KOKOH


Namun gol demi gol yang tercipta takkan berarti jika barisan belakang tak mumpuni, termasuk peran penjaga gawang sebagai palang pintu terakhir.

Sepanjang jalannya putaran pertama kompetisi Liga Primer Indonesia, bisa dipastikan setiap klub akan menargetkan kemenangan. Para pemain yang menonjol biasanya merupakan penyerang yang didukung oleh gelandang dan barisan pertahanan yang solid. Simak saja pemuncak top skor seperti Fernando Soler (Real Mataram), Juan Cortez (Batavia Union), Laakkad Abdelhadi (Medan Chiefs), Emanuel de Porras (Jakarta FC), Samsul Arif (Persibo), Irfan Bachdim (Persema), Marwan Sayedeh (PSM), Cosmin Vancea (Bintang Medan), dan Perry N. Somah (Bandung FC).

Namun gol demi gol yang tercipta takkan berarti jika barisan belakang tak mumpuni, termasuk peran penjaga gawang sebagai palang pintu terakhir. Penjaga gawang dari legiun asing di LPI tercatat ada Dennis Romanovs (Cendrawasih Papua) dan Aleksandar Vrteski (Solo FC). Vrteski bahkan dipercaya mengawal gawang tim Putih dalam laga Starbol di Stadion Gelora Bung Karno (22/6). Sementara juara paruh musim Persebaya 1927, sekaligus sebagai tim paling produktif dan paling minim kemasukan gol, justru mempercayakan kepada Endra Prasetya yang kokoh di bawah mistar gawang.

Endra Prasetya (Persebaya 1927) (Dok LPI)

Ya, Endra Prasetya yang hanya kebobolan 13 gol, berhasil mengungguli Sukasto Efendi (Persema) maupun Ngurah Arya Perdana (Bali Devata) yang kebobolan 17 gol. Kepiawaian Endra pun berhasil membawa Persebaya 1927 juara paruh musim berbekal selisih gol lebih baik dibandingkan Persema. Sosok penjaga gawang boleh jadi masih kalah mentereng dibandingkan penyerang dan gelandang. Namun peran dan aksinya sangat krusial dan mampu menambah kepercayaan pemain lainnya.

Advertisements

Optimistis Menuju Putaran Kedua


Dengan evaluasi, perbaikan, dan sikap optimis seluruh unsur yang terlibat, LPI memang diharapkan pecinta sepak bola di tanah air sebagai kompetisi yang mengusung komitmen fair play, profesional, dan mandiri.

Masa libur jeda kompetisi Liga Primer Indonesia selama tiga bulan, ternyata tak mengurangi semangat klub peserta untuk tetap beraktivitas. Bahkan sejumlah klub berinisiatif menggelar turnamen yang diikuti beberapa klub LPI. Simak saja turnamen empat klub dalam Battle of Fantastic Four yang digelar di Surabaya. Sementara Real Mataram juga menggelar turnamen serupa bertajuk Real Mataram Cup. Sedangkan Bali Devata tak mau kalah dengan menggelar turnamen futsal yang melibatkan 32 tim yang berasal dari Bali.
Secara resmi, LPI melalui juru bicaranya Abi Hasantoso menyatakan bahwa kompetisi LPI putaran kedua akan berlanjut mulai 17 September mendatang. “Kami sudah memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kami bisa menjalankan kompetisi profesional mandiri. Masyarakat sudah percaya kepada LPI sebagai kompetisi mandiri, jadi kami senang,” ujar Abi.
Kepercayaan itu juga terlihat dari lahirnya kerjasama baru antara produsen penyadia alat olahraga asal Inggris, Mitre, dengan tiga klub LPI. Sementara Indosiar yang menjadi mitra LPI dalam siaran langsung sejumlah pertandingan, dikabarkan akan membuat program baru yang lebih menarik. “Kami salut dan bangga dengan Indosiar yang berani membangun sepak bola profesional dan mendapat laporan dari Indosiar bahwa respon penonton sangat baik. LPI dan Indosiar sedang menjajaki kemungkinan membuat program baru seperti rangkuman pertandingan atau keseharian pemain di luar lapangan,” kata Abi menambahkan.
Pihak LPI sendiri pernah menegaskan bahwa dalam libur jeda kompetisi akan dimanfaatkan untuk mengevaluasi seluruh klub. Sebagai kompetisi yang baru bergulir, harus diakui masih banyak yang harus diperbaiki. Namun demikian, nada optimis terus terlontar dari jajaran pemain, CEO, hingga wasit. Mereka mengkritisi sekaligus tetap optimistis LPI akan semakin membaik. Pelatih Bandung FC, Budiman Yunus, tak memungkiri jika di LPI didominasi oleh klub-klub baru dan banyaknya pemain muda yang belum berpengalaman. “Jadi wajar jika permainannya perlu ditingkatkan. Tapi yang perlu diapresiasi adalah soal jadwal yang tersusun rapi. Setiap tim hanya main sekali seminggu. Jadi sebagai pelatih kita bisa menyiapkan laga selanjutnya lebih matang,” ujar Budiman.
Pemain Batavia Union, Tantan, juga melepas nada optimis. “Kalau saya lihat pertandingannya (di putaran pertama) banyak yang menarik kok. Banyak laga yang menghasilkan banyak gol. Memang masih ada kekurangan, tapi paling tidak LPI sudah berusaha menjalankan kompetisi lebih profesional,” ujar Tantan, salah satu andalan di lini depan Batavia Union.
Sedangkan striker Persebaya 1927, I Made Wirahadi, mengaku puas terlibat di kompetisi LPI. “LPI lebih teratur, penjadwalannya bagus. Jadi tim bisa membuat perencanaan lebih matang. Buat putaran kedua nanti, kayaknya tak perlu banyak perbaikan. Sejauh ini sudah terorganisir,” kata Wirahadi.
Namun demikian, baik Tantan maupun I Made Wirahadi tak menampik jika banyak pihak yang menaruh harapan besar terhadap kelangsungan LPI. “Harapan saya di putaran kedua nanti, LPI lebih seru lagi, penontonnya banyak yang datang. Lalu untuk Batavia, kalau bisa jadi juara,” ujar Tantan.
Soal harapan tersebut, Abi pun menyambut positif dan mengakui masih banyak yang harus diperbaiki. “Permulaan memang sulit. Yang penting kami bersama masyarakat tetap berusaha menciptakan kompetisi profesional mandiri. Kami juga ingin membangun komunitas penonton yang lebih baik dan memperoleh penonton dari berbagai segmen karena sepak bola untuk semua,” kata Abi.
Lalu bagaimana dengan sang pengadil di lapangan hijau? Menurut Budiman Yunus, kehadiran wasit asing sangat membantu. “Wasit (asing)-nya cukup tegas, tapi kondisi fisiknya masih kurang. Jadi kadang-kadang kurang maksimal dalam memberikan keputusan. Tapi secara umum, lumayan cukup baguslah,” ujar Budiman.
I Made Wirahadi pun merasakan manfaatnya. Menurutnya, keberadaannya wasit asing sangat signifikan, tegas, dan bisa membuat keputusan lebih adil sehingga pemain lebih sungkan. “Keberadaan wasit asing harus dipertahankan karena wasit lokal bisa belajar banyak dari mereka. Kalau wasit lokal bisa lebih bagus lagi, mungkin wasit asing sudah tak perlu dipakai lagi,” kata Wirahadi lagi.
Lalu, apa tanggapan Ketua Asosiasi Wasit LPI, Fiator Ambarita? Fiator melihat ada beberapa wasit asing yang kualitasnya di atas wasit lokal. “Keberadaan mereka boleh dilanjutkan, asal jangan terlalu banyak. Nanti bagaimana dengan nasib wasit lokal? Padahal kualitas wasit lokal tak kalah dibandingkan mereka,” ujar Fiator yang dipercaya memimpin laga Starbol di Stadion Gelora Bung Karno (22/6).
Fiator juga menilai bahwa penampilan wasit lokal sudah 80 persen. “Ada beberapa kesalahan teknis, tapi masih wajar. Buktinya nggak ada banyak protes dari pemain. Pemain percaya kepada aparat pertandingan. Pemain percaya bahwa kita sudah memimpin dengan adil, tanpa titipan,” kata Fiator. “Saya selalu tegaskan kepada teman-teman (wasit) jangan sampai ‘bermain’. Kita juga tekankan kepada semua pihak bahwa wasit sudah berusaha memimpin pertandingan sesuai peraturan,” ujarnya lagi.
Dengan evaluasi, perbaikan, dan sikap optimis seluruh unsur yang terlibat, LPI memang diharapkan pecinta sepak bola di tanah air sebagai kompetisi yang mengusung komitmen fair play, profesional, dan mandiri. Bahkan sejak awal LPI memprediksikan investasi yang ditanam akan kembali dalam 3-5 tahun. “Selain itu, di sini ada perputaran uang dan itu dipakai untuk kesejahteraan pemain dan semua klub. Jadi keuntungan yang didapatkan bukan untuk jajaran pengurus,” kata Abi menjelaskan tentang masa depan LPI.
Setidaknya bergulirnya LPI akan ikut menyelamatkan dari efek buruk penggunaan dana APBD di sepak bola yang cenderung sering dimanipulasi. “LPI justru memberikan pendapatan kepada negara melalui pajak karena kami semua di sini bayar pajak. Jadi, kami di sini bukan cuma menyelamatkan uang negara,” ujar Abi lagi.