Akhirnya PSSI Merangkul LPI



“LPI adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Ini harapan masyarakat. LPI sendiri sudah mengikuti visi-misi FIFA dan AFC,” ujar Juru Bicara LPI, Abi Hasantoso.

Tanggal 19 April 2011, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) genap berusia 81 tahun. Tak ada perayaan khusus. Namun dalam tubuh PSSI telah terjadi perubahan yang patut dicatat dalam sejarah sepak bola di Tanah Air. Dibentuknya Komite Normalisasi oleh institusi sepak bola dunia, FIFA, menandai babak baru jalannya struktur organisasi PSSI yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan berbagai kalangan.
Salah satu keputusan Komite Normalisasi (KN) yang dipimpin oleh Agum Gumelar adalah dirangkulnya Liga Primer Indonesia (LPI). Keputusan tersebut tentu saja disambut gembira oleh stake holder sepak bola Indonesia. Salah satu keputusan FIFA menyangkut kondisi kisruh di tubuh PSSI adalah memberikan dua opsi yang terkait dengan keberadaan LPI, yaitu merangkul atau menghentikannya. Dalam keterangannya kepada pers di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Senin (11/4), Agum Gumelar menjelaskan keputusan Komite Normalisasi menyangkut LPI. “Kita mengakomodir (LPI). Rangkaian aktivitas LPI di bawah PSSI melalui Komite Normalisasi,” kata Agum saat itu.
Pihak LPI sendiri tentu saja menyambut baik dan menilai tepat keputusan Komite Normalisasi yang mengizinkan kompetisi LPI yang mengusung kemandirian, profesionalisme, dan fair play tetap berlangsung. Juru Bicara LPI Abi Hasantoso kembali memaparkan bahwa kehadiran LPI didasari visi dan misi FIFA dan AFC yang dituangkan dalam FIFA For the Good of the Game dan AFC Professional League Committee. “LPI adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Ini harapan masyarakat. LPI sendiri sudah mengikuti visi-misi FIFA dan AFC,” ujar Abi Hasantoso.
Munculnya Komite Normalisasi merupakan sejarah terburuk dalam sepak bola Indonesia. “Ini pertama kalinya FIFA mengintervensi sepak bola Indonesia, karena FIFA tidak percaya dengan pengurus PSSI yang sebelumnya. Dari sebutannya saja Komite Normalisasi. Itu membuktikan bahwa FIFA menganggap sepak bola kita tidak normal. Ini sangat disayangkan. Kenapa FIFA harus sampai campur tangan,” kata Abi.
Pengamat sepak bola dan mantan pemain tim nasional Bob Hippy pun mengakui bahwa LPI telah membawa perubahan dalam dunia sepak bola di Indonesia. “Kompetisi LPI sendiri membawa sejumlah perubahan. Terutama sepak bola profesional tidak tergantung lagi dengan dana APBD. Kompetisi sebelumnya (LSI) memang sudah memiliki rencana itu. Tiap klub yang ada diatur oleh PT (perusahaan), tapi sejauh ini profesionalisme di LSI masih sebatas wacana saja,” ujar Bob mengenai keunggulan LPI.
Selain tidak ada ketergantungan kepada dana APBD, keberadaan LPI untuk mempercepat pertumbuhan liga sepak bola di Indonesia menjadi industri. “Kami senang dengan keputusan Komite Normalisasi. Buat kami yang terpenting adalah menjaga komitmen untuk menggelar kompetisi yang kredibel agar bisa mencetak pemain-pemain muda berbakat bagus,” kata Abi menambahkan.
Keputusan penting Komite Normalisasi itu juga dinilai sebagai keputusan bijak oleh berbagai pihak. Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar juga dianggap sangat memahami kondisi persepakbolaan nasional saat ini. Pelatih Persibo Bojonegoro Sartono Anwar menilai keputusan yang diambil Komite Normalisasi memang harus demikian. Menurut pelatih klub kebanggaan masyarakat Bojonegoro yang sebelumnya bermain di kompetisi LSI, kehadiran LPI harus dirangkul demi kepentingan nasional. “Kalau saya sebagai pelatih tak ada kepentingan. Bagaimana caranya? Biar ahlinya yang menentukan,” ujar Sartono. “Kita harus berterima kasih kepada LPI karena berhasil melakukan reformasi sepak bola,” sambung Sartono Anwar.
Soal kelanjutan kompetisi musim berikutnya, pihak LPI tetap bergeming dengan keputusannya. “LPI harus jalan terus karena ini amanat Kongres Sepakbola Nasional 2010 di Malang,” kata Abi menegaskan.
Dengan dirangkulnya LPI oleh PSSI, bisa jadi peluang para pemain yang bermain di klub peserta LPI untuk membela tim nasional akan semakin terbuka. Pemain yang berkiprah di LPI seperti Irfan Bachdim, Kim Kurniawan (Persema Malang), Andik Vermansyah, dan Rendy Irawan (Persebaya 1927) dinilai oleh sejumlah pihak layak untuk memperkuat tim nasional. Bahkan Irfan Bachdim telah ikut membela tim nasional di ajang Piala AFF, Desember tahun lalu. Namun setelah kompetisi LPI bergulir, Irfan Bachdim justru ditolak PSSI untuk memperkuat timnas dengan alasan mengikuti kompetisi yang tidak diakui PSSI. Bahkan Irfan sempat menolak ketika diminta untuk pindah klub agar bisa membela timnas. Sejumlah pemain yang berkiprah di LPI memang sempat dilirik dan digadang-gadang bisa membela timnas, termasuk Andik Vermansyah. Andik mengaku sangat senang dengan keputusan Komite Normalisasi, karena dengan demikian pemain LPI bisa memperkuat timnas. “Saya kurang tahu peluangnya sebesar apa. Yang penting ketika dipanggil ikut seleksi, saya bisa menampilkan yang terbaik. Kalau tidak lolos, tidak masalah. Saya tak mau memaksakan diri harus lolos,” ujar Andik Vermansyah.
Tak hanya Andik, Kim Kurniawan pun menanggapi positif. Dengan PSSI merangkul LPI, Kim menganggap tidak ada lagi masalah. “Saya senang jika pemain LPI juga boleh ikut timnas. Dengan pemain seperti Irfan dan Andik, timnas Indonesia pasti lebih kuat. Di timnas Indonesia, pemain paling bagus harus masuk,” ujar Kim bersemangat.
Soal hak pemain LPI memperkuat tim nasional, banyak pihak yang mendukungnya. “Kita ingin Indonesia bisa lolos lagi ke Piala Dunia seperti pada tahun 1938. Kita yakin karena Indonesia sebenarnya punya pemain bagus. Sebetulnya seluruh anak bangsa yang punya potensi memang berhak membela timnas,” kata Abi lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s