Magnet LPI di Layar Kaca


“Ratingnya mencapai dua digit, belasan persen. Jumlah tersebut cukup bagus bila dibandingkan dengan tayangan di teve lain pada jam yang sama. Rating LPI juga lebih bagus daripada program kami sebelumnya pada jam dan hari yang sama sebelum adanya LPI.”
-Gufron Syakaril, Humas Indosiar
__________

Televisi kini memang menjadi media paling ampuh dengan berbagai macam tayangannya. Pemirsanya pun terbius. Dan sepak bola sebagai olah raga paling populer di dunia, menjelma menjadi salah satu tayangan televisi paling berpengaruh. Tak peduli siaran langsung, tunda, atau dalam versi highlights pertandingan sekali pun. Ya, tayangan sepak bola telah menjelma menjadi hiburan favorit.
Maraknya liga-liga sepak bola kelas dunia di Eropa seperti di Inggris, Spanyol, dan Italia, tak lepas dari peran televisi. Tayangan televisi pun kini menjadi lahan bisnis yang menggiurkan, sekaligus menopang popularitas liga yang bersangkutan, termasuk klub, pemain, pelatih, dan tentu saja suporter fanatik.
Kehadiran Liga Primer Indonesia (LPI), yang digagas Gerakan Reformasi Sepak Bola Nasional Indonesia (GRSNI), ditargetkan ikut menciptakan industri sepak bola di Indonesia. Salah satunya adalah lewat hak siar yang keuntungannya akan langsung dirasakan oleh semua klub peserta. Pada tahun pertama kompetisi LPI tercatat tiga stasiun televisi langsung menjadi mitra kerja resmi. Selain, Indosiar dan Trans7, mulai April ini rencananya B-Channel turut menjadi pemegang hak siar pertandingan-pertandingan LPI.
Menurut pengamat ekonomi Dr. Aris Yunanto, sepak bola sebagai industri yang menguntungkan mempunyai prospek yang besar. Karena masyarakat Indonesia memiliki fanatisme besar terhadap sepak bola. “Industri sepak bola di Indonesia itu sangat mungkin. Dalam industri, asalkan ada barang yang bisa dijual, bisa mendatangkan keuntungan. Nah, yang dijual di LPI adalah kompetisinya,” ujar Aris Yunanto yang juga pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Kepala Inkubator Bisnis Direktorat Kemitraan dan Inkubator Bisnis UI.
Soal menjual, tampaknya pihak stasiun televisi sudah paham betul untung ruginya. Indosiar sebagai stasiun televisi pertama yang membeli hak siar LPI, perlahan sudah mulai mendapatkan keuntungan lewat sejumlah kontrak iklan. Hal itu diakui oleh Humas Indosiar Gufron Sakaril menanggapi aspek bisnis Indosiar yang menyiarkan laga kompetisi LPI.
Menurut Gufron, saat ini rating share siaran langsung LPI cukup memuaskan. “Ratingnya mencapai dua digit, belasan persen. Cukup bagus bila dibandingkan dengan tayangan di teve lain pada jam yang sama. Rating LPI juga lebih bagus daripada program kami sebelumnya pada jam dan hari yang sama sebelum adanya LPI,” ujar Gufron.
Namun ada yang menuding tayangan sepak bola mengakibatkan menurunnya jumlah penonton di stadion. Sementara di sisi lain, hak siar televisi dalam industri sepak bola semakin mahal saja. “Tidak juga. Asalkan klub sudah memiliki suporter yang fanatik, hal itu tidak akan mempengaruhi dan penonton akan tetap datang ke stadion mendukung timnya. Sedangkan yang tidak sempat ke stadion, bisa melihatnya di TV,” ujar Aris Yunanto menambahkan.
Tayangan LPI di Indosiar rutin hadir setiap pekan pada hari Sabtu dan Minggu pukul 15.00 WIB. Sementara menyangkut kerjasama dengan LPI, Kepala Departemen Produksi Trans7 Andi Chairil mengakui kalau pihaknya baru menjalin kerjasama setelah kompetisi berjalan beberapa pekan. Berbeda dengan Indosiar, siaran langsung di Trans7 rating share-nya masih satu digit. “Hal ini wajar karena LPI masih baru. Klub yang terlibat di dalamnya juga banyak yang baru. LPI juga harus terus diperbaiki agar bisa menjaring lebih banyak penonton,” ujar Andi Chairil.
Kompetisi mata acara pada saat prime time Sabtu malam memang terbilang lumayan ketat. Terutama lewat tayangan pertandingan Liga Primer Inggris yang merupakan liga paling populer di dunia. Namun demikian, baik Indosiar maupun Trans7 sepakat untuk terus mendukung tumbuhnya industri sepak bola di Indonesia, sekaligus berprestasi di tingkat internasional. “Sebagai bentuk tanggung jawab moral media, kami juga ingin turut andil dalam pembinaan sepak bola nasional,” kata Andi Chairil.
Sementara pihak manajemen Indosiar sebelumnya sudah bertekad mengadakan sejumlah perubahan pada tahun 2011 ini. Salah satunya adalah dengan menayangkan sepak bola di sore hari. Alasannya? “Karena kami ingin memanfaatkan momentum Piala AFF 2010 lalu. Kami melihat bahwa masyarakat benar-benar menyukai sepak bola. Kami juga ingin berpartisipasi memajukan sepak bola Indonesia. Tak hanya itu, kami juga mendengar saran penonton yang ingin melihat tayangan sepak bola. Makanya, selain LPI, kami juga menyiarkan Serie A (Italia) dan Copa Libertadores (Amerika Selatan),” ujar Gufron Syakaril.
Tayangan sepak bola memang menjanjikan potensi keuntungan. Sebagai liga debutan, harus diakui LPI masih terus berbenah, termasuk transparansi dalam bisnis sepak bola. Juru Bicara LPI Abi Hasantoso kembali menegaskan komitmen LPI yang menerapkan asas transparansi, termasuk menyangkut kerja sama dengan pihak stasiun televisi. Yang terbaru, LPI telah menjalin kerja sama dengan stasiun televisi berlangganan B-Channel sebagai stasiun televisi ketiga di LPI. Menurutnya, LPI sudah bertemu dan berkoordinasi dengan ketiga stasiun televisi tersebut soal jadwal siaran langsung yang akan ditayangkan.
“Di LPI tidak ada monopoli. Artinya, tidak hanya buat satu televisi. Dan, nilai hak siar di LPI, setiap tahunnya bisa berubah. Itu wajar dalam bisnis. Yang jelas, nilai hak siar televisi yang diperoleh LPI jauh lebih tinggi dibanding kompetisi mana pun di Indonesia,” ujar Abi. Seperti diketahui, kompetisi liga lain nilai kontrak hak siar televisinya hanya sebesar Rp 10 miliar setahun dari satu stasiun televisi.
Dampak bisnis hak siar pun akan bisa dirasakan oleh klub, pemain, pelatih, suporter, dan tentu saja pihak pengelola LPI sendiri. Saat ini pemain sepak bola adalah selebriti yang selalu diburu tanda tangannya. Bergaji tinggi dan memiliki banyak penggemar. Dengan nilai jual hak siar televisi yang tinggi, klub pun semakin royal dalam menggaji pemain. Kehidupan pribadi mereka kerap jadi pembicaraan publik. Lihat saja kisah Irfan Bachdim dengan kekasihnya, Jennifer Kurniawan. Di sinilah andil televisi ikut menumbuhkan euforia dalam bisnis olahraga, khususnya sepak bola.
Soal industri sepak bola, LPI memang memiliki potensi bisnis yang menggiurkan. Potensi tersebut pernah dirilis Repucom dalam risetnya yang mematok nilai komersial lebih dari Rp 10 miliar setiap pertandingannya atau lebih dari Rp 3 triliun dalam setiap musim kompetisi. “Dari segi bisnis, kami (Trans7) melihat ada potensi di LPI. Hanya saja, butuh kerjasama semua pihak yang terlibat agar bisa memaksimalkan potensi itu,” ujar Andi Chairil.
Sementara Humas Indosiar Gufron Sakaril berujar, peningkatan rating pertandingan LPI ikut memicu peningkatan iklan. “Kami sebenarnya berniat membuat highlight LPI, namun terbentur jangkauan wilayah yang luas. Itu butuh tim yang besar, sedangkan kami hanya menayangkan 68 pertandingan,” kata Gufron.
Ya, media televisi kini telah menjadi magnet kuat dalam industri sepak bola. Seperti juga LPI yang kini mulai membius pemirsanya lewat siaran langsung di tiga stasiun televisi.

2 thoughts on “Magnet LPI di Layar Kaca

    • Manurut Juru Bicara LPI, Abi Hasantoso, penghentian siaran langsung LPI oleh Trans7 adalah kebijakan Trans7 sendiri. Tapi ada sumber yang bilang, kebijakan itu berkait dengan rating. Namun Indosiar yang menjadi partner siaran langsung pertama sudah mulai menikmati rating yang semakin meningkat dan iklan terus bertambah. Ya, namanya juga kompetisi baru, pasti masih banyak yang harus dibenahi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s