“Kopi-kopi malam”


kepada penikmatmu

kepada penikmatmu

Berpadunya aroma liong dan temaram rembulan mengantarkan syair ini ke peraduan
Nikmatnya hidup tak lepas dari berkarib
Ibarat kopi pahit yang tetap terasa nikmat di kesendirian
Sepikah di sana?

Satu seruput lagi
Kau tebar buliran untuk sedikit dikunyah
Matang dan beraroma
Aku suka menahannya di antara gemeretak gigi
Sayangnya tak bisa lama
Karena sejenak aku ingin mencicipi pastel hangat

Bocah lucu itu selalu kembali dengan senyum
Bahagia rasanya masih bisa menikmati senyumnya walau sudah terlelap
Seusianya mengingatkan kepada sang putri
Yang selalu kupandang tanpa jenuh

Kopi pahit itu masih tersisa setengah cangkir
Banyak yang bilang panas lebih nikmat
Tapi pahitnya lebih terasa saat tak panas lagi
Seperti juga hujan deras sore tadi
Agak mengerikan dengan gelegar dan angin kencangnya
Moga di sana tak banjir, gumamku

Sedikit menyeruput sekadar membasahi lidah
Tanya karib yang kena serempet adab
Menuang kembali air putih ke dalam gelas di samping cangkir kopi
Karib pun berbisik lirih karena ada sedikit perih
Kudiamkan saja dan membuka daun pintu selebarnya
Semilir angin mengiringi reda hujan
Oh, masih sejuk terasa

Menjelang malam, ada riba terdengar syahdu
Mengalun dan mendera hati
Kucoba menyeruput lagi
Juga sedikit kukunyah
Alamak, semua sudah diatur dengan perannya
Dan tak mungkin ada yang mendustai
Tidak juga kau

Kucoba sentuh bibirmu
Mengatupkannya perlahan
Tapi lakonmu tak sampai di balik panggung
Dan tak cukup hanya dengan berbisik
Karena kau bukan pasir pantai yang selalu dibelai debur ombak
Kau seperti tukik
Yang harus kembali ke habitat alammu dan melepaskan diri dari pekik hati yang jujur

Hmmm, seruput kali ini mengajak ampasnya lebih banyak lagi
Agak tersedak, lelah
Tanganku sempat menyentuh kuping cangkir
Pecah, tapi tak mengejutkanku
Aku hanya tersenyum dan mulai membersihkannya
Terima kasih kopi nikmat
Moga masih bisa kunikmati di lain waktu dengan lakon berbeda

Mungkin dalam nyenyak dini hari nanti akan kupeluk guling agar cangkir kopi berikutnya tetap terasa nikmat dengan ampasnya

Cagar Alam, 5 Februari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s