan keberhasilan seseorang. Tapi jika diperhatikan lebih jeli, selalu saja ada yang melihat keberhasilan orang lain sebagai keberuntungan dan justru menganggap kesulitan diri sendiri sebagai nasib. Tak ada sesuatu pencapaian atau keberhasilan yang diraih karena faktor kebetulan atau keberuntungan.

Jadi apa pun kondisinya, tetaplah berusaha sebaik-baiknya. Sadarilah bahwa siapa pun punya peluang dan kesempatan yang sama. Soal hasil akhirnya, apa pun yang didapat, termasuk kegagalan, semuanya adalah proses menuju keberhasilan yang tetap harus disyukuri.

Insya Allah…

Menyimak Bincang Hati Ibuku


Di usia senjanya yang 6 Maret lalu telah menjejak 83 tahun, kerut-kerut di wajahnya seakan menjadi catatan lelahnya perjalanan hidup yang panjang. Sepertinya tak ada satu kata pun yang sia-sia untuk didengarkan. Dan perlahan seiring lanjutnya usia, semakin menyiratkan kesabaran yang luar biasa, kesederhanaan yang terus dijaga, serta keikhlasan yang perlu ditiru.

Dalam bincang pagi ini di tangga teras rumah si bungsu di Depok (22/3/2014), banyak hal luar biasa yang terus melekat di hati dan pikiran. Sudah pasti banyak perbedaan pola pikir. Tapi berjalannya waktu membuat kita sama-sama belajar. Terus mencoba saling memahami dan menyamakan persepsi, dan menghindari ego. Subhanallah, pagi yang luar biasa walau hanya diisi bincang tak lebih dari tiga jam. Tapi itu sudah sangat luar biasa karena hati kita ikut bicara.

Subhanallah, sikap istiqomah dan kesabarannya luar biasa. Setiap kata yang meluncur selalu mendekati Sang Khalik dan menyentuh hati yang mendengarnya. Adem rasanya. Seakan tak ingin beranjak dan terus berdialog tentang apa saja yang disukainya. Tapi semua topik selalu diajak untuk dikembalikan ke hati kita. Ya, seakan kita bicara dari hati ke hati dalam arti harfiahnya. Sekuat tenaga menahan luapan air mata melihat kesejukan hatinya.

Andai waktu bisa diputar ulang, ingin rasanya mengganti beribu kesalahan, kebohongan, dan keserakahan yang pernah membelenggu dan menghijab hati. Ingin rasa isi hati tercurah sepenuhnya buat ibu tersayang.

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo. Aamiin yaa robbal alamiin.

“Kopi-kopi malam”


kepada penikmatmu

kepada penikmatmu

Berpadunya aroma liong dan temaram rembulan mengantarkan syair ini ke peraduan
Nikmatnya hidup tak lepas dari berkarib
Ibarat kopi pahit yang tetap terasa nikmat di kesendirian
Sepikah di sana?

Satu seruput lagi
Kau tebar buliran untuk sedikit dikunyah
Matang dan beraroma
Aku suka menahannya di antara gemeretak gigi
Sayangnya tak bisa lama
Karena sejenak aku ingin mencicipi pastel hangat

Bocah lucu itu selalu kembali dengan senyum
Bahagia rasanya masih bisa menikmati senyumnya walau sudah terlelap
Seusianya mengingatkan kepada sang putri
Yang selalu kupandang tanpa jenuh

Kopi pahit itu masih tersisa setengah cangkir
Banyak yang bilang panas lebih nikmat
Tapi pahitnya lebih terasa saat tak panas lagi
Seperti juga hujan deras sore tadi
Agak mengerikan dengan gelegar dan angin kencangnya
Moga di sana tak banjir, gumamku

Sedikit menyeruput sekadar membasahi lidah
Tanya karib yang kena serempet adab
Menuang kembali air putih ke dalam gelas di samping cangkir kopi
Karib pun berbisik lirih karena ada sedikit perih
Kudiamkan saja dan membuka daun pintu selebarnya
Semilir angin mengiringi reda hujan
Oh, masih sejuk terasa

Menjelang malam, ada riba terdengar syahdu
Mengalun dan mendera hati
Kucoba menyeruput lagi
Juga sedikit kukunyah
Alamak, semua sudah diatur dengan perannya
Dan tak mungkin ada yang mendustai
Tidak juga kau

Kucoba sentuh bibirmu
Mengatupkannya perlahan
Tapi lakonmu tak sampai di balik panggung
Dan tak cukup hanya dengan berbisik
Karena kau bukan pasir pantai yang selalu dibelai debur ombak
Kau seperti tukik
Yang harus kembali ke habitat alammu dan melepaskan diri dari pekik hati yang jujur

Hmmm, seruput kali ini mengajak ampasnya lebih banyak lagi
Agak tersedak, lelah
Tanganku sempat menyentuh kuping cangkir
Pecah, tapi tak mengejutkanku
Aku hanya tersenyum dan mulai membersihkannya
Terima kasih kopi nikmat
Moga masih bisa kunikmati di lain waktu dengan lakon berbeda

Mungkin dalam nyenyak dini hari nanti akan kupeluk guling agar cangkir kopi berikutnya tetap terasa nikmat dengan ampasnya

Cagar Alam, 5 Februari 2014