In The Line Of Fire: Antara Cinta, Reputasi, dan Harga Diri


Tapi Horrigan juga punya semangat membara, termasuk ketika dirinya mengakui memiliki kekasih cantik yang jauh lebih muda.

Di sebuah tangga dengan latar belakang salah satu gedung di Washington DC, Agen Frank Horrigan sedang bercengkerama dengan mitranya, Lilly Raines. Mereka berbincang sambil menghadap ke White House. Selang beberapa saat kemudian, Raines beranjak meninggalkan Horrigan sendirian. Entah apa yang ada di pikiran Horrigan saat menggumam bahwa jika saja Raines sempat menegok ke arahnya, berarti Raines memang menyukainya. Dan, yup, Raines yang cantik itu pun menoleh.

In the Line of Fire merupakan film yang di-release medio 1993. Sutradara Wofgang Petersen awalnya sempat menawarkan kepada Robert De Niro untuk berperan sebagai seorang pembunuh (Mitch Leary), sekaligus menjadi lawan main Clint Eastwood yang memerankan Agen Frank Horrigan. Peran Mitch Leary akhirnya dimainkan oleh John Malkovich.

Skenario film yang ditulis Jeff Maguire mencoba mengangkat tentang kekecewaan yang mendalam sekaligus obsesi seorang mantan agen CIA yang berupaya menyelamatkan Presiden Amerika Serikat serta agen Secret Service yang terus melacak dirinya. Di sinilah mencuat kekuatan karakter Agen Frank Horrigan yang dihantui kegagalan saat ikut mengamankan Presiden John F. Kennedy di Dallas, Texas, pada tahun 1963. In the Line of Fire juga menghadirkan bintang cantik Rene Russo, Dylan McDermott, Gary Cole, John Mahoney, dan Fred Dalton Thompson.

Frank Horrigan sendiri sebagian hidupnya memang terus dihantui kegagalan. Apalagi dirinya menjadi satu-satunya yang tersisa dari tragedi 1963. Walau begitu, Horrigan masih punya asa untuk menebus kegagalannya walau di usianya yang sudah tak muda lagi. Sementara secara perlahan Horrigan juga dililit bunga asmara dengan salah satu Agen Secret Service, Lilly Raines (Rene Russo), yang tak hanya cantik, tapi juga jauh lebih muda.

Dalam menjalankan tugasnya, Frank Horrigan bermitra dengan Al D’Andrea (Dylan McDermott). Rintangan demi rintangan terus menghadang langkah Horrigan. Mulai dari Bill Watts (Gary Cole) yang iri dengan reputasi Horrigan hingga Kepala Staf Gedung Putih Harry Sargent (Fred Dalton Thompson) yang tidak mempercayai Horrigan. Sementara di sisi lainnya, ada Mitch Leary (John Malkovich), seorang psikopat cerdas yang tengah menyusun rencana matang untuk membunuh Presiden (Jim Curley).

Mungkin tak pernah terbayangkan jika sosok Clint Eastwood yang dikenal berkarakter kuat harus menangis. Tapi itulah sisi kemanusiaan yang juga ikut mewarnai film ini. Sebagai Agen Dinas Rahasia, Horrigan mulai terlihat menua di usianya menjelang pensiun dan tak bisa menutupi ketidakmampuannya di masa lalu dan terus dipermalukan. Tapi Horrigan juga punya semangat membara, termasuk ketika dirinya mengakui memiliki kekasih cantik yang jauh lebih muda.

Saat psikopat Mitch “Booth” Leary memberikan sinyal ancaman pembunuhan presiden, rupanya hanya Horrigan yang menanggapinya dengan serius. Bisa jadi hal itu disebabkan kisah masa lalunya, instingnya sebagai agen, serta obsesinya untuk menebus kesalahan. Permainan adu otak pun berkembang dan tentu saja semakin menegangkan. Ibarat permusuhan antara kucing dan tikus yang selalu diwarnai intrik yang masing-masing sebenarnya sudah saling mengetahui dan mengenal karakter lawannya. Selain untuk menebus kesalahannya di masa lalu, Horrigan juga menyikapinya sebagai peluang untuk membebaskan dirinya dari keterpurukan. Kehidupannya belakangan lebih diwarnai oleh kecanduannya terhadap alkohol. Horrigan juga selalu dihantui oleh perasaannya yang selalu mengasihani diri sendiri.

Sebagai mitra Horrigan, Agen Al D’Andrea juga punya masalah sendiri. Al D’Andrea merasa tak sanggup lagi menjadi Agen Secret Service dan berniat mengundurkan diri. Namun Horrigan tetap melecutya dan bersama agen Lilly Raines yang cantik, mereka berupaya mengalihkan perhatian sang psikopat untuk bertarung dengan cerdas. Pancingan Horrigan memang mampu mengusik Leary, apalagi Leary berhasil membunuh Al D’Andrea. Pada akhirnya Horrigan tak hanya mampu menyelamatkan sang presiden, tetapi juga menjaga reputasi pekerjaannya dan harga dirinya.

In the Line of Fire berhasil masuk nominasi Oscar 1994 untuk tiga kategori, yaitu Best Actor in Supporting Role, Best Film Editing dan Best Writing. Dengan durasi 128 menit dan menghabiskan biaya produksi $ 40 juta, In the Line of Fire juga berhasil masuk Top Box Office dengan pemasukan lebih dari $ 176 juta.

Advertisements

Rocky V, Ironi Panjang Sang Juara


Sebuah ironi berkepanjangan yang menggambarkan sisi lain kehidupan juara dunia tinju yang umumnya selalu diwarnai kemewahan.


Pertarungan Rocky Balboa (Sylvester Stallone) versus Ivan Drago (Dolph Lundgren) yang berlangsung pada hari Natal di Moskow tahun 1985, menjadi pembuka Rocky V. Jual beli pukulan dalam jarak dekat dan percikan darah seakan menegaskan salah satu kemenangan terindahnya atas petinju tangguh Uni Soviet yang baru berakhir hingga ronde 15. Saat itu, aturan pertandingan tinju profesional masih menggunakan 15 ronde yang kemudian dikurangi menjadi 12 ronde. Rocky V yang dirilis tahun 1990 juga menandai kembalinya John G. Avildsen yang juga menyutradarai sekuel perdana Rocky pada tahun 1976. Entah kebetulan atau tidak, namun sepertinya Rocky V penuh dengan ironi, bahkan hingga lebih dari dua dekade setelah dirilis.

Sylvester Stallone mulai mengenyam sukses di Hollywood ketika merilis film Rocky. Lewat Rocky (1976), Stallone memulai segalanya dengan menulis sendiri kisahnya. Perannya sebagai Rocky Balboa, petinju yang tak pernah diperhitungkan yang mampu tampil sebagai juara. Memang cukup klise dan sentimental. Namun dengan menggambarkan perjuangan seorang anak manusia yang merambat dari kehidupan paling bawah ini, akhirnya mampu menjerat para juri Oscar untuk menobatkannya sebagai Film Terbaik Oscar 1976. Penonton pun memang menyukainya. Dalam Rocky (1976) Stallone sangat meyakinkan dengan aktingnya saat berlaga di ring tinju. Begitu pula romantismenya dalam menggapai cintanya. Dan itu semua mampu menyeret penonton dalam suasana kemenangan saat Ricky Balboa menjadi juara. Kolaborasi Stallone dan sutradara John G. Avildsen saat itu memang menyuguhkan heroisme khas Hollywood. Namun laga-laga berikutnya dalam sekuel lanjutannya yang ditunggu-tunggu justru berbalik menjadi kritikan pedas. Termasuk Rocky V yang mencoba mengambil dari sisi lain yang terkesan lebih manusiawi.

Seperti pada empat sekuel sebelumnya, kali ini Stallone kembali tampil di Rocky V dengan gaya khasnya yang datar dan cenderung tanpa ekspresi, bahkan ketika melontarkan dialog-dialog yang sebenarnya mengundang senyum. Demikian pula dengan karakter Rocky yang tanpa cela di sepanjang film. Kali ini Rocky Balboa dipaksa untuk pensiun lebih dini karena mengalami cedera yang parah berupa kerusakan pada otaknya setelah melawan musuh beratnya yang berasal dari Soviet, Ivan Drago. Di sisi lain, Rocky juga harus menghadapi kenyataan bahwa semua hasil jerih payahnya telah “dicuri” dan belakangan juga diketahui jika pajaknya selama beberapa tahun tak dibayarkan oleh manajemennya. Investasi propertinya merugi lantaran pasar yang lesu. Rocky pun merasa semua perjuangannya hingga menggapai juara dunia telah hilang begitu saja dan membuat diri dan keluarganya bangkrut.

Sebelumnya Rocky sempat frustrasi ketika dokter memvonisnya harus pensiun untuk menghindari risiko kerusakan otak yang tengah dideritanya. Kondisi tersebut ditutupnya rapat-rapat agar tetap mendapat lisensi bertinju. Sementara istrinya, Adrian (Talia Shire), memohon Rocky tidak berjudi dengan hidupnya. Adrian bersikeras dirinya tak lagi peduli dengan uang dan ingin Rocky bersama keluarganya baik-baik saja.. Namun sejumlah media sudah terlanjur memberitakan Rocky resmi pensiun dan menyerahkan gelar juara dunianya. Juga tentang kondisi Rocky yang telah mengumumkan kebangkrutan, menggugat mantan akuntan, dan sedang melelang rumah, mobil, barang-barang, dan sejumlah memorabilianya. Hasrat sebagai ayah ditunjukkannya kepada Rocky Jr. yang kebetulan diperankan anaknya sendiri, Sage Moonblood Stallone. Rocky berupaya meyakinkan anaknya yang terlihat terganggu oleh perubahan mendadak dalam hidupnya. “Aku akan mendapatkan semuanya kembali. Kita hanya harus tetap bersatu…” ujar Rocky.

Sebuah ironi berkepanjangan yang menggambarkan sisi lain kehidupan juara dunia tinju yang umumnya selalu diwarnai kemewahan. Boleh jadi banyak yang menganggapnya hari-hari bertanding dan rentetan kemenangannya telah berakhir dan tak mungkin lagi berlanjut. Tapi skenarionya berkata lain. Rocky tetaplah sebagai Rocky yang memiliki hasrat yang tinggi walau harus memperjuangkannya dengan cara lain. Dengan sasana yang masih tersisa, Rocky mencoba mengais asa dan meraih kembali miliknya yang hilang lewat Tommy “Machine” Gunn (Tommy Morrison), petarung jalanan yang ingin menjadi petinju sukses seperti Rocky.

Intrik-intrik dalam gemerlapnya dunia tinju profesional di Amerika pun silih berganti mewarnai jalannya skenario. Juga bagaimana ketika Rocky berdebat dengan Tommy Gunn, serta melibatkan peran media tinju seperti majalah Ring dan KO. Memang tak ada kemenangan yang abadi, tetapi kemenangan hakiki akan terus tertanam. Mungkin itulah pesan di penutup film dengan gambar latar belakang pintu masuk Philadelphia Art Museum. “Well, Anda tidak pernah terlalu tua untuk mulai belajar sesuatu yang baru. Kau akan mencintai Picasso,” ujar Rocky Junior kepada sang ayah. Lanskap kota Philadelphia dari belakang patung Rocky pun menjadi penutup Rocky V diiringi lagu Elton John The Measure of A Man.

Rocky V dibuat dengan anggaran sebesar $50 juta dengan total pemasukan sekitar $160 juta. Namun kali ini tak ada Oscar untuk Rocky V. Gantinya, Rocky V diganjar tujuh nominasi terburuk (worst) versi Razzie Award dan tak satu pun yang dimenangkannya. Mulai dari kategori Worst Actor (Stallone), Worst Actress (Shire), Worst Director (Avildsen), Worst Original Song (Alan Menken, “The Measure of a Man”), Worst Picture, Worst Screenplay (Stallone), and Worst Supporting Actor (Burt Young).

Namun ironi Stallone masih saja terus melekat. Terakhir, pada pertengahan tahun ini, Sage Moonblood Stallone meninggal dunia dalam usia 36 tahun. Stallone memang memiliki kesibukan yang luar biasa dari satu film ke film lainnya. Dan itu membuat Sage jarang berinteraksi dengan ayahnya. Hal itu pernah diakui Sage kepada majalah People pada tahun 1996. “Saya sebenarnya mudah bergaul, tapi di sekolah banyak yang menantang saya berkelahi. Mereka bilang, ‘Rambo! Rocky!'” ujar Sage saat itu ketika masih berusia 20 tahun.

Now you can love, now you can lose

Now you can choose

That’s the measure of a man*

(*)The Measure of A Man”, Elton John (Alan Menken)