FIFA Bukanlah Baginda Raja! (2)


Tak hanya sampai di situ, pelarangan FIFA terhadap pencalonan Arifin, George, dan Nirwan, juga dinilai sejumlah pihak tak memiliki alasan yang kuat. Bahkan ketiga calon ketum PSSI tersebut sangat jelas memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan. Pelarangan FIFA hanya pantas ditujukan bagi Nurdin Halid yang tersandung syarat kriminalitas dan mantan narapidana. Sepak terjang FIFA juga disoroti karena dianggap telah melanggar asas demokrasi dan hak asasi dalam proses pemilihan kali ini. Intervensi FIFA pun dinilai sudah melewati wilayah kekuasaannya. Siapa pun warga negara Indonesia memiliki hak dipilih. FIFA tak berhak mengurusi dan menetapkan larangan yang bertentangan dengan aturan dan kedaulatan wilayah, demokrasi, serta kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.

Sebelum bola panas itu bergulir, ada baiknya FIFA mencoba mencari tahu dan memahami akar permasalahan, termasuk asal mula kekisruhan dalam dunia sepak bola Indonesia. Dan tak sepantasnya pula jika organisasi dunia sekelas FIFA mengeluarkan keputusan hanya berdasarkan informasi yang terbatas. Informasi yang komprehensif rasanya tak mungkin disampaikan secara gamblang ketika Agum Gumelar sebagai Ketua KN memberikan laporan langsung kepada pengurus FIFA di Swiss. Semua pihak sepertinya sudah sepakat untuk menghargai upaya yang dilakukan oleh Agum. Namun tak arif pula jika keputusan FIFA yang kurang berdasar itu harus diterima mentah-mentah. Sudah sepantasnyalah apabila ada keputusan yang dirasakan kurang tepat bisa dinegosiasikan kembali dengan memberikan informasi yang lebih lengkap dan bukan menyerah begitu saja.

Dengan kondisi yang demikian kisruhnya, tak berlebihan jika kita juga berharap FIFA bias mengirimkan utusannya dalam bentuk tim khusus dan bekerjasama dengan AFC untuk menelaah duduk persoalan yang sebenarnya. Hingga satu dasawarsa terakhir, Indonesia yang kini berperingkat 130 dunia, memang belum bisa berprestasi walau di tingkat regional sekali pun. Namun dengan luas wilayah dan potensi yang dimiliki, Indonesia bisa menjadi lahan untuk menjual sepak bola. Bahkan seharusnya Indonesia bisa lebih baik dari Amerika Serikat atau India yang notabene sepak bolanya bukan menjadi cabang olahraga populer. Bahkan hingga tingkat Asia, Indonesia memiliki jumlah klub dan pemain yang terbesar.

Jika coba menilik sosok calon yang ditolak, Arifin Panigoro sudah memberikan sumbangsihnya yang cukup berpengaruh bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Penggagas Liga Primer Indonesia yang sempat dianggap legal oleh Nurdin Halid ini, telah menggulirkan Liga Medco sebagai bentuk kepeduliannya. LPI sendiri kini dikenal sebagai kompetisi yang mengedepankan prinsip kemandirian, profesionalisme, dan fair play. Sebagai kompetisi pesaing Liga Super Indonesia, secara resmi musim perdana LPI telah bergulir sejak 8 Januari 2011. Sementara sosok Nirwan D Bakrie lebih dikenal dengan dukungannya dalam pengiriman sejumlah tim ke beberapa negara sebagai bentuk dukungan raihan prestasi tim nasional.

Memang ada benarnya bahwa untuk mereformasi sepak bola di Indonesia tak harus menjadi Ketua Umum PSSI. Dari luar PSSI pun, dukungan itu bisa dilakukan. Walau begitu, mumpung bola panas itu sedang digodok, ada baiknya diberikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua calon yang memenuhi syarat dan tanpa cela, bisa membuktikan komitmennya dalam membangun organisasi dan dunia sepak bola Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s