Cara Sederhana Mengenal Bangsa


Seberapa jauh pemahaman Anda soal sejarah, takkan menjadi soal. Bahkan kerap muncul berbagai versi sejarah yang justru membuat siapapun menjadi lebih dewasa menyikapinya. Itulah yang selalu mengemuka dalam setiap aktivitas Sahabat Museum yang berbass di Jakarta. Aktivitas komunitas yang biasa disingkat Batmus yang diprakarsai Ade Purnama ini sejak awal memang mencoba mewadahi masyarakat pecinta museum Indonesia menjelajahi berbagai museum dan lokasi bersejarah di Indonesia dengan tujuan untuk melestarikan budaya dan mengenalkan sejarah kepada masyarakat umum.
Menurut pria alumnus Sastra Belanda Universitas Indonesia ini, Sahabat Museum memulai geliatnya pada tahun 2002. Peminatnya pun setiap tahun menunjukkan peningkatan yang signifikan. Terbukti sekitar 300 hingga 500 orang peserta dalam setiap event yang digelar di Jakarta dan hampir 100 peserta yang terbang bersama Sahabat Museum untuk mengunjungi lokasi di berbagai lokasi lainnya di Indonesia. Cara kerja Adep, sapaan akrab Ade Purnama, memang mirip biro perjalanan yang mengakomodir berbagai kebutuhan peserta. Uniknya, semua pekerjaan itu mampu ditangani Adep seorang diri dengan bekal dari pengalamannya.
Sebagai pendiri, penggerak, dan penggagas Sahabat Museum, Adep tak mengalami banyak kesulitan untuk memulainya. Terutama didukung oleh kesukaannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sejarah seperti sejarah Jakarta dan terus menggali riwayat tempo dulunya. Pemikirannya juga sangat sederhana. Usai menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di Maroubra High School, Australia dan lulus kuliah dari UI, Adep hanya memiliki niat untuk memanfaatkan ilmu yang sudah dimilikinya dengan kemampuan membaca bahasa Belanda yang sangat membantunya memahami berbagai dokumen sejarah. Mulailah Adep menggali sejarah kota Jakarta.
Adep mengaku banyak dibantu peran orang tuanya yang sejak kecil telah mengenalkan kawasan kota tua Jakarta. “Saya sempat bertanya sendiri, kenapa hal itu tidak pernah sedikit pun diajarkan di bangku sekolah? Saya mulai riset sendiri dengan baca koran dan majalah, termasuk ke perpustakaan nasional dan arsip nasional, serta referensi majalah-majalah tempo dulu,” kisah Adep sambil mengutarakan minimnya minat anak muda di Jakarta dan kota-kota besar lainnya menggali sejarah.
Yang membuat Adep prihatin dan sekaligus membanggakan adalah semakin banyaknya masyarakat yang mengikuti kegiatan Sahabat Museum dengan alasan ingin mengenal Indonesia melalui sejarah. Adep pun mencoba mengamati bahwa selama ini faktanya pemerintah belum bisa dikatakan cukup serius untuk menggarap hal-hal yang berhubungan dengan sejarah. Padahal, lanjut Adep, di berbagai wilayah di Indonesia memiliki lokasi yang bernilai sejarah sekaligus sebagai tujuan wisata yang indah dan tentu saja sangat potensial.
Untuk menggulirkan aktivitasnya secara rutin, Adep pun membuat mailing list SahabatMuseum@yahoogroups.com dan di jejaring sosial facebook yang hingga kini masing-masing telah dipenuhi lebih dari 2.000 member. Demikian pula dengan Plesiran Tempo Doeloe yang dibuatnya untuk menampung aspirasi minat peserta. Sahabat Museum pun selalu melakukan polling dan juga angket untuk mengakomodasi minat peserta. Secara rutin bisa dikatakan rata-rata setiap bulan selalu ada aktivitas kunjungan. Dalam kunjungannya ke berbagai museum dan lokasi lainnya, selain Adep, komunitas Sahabat Museum terkadang juga dipandu oleh ahli sejarah profesional, baik dari dalam maupun luar negeri dengan memanfaatkan luasnya pergaulan Adep sendiri, termasuk perjalanannya ke beberapa negara seperti Belanda . Seperti sejarawan Belanda Max De Bruijn yang pernah memandu saat kunjungan ke kawasan kota tua di Jakarta seperti Museum Bank Mandiri.
Adep memang tak sendirian dalam menjalankan aktivitas Sahabat Museum-nya. Koordinasi lewat dunia maya pun dimanfaatkannya secara optimal. Tak heran jika setiap acara selalu dibantu panitia hasil koordinasinya lewat email. Bahkan Adep tak sungkan mengakui kalau dirinya tak memiliki kantor atau sekretariat yang permanen. Semua dilakukannya mengalir saja. “Kantor saya selalu mobile dan adanya hanya di laptop dan handphone. Jadi di mana pun saya berada, saya bisa tetap terhubung untuk berkoordinasi dan menjalankan agenda Sahabat Museum,” ujar Adep.
Untuk lebih mencairkan suasana dalam komunitas Sahabat Museum, Adep juga menggelar Pintong (Pindah Tongkrongan) lewat acara nonton hemat (Nomat) atau acara lainnya yang disesuaikan dengan kondisi. Tak hanya usia dewasa, kalangan remaja dan lanjut usia pun memandang Sahabat Museum sebagai aktivitas positif yang perlu mendapat dukungan. Walau begitu, Adep mengaku tak mendapatkan fasilitas khusus dari birokrasi. Semua aktivitas Sahabat Museum dijalani Adep sesuai dengan ketentuan yang ada, termasuk soal harga tiket dan ijin ke pihak yang berwenang.
Untuk memudahkan aktivitas Sahabat Museum, Adep memanfaatkan Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia yang diikutinya. Berbagai referensi lokasi tujuan selalu dilakukan riset terlebih dahulu. Asiknya lagi, lanjut Adep, siapa pun bisa gabung di Sahabat Museum. “Tak ada keanggotaan dan iuran khusus di Sahabat Museum. Siapa saja yang suka dengan sejarah dan suka jalan-jalan bisa gabung di sini. Soal biaya, itu hanya terkait dengan acara kunjungan saja. Cukup konfirmasi lewat email atau telepon, dan langsung diurus administrasinya. Jadi sederhana saja kok,” katanya lagi.
Selain mengeksplorasi sekitar 60 lokasi sejarah di Jakarta dan sekitarnya, Sahabat Museum juga sudah melakukan perjalanan ke kawasan Jawa Barat (banten, Bogor, Bandung, Sumedang, Cirebon), Jawa Tengah (Tegal, Pekalongan, Slawi, Semarang, Ambarawa, Ungaran), Sumatera Barat (Padang, Sawahlunto), Sumatera Utara (Medan, Danau Toba), Sulawesi Utara (Manado, Bunaken, Tomohon, dan Tondano), Maluku (Banda Neira), Sulawesi Selatan (Makassar, Tana Toraja), dan Jawa Timur (Malang, Mojokerto, Surabaya). Yang terbesar adalah saat kunjungan Sahabat Museum Desember lalu ke Istana Merdeka yang dikuti sekitar 1.000 peserta. Tak hanya wisata sejarah, sahabat Museum juga mencoba mengenalkan sejarah kuliner setempat yang akan memberikan nilai tambah dan memperluas wawasan peserta.
Sahabat Museum bisa dikatakan pilihan hidup lajang kelahiran Bali, 20 Agustus 1976. Dengan kepercayaan diri yang dimilikinya, Adep selalu tertantang untuk terus kreatif. Semuanya memang dilakukannya sendiri, termasuk mengiklankan diri sendiri. “Saya selalu berupaya untuk konsisten dengan pilihan saya. Dengan begitu, hasilnya bisa akan memberikan kepuasan. Apalagi saya tidak pernah mengandalkan financial dan lebih merasa memiliki kemampuan, kekuatan dan juga kemauan,” tambahnya.
Itu pulalah yang mendorong Adep menambah ilmunya dalam bidang desain grafis dan fotografi. Bahkan kerap diundang sebagai pembicara tamu dalam acara yang berkaitan dengan sejarah. Ya, lewat sejarah memang bisa lebih mengenal perjalanan bangsa sendiri dan tentu saja menyikapi perbedaan dengan lebih arif. Itu pula yang selalu ditekankan Adep tentang komunitas Sahabat Museum untuk mengajak siapa saja agar bisa lebih bijak lewat sejarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s