IPTV, Evolusi Siaran TV


Kemajuan teknologi memang telah mendominasi dan ikut mengubah cara Indriani bekerja, bahkan termasuk untuk mendapatkan hiburan. Sebagai salah satu hiburan favoritnya, televisi pun mengalami perkembangan yang signifikan. Tak hanya dari teknologi perangkatnya, tetapi kini untuk menonton televisi tak lagi secara free to air saja, melainkan bisa melalui kabel dan juga satelit. Bahkan Indriani, seorang karyawan swasta, merasakan kebutuhan yang semakin personal saja mengingat banyaknya sumber hiburan yang dibutuhkannya sebagai pekerja yang hampir 100 persen bergantung kepada layanan internet.

Begitu pula dengan kemunculan Internet Protocol Television (IPTV) yang kehadirannya di sejumlah negara maju bak gayung bersambut. Fitur video on demand dan pay per view yang menjadi ciri IPTV memang telah menjadi semacam killer aplication. Fitur-fitur IPTV tersebut memang diyakini akan membawa membawa semangat personalisasi dan kustomisasi bagi pelanggannya.

IPTV sendiri merupakan teknologi layanan terpadu dalam bentuk siaran televisi, video, audio, teks, grafik, dan data yang disalurkan ke pelanggan melalui jaringan protokol internet. Selain konten program televisi, seperti sport, news, film, dan sebagainya, pelanggan bisa menikmati konten entertainment interaktif lainnya, seperti musik, game, hingga advertising.

Semua program tersebut didistribusikan melalui suatu jaringan broadband IP network dengan tingkat keamanan tinggi dan dikelola secara akurat. Pelanggan seperti Indriani pun dapat dengan mudah mengaksesnya menggunakan terminal PC/desktop maupun pesawat televisi dengan tambahan set top box (STB).

Telkom memang menjadi perintis layanan IPTV di Indonesia. Sementara di sejumlah negara, IPTV sangat diyakini akan menjadi siaran televisi masa depan mengingat pertumbuhannya yang cepat. Bahkan dari hasil riset Multimedia Research Group (MRG) terungkap bahwa pertumbuhan pelanggan IPTV telah mencapai 45 persen pertahun.

Di sisi lain, IPTV mampu mengurangi pengeluaran pelanggan yang gemar menyewa CD atau kaset film atau lagu. Juga sangat interaktif, karena pelanggan tidak hanya menonton siaran ataupun konten pada portal IPTV, tapi juga dapat melakukan rewind, pause, bahkan recording pada konten yang diinginkan.

Soal kualitas tayangan, IPTV telah menerapkan infrastruktur dengan sistem head end yang fungsinya untuk melakukan proses encoding konten-konten broadcast television atau movie menjadi format digital video MPEG2 atau MPEG4 dan kemudian di-encapsulate sehingga dapat ditransmisikan melalui jaringan IP broadband.

Tayangan konten pun tetap berkualitas baik. Bahkan akses internet (browsing) dan IPTV dapat dinikmati dalam satu jaringan yang dimungkinkan karena layanan provider IPTV menggunakan jaringan broadband seperti Speedy yang dimiliki Telkom. Bahkan diprediksi kalau di masa mendatang popularitas TV kabel akan tergusur oleh IPTV dari pasar layanan siaran TV berbayar.

Lalu bagaimana dengan minat Telkom sebagai provider telekomunikasi terbesar dan terluas menyambut kehadiran IPTV? Telkom tampaknya sudah siap memasuki bisnis IPTV lewat upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas jaringan akses pita lebar maupun infrastruktur jaringan. “Kami berharap, infrastruktur Telkom mampu menyelenggarakan akses triple play yakni sambungan suara, data broadband, dan multimedia termasuk TV internet,” jelas Eddy Kurnia, Head of Corporate Communication PT Telkom.

Namun demikian, yang tak kalah pentingnya adalah kesiapan masyarakat menerima migrasi siaran analog ke digital. Menurut pengamat teknologi informasi Onno W Purbo, secara umum kehadiran IPTV di Indonesia akan menggembirakan semua pihak. “Saya lebih melihat dari sisi kebutuhan perangkat pemancarnya. Kalau dulu kita butuh pemancar TV yang harganya milyaran, tapi sekarang pakai server kelas-kelas 10 jutaan juga bisa kok,” kata Onno.

Walau begitu, Onno juga menyoroti kesiapan stasiun televisi dan juga providernya. Salah satunya adalah persoalan bandwidth yang di Indonesia kerap masih jadi keluhan pengguna. Menurutnya, untuk televisi membutuhkan bandwidth yang lebar, karena jika tidak, dipastikan bisa putus-putus saat menontonnya. Kalau dari sisi client (pengguna), lanjut Onno, harusnya semua sudah siap. “Kecuali biasanya biaya buat akses ke internetnya saja, maklum di Indonesia akses internet kan masih terbilang mahal,” ujar dia.

Selama ini, dari hasil survei uji coba yang baru dilakukan di Jakarta dan akan disusul kota besar lainnya, sebanyak 60 persen dari 1.900 responden memberikan respon positifnya. Sedangkan dari industri perangkat televisi, beberapa produsen seperti PT Hartono Istana Teknologi (Polytron), satu tahun terakhir telah memproduksi televisi digital, termasuk piranti STB. Manajer Produk Polytron, Eddy Ariawan pun langsung menyatakan kesiapannya. Bahkan Eddy juga mengklaim respon peminat televisi digital cukup menggembirakan. Ia yakin respon akan lebih baik saat migrasi jadi dilaksanakan.

Demikian pula dengan ZTE Coorporation dari China yang masuk peringkat pertama di Asia dan ketiga di dunia versi Frost & Sullivan (Global IPTV Equipment Market and Provider Competition Analysis), telah memberikan sinyal positif dan berencana mengembangkan IPTV di Indonesia dengan menggandeng Telkom. Hal itu sempat diungkapkan langsung oleh President of Multimedia and Terminal Product ZTE, Frank Fang, pada awal tahun 2010 lalu. “Bila sebuah rumah sudah dimasuki kabel berkemampuan IPTV, rumah tersebut tak perlu lagi berlangganan TV kabel atau satelit,” ujar Fang.

Jika sinyal sudah semakin kuat, sepertinya kehadiran IPTV tinggal menunggu waktu saja.

One thought on “IPTV, Evolusi Siaran TV

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s