Menyikapi “Postingan” Provokatif


Interaksi di dalam sebuah komunitas atau grup seperti grup mailing list (milis) facebook, fanpage, hingga messenger (BBM, WhatsApp, LINE, dan lain sebagainya), diyakini makin semarak dan beragam dengan dinamika perbedaannya. Makin menarik karena member grup diisi dengak watak yang beragam pula, mulai dari yang paling pendiam (silent member), akrobatik, hingga member yang ekstrim.

Pertanyaannya adalah apa yang akan kita lakukan jika membaca sebuah postingan (tulisan/komentar atau gambar/video) yang berbau vulgar atau SARA, hingga berpotensi memancing kemarahan?

Mungkin saja ada member yang akan langsung balas menyerang. Saling menyerang dan debat kusir yang berkepanjangan siap saji di depan mata. Bisa jadi juga ada member yang menyikapinya dengan diam saja alias membisu.

Dalam sebuah komunitas atau grup, sangat sulit menghindari yang namanya “trolling”. Istilah “trolling” dalam dunia maya dan media sosial, istilah tersebut dimaknai sebagai perilaku seseorang yang menulis atau berkomentar di komunitas dunia maya dan media sosial yang bertujuan untuk memprovokasi dan memancing emosi. Boleh jadi yang mempostingnya tidak menyadari efek dominonya karena dalam dirinya sudah ada kepentingan yang tentu saja dianggap “baik” menurut versinya sendiri atau kelompoknya yang lebih kecil. Para postinger ini boleh jadi gagal paham berorientasi pada komunikannya (audiens) dalam komunitas atau grupnya.
Sebagai contoh, dalam sebuah komunitas atau grup ada yang mem-posting menyerang ke pribadi seseorang atau berkomentar kasar yang tidak sesuai dengan topik yang sedang dibahas. Nah, sang pelakunya inilah yang disebut “troller”. Dalam dunia maya, “trolling” dimaknai sebagai provokator.

Nah, bagi yang sehari-harinya “rajin” bergelut dengan dunia maya atau media sosial, mungkin audah waktunya memahami makna “troller”. Karena faktanya kini, “pengacau suasana” akan selalu hadir di dunia maya dan media sosial. Sebagian orang akan menganggapnya sangat menyebalkan, menyakitkan, dan bisa berujung membuat suhu interaksi jadi memanas. Efek lainnya bisa jadi ada yang “left group”, hingga yang paling ekstrim adalah memutuskan hubungan silaturahim dengam cara memblok atau men-delete contact.

Saya, dan juga Anda atau siapa pun, mungkin sudah beberapa kali menemukan postingan berupa tulisan, komentar, foto, dan video, yang kadang membuat senyum penikmatnya menjadi kecut dan bisa jadi ada keinginan untuk membalas postingannya. Kadang saya sendiri tak sadar dan tak mampu menahan diri atau berpikir ulang karena efek spontanitas. Tapi setelah disempatkan untuk berpikir ulang, ada rasa penyesalan dan tak aa gunanya pula melayani sikap-sikap nyinyir yang tendensius. Akan terlihat betapa bodohnya kalau harus dilayani. Itulah keputusan yang kerap saya ambil. Ya, mari kita abaikan saja!

Dan ternyata itulah salah satu saran terbaik dalam berinteraksi di dunia maya atau media sosial. Sempat terpikir pula untuk memposting soal kode etik di dunia maya dan media sosial untuk bisa memahami dan memilah dalam menyikapi setiap postingan “troller”. Namun saya tetap berpikiran positif bahwa semua itu adalah dinamika dalam berinteraksi dan butuh sikap dewasa agar silaturahim dan interaksi tak terganggu.

Pikirkan dulu sejenak, ambil keputusan untuk abaikan, dan jangan pedulikan ulah “troller” yang memang dikenal sangat ajaib. Dengan bersikap mengabaikan postingan, apalagi kalau sudah menjurus kepada hal-hal yang bertujuan negatif seperti menghujat, menghasut, mencaci-maki, dan melibatkan SARA, dijamin para troller akan capai dan kesal sendiri karena targetnya tak tercapai.

Dan seperti biasa, selalu ada hikmah di balik cara menyikapi postingan para “troller”. Karena dengan selalu mencoba menelaah dan berpikir terlebih dahulu sebelum menanggapinya, akan melatih kita untuk selalu berupaya menjauhkan diri dari sikap seperti para “troller” yang bisa merugikan kredibilitas diri kita sendiri. Selain tak ada manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain, perilaku seperti “troller” tersebut akan sangat merugikan dan mengganggu keharmonisan dalam sebuah komunitas atau grup.

One thought on “Menyikapi “Postingan” Provokatif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s