Josephine Wiryanti, Dari Garasi ke Pasar Mancanegara


Josephine masih ingat betul aktivitasnya di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar di Pasar Minggu yang memanfaatkan garasi sebagai laboratorium sementaranya saat itu.

Kecintaan, kompetensi, dan pengalaman, memang menjadi langka jika sudah dikaitkan dengan kepentingan yang lebih besar. Itulah gambaran dari sosok Josephine Wiryanti yang sejak diangkat menjadi pegawai negeri sipil hingga setelah pensiun tetap konsisten lewat pemikirannya untuk memajukan perikanan Indonesia. Bahkan Victor PH Nikijuluw, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, menilai Josephine sebagai sosok dengan kontribusi yang sangat besar untuk Indonesia. “Selain konsisten, bahkan setelah pensiun pun, beliau ikut mengembangkan dan meletakkan dasar Good Manufacturing Practices dalam bidang perikanan. Beliau juga membuat konsep dan mengembangkannya, sehingga berkat kerja kerasnya kita bisa mengekspor dan diterima di seluruh dunia,” ujar Victor PH Nikijuluw.
Ya, sebagai profesional dalam bidang sistem manajemen mutu dan keamanan pangan pada industri hasil perikanan, Josephine Wiryanti memang pantas mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Mutu Indonesia pada pencanangan Bulan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan 2011. Sebelumnya, pada Januari 2009 di Maroko, Josephine juga telah menerima penghargaan dari International Association of Fish Inspectors (IAFI) dalam bidang yang sama. Wanita kelahiran Purwokerto ini memulai kariernya di Lembaga Teknologi Perikanan, di Dirjen Perikanan Kementerian Pertanian pada tahun 1966. Sebagai salah satu tenaga teknis dalam pengembangan sistem pembinaan dan pengawasan mutu hasil perikanan, Josephine mengaku banyak belajar dari para ahli senior teknologi pangan seperti Sofyan Ilyas, Sunyoto, dan Burhanuddin Lubis – ketiganya sudah wafat. Josephine masih ingat betul aktivitasnya di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar di Pasar Minggu yang memanfaatkan garasi sebagai laboratorium sementaranya saat itu.
Dengan luas lautan dan potensi hasil perikanan yang melimpah, sudah selayaknya pemerintah meningkatkan penerimaan devisa negara dengan menggalakkan pemasaran komoditas primadona hasil perikanan ke mancanegara. Josephine pun menjelaskan bahwa sejak awal 1970-an Dirjen Perikanan telah melakukan penguatan kelembagaan untuk mencapai sasaran kebijakan dalam bidang pembinaan dan penawasan mutu hasil perikanan, termasuk pengembangan sertifikasi kelayakan unit pengolahan pada dekade 1980-an, hingga pengembangan penerapan Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan dengan prinsip Hazard Analysis Critical ControlPoint (HACCP) pada dekade berikutnya, termasuk persyaratan mutu dari Food and Drugs Administration (FDA) Departemen Kesehatan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Josephine juga mengakui bahwa berbagai upaya tersebut, termasuk regulasi dan sertifikasi eksportir produk perikanan, memberikan dampak meningkatnya kepercayaan negara-negara Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat yang kini semakin membaik. “Selain Uni Eropa, produk perikanan Indonesia juga pernah ditolak oleh pasar Amerika dan Jepang yang umumnya disebabkan oleh kelalaian pelaku usaha saat menangani dan mengolah produknya pada sejumlah proses rantai produksi,” ujar Josephine yang kini aktif sebagai konsultan dan auditor.
Josephine pun berharap agar reorganisasi yang kerap terjadi tak lagi menjadi kendala. Bahkan kelembagaan pembinaan dan pengendalian mutu di Kementerian Kelautan dan Perikanan bisa berperan penting dalam pembinaan dan pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah nasionalisme dan mental di semua lini yang harus dibangkitkan kembali agar hasil perikanan Indonesia bisa memberikan kontribusi bagi lumbung devisa negara. Victor PH Nikijuluw pun berpendapat senada. “Dengan pembinaan mutu ini kita juga berharap bisa meraih dua target besar. Konsumen dalam negeri mendapat mutu yang baik untuk dikonsumsi dan produk kita bisa diterima di negara lain,” ujar Victor PH Nikijuluw.
______________


Josephine Wiryanti
Tempat, tanggal lahir: Purwokerto, 21 Maret 1943
Pendidikan:
University of Surrey, Inggris (MPh-PhD, Biochemical Nutrition), 1980
University of London (London School of Hygiene and Tropical Medicine), Inggris (Diploma in Clinical/Human Nutrition), 1975
University of Ghent, Belgia (Dipkoma in International Course on Food Science and Applied Nutrition), 1974
University of London (Queen Elizabeth College), Inggris (Course in Applied Nutrition), 1973
Akademi Pertanian Indonesia, Jakarta (Teknologi Pengolahan Pangan/Ikan), 1969

Karier:
Kepala SubDirektorat Pengawasan dan Pengendalian, Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian, 1988-1999
Fish Processing and Quality/Safety Specialist, Asian Development Bank (ADB), 2008-2010
Consultant (HACCP), ATF/International Trade Centre/Wolrd Trade Organization), Jenewa, 2006-2007
Consultant/Supervisor/Advisor for implementation of HACCP, ISO 22000-2005, BRC and or ISO 9000, BRC, ISO 9002:1994, ISO 9001:2000, ISO 9001:2008

Penghargaan:
International Association of Fish Inspectors (IAFI), Maroko, 2009
Tokoh Mutu Indonesia, Bulan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s