The Punisher (1989): Vigilante Versus Mafia


Sutradara Mark Goldblatt mengedepankan tokoh Frank menjadi seorang vigilante alias menjadi hakim bagi dirinya sendiri..

Tema balas dendam boleh jadi sangat dominan dalam film bergenre action dari masa ke masa. Termasuk bintang-bintangnya yang tampan dan berotot. Begitu pula dengan penerbit Marvel lewat salah satu komiknya yang diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama, The Punisher. Ya, film The Punisher yang dibintangi Dolph Lundgren dan berdurasi 90 menit ini mencoba memberikan alternatif hiburan yang kala itu diramaikan sejumlah film laga dengan aktor Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, dan Jean Claude Van Damme.

Dengan dana produksi 9 juta Dollar, The Punisher yang diproduksi tahun 1989 dan mengambil lokasi syuting di Australia dan Amerika Serikat ini dilatarbelakangi kentalnya keinginan untuk membalas dendam. Sebagai The Punisher, Frank Castle (Dolph Lundgren) mewakili sebuah karakter fiksi antihero yang dibuat oleh Gerry Conway, John Romita Sr, dan Ross Andru. Sutradara Mark Goldblatt mengedepankan tokoh Frank menjadi seorang vigilante alias menjadi hakim bagi dirinya sendiri. Baginya, tindakan main hakim sendiri yang dilakukannya seperti pembunuhan, pemerasan, penculikan, termasuk kekerasan dan penyiksaan, adalah sebuah strategi atau taktik yang bisa diterima saat berhadapan dengan kejahatan.

Berawal dari kematian keluarganya yang dibunuh oleh mafia ketika secara tak sengaja mereka menyaksikan sebuah eksekusi mati sekelompok genk yang terjadi di kawasan Central Park, New York. Dari situlah, Punisher mulai mencanangkan balas dendamnya. Dengan gagah berani Frank melancarkan perang antara dirinya dengan mafia, termasuk berbagai kejahatan yang dianggapnya harus dibasmi. Seorang diri dalam menghadapi mafia, Frank menggunakan bermacam-macam persenjataan yang memang sudah dikuasainya. Sedangkan target utamanya adalah pembunuh keluarganya. Sebagai seorangveteran perang, Frank Castle memang memiliki keahlian bela diri, taktik penyamaran, dan mahir menggunakan berbagai jenis senjata. Salah satu yang menarik, Frank tetaplah manusia biasa yang tidak memiliki sebuah kekuatan super untuk melumpuhkan targetnya. Frank hanya mengandalkan kemampuan menggunakan berbagai senjata, intelijen dalam bertarung, serta kesadisannya sebagai The Punisher. Kesadisannya itulah yang justru menguatkan karakternya sebagai sang penghukum antihero seperti superhero lain dalam koleksi komik Marvel Universe.

The Punisher adalah manusia tanpa memiliki rasa takut. Bahkan tak pernah menunjukkan keraguan saat hendak membunuh setiap korbannya. Dunia di sekelilingnya hanya dilihat sebagai dunia yang sangat hitam dan putih saja. Tak banyak bicara, namun selalu menutupnya dengan sebuah kalimat ketika usai menuntaskan sebuah masalah. Menyerang dengan keras adalah pilihan tindakan yang diambil untuk menutupi reaksi keraguannya. Sebuah paduan karakter sempurna bagi The Punisher.

Sebagai mantan polisi, Frank Castle tercatat pernah bergabung di kesatuan Green Barrett, dan sejumlah penugasan penting lainnya. Dalam perjalanan aksi balas dendamnya, Frank Castle berkarib dengan Shake (Barry Otto), pria tua yang alkoholik dan selalu bicara dengan irama sajak yang tak pernah jelas maksudnya. Dengan aksi brutal dan sadisnya, Frank Castle pun menjadi orang yang paling diburu dan sangat misterius di penjuru kota. Genderang dendamnya terhadap mafia, ditorehkan dengan catatan 125 orang yang telah dibunuhnya dalam lima tahun terakhir. Kelompok mafia yang dikomando oleh salah satu keluarga mafia Gianni Franco (Jeroen Krabbé) menjadi semakin tak berdaya. Namun kondisi tersebut tercium oleh para Yakuza yang memang dikenal sebagai sindikat kejahatan terkuat dari Asia. Dipimpin oleh Lady Tanaka (Kim Miyori), Yakuza berupaya mengambil alih keluarga mafia yang jadi target Frank Castle, termasuk semua kepentingan dan urusan bisnisnya. Yakuza pun mulai menculik anak-anak keluarga mafia untuk menekan posisi tawar-menawar yang lebih kuat dengan mafia.

Kabar yang sampai di telinga Frank Castle, ikut ditanggapi Shake dengan lebih manusiawi. Shake membujuk Frank Castle untuk menyelamatkan anak-anak yang tak berdosa karena khawatir mereka akan jadi korban trafficking Yakuza. The Punisher pun mulai bertindak dengan mengandalkan senapan mesin ringan Thompson M1928 dan berhasil membebaskan sebagian besar anak-anak, namun putra Franco tak berhasil dibawanya. Frank Castle yang ditahan polisi akhirnya dibebaskan oleh Gianni Franco untuk membantu menyelamatkan putranya sekaligus menyingkirkan Yakuza dari Amerika. Frank Castle dan Franco berhasil membunuh semua Yakuza, termasuk Lady Tanaka dan putrinya. Sampai di sini, ternyata Franco menyimpan siasat busuk untuk membunuh Frank Castle. Namun yang terjadi justru Franco terbunuh saat meladeni duel dengan Frank Castle. Sisi manusiawi Frank Castle pun terusik dan meminta putra Franco tak mengikuti jejak ayahnya.

Setelah dirilis pada tahun 1989, The Punisher kembali dibuat pada tahun 2004 dengan bintang Thomas Jane dan John Travolta, serta di-reboot lagi pada tahun 2008 dengan peran utama Ray Stevenson. Uniknya, The Punisher (1989) yang dirilis di seluruh dunia pada tahun yang sama, namun tak pernah secara resmi dirilis di Amerika Serikat dan Swedia. Profil Dolph Lundgren dinilai banyak kalangan sebagai sosok yang paling tepat memerankannya. Faktor ketampanan seorang pria yang biasa ditonjolkan dalam sebuah film laga sama sekali tak terlihat. The Punisher lebih natural dan lebih terlihat sebagai pria kesepian yang setiap langkah dan nafasnya selalu dipenuhi aroma dendam yang membara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s