Di Antara Semangat dan Inspirasi*


(*)Sebuah catatan kehidupan seorang sahabat terbaik

Banyak kisah menarik tentang seorang sahabat terbaikku, Sugeng Prayitno. Mungkin saya tak mengenalnya lebih dekat jika dibandingkan dengan beberapa rekan dekatnya yang saya kenal. Namun setidaknya saya mendapat beberapa kisah menarik yang menjadi momentum dalam perjalanan semasa hidupnya.

Sugeng dan keluarga (2007). Anak bungsunya, Ganin, baru lahir tahun 2011. (Foto: koleksi pribadi Sugeng Prayitno)

BAJAJ

Sugeng Prayitno yang kadang disapa Gus Geng ini punya memori dengan angkutan roda tiga Bajaj yang berisiknya minta ampun serta peredam kejutnya yang dikenal lumayan rigid. Memori yang paling indah adalah ketika Sugeng menceritakan sendiri bagaimana cara menikmati naik Bajaj saat pertama kali datang ke Jakarta. Tiba di Stasiun Kereta Api Senen, Sugeng merasa tak punya pilihan angkutan umum menuju Lenteng Agung, di selatan Jakarta yang berbatasan dengan Depok. Bisa dibayangkan bagaimana ‘menikmati’ perjalanan bersama Bajaj sepanjang sekitar 30 kilometer. Namun semangatnya merasakan kehidupan Jakarta, membuatnya bisa menyukuri bisa tiba di Lenteng Agung dengan selamat.

FOTOGRAFI

Ya, fotografi memang menjadi bagian hidup Sugeng hingga sebelum terkena stroke. Namun siapa yang menyangka saat berkenalan dengan dunia fotografi bisa melambungkan mimpinya sebagai salah satu penopang hidupnya. Uniknya, Sugeng berkenalan dengan kamera SLR konvensional seperti mahasiswa baru yang harus melewati masa perploncoan. Yang menarik, Sugeng justru sangat menikmati masa perkenalannya dengan kamera profesional walau harus jungkir balik menncoba sejumlah angle (sudut pengambilan) yang ‘aneh’ hingga memanjat pohon. Sugeng tak sungkan ketika tawa dan ledekan mampir ke telinganya. Pasalnya, selama bergaya menggunakan kamera SLR profesional tersebut, Sugeng sama sekali tak diberikan bekal satu rol film negatif, apalagi sekadar film potongan. Ya, kamera kosong tanpa film menjadi momentum perkenalannya dengan dunia fotografi. Dan momentum itu menjadi langkah awal kiprahnya di dunia fotografi.

JALAN

Salah satu ciri khas pendatang baru di Jakarta adalah sulitnya mengenal nama sebuah jalan atau kawasan. Itu pula yang kerap dialami Sugeng. Tanpa malu, Sugeng kerap bertanya soal nama jalan atau kawasan yang ingin diketahui atau ingin dituju. Dan tanpa sungkan pula, Sugeng selalu bertanya tentang patokan sebuah jalan atau kawasan. Jika info yang didapatnya masih dirasa minim, Sugeng juga tak malu merajuk minta tolong untuk ditemani. Sehingga kadang justru memancing ledekan rekannya untuk sekadar merekayasa patokan yang membuat Sugeng akan lebih merajuk lagi. Ibarat kate kayak orang ‘Bogor’, biar tekor asal kesohor, hehehe….

PILIH MINUM JAMU

Sugeng memang dikenal memiliki semangat yang tinggi walau kadang tak pernah diperlihatkan secara terus terang. Perlahan Sugeng akan mengamati, mempelajari, dan memastikan setiap langkah yang akan diambilnya. Namun jika kondisi fisiknya sedang tidak fit, pantang baginya berurusan dengan medis, apalagi berhubungan dengan dokter. Jarum suntik menjadi salah satu phobia-nya. Tak heran jika Sugeng dikenal getol mengkonsumsi jamu kala kondisi tubuhnya menurun. Sepahit apapun rasa jamu yang harus diminum akan rela dihabiskan asal tidak ke dokter atau harus berurusan dengan jarum suntik. Bahkan Sugeng pernah mengaku tak pernah mau masuk rumah sakit walau yang dirawat adalah keluarga atau saudaranya sendiri.

MAKAN

Perawakan Sugeng memang lumayan tambun. Walau tak mengetahui persis berat badannya, namun tak terlihat sedikit pun kejengahan Sugeng dengan postur tubuhnya. Salah satu kegemarannya adalah menyantap makanan yang disukainya tanpa membuatnya harus memantang makanan tertentu. Walau kerap membicarakan tentang berbagai penyakit, termasuk ketika saya harus menjalani operasi ganti katup jantung, sepertinya semangat Sugeng menikmati makanan tak pernah surut, termasuk kebiasaan merokok Dji Sam Soe-nya. Baginya, kenikmatan itu memang tak harus menjadi kendala. Sugeng mencoba menikmati alur hidupnya bagai air yang terus mengalir dari mata airnya hingga hilir sungai.

SUNAT

Salah satu yang kerap dibicarakan Sugeng sebelum terkena stroke adalah niatnya mengkhitankan anak sulungnya Punjung. Rencananya Punjung akan dikhitankan saat libur panjang kenaikan kelas kemarin. Namun entah kenapa, rencana tersebut belum juga terealisir. Punjung yang kini sudah duduk di SD kelas VI memang ingin dikhitan. Insya Allah, jika memang Allah SWT mengijinkan, Punjung akan segera dikhitan, sekaligus memenuhi salah satu keinginan Sugeng.

PENSIUN

Tingginya semangat Sugeng menjalani hidup, setinggi obsesinya mengisi hari tuanya bersama istri dan ketiga anaknya. Beberapa alternatif pun sudah mulai dipikirkannya, termasuk apa saja yang ingin dilakukan menjelang pensiunnya nanti. Mulai dari usaha fotografi, percetakan, desain grafis, hingga kuliner, menjadi deretan aktivitas yang diproyeksikan Sugeng menjadi lahan keberuntungannya. Bahkan saking semangatnya, Sugeng kerap mengulang cerita kenikmatan beberapa kuliner unggulan yang dibidiknya sebagai peluang usaha. Ya, Sugeng memang sudah merancang masa pensiunnya dengan mimpi yang lebih realistis. Sugeng boleh saja menyusun rencana terbaiknya untuk masa pensiunnya kelak. Namun Allah SWT ternyata telah memiliki rencana terbaiknya dan lebih berkenan memanggilnya untuk ‘pensiun’ lebih dulu ke pangkuanNYA.

KUNINGAN

Beberapa rekan dekat, termasuk saya, memang sempat mendengar keinginan Sugeng untuk mengisi masa pensiunnya di Kuningan, Jawa Barat, kampung halaman istrinya. Namun ternyata keinginan Sugeng tersebut ‘lebih cepat’ terlaksana daripada perkiraannya. Ya, keinginan Sugeng menikmati sisa hidup hari tuanya memang sudah terpenuhi. Hanya saja Sugeng harus menikmatinya dalam alam yang berbeda dan abadi. Dengan kebersahajaannya, Sugeng telah menjadi sahabat terbaik bagi yang sudah mengenalnya lebih dekat. Sahabat baik yang sudah memberikan ’pesan’ selamat tinggalnya tanpa kita mengetahui maknanya sebelumnya. Ya, kami memang telah kehilangan sosok sahabat terbaik yang ‘ora pateken’ dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Selamat jalan sahabatku. Sampai jumpa di sana…

__________________________
Cagar Alam, Depok
31 Agustus 2011/1 Syawal 1432 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s