Kokohnya Sebuah Bangunan


Sebuah bangunan biasanya dibuat seindah dan sekokoh mungkin untuk jangka panjang dengan banyak manfaat. Begitu pula dengan silaturahim yang pada awalnya tentu diniatkan dengan baik-baik.

Dari Abu Musa r.a. berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain itu adalah sebagai bangunan yang sebagiannya mengokohkan kepada bagian yang lainnya,” dan beliau SAW menjalinkan antara jari-jarinya -perumpamaan karena saking dekatnya hubungan setiap mukmin, bagai jari yang satu dengan jari lainnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Berkaitan dengan hadits tersebut, Imam Al-Qurthubi berkata, “Apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW itu adalah sebagai suatu tamsil perumpamaan yang isi kandungannya adalah menganjurkan dengan sekeras-kerasnya agar seorang mukmin itu selalu memberikan pertolongan kepada sesama mukmin lainnya, baik pertolongan apapun sifatnya (asal bukan yang ditujukan untuk sesuatu kemungkaran)”.

Ini adalah suatu perintah yang dikokohkan yang tidak boleh tidak, pasti kita laksanakan. Perumpamaan yang dimaksudkan itu adalah sebagai suatu bangunan yang tidak mungkin sempurna dan tidak akan berhasil dapat dimanfaatkan atau digunakan, melainkan wajiblah yang sebagian dari bangunan itu saling mengokohkan dan erat-erat saling memegang dengan bagian yang lain. Jikalau tidak demikian, maka bagian-bagian dari bangunan itu pasti berantakan sendiri-sendiri dan musnahlah apa yang dengan susah payah didirikan.

Begitulah semestinya kaum muslimin dan mukminin antara satu dengan yang lainnya, antara kelompok satu dengan kelompok lainnya, antara satu bangsa dengan bangsa yang lain. Masing-masing tidak dapat berdiri sendiri, baik dalam urusan keduniaan, keagamaan, dan keakhiratan, melainkan dengan saling menolong, saling bantu, serta saling mengokohkan.

Ketika hal-hal tersebut tidak dilaksanakan dengan baik, maka jangan harap akan muncul keunggulan dan kemenangan, bahkan sebaliknya akan terjadi kelemahan seluruh umat Islam, tidak dapat mencapai kemaslahatan yang paling sempurna, tidak kuasa pula melawan musuh-musuhnya, ataupun menolak bahaya apapun yang menimpa tubuh kaum muslimin secara keseluruhan.

Semua itu mengakibatkan tidak sempurnanya ketertiban dalam urusan kehidupan duniawi, juga urusan diniyah (keagamaan) dan ukhrawiyah. Dan yang pasti akan ditemui adalah kemusnahan, malapetaka yang bertubi-tubi, serta bencana yang tiada habis-habisnya.

Subhanallah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s