Pertemuan Unik antara Seni dan Desain


ScoopArt pun diharapkan menjadi bagian dari proses eksplorasi visual yang dapat dilakukan seniman pada masa kini.


Honda Scoopy boleh bangga menjadi satu-satunya skuter matik di tanah air dengan desain retro-modern yang berkarakter unik. Kehadirannya sejak Mei tahun lalu memang menjadi bagian strategi PT Astra Honda Motor untuk memperkuat penetrasinya pada kategori skutik.

Dengan karakter uniknya, Honda Scoopy pun semakin menarik untuk dijadikan wahana ekspresi dalam berbagai hal, termasuk memodifikasinya. Namun, apa yang dilakukan oleh main dealer sepeda motor Honda wilayah Jakarta-Tangerang, PT Wahana Makmur Sejati, patut diberikan apresiasi tersendiri. Pasalnya, Wahana menyediakan enam unit Honda Scoopy kepada enam seniman lukis untuk digarap sebagai media ekspresi mereka dalam pameran bertajuk ScoopArt yang berlangsung di Galeri Canna, Jakarta Art District, Grand Indonesia, 6 hingga 8 Mei lalu. Keenam perupa tersebut adalah Bunga Jeruk, Jumaldi Alfi, Putu Sutawijaya, Radi Arwinda, Yunizar, dan Yusra Martunus.

Melalui ScoopArt, Wahana mencoba membuktikan bahwa Honda Scoopy tak hanya sekedar sebagai alat transportasi. Menurut Direktur Utama Wahana, Robbyanto Budiman, desain Honda Scoopy sangat unik dan memiliki karya seni tinggi sekaligus mampu memberikan inspirasi sebagai media ekspresi enam perupa kontemporer terkemuka Indonesia. “Kami harapkan agar dalam skala lebih luas, pameran ini dapat dijadikan inspirasi bagi masyarakat seni rupa untuk selalu mencari media alternatif dalam pengembangan seni rupa,” ujar Robbyanto Budiman yang juga dikenal sebagai kolektor lukisan.


Ketertarikan perupa Jumaldi Alfi menggunakan berbagai objek untuk menghasilkan seni, menjadi ikhwal dalam penciptaan karyanya yang berjudul “Renewal”. Alfi mencoba mengekpresikannya dengan memainkan cat arcrylic di tubuh Honda Scoopy. Simbol tengkorak berwarna pink yang dimunculkan Alfi bukanlah lambang kematian, melainkan sebagai lambang permulaan hidup yang baru. Alfi pun mengakui bahwa nama besar Honda dalam pembaruan otomotif memang menjadi inspirasi penciptaan karyanya kali ini. Menurut Alfi, saat dirinya dihubungi Wahana dan ditawari melukis Honda Scoopy, secara jujur diakuinya bahwa dirinya merasa tertantang. “Bukan hanya karena media lukisnya yang tidak biasa, tapi karya semacam ini juga belum pernah dilakukan di Indonesia sebelumnya,” kata Alfi.

Sementara “Winning to Fly” karya perupa Putu Sutawijaya mencoba memberikan gambaran tentang perjuangan yang akan memberikan kesegaran dan rasa senang yang tak ternilai. Dengan menggunakan bahan cat mobil, Putu pun mengekspresikannya dengan kedalaman tematis yang menawan. Menurutnya, semua orang ingin melampaui satu titik ke titik berikutnya. “Di situlah dibutuhkan perjuangan dalam bentuk inovasi, motivasi, dan tentu saja merealisasikannya,” ujar Putu.

Karya lainnya adalah “Tiger in Green” karya Bunga Jeruk, “1015 Envelope Series” karya Yusra Martunus, “Berbunga” karya Yunizar, dan “Scoopet” karya Radi Arwinda. Sebagai perupa, Radi Arwinda mengakui bahwa Honda Scoopy adalah motor matik yang digandrungi dan mendapatkan banyak apresiasi masyarakat saat ini. “Mendapatkan tugas memodifikasi Scoopy memberikan tantangan dan inspirasi bagi saya untuk menghadirkan karya terbaik. Untuk itu, saya pun melakukan penelitian dan interaksi langsung dengan pengguna Scoopy. Ternyata pengguna Scoopy cocok dengan karakter saya yang fun, unik dan retro,” kata Radi Arwinda.


Ya, dunia seni memang selalu dipenuhi ide dan kreativitas yang memberikan kebebasan bagi pelaku seni untuk bereksplorasi sesuai dengan imajinasinya. ScoopArt pun diharapkan menjadi bagian dari proses eksplorasi visual yang dapat dilakukan seniman pada masa kini. Dan ternyata kiprah ScoopArt memang tak berhenti pada pameran di Jakarta saja. Rencananya, Wahana akan bekerja sama dengan sejumlah main dealer sepeda motor Honda di tanah air untuk dipamerkan di wilayahnya masing-masing. Menurut Robbyanto Budiman, setelah Jakarta, enam karya ScoopArt tersebut akan segera dipamerkan di Surabaya, dan segera disusul Bandung dan Medan.


Lalu berapa harga masing-masing unit Honda Scoopy yang sudah berlabur seni tersebut? Robbyanto Budiman pun langsung menjelaskan bahwa proyek seni ini merupakan proyek nonkomersial. “Seluruh unitnya tidak untuk dijual dan akan menjadi koleksi Wahana Makmur Sejati,” ujarnya.

Kurator Alia Swastika pun memberikan apresiasi positif kepada kepedulian Wahana, khususnya dalam merespon objek jadi dan menjadikannya sebagai sesuatu yang unik sesuai dengan karakter sang seniman. Alia pun melihat ada unsur personalisasi dari objek yang tadinya dibuat secara massif dan seragam. “Setiap seniman dapat menonjolkan sisi yang khas dari kecenderungan visualnya, sehingga produk massal itu memiliki karakter visualnya sendiri,” ujar Alia.

Seni dan desain memang merupakan pertemuan yang unik. Di sisi lain, memang ada keinginan untuk menunjukkan sisi kreativitas yang akan menciptakan nuansa personal. “Identitas dan karakter personal itulah yang sesungguhnya penting dan berharga uintuk terus digemakan,” kata Alia lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s