Revolusi Budaya lewat MRT


Mimpi Jakarta sebagai ibukota Negara untuk memiliki moda transportasi massal nampaknya akan segera terwujud. Melalui proyek pembangunan mass rapid transportation (MRT) yang sudah dipastikan merupakan program prioritas nasional dan masuk dalam salah satu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta. Sumber pendanaannya berasal dari pinjaman lunak Japan International Cooperation Agency (JICA). Total pendanaan proyek MRT sampai pembangunan tahap 3 diperkirakan mencapai 120,017 miliar yen yang akan disalurkan melalui empat loan agreement. Dari total pinjaman itu sebesar 42 persen akan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat yang akan diteruskan kepada Pemprov DKI Jakarta sebagai hibah. Sedangkan sisanya sebesar 58 persen akan diteruskan pemerintah pusat kepada Pemprov DKI Jakarta sebagai terusan pinjaman.
Pembangunan MRT di Jakarta ini memang sudah ditetapkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian sebagai proyek prioritas nasional. Itu sebabnya yang bertindak sebagai peminjam ke pihak JICA adalah pemerintah pusat. Menurut Saritaon Siregar dari Direktorat Sistem Manajemen Investasi, Departemen Keuangan RI, dalam proses awalnya memang sempat terjadi beberapa masalah, terutama dalam hal koordinasi antarinstansi pemerintah yang terlibat. Secara sederhana, sebenarnya masalah awalnya terletak pada soal koordinasi di antara Departemen Perhubungan, Pemda DKI, Departemen Keuangan yang dikoordinir oleh Menko Perekonomian. Lalu dicari founding yang paling visible dengan memperhitungkan daya beli penduduk DKI Jakarta. Muncullah suatu pemikiran tentang berbagai asumsi. Termasuk juga soal asumsi tarif yang datar selama beberapa tahun operasional. “Itu adalah sesuatu yang tidak benar. Juga jumlah penumpangnya dengan asumsi setiap hari harus dipenuhi sekian ribu penumpang. Kalau tidak tercapai, itu harus disubsidi oleh Pemda dan itu masih pertanyaan apakah sesuai dengan kodisi di lapangan,” ujar Saritaon.
Sampai akhirnya Menko menetapkan porsi 42:58. Artinya, 42 persen akan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat yang akan diteruskan kepada Pemda DKI Jakarta sebagai hibah. Sedangkan sebesar 58 persen akan diteruskan pemerintah pusat kepada Pemprov DKI Jakarta sebagai terusan pinjaman. Untuk koordinasi, lanjut Saritaon, sepertinya mudah saja untuk diucapkan, tapi sulit untuk memutuskan pelaksana tendernya. “Jadi jangan sampai berpikir bahwa Pemda mau menjamin. Artinya harus diketahui berapa besarnya jika mau disubsidi,” tandasnya.
Saritaon pun juga mengingatkan bahwa membangun feeder-nya bukanlah hal mudah seperti yang dibayangkan. Mulai dari lahan parkir, stasiun, hingga faktor keamanannya harus diperhatikan betul. “Dan yang terpenting adalah akan terjadinya revolusi budaya. Hal itu bisa dilihat dari penumpang busway mulai dari cara antrenya. Jika nanti MRT sudah beroperasi, calon penumpang harus membiasakan diri antre,” ungkapnya. Ya, budaya antre memang belum melekat di masyarakat kita. Belum lagi kebiasan merokok di ruang tunggu yang masih lekat dan perilaku membuang sampah yang masih minim. Yang pasti masih banyak aspek yang harus dibenahi sejak dini.
“Kalau soal teknis dan ilmu pengetahuan, itu masih bisa dipelajari. Tapi yang sulit itu menyangkut sosiologi dan psikologi. Mulai dari beli tiket saja bisa dilihat bagaimana resistensi perilaku penumpangnya,” lanjutnya. Bahkan banyak masyarakat dan kalangan birokrasi yang sangat menantikan proyek transportasi modern tersebut bisa segera dirasakan manfaatnya. Beberapa pihak juga mencoba mengingatkan agar proyek ini jangan terlalu diekspos secara berlebihan untuk menghindari ekspektasi yang bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan. “Yang penting nafasnya harus satu irama, yaitu MRT harus jadi!” tandasnya lagi.

Salah satu dampak langsung yang akan dirasakan masyarakat terkait dengan proses pembangunan MRT adalah kemacetan yang diperkirakan akan meningkat tajam. Untuk kawasan Dukuh Atas mungkin masih bisa diatasi. Tapi bagaimana dengan ruas jalan Fatmawati yang sehari-harinya selalu mengalami kemacetan, terutama di pagi dan sore? Pada saat jam sibuk, ruas jalan Fatmawati hanya bisa ditempuh dengan kecepatan maksimum 10 kilometer perjam. Dan sangat tidak mungkin jika pengerjaannya hanya dilakukan malam hari. Saritaon pun mengungkapkan perlunya tenaga ahli, khususnya bidang komunikasi massa untuk membantu mensosialisasikannya. Bisa dipastikan aka nada ketidaksabaran masyarakat menanti mulai beroperasinya MRT. Makanya sangat diperlukan sosialisasi berbagai tahapan pembangunan MRT melalui aktivitas di berbagai media massa dan memberikan awareness kepada masyarakat.
Untuk mengurai kemacetan yang akan timbul, bisa dilakukan beberapa hal seperti mulai meningkatkan transportasi umum (feeder) mulai dari kawasan Cinere. Demikian pula dengan memberikan jalan alternatif.
Tentang satu nafas bahwa MRT harus terlaksana, itu dipicu oleh kebutuhan ibukota Jakarta terhadap transportasi missal yang memadai. MRT bisa menjadi simbol berbagai kebutuhan mulai dari lingkungan hidup, kecepatan, efisiensi, mobilitas, dan akhirnya berujung pada kenyamanan. Sejak dulu MRT sudah menjadi bahan pemikiran. Namun menyangkut skala prioritas yang lebih tinggi, busway pun menjadi prioritas lebih dulu, bahkan dengan studi banding ke Bogota.
Soal Jepang yang jadi pilihan, itu adalah yang terbaik yang dipilih pemerintah. Selain pertimbangan finansal, juga memperhatikan teknologi, termasuk aspek hubungan antara kedua pemerintahan (G to G, government to government). Saritaon pun bermimpi penumpang berdasi akan bisa menikmati MRT dengan tarif di atas busway. Yang patut disayangkan, operasional busway belum mampu mengubah kultur masyarakat untuk ikut merawat dan rasa memiliki yang rendah. Dan itu mengingatkan fasilitas umum seperti telepon umum yang “hancur” oleh tangan jahil. Ya, kultur masyarakat tentang transportasi massal memang perlu dibangun sejak dini. Untuk mendisiplinkan masyarakat memang tak bisa dengan upaya yang sederhana atau semudah membalik telapak tangan.
Selain menjadi upaya pemerintah untuk mengatasi kemacetan di Jakarta, keberadaan MRT tentu saja sangat dinantikan berbagai kalangan masyarakat yang menginginkan transportasi cepat dan bebas dari kemacetan. Kemungkinan dampak lain dari kehadiran MRT ini adalah akan mengubah gaya hidup masyarakat Jakarta. Sehingga bisa dipastikan ke depannya MRT akan menjadi new lifestyle yang mengubah gaya hidup dan warna Jakarta. Selain menjadi gaya hidup yang baru bagi masyarakat Jakarta, MRT juga akan menjadi sarana transportasi yang tak hanya cepat dan bebas hambatan macet, namun juga transportasi yang terjangkau dari sisi biaya.
Keberadaan MRT di Jakarta memang menjanjikan harapan besar, terutama untuk tujuan mengurangi kemacetan. Dengan kapasitas angkut penumpang setiap gerbongnya yang mampu diisi hingga 180% pada saat jam sibuk, setidaknya dapat menampung 250 orang per gerbong. Dalam satu rangkaian MRT yang terdiri dari enam gerbong untuk sekali jalan, bisa dikalkulasi jumlah penumpang yang bisa diangkut dalam sekali jalan. Belum lagi jika saat operasionalnya sudah berjalan normal, MRT diyakini akan menjadi angkutan massal paling ideal di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s