Optimisme LPI Terhadap Pengurus Baru PSSI


PSSI kini tengah menggodok formula kompetisi sepak bola di bawah naungannya. LPI sendiri harus siap dan mematuhi semua keputusan Exco PSSI, karena arah kebijakan sepak bola Indonesia ada di tangan Exco.

Dari hasil Kongres PSSI di Solo yang berlangsung 9 Juli lalu, Djohar Arifin Husin dan Farid Rahman telah terpilih sebagai Ketua Umum dan Wakil ketua Umum PSSI. Ya, setelah dua tahun kisruh di tubuh PSSI, akhirnya seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional bisa bernafas agak lega. Mereka sangat berharap agar pengurus baru PSSI akan mampu mengakomodir dan memberikan solusi terbaik dari sejumlah persoalan yang muncul selama ini. Salah satunya adalah pembinaan pemain usia dini dan tentu saja mampu mengangkat prestasi tim nasional yang hampir satu dasawarsa terakhir kering akan prestasi internasional, termasuk di tingkat regional sekalipun.

Liga Primer Indonesia yang sejak awal sangat berharap dan menginginkan berafiliasi ke PSSI, menyambut positif kepengurusan baru PSSI. Lewat pernyataan Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar yang merangkul LPI dan dilanjutkan dengan komunikasi intensif LPI bersama Komite Normalisasi, diharapkan bisa memberikan solusi yang terbaik bagi semua pihak. Apalagi Djohar Arifin Husin sebagai Ketum PSSI telah memberikan sinyal kuat bahwa LPI akan berada di bawah koordinasi PSSI. Menyangkut hasil Kongres PSSI dan langkah pengurus baru PSSI terkait dengan kelanjutan kompetisi LPI, memang telah menuai komentar bernada optimis, termasuk dari semua komponen yang ada di LPI.

Juru Bicara LPI, Abi Hasantoso, menyambut baik kalau semua warga negara Indonesia berhak membela tanah airnya dan membela Tim Merah-Putih. “Tidak boleh ada diskriminasi. Untuk LPI sendiri, sebenarnya sejak 11 April lalu sudah diakui. Jadi tidak ada masalah. Cuma kemarin, ada keraguan dari pelatih Alfred Riedl, sehingga dia tidak memasukkan pemain dari LPI. Terakhir Pak Agum dan KN sudah mengakui LPI, hanya tinggal proses afiliasinya saja kok,” kata Abi.

Mantan pelatih tim nasional yang kini menjadi pelatih di Jakarta FC, Bambang Nurdiansyah, menyikapi hasil kongres dengan positif. Mengaku pro sepak bola nasional, Banur, sapaan akrab Bambang Nurdiansyah, tak menampik banyak persoalan krusial yang dihadapi pengurus yang baru. Menurutnya, biarkanlah mereka bekerja dan kita lihat apa yang mereka kerjakan. “Kita dukunglah. Tentunya dengan semua koreksi dan dikritisi jika memang tidak baik. Harapan saya bahwa kepengurusan sekarang selagi semuanya baru, tentunya mereka akan belajar dan pasti banyak yang harus mereka kerjakan ke depan,” kata Banur.

Para pemain yang selama ini berkiprah di kompetisi LPI pun seakan mendapat peluang membela tim nasional yang sebelumnya tertutup. Salah satunya adalah andalan Persebaya 1927 yang menjuarai paruh musim LPI, Andik Vermansyah. Menurut striker bertubuh mungil ini, dirinya pasti senang karena pemain LPI bisa masuk tim nasional. Andik juga berharap agar kepengurusan yang baru bisa mengangkat prestasi tim muda dan tim senior. “Ya, termasuk wasit yang banyak memprovokasi suporter dan bisa merusak sepak bola Indonesia. Ulah-ulah wasit yang berat sebelah harus diperbaiki. Juga dengan kondisi lapangan yang harus diperbaiki lagi,” ujar Andik.

Sementara itu penyerang Persibo, Samsul Arif, lebih mensyukuri hasil kongres. “Artinya, saya juga bersyukur dan menyambut positif aja hasil kongres kemarin,” kata Arif. ”Itu memberi sinyal kepada pemain LPI juga untuk ke timnas. Kalau dulu agak diskriminatif kan. Berarti ada perubahan seperti itu, ya kita menyambut baiklah. Mungkin yang dulu-dulu kompetisinya amburadul, jadwalnya kacau, dan ada kerusuhan di sana-sini. Banyaklah. Jadi mudah-mudahan mulai sekarang ini ngga terulang lagi,” ujar Arif mengomentari peluang pemain LPI di tim nasional.

Irfan Bachdim yang ikut membela Tim Merah-Putih di ajang Piala AFF tahun lalu, sempat ditolak Alfred Riedl. Nama Irfan kembali dipanggil setelah pengurus PSSI yang baru membuka peluang bagi pemain mana pun untuk membela tim nasional. “Ya, itu positif. Irfan (Bachdim) kemarin sudah dimasukkan, hanya yang besok (pertandingan pertama melawan Turkmenistan) mungkin tidak bisa bermain karena cedera,” ujar Didied Affandy, CEO Persema. Persema sendiri memiliki pemain potensial seperti Kim Kurniawan dan Reza Mustofa. “Kim mungkin untuk timnas U-23, sedangkan untuk timnas senior baru Irfan. Kalau pemain lainnya, saya lihat Reza juga bagus. Untuk Reza, yang penting tetap disiplin,” kata Didied lagi.

Pihak LPI sendiri melalui CEO LPI, Widjajanto, tetap optimis terhadap pengurus PSSI yang baru. “Kami tidak ada pesimisme, kami tidak ada sinisme. Kami selalu memandang semua dalam pikiran yang konstruktif dan positif karena kami juga sudah melihat dari Permendagri No. 22 tahun 2011. Di situ jelas tertulis larangan penggunaan APBD untuk olahraga profesional. Artinya, pemerintah sudah mengambil sikap. Kita harus sepakat membangun liga profesional yang mandiri tanpa menggunakan APBD. Jadi kita berharap dan tetap optimis,” ujar Widjajanto.

PSSI kini tengah menggodok formula kompetisi sepak bola di bawah naungannya. LPI sendiri harus siap dan mematuhi semua keputusan Exco PSSI, karena arah kebijakan sepak bola Indonesia ada di tangan Exco. “Jadi kita tetap berpegang pada jadwal bahwa kita akan mulai putaran kedua pada 17 September. Tapi sekiranya sebelum tanggal itu ada keputusan penting dari Exco mengenai model kompetisi Indonesia untuk masa depan, tentu saja kami akan mengikuti apa pun keputusan Exco,” kata Abi menambahkan.

Kelas Sport 125 cc yang Menggiurkan


Jika saja Yamaha jeli, tampaknya salah satu line up-nya di kelas 125 cc dengan pengabut bahan bakar injeksi, bisa dijadikan acuan dan cocok untuk dipasarkan di sini.

Persaingan sepeda motor di tanah air semakin ketat saja. Terutama terlihat dari dua nama besar yang selalu mendominasi angka penjualan dalam lima tahun terakhir, yaitu Honda dan Yamaha. Hingga kini Honda memang belum tergoyahkan sebagai penguasa sepeda motor di tanah air. Bahkan skutik Honda dalam semester pertama 2011 telah mampu menumbangkan kedigdayaan Yamaha yang telah lebih dulu menguasai pangsa pasar di kelas skutik sejak tahun 2003.

Namun belakangan ada hal yang cukup menarik, terutama perkembangan di kelas motor sport. Yamaha masih menguasai pasar dan dibuntuti ketat oleh Honda. Dengan mengandalkan Yamaha V-ixion, Yamaha unggul tipis. Line up Yamaha lainnya seperti Byson dan juga Scorpio, sepertinya tak banyak membantu. Sementara hingga pertengahan tahun 2010 lalu, Honda dengan pangsa pasar Tiger dan MegaPro-nya sempat dilahap Yamaha, ditambah Suzuki dengan Thunder 125, berupaya bangkit dengan merilis New MegaPro yang berdesain elegan dan mendapat sambutan lumayan positif. NMP yang head to head dengan Byson memang unggul dari sisi performa dan keiritan bahan bakarnya. Tak sampai di situ, Honda pun melebarkan pasar di segmen sport dengan meluncurkan Honda CBR 250R dan Honda CBR 150R.

Suzuki yang sempat sumringah dengan Thunder 125-nya, kini hanya berharap versi facelift-nya bisa mempertahankan peminat sport pemula. Menurunnya penjualan Thunder 125, tak lepas dari agresifnya pabrikan India seperti TVS dan Bajaj yang mengeluarkan beberapa produk sportnya dengan teknologi yang lumayan mumpuni. Sementara Kawasaki yang konsisten di jalur sport, tampaknya adem ayem dengan jajaran produknya yang tetap diminati penggemar fanatiknya.

Khusus kelas sport entry level, selain Suzuki lewat Thunder 125, Bajaj pun telah meruilis seri Pulsar lewat dua andalannya, XCD 125 dan XCD 135. Sedangkan Yamaha dan Honda masih belum melirik kelas ini yang sebenarnya sangat potensial untuk digarap.

Jika saja Yamaha jeli, tampaknya salah satu line up-nya di kelas 125 cc dengan pengabut bahan bakar injeksi, bisa dijadikan acuan dan cocok untuk dipasarkan di sini. Ya, model Yamaha seperti YBR 125 diyakini sangat cocok dengan tipikal pengendara di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta yang kerap didera kemacetan. Untuk YBR 125 versi tahun 2010 seperti yang diungkap autoevolution, telah mengalami beberapa perubahan seperti pada panel instrumen, desain knalpot baru, dan beberapa detail yang disempurnakan. YBR 125 sangat ideal untuk pemula atau pengendara yang menginginkan kenyamanan dan kemudahan di kota besar. Dengan mesin empat langkah silinder tunggal, YBR 125 mampu menyemburkan tenaga hingga 10 hp pada kitiran 7800 RPM.

Spesifikasi Yamaha YBR 125:


Engine:
Type: Air-cooled, 4-stroke, forward inclined single cylinder, 2-valve, SOHC
Displacement: 124 cm3
Bore X Stroke: 2.12 x 2.12 in (54 X 54 mm)
Compression Ratio: 10.0:1
Horsepower: 10/7800 (Hp/RPM)
Torque: 7/6000 lb-ft/RPM (9/6000 Nm/RPM)
Fuel System: Fuel Injection

Transmission:
Gearbox: Constant mesh, 5-speed
Clutch: Wet, multiple disc
Primary Drive: –
Final Drive: Chain


Chassis:
Frame: Diamond shaped
Front Suspension: Telescopic forks
Rear Suspension: Swingarm
Front Brake: Single disc, Ø 245 mm
Rear Brake: Drum, Ø 130 mm


Dimension:
Overall Length: 77.9 in (1979 mm)
Overall Width: 29.3 in (744 mm)
Seat Height: 30.7 in (780 mm)
Wheelbase: 50.7 in (1288 mm)
Ground Clearance: 6.8 in (173 mm)
Weight: 273 lbs (124 kg)
Fuel Capacity: 3.43 gallons (12.98 l)


Tyre:
Front: 2.75-18 42P
Rear: 90/90-18 M/C 57P

Jika pihak Yamaha Kencana Motor Indonesia berencana membawa dan memproduksinya di Indonesia, diyakini pasar sport di kelas 125 cc akan kembali bergairah. Apalagi jika harganya dibanderol di kisaran 16-17 juta rupiah. Harga tersebut bisa saja dianggap realistis dengan tetap mengusung pengabutan injeksi, sekaligus melengkavi varian injeksi yang sudah lebih dulu diusung V-ixion.

Tapi siapa tahu Honda juga tengah melirik pasar yang sama. Hmmm…