Siapa pun Bisa jadi Fotografer


Berdasarkan idealisme dalam fotografi, terutama sejak memasuki era digital yang berkembang sangat pesat, siapa pun kini bisa menjadi fotografer. Pada dasarnya setiap orang punya karakter khas dalam membuat karya foto sebagai sebuah pesan yang ingin disampaikan kepada penikmatnya.

Foto yang baik pun kini tak lagi tergantung melulu kepada kemampuan teknis fotografer maupun kamera yang digunakan. Tetapi juga pada kejelian dan ketekunan untuk mendapatkan hasil terbaik. Bahkan pernah sebuah karya foto yang menggunakan kamera saku mampu meraih juara dalam sebuah lomba foto internasional dengan mengalahkan ribuan karya foto lainnya. Namun demikian soal karya foto yang baik memang tak perlu diperdebatkan atau dipertentangkan.

Contoh lainnya, kamera poket 2 megapixels yang digunakan seorang amatir, mampu tampil sebagai juara ketiga pada sebuah event yang digelar salah satu pabrikan otomotif di tanah air beberapa waktu lalu. Hasil jepretannya sanggup menyisihkan karya puluhan fotografer media massa. Rupanya, sudut pengambilan gambarnya sangat pas dengan tema yang diusung saat itu. Jadi faktor teknis atau kecanggihan kamera bukanlah segalanya.

Menurut S. Dwiyanthoputra, Pemerhati Fotografi, soal sudut pengambilan (angle) dalam sebuah foto bisa disebut baik tergantung cara melihat dan menilainya. Misalnya dalam pemotretan seorang model. Seorang model memang harus fotogenik, tapi belum tentu cantik atau tampan. “Yang disebut fotogenik adalah ketika secara visual sang model mampu tampil mempesona. Itu pun harus dilatih agar mampu memunculkan inner beauty-nya. Namun demikian, subyektivitas fotografer harus sedapat mungkin dihindari,” kata Dwiyanthoputra.

Sebuah karya foto yang baik juga harus memiliki kekuatan dalam dalam beberapa hal seperti penguasaan teknis fotografi, komposisi, tata cahaya, serta yang tak kalah pentingnya adalah konsep dasar yang mampu memberikan nilai tambah foto tersebut. Foto dalam bentuk data digital memungkinkan untuk diolah sesuai dengan kebutuhan. Artinya, terang Dwiyanthoputra, kreativitas dalam fotografi digital menjadi lebih luas dan leluasa untuk dilakukan. Di situ pula letak tantangan dan peluang yang menyertai perkembangan teknologi fotografi di era digital.

“Jadi, secara sederhana sebenarnya siapa pun bisa jadi fotografer,” kata Dwiyanthoputra, yang akrap disapa Ao. Seorang fotografer harus memantapkan pemahaman teknis dasar fotografi. Sehingga fotografer tidak terbata-bata secara apapun dalam bidang fotografi yang dikerjakannya. Yang pasti, teknis dasar harus benar-benar dikuasai. Itu modal utama menghasilkan foto yang baik.

Soal menyikapi sebutan bagi seseorang sebagai fotografer, tergantung bagaimana dan sejauh mana dirinya terlibat.


Foto: http://ikhsaninstitute.blogspot.com & news.sulaimaneffendi.com
Tulisan ini adalah re-posting dari pasar kreasi.com (http://www.pasarkreasi.com/news/detail/photography/122/siapa-pun-bisa-jadi-fotografer) yang ditulis oleh Nazar.

2 thoughts on “Siapa pun Bisa jadi Fotografer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s