Menciptakan Prosedur yang Praktis


Dengan semakin mudahnya penyampaian SPT melalui internet/e-Filing atau melalui telepon/telefiling, Wajib Pajak bisa merasakan kepraktisannya, dapat dilakukan di rumah atau di tempat bekerja dan tidak perlu mengantre.

Pelaksanaan Sensus Pajak Nasional (SPN) yang dimulai akhir September 2011 hingga Januari 2012 mendatang sejak jauh hari telah dipersiapkan secara matang. Bahkan Direktorat Transformasi Proses Bisnis (TPB) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menyusun SOP terkait dengan Sensus Pajak Nasional (SPN) yang terangkum dalam Buku Panduan Sensus Pajak Nasional. Buku panduan tersebut berisikan segala hal terkait SPN meliputi perencanaan, persiapan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi pelaksanaan SPN. Seperti diutarakan oleh Direktur TPB, Robert Pakpahan, buku panduan tersebut diharapkan dapat mendukung dan membantu seluruh jajaran DJP dalam pelaksanaan SPN. “Dengan buku tersebut, kami berharap mereka bisa bekerja secara PASTI: bekerja Profesional, menjaga Integritas, membangun Teamwork, dan selalu Inovatif,” ujarnya.
Selain itu, Direktorat TPB kini sedang melakukan penyusunan Peta Proses Bisnis. Lewat gambar dan diagram yang dibuat, akan mengidentifikasi secara jelas langkah-langkah yang dibutuhkan sebuah organisasi dalam menyelesaikan suatu proses. Peta ini juga akan memberikan deskripsi bagaimana cara suatu proses dilakukan. “Ibarat buku manual, peta menjadi “guide” bagi organisasi, karena di dalamnya menyediakan informasi lain yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proses seperti input, output-nya, urutan kerja, ukuran kinerjanya, dan siapa yang melakukan,” kata Robert Pakpahan.
Menurut Robert, akan lebih baik jika ada dua peta proses bisnis bagi organisasi, yaitu peta “as-is” yang menggambarkan peta proses saat ini dan peta “to be” yaitu peta proses target. Peta “as is” digunakan untuk melakukan perbaikan proses serta analisis efisiensi dan efektivitas. Nah, terkait dengan program PINTAR (Project for Indonesia Tax Administration Reform), Direktorat Transformasi Proses Bisnis juga sedang menyusun peta proses bisnis target “to be”. Peta proses ini disebut dengan peta proses bisnis PINTAR. “Penyandingan peta proses bisnis saat ini dengan peta proses bisnis target dapat digunakan untuk pelaksanaan gap analysis yang bertujuan untuk mengetahui proses bisnis apa yang perlu ditambah, dihapus, atau dimodifikasi untuk mencapai kondisi target,” ujarnya.
Bagi DJP sendiri, dengan gambaran proses bisnis secara global hingga detailnya, peta proses bisnis tersebut tidak ubahnya seperti peta dunia yang menggambarkan tentang dunia secara global. Ya, peta akan membawa siapa pun kepada tujuan dengan tepat, cepat, dan tanpa buang waktu dan banyak bertanya, apalagi tersesat. “Demikian pula dengan DJP, peta proses yang dibuat akan membuat pencapaian tujuan dan misi organisasi DJP dapat diraih dengan better, faster, cheaper dan safer. Peta proses bisnis ini akan mempermudah DJP secara organisasi untuk melakukan perbaikan (improvement) melalui process-based corrective dan preventive actions,” kata Robert menjelaskan. Peta Proses, lanjut Robert, dapat menjadi alat untuk merancang sumber daya manusia (SDM), menyusun Standard Operating Procedure, menetapkan Job Description, menambah atau mengurangi resources lain, serta merancang proses bisnis baru.
Sementara itu, berkaitan dengan pengolahan SPT melalui Drop Box, konsep tersebut dilatarbelakangi oleh peningkatan jumlah Wajib Pajak secara signifikan pada tahun 2009 dari 8 juta Wajib Pajak menjadi 14 juta Wajib Pajak. Peningkatan tersebut seiring dengan berlakunya perubahan Undang-undang Ketentuan Umum Perpajakan dan Undang-undang Pajak Penghasilan yang baru. Robert Pakpahan menjelaskan bahwa peningkatan jumlah Wajib Pajak terdaftar diharapkan juga akan meningkatkan jumlah Wajib Pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) ke DJP. Dan DJP pun membuat prosedur penerimaan SPT Tahunan yang dapat disampaikan kepada petugas penerima SPT Tahunan DJP (Drop Box).
Menariknya, proses penerimaan SPT juga dibuat sepraktis mungkin hanya dengan memasukkan SPT ke dalam amplop tertutup yang diberi identitas Wajib Pajak dan langsung diberikan tanda terima. “Tidak ada proses penelitian SPT terlebih dahulu seperti prosedur yang ditetapkan sebelumnya. Jadi proses penerimaan SPT berlangsung secepat mungkin agar tidak terjadi antrean Wajib Pajak,” ujar Robert Pakpahan.
Selain di setiap unit Kantor Pelayanan Pajak, kini unit Drop Box untuk menerima SPT Tahunan juga bisa ditemui di pusat-pusat kegiatan masyarakat seperti di perkantoran pemerintah maupun swasta, pusat perbelanjaan, pasar, dan lain-lain. Wajib Pajak pun lebih mudah menyampaikan SPT tahunannya ke tempat terdekat dengan aktivitas sehari-hari. Jumlah Wajib Pajak memang terus mengalami peningkatan. Hingga Juli 2011 tercatat berjumlah 18,5 juta Wajib Pajak. Sebanyak 8,5 juta Wajib Pajak telah menyampaikan SPT Tahunannya pada tahun 2011 yang 94% di antaranya merupakan Wajib Pajak Orang Pribadi dan sisanya adalah Wajib Pajak Badan. Dengan adanya Sensus Perpajakan, diharapkan jumlah Wajib Pajak akan ikut meningkat. Selain melalui Drop Box, untuk mempertahankan pelayanan yang prima, Direktorat TPB melakukan pengembangan prosedur penerimaan SPT melalui beberapa pilihan seperti media internet/e-Filing atau melalui telepon/telefiling.
Robert Pakpahan mengakui bahwa hingga kini masih sangat sedikit Wajib Pajak yang menggunakan e-Filing karena prosedur yang ada agak rumit. “Kami akan dilakukan perubahan prosedur yang lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat, agar makin banyak digunakan oleh Wajib Pajak. Dengan semakin mudahnya penyampaian SPT melalui internet (e-Filing) atau melalui telepon (telefiling), Wajib Pajak bisa merasakan kepraktisannya, dapat dilakukan di rumah atau di tempat bekerja dan tidak perlu mengantre. “Kepatuhan Wajib Pajak akan semakin meningkat pula,” kata Robert Pakpahan.

3 thoughts on “Menciptakan Prosedur yang Praktis

    • Tulisan tersebut merupakan hasil wawancara dan langsung dituangkan dalam bentuk tulisan pada tahun lalu. Bisa jadi pada saat Anda baru membacanya, jabatan tersebuat sudah diganti dan dijabat orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s