Bapakku Tidur


Assalamualaikum Wr Wb,

Terima kasih buat semua doa yang disampaikan terkait wafatnya bapak saya, Sabtu, 7 Agustus 2010. Alhamdulillah, semua prosesi berjalan lancar dan dimudahkan oleh Allah SWT hingga saat pemakaman di TPU Malaka, Pondok Kelapa, Minggu, 8 Agustus 2010. Mohon maaf jika info awal yang saya sampaikan kurang lengkap, terutama soal alamat rumah duka. Mohon maaf pula jika saya tidak sempat membalas begitu banyaknya komen dan pesan di inbox fb, serta email di milis, termasuk incoming sms dan voice di ponsel.

Buat saya dan keluarga besar, tak ada yang menyangka kepergian bapak saya begitu cepat. Terakhir kali bertemu satu minggu yang lalu saat hadiri haul di Depok, almarhum tak banyak bicara dan hanya sedikit memuji masakan nasi kebuli istri saya. “Akhirnya kesampaian juga ya ngerasain nasi arab,” katanya.

Bahkan satu minggu terakhir, beliau selalu mengajak ibu saya untuk mengunjungi adik-adiknya, termasuk adik ibu saya. Sabtu, 7 Agustus 2010, beliau dengan sedikit memaksa mengajak ibu ke kantor pos di Jatikramat untuk membayar telepon dan mengambil pensiun, termasuk membeli sirup kesukaannya. Hari itu bapak terlihat lebih bersemangat dengan merapikan semua tanaman di halaman dan mencat tembok pagar rumah. Bahkan sore harinya, saat melihat isi kulkas, beliau minta kepada adik saya untuk menggorengkan tahu isi yang semuanya dihabiskannya.

Saat adzan maghrib, seperti biasa bapak sholat di masjid, lalu diikuti dengan makan malam di rumah. Namun ketika usai kumandang adzan Isya, ibu sempat bertanya kenapa tidak ke masjid. “Kita sholat berjamaah aja di rumah ya?” ujar Bapak kepada Ibu. Ibu hanya menuruti saja. Usai sholat Isya, ibu langsung istirahat dan bapak melanjutkan mengaji. Setelah mengaji, bapak pun menyusul istirahat ke kamar. Sempat berujar, “Bu, hidup kita kayaknya bahagia banget ya….”. Ibu mengisahkanbagian ini cukup detail kepada saya.

Hanya beberapa menit, bapak bangun dan keluar kamar mengajak ibu menuju bale-bale di ruang teve. Bapak sempat mengeluhkan seperti sulit bernafas. “Itighfar, ya istighfar,” ujar Ibu. Ibu bilang bapak sempat beristighfar tiga kali, lalu kalimat dua syahadat dua kali. Hingga akhirnya hanya mampu menyebut Allah hampir tiga kali.

Saya yang saat itu sedang menjemput anak dan istri, sempat ditelepon adik saya, bahkan saya hanya menyarankan segera dibawa ke dokter saja. Namun, begitu ditelepon kedua kalinya, saya merasa agak gugup. Saat itu pula saya mencoba menghubungi adik paling bungsu untuk segera menelepon ibu dan memastikan kondisinya, jika perlu datang langsung ke Jatibening.

Sampai di rumah, kembali telepon berdering dan langsung diterima istri saya. Entah apa yang didengarnya, tapi tiba-tiba saja tangis dan airmatanya tumpah tak tertahan. Begitu juga dengan anak saya yang menagnis sejadi-jadinya. Saya jadi gamang dan hanya terpaku di depan komputer yang masih menyisakan pekerjaan untuk diselesaikan. Sampai akhirnya saya sadar kalau bapak sudah dipanggil oleh Allah SWT. Secepat itu pula jemari saya menari di atas kibor memberi kabar ke beberapa milis dan status di fesbuk. Saya tidak tahu apakah mudah dipahami atau tidak, dan sudah lengkap atau belum info yang saya sampaikan. Sempat pula saya hubungi teman untuk meminta pengunduran deadline satu atau dua hari untuk penulisan edisi kemerdekaan yang seharusnya diselesaikan hari Minggu.

Masih dalam keadaan bingung, saya sempat cek kondisi lalu lintas yang sejak Sabtu petang dilanda macet yang berkepanjangan. Sampai akhirnya saya putuskan istri dan anak berangkat lebih dulu mobil diantar oleh ipar, sementara saya memutuskan menggunakan sepeda motor. Pelan tapi pasti, saya pun mulai menyusuri jalan dengan kecepatan rendah. Air mata tak henti mengalir. Nyaris tak ada emosi sepanjang jalan. Bayangan bapak seperti menemani selama perjalanan menuju Jatibening. Kemacetan parah memang terjadi di Margonda, Pasar Minggu sampai Pancoran, dan Kalimalang (lalu-lintas sempat dialihkan lewat Pondok Bambu). Padahal saat itu waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul 22.00 dan tiba di Jatibening sekitar pukul 23.00.

Jejeran mobil sudah memenuhi kiri dan kanan jalan menuju rumah. Sejumlah pelayat nampak ada di depan rumah dan sebagian lagi berbincang di garasi. Ternyata saya tiba lebih dulu daripada istri dan anak saya. Saya langsung masuk ke dalam rumah dan memeluk ibu. Tak ada air mata di wajah ibu. Sepertinya ibu sudah sangat siap dan ikhlas melepas kepergian bapak yang menemaninya selama setengah abad. Hanya wajah kakak dan adik yang terlihat sembab. Sempat bersalaman dengan dua teman SMA, Suherman dan Yuli. Pelan saya ambil Surah Yassin dan membacanya. Sambil berdoa, saya mencoba melepaskannya seikhlas mungkin. Sempat saya pandangi wajah almarhum yang lebih terlihat layaknya sedang tertidur.

Selebihnya, saya dan adik bungsu coba berkoordinasi dengan RT dan pengurus Masjid, serta Yayasan Kamboja. Sampai akhirnya beberapa teman semasa SMP, SMA, dan kuliah sudah mulai berdatangan. Juga beberapa sanak keluarga. Ya, banyak yang kehilangan sosok seorang ayah, suami, sahabat, sesepuh, dan pastinya sosok yang jarang bicara tanpa tujuan. Jika ditanya, saya akan menjawab bahwa bapak menjadi orang yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidup saya. Sikap, ketelitian, keuletan, suka berorganisasi, dan silaturahim, serta pemerhati Bahasa Indonesia, seakan melekat dalam diri saya.

Hingga akhir hayatnya, tak ada riwayat kesehatan yang serius dideritanya. Fisiknya terbilang tangguh. Di usia awal 70 tahunan, beliau masih sangggup bepergian jauh dengan mengemudikan mobil sendiri hingga ke luar kota. Sampai akhirnya sekitar dua bulan lalu mengakui bahwa fisiknya sudah jauh menurun dan meminta mobil dijual saja. Jika adik bungsu tak sempat mengantar, beliau bersama ibu lebih memilih naik angkutan umum atau taksi untuk bepergian.

Sekali lagi terima kasih buat keluargaku yang sudah ikhlas melepas kepergian Bapak. Juga kepada sanak famili, warga perumahan Jatibening Dua, serta pihak-pihak yang sudah banyak membantu doa dan materi. Mohon maaf pula kepada kerabat dan kolega yang sempat tercecer mengingat banyaknya mobil pengantar yang mengiringi ke pemakaman yang penuh dengan peziarah jelang Ramadhan.

Terima kasih buat teman-teman, kerabat, kolega, yang sudah memberikan doa via sms, milis, maupun fesbuk yang tidak sempat saya balas. Moga doa yang dikirimkan dijabah oleh Allah SWT. Dan Insya Allah, amal dan ibadah almarhum diterima Allah SWT dan keluarga besar kami diberikan kekuatan iman dan ketaqwaan. Amin ya robbal alamin.

Wassalamualaikum Wr Wb

Bapakku

2 thoughts on “Bapakku Tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s