Menyimak Bincang Hati Ibuku


Di usia senjanya yang 6 Maret lalu telah menjejak 83 tahun, kerut-kerut di wajahnya seakan menjadi catatan lelahnya perjalanan hidup yang panjang. Sepertinya tak ada satu kata pun yang sia-sia untuk didengarkan. Dan perlahan seiring lanjutnya usia, semakin menyiratkan kesabaran yang luar biasa, kesederhanaan yang terus dijaga, serta keikhlasan yang perlu ditiru.

Dalam bincang pagi ini di tangga teras rumah si bungsu di Depok (22/3/2014), banyak hal luar biasa yang terus melekat di hati dan pikiran. Sudah pasti banyak perbedaan pola pikir. Tapi berjalannya waktu membuat kita sama-sama belajar. Terus mencoba saling memahami dan menyamakan persepsi, dan menghindari ego. Subhanallah, pagi yang luar biasa walau hanya diisi bincang tak lebih dari tiga jam. Tapi itu sudah sangat luar biasa karena hati kita ikut bicara.

Subhanallah, sikap istiqomah dan kesabarannya luar biasa. Setiap kata yang meluncur selalu mendekati Sang Khalik dan menyentuh hati yang mendengarnya. Adem rasanya. Seakan tak ingin beranjak dan terus berdialog tentang apa saja yang disukainya. Tapi semua topik selalu diajak untuk dikembalikan ke hati kita. Ya, seakan kita bicara dari hati ke hati dalam arti harfiahnya. Sekuat tenaga menahan luapan air mata melihat kesejukan hatinya.

Andai waktu bisa diputar ulang, ingin rasanya mengganti beribu kesalahan, kebohongan, dan keserakahan yang pernah membelenggu dan menghijab hati. Ingin rasa isi hati tercurah sepenuhnya buat ibu tersayang.

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo. Aamiin yaa robbal alamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s