Emosi Venesia dari Utara


Amsterdam merupakan kota terbesar di Belanda yang dijuluki “Venesia dari Utara”. Selain banyak kanal (sungai buatan) dan keindahan arsitekturnya, Amsterdam juga dikenal sebagai pintu gerbang Eropa. Tak heran jika banyak wisatawan berkunjung untuk menikmati kota kuno yang warga kotanya dikenal sangat mencintai kebebasan, budaya, dan sejarah.

Saat tiba di Amsterdam, kita langsung dimanjakan menikmati keindahan atas keberhasilan peran VOC dalam perdagangan rempah-rempah yang diperolehnya dari kepulauan di Indonesia. Musim panas merupakan iklim yang ramah untuk berkunjung. Dengan datang ke Amsterdam, berarti separuh Eropa sudah ada di depan mata. Lokasi strategis Amsterdam selalu dijadikan persinggahan utama (melting pot), selain peran Schiphol sebagai salah satu bandara tersibuk dan terbaik di dunia yang juga didukung banyaknya pilihan dan kemudahan untuk meneruskan perjalanan ke kota besar lainnya di Eropa, termasuk perjalanan darat menggunakan mobil atau kereta.

Sejak terbentuknya Uni Eropa dan diberlakukan sistem Schengen, perjalanan ke Eropa semakin mudah. Secara otomatis kita bisa berkunjung ke negara-negara anggota lainnya tanpa perlu mengajukan aplikasi visa secara terpisah ataupun mengalami pemeriksaan imigrasi saat di perbatasan antarnegara. Selain Belanda, lebih dari 25 negara sudah tergabung, di antaranya Belgia, Luxemburg, Prancis, Spanyol, Portugal, Italia, Austria, Jerman, Republik Ceko, Hungaria, Norwegia, Denmark, Swedia, Finlandia, Polandia, Yunani, Estonia, Latvia, Lithuania, Malta, Polandia, Slovakia, Slovenia, dan Swiss. Memulai perjalanan dari Belgia, ke Luxemburg atau Jerman, bisa dilakukan dalam waktu singkat. Perjalanan menuju London, Paris, Barcelona, atau Roma, dijamin lebih nyaman dan menyenangkan dengan jalan raya yang mulus dan keindahan alamnya.

Sejauh mata memandang, Amsterdam memang mengagumkan. Walau pernah mengunjunginya beberapa kali, akan selalu merasakan suasana dan emosi yang berbeda, termasuk saat menikmati tur perahu sepanjang kanal “Venesia dari Utara”. Ada sekitar seratus kanal dengan 1.281 jembatan di sekitar kota. Amsterdam juga dikenal dengan rumah terapungnya. Sayangnya, sekarang hanya tinggal puluhan rumah perahu. Tak mau kalah, pemandangan di berbagai sudut kota mengajak mata kita ke arah deretan bangunan tua berusia ratusan tahun yang khas dan unik.

Sebagai kota pertama di Belanda, Pemerintah Amsterdam dan penduduknya sangat peduli dengan pelestarian monumen. Setidaknya ada 8.000 landmark yang tidak hanya digunakan sebagai museum, tetapi juga hotel, toko, sekolah, kantor, dan bahkan tempat prostitusi. Distrik Red Light yang digambarkan The Police lewat lagu Roxanne merupakan kawasan prostitusi yang menjadi daya tarik turis paling populer. Kunjungi museum penting seperti Museum Maritim, Museum Tropis (Tropenmuseum), Nemo (Museum Sains), Museum Arkeologi Allard Pierson, Museum Tulip, Museum Vodka, museum klub sepak bola Ajax, dan Brilmuseum (museum kacamata).

Jangan lupa dengan Kalverstraat, kawasan perbelanjaan tertua dan paling populer di Belanda. Deretan toko tradisional dan modern masih menempati bangunan tua di sepanjang jalan. Namun hari mulai beranjak malam. Walau tak seromantis Venesia, atau seindah Paris atau New York sebagai metropolitan, tapi lingkungan berbeda di kota tua Amsterdam selalu menarik dikunjungi dan mengeksplorasi sudut-sudutnya yang menawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s