Sarat Teknologi untuk Layanan Pajak yang Optimal



Seluruh sistem tersebut dibangun menggunakan teknologi perangkat lunak yang biasa digunakan oleh perusahaan atau organisasi yang berskala enterprise,” kata Harry Gumelar.

Bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP), teknologi informasi menjadi sangat penting karena menyangkut kinerja layanan dan pendataan. Bahkan kinerja Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi (TTKI) merupakan pencapaian kinerja organisasi dua unit layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yaitu Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan (TIP) dan Direktorat TTKI. Kedua unit tersebut telah menghasilkan sejumlah terobosan seperti Modul Penerimaan Negara (MPN), e-Registration (sistem pendaftaran Wajib Pajak secara online), e-Filing (cara penyampaian Surat Pemberitahuan secara online dan real time), e-SPT, dan call center (Kring pajak 500200).
Menurut Direktur TTKI, Harry Gumelar, pihaknya telah bekerja sama dengan Direktorat P2Humas dalam pengembangan call centre untuk memudahkan komunikasi dan interaksi antara Wajib Pajak yang ingin menanyakan hak dan kewajibannya agar lebih mudah terlayani. “Saat ini kami bertanggung jawab pada pengembangan perangkat TIK dan pendukungnya, yaitu kebijakan tata kelola TIK DJP,” ujarnya.
Salah satu implementasi pengembangan perangkat TIK adalah untuk kepentingan administrasi perpajakan internal melalui sejumlah aplikasi yang menunjang kinerja pelaksanaan tugas pegawai DHP dan pembangunan Pusat Pengolahan Data Dokumen Perpajakan (PPDDP). Pengembangan tersebut akan sangat membantu perekaman dan dokumentasi data Wajib Pajak yang hingga saat ini telah mencakup wilayah kerja di seluruh Kantor Wilayah di Jakarta, Kanwil DJP Jawa Barat I, Kanwil DJP Jawa Barat II, dan Kanwil DJP Banten.
Harry Gumelar menambahkan, jika perhitungan nilai memakai skala nilai 1–100, maka Teknologi Informasi DJP berada di posisi skala nilai 60. Sehingga pihaknya sangat berharap ke depannya masih perlu ditanamkan nilai-nilai tata kelola TIK yang baik kepada seluruh pegawai DJP untuk menghasilkan output yang baik dan dapat menyukseskan program PINTAR yang akan dibangun. “Sehingga nantinya DJP mempunyai satu sistem yang terintegrasi dan pelayanan kepada Wajib Pajak pun jadi lebih optimal,” katanya. Perkembangan program PINTAR (Project for Indonesia Tax Administration Reform) kini masih dalam proses evaluasi peserta lelang dan sampai saat ini belum terdapat kendala.
Salah satu kegiatan besar DJP adalah Sensus Pajak Nasional (SPN) yang berlangsung sejak akhir September 2011 hingga Januari 2012 mendatang. SPN dilaksanakan secara serentak oleh seluruh unit kerja Direktorat Jenderal Pajak (DJP). “Aktivitas SPN sendiri sangat membutuhkan dukungan teknologi sistem informasi yang memadai dan dapat digunakan oleh unit kerja DJP secara efektif dan benar-benar dapat membantu petugas di lapangan,” kata Harry Gumelar.
Empat tahapan SPN seperti tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap monitoring dan evaluasi, serta tahap tindak lanjut memang sangat membutuhkan sistem informasi yang memadai. Bahkan setelah kegiatan sensus berakhir, sistem informasi tetap berperan penting untuk menyajikan hasil sensus secara komprehensif, memfasilitasi kegiatan analisis, dan membantu petugas dalam mengambil keputusan. Sehingga hasil dari kegiatan SPN ini benar-benar dapat digunakan sesuai dengan tujuannya.
Sebuah sistem informasi memang tidak bisa terlepas dari dua elemen utama yaitu data dan sarat teknologi. Data yang diperoleh akan diolah oleh sistem menjadi informasi yang berguna bagi pengguna. Sedangkan teknologi merupakan ‘alat’ yang digunakan untuk mengolah data tersebut. “Dalam SPN banyak sekali data yang terlibat, termasuk teknologi yang harus dipersiapkan sedemikian rupa, sehingga dapat membantu kelancaran pelaksanaan SPN,” ujar Harry Gumelar.
Untuk menjalankan administrasi perpajakan, DJP memiliki infrastruktur teknologi informasi yang memadai baik dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak. Perangkat keras berupa Data Center (DC) yang berada di Kantor Pusat DJP dan DRC di tempat lain saling terintegrasi untuk menjaga ketersediaan sistem informasi. Setiap Kantor Pelayanan Pajak (KPP) srtidaknya memiliki tiga server untuk aplikasi lokal maupun sebagai client untuk aplikasi terpusat. Untuk menghubungkan antarunit kerja (KPP, Kanwil dan Kantor Pusat), DJP menyewa jaringan dari penyedia jasa jaringan dengan bandwidth antara 512 Mbps hingga 10 Gbps.
Dari sisi perangkat lunak, DJP memiliki tiga sistem utama yaitu SI DJP, SIPMOD, dan SISMIOP. Perangkat SI DJP merupakan sistem terpusat yang digunakan untuk melayani KPP di wilayah Jawa dan KPP Madya. Sedangkan di luar wilayah tersebut, DJP menggunakan SIPMOD yang dipasang secara lokal di KPP bersangkutan. Khusus untuk administrasi PBB, DJP menggunakan SISMIOP dan SIG PBB (Sistem Informasi Geografis PBB). “Seluruh sistem tersebut dibangun menggunakan teknologi perangkat lunak yang biasa digunakan oleh perusahaan atau organisasi yang berskala enterprise,” kata Harry Gumelar.
Teknologi informasi memang seharusnya bisa memberikan kemudahan dan manfaat yang optimal. Namun di sisi lain Harry Gumelar juga menyampaikan bahwa hingga saat ini masih banyak Wajib Pajak dan masyarakat pada umumnya yang belum menggunakan kemudahan-kemudahan layanan pembayaran kewajiban perpajakannya. Harry pun menyebut contoh untuk pembayaran SPPT PBB. Menurutnya, selain Wajib Pajak membayar langsung pada Bank Persepsi yang ditunjuk, maka Wajib Pajak bisa juga membayar melalui ATM yang telah bekerja sama dengan pihak DJP ataupun kemudahan lainnya seperti pembayaran melalui internet banking. Artinya, di situ terdapat pengertian bahwa pembayaran tunai bukan hanya di Kantor Pelayanan Pajak. Demikian pula dengan layanan call center Kring Pajak 500200 yang bisa dimanfaatkan lebih optimal untuk kemudahan pelayanan dan pengaduan bagi Wajib Pajak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s