Rocky V, Ironi Panjang Sang Juara


Sebuah ironi berkepanjangan yang menggambarkan sisi lain kehidupan juara dunia tinju yang umumnya selalu diwarnai kemewahan.


Pertarungan Rocky Balboa (Sylvester Stallone) versus Ivan Drago (Dolph Lundgren) yang berlangsung pada hari Natal di Moskow tahun 1985, menjadi pembuka Rocky V. Jual beli pukulan dalam jarak dekat dan percikan darah seakan menegaskan salah satu kemenangan terindahnya atas petinju tangguh Uni Soviet yang baru berakhir hingga ronde 15. Saat itu, aturan pertandingan tinju profesional masih menggunakan 15 ronde yang kemudian dikurangi menjadi 12 ronde. Rocky V yang dirilis tahun 1990 juga menandai kembalinya John G. Avildsen yang juga menyutradarai sekuel perdana Rocky pada tahun 1976. Entah kebetulan atau tidak, namun sepertinya Rocky V penuh dengan ironi, bahkan hingga lebih dari dua dekade setelah dirilis.

Sylvester Stallone mulai mengenyam sukses di Hollywood ketika merilis film Rocky. Lewat Rocky (1976), Stallone memulai segalanya dengan menulis sendiri kisahnya. Perannya sebagai Rocky Balboa, petinju yang tak pernah diperhitungkan yang mampu tampil sebagai juara. Memang cukup klise dan sentimental. Namun dengan menggambarkan perjuangan seorang anak manusia yang merambat dari kehidupan paling bawah ini, akhirnya mampu menjerat para juri Oscar untuk menobatkannya sebagai Film Terbaik Oscar 1976. Penonton pun memang menyukainya. Dalam Rocky (1976) Stallone sangat meyakinkan dengan aktingnya saat berlaga di ring tinju. Begitu pula romantismenya dalam menggapai cintanya. Dan itu semua mampu menyeret penonton dalam suasana kemenangan saat Ricky Balboa menjadi juara. Kolaborasi Stallone dan sutradara John G. Avildsen saat itu memang menyuguhkan heroisme khas Hollywood. Namun laga-laga berikutnya dalam sekuel lanjutannya yang ditunggu-tunggu justru berbalik menjadi kritikan pedas. Termasuk Rocky V yang mencoba mengambil dari sisi lain yang terkesan lebih manusiawi.

Seperti pada empat sekuel sebelumnya, kali ini Stallone kembali tampil di Rocky V dengan gaya khasnya yang datar dan cenderung tanpa ekspresi, bahkan ketika melontarkan dialog-dialog yang sebenarnya mengundang senyum. Demikian pula dengan karakter Rocky yang tanpa cela di sepanjang film. Kali ini Rocky Balboa dipaksa untuk pensiun lebih dini karena mengalami cedera yang parah berupa kerusakan pada otaknya setelah melawan musuh beratnya yang berasal dari Soviet, Ivan Drago. Di sisi lain, Rocky juga harus menghadapi kenyataan bahwa semua hasil jerih payahnya telah “dicuri” dan belakangan juga diketahui jika pajaknya selama beberapa tahun tak dibayarkan oleh manajemennya. Investasi propertinya merugi lantaran pasar yang lesu. Rocky pun merasa semua perjuangannya hingga menggapai juara dunia telah hilang begitu saja dan membuat diri dan keluarganya bangkrut.

Sebelumnya Rocky sempat frustrasi ketika dokter memvonisnya harus pensiun untuk menghindari risiko kerusakan otak yang tengah dideritanya. Kondisi tersebut ditutupnya rapat-rapat agar tetap mendapat lisensi bertinju. Sementara istrinya, Adrian (Talia Shire), memohon Rocky tidak berjudi dengan hidupnya. Adrian bersikeras dirinya tak lagi peduli dengan uang dan ingin Rocky bersama keluarganya baik-baik saja.. Namun sejumlah media sudah terlanjur memberitakan Rocky resmi pensiun dan menyerahkan gelar juara dunianya. Juga tentang kondisi Rocky yang telah mengumumkan kebangkrutan, menggugat mantan akuntan, dan sedang melelang rumah, mobil, barang-barang, dan sejumlah memorabilianya. Hasrat sebagai ayah ditunjukkannya kepada Rocky Jr. yang kebetulan diperankan anaknya sendiri, Sage Moonblood Stallone. Rocky berupaya meyakinkan anaknya yang terlihat terganggu oleh perubahan mendadak dalam hidupnya. “Aku akan mendapatkan semuanya kembali. Kita hanya harus tetap bersatu…” ujar Rocky.

Sebuah ironi berkepanjangan yang menggambarkan sisi lain kehidupan juara dunia tinju yang umumnya selalu diwarnai kemewahan. Boleh jadi banyak yang menganggapnya hari-hari bertanding dan rentetan kemenangannya telah berakhir dan tak mungkin lagi berlanjut. Tapi skenarionya berkata lain. Rocky tetaplah sebagai Rocky yang memiliki hasrat yang tinggi walau harus memperjuangkannya dengan cara lain. Dengan sasana yang masih tersisa, Rocky mencoba mengais asa dan meraih kembali miliknya yang hilang lewat Tommy “Machine” Gunn (Tommy Morrison), petarung jalanan yang ingin menjadi petinju sukses seperti Rocky.

Intrik-intrik dalam gemerlapnya dunia tinju profesional di Amerika pun silih berganti mewarnai jalannya skenario. Juga bagaimana ketika Rocky berdebat dengan Tommy Gunn, serta melibatkan peran media tinju seperti majalah Ring dan KO. Memang tak ada kemenangan yang abadi, tetapi kemenangan hakiki akan terus tertanam. Mungkin itulah pesan di penutup film dengan gambar latar belakang pintu masuk Philadelphia Art Museum. “Well, Anda tidak pernah terlalu tua untuk mulai belajar sesuatu yang baru. Kau akan mencintai Picasso,” ujar Rocky Junior kepada sang ayah. Lanskap kota Philadelphia dari belakang patung Rocky pun menjadi penutup Rocky V diiringi lagu Elton John The Measure of A Man.

Rocky V dibuat dengan anggaran sebesar $50 juta dengan total pemasukan sekitar $160 juta. Namun kali ini tak ada Oscar untuk Rocky V. Gantinya, Rocky V diganjar tujuh nominasi terburuk (worst) versi Razzie Award dan tak satu pun yang dimenangkannya. Mulai dari kategori Worst Actor (Stallone), Worst Actress (Shire), Worst Director (Avildsen), Worst Original Song (Alan Menken, “The Measure of a Man”), Worst Picture, Worst Screenplay (Stallone), and Worst Supporting Actor (Burt Young).

Namun ironi Stallone masih saja terus melekat. Terakhir, pada pertengahan tahun ini, Sage Moonblood Stallone meninggal dunia dalam usia 36 tahun. Stallone memang memiliki kesibukan yang luar biasa dari satu film ke film lainnya. Dan itu membuat Sage jarang berinteraksi dengan ayahnya. Hal itu pernah diakui Sage kepada majalah People pada tahun 1996. “Saya sebenarnya mudah bergaul, tapi di sekolah banyak yang menantang saya berkelahi. Mereka bilang, ‘Rambo! Rocky!'” ujar Sage saat itu ketika masih berusia 20 tahun.

Now you can love, now you can lose

Now you can choose

That’s the measure of a man*

(*)The Measure of A Man”, Elton John (Alan Menken)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s