Butet Kartaredjasa, “Anugerah yang tak terelakkan”


Pria berkaca mata minus ini selalu tampil sederhana, sesederhana pemikiran dan jalan hidupnya. Lahir di Yogyakarta, 21 November 1961, Butet Kartaredjasa mengaku sangat bersyukur bisa menikmati atmosfer kesenian dalam lingkup keluarga besar ayahnya, Bagong Kusudiardja, yang dikenal sebagai pelukis dan koreografer. “Itu jadi salah satu anugerah yang tak terelakkan,” akunya kepada penulis.


Menyangkut kegiatan kesenian, Teater Gandrik telah memainkan naskah karya Ayu Utami bertajuk “Sidang Susila” yang menggambarkan situasi masyarakat saat Rencana Undang-undang Antipornografi dan Antipornoaksi disahkan. “Itu sangat kocak, tapi nggak ada yang berani jadi sponsornya. Jadi yang seharusnya mentas pertengahan Juni 2006, jadi di-cancel tanggalnya,” ingat Butet.
Butet telah memainkan monolog “Matinya Tukang Kritik” di Jakarta, 25 Agustus 2006. Monolog tersebut juga berkeliling di delapan kota di Sumatera dan empat kota di Jawa Timur.
Diakuinya kalau dirinya tidak pernah berniat membangun citra. “Saya hanya mengalir, mengikuti kata hati dan berproses. Tapi rupanya tanpa sengaja terposisikan oleh masyarakat. Saya sendiri tak pernah punya motif memposisikan diri saya seperti itu. Untuk dikenal sebagai tukang monolog, itu juga bukan niat saya. Saya adalah actor teater, itu saja,” katanya lagi. Menurut filsuf atau orang bijak yang dikutipnya, orang yang benar itu adalah orang yang mampu mengejek dirinya sendiri. Jadi kalau dirinya harus mengejek pekerjaan sendiri, Butet adalah pengecer jasa acting yang bisa main teater, sinetron, film, iklan. “Jadi sejauh memerlukan peran jasa akting, oke akan saya layani,” akunya,
Butet pun rela disebut konsultan atau workshop, asal ruang lingkupnya tetap di seni peran. Karyanya yang dianggap cukup monumental adalah saat ia memainkan monolog saat jatuhnya Soeharto dari kursi kepresidenan. Saat itu Butet dengan fasih menirukan logat dan ucapan Soeharto dan juga B.J. Habibie. Kepiawaiannya menjadi pembicaraan luas di berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, mengingat Butet menjadi orang pertama yang berani menuangkannya lewat monolog yang belum pernah diparodikan seperti itu. “Saat itu bukan soal berani atau tidak, tetapi ruang lingkup seni peran yang saya mainkan yang membuat saya harus melakukan interpretasi demikian. Di sisi lain, saya juga tidak ingin mandek atau stagnan di situ saja. Jadi itu hanya bagian kecil saja dari perjalanan berkesenian saya,” tambahnya.
Pada akhirnya Butet dan saudara-saudaranya memang saling berbagi tugas. Adiknya, Jaduk, bermain di seni musik. Kakak yang lainnya di seni tari. Butet sendiri berkutat di tulis-menulis dan seni teater, serta manajemen produksi. Jadi dengan sepuluh kemampuan bisa menjadi sinergi. “Itu pun tidak disengaja, karena kami semua hidup dalam atmosfir kesenian yang pada awalnya memang jalan sendiri-sendiri sesuka hati. Namun pada akhirnya masing-masing pula menemukan jalan hidupnya sendiri,” ungkapnya.
Butet menganggap bakat yang dimilikinya dan keluarga besar Bagong Kusudiarjo sebagai anugerah. Karena tidak semua orang bisa berkesempatan menjadi anaknya Pak Bagong kan? “Karena jadi anaknya Pak Bagong, saya “terpaksa” hidup dalam atmosfer kesenian. Itu jadi salah satu anugerah yang tak terelakkan, Anugerah yang saya monopoli yang orang lain tidak memilikinya. Jadi saya bersyukur mendapatkan kesempatan tersebut,” ujar penyuka kopi pahit ini.
Baginya, sebagai orang yang berkecimpung dalam seni peran, membintangi sebuah iklan merupakan sebuah kesempatan karena dirinya sangat selektif. Sudah banyak iklan-iklan yang ditolaknya. Dari sisi kreatifnya, iklan juga tidak akan memperburuk dirinya, tetapi justru akan mengimbuh atau menguatkan citranya. Apalagi hidup orang seperti Butet hanya bisa mempertaruhkan kepercayaan kepada masyarakat dan tidak ingin kepercayaan itu didera.

Mengenai concern perusahaan besar, menurut Butet hukumnya wajib menyisihkan keuntungannya karena eksistensi sebuah perusahaan tidak pernah terlepas dari peran dan keberadaan masyarakat. Karena Butet bukan provit making, maka dirinya tidak mungkin menyumbang seperti yang dilakukan kalangan industri. Orang-orang seperti Butet hanya bisa memberikan sumbangan pemikiran, waktu, pengetahuan, dan tenaga. Menyumbang duit memang tidak bisa banyak-banyak, karena memang tidak ada. Butet pun mengaku hanya mampu memberikan sedikit, termasuk menyediakan tempat di sanggar sebagai posko dan 50 tenaga yang setiap hari bekerja mencatat sumbangan yang masuk. Mereka juga setiap pagi sekitar pukul 03.30 melakukan serangan fajar mendrop bantuan ke lokasi-lokasi bencana seperti yang terjadi di Yogyakarta. “Itu semua merupakan kepuasan batin dan kepedulian yang tidak tanggung-tanggung, karena selama tiga minggu kami tidak melakukan pekerjaan lain. Saya dan teman-teman seniman lainnya yang selama ini tidak pernah tersentuh pekerjaan administrasi, akhirnya ikut mencatat, membungkus dan mengemas, serta mendistribusikan bantuan,” jelasnya lagi.

Gara-gara gempa, semua yang ada di padepokannya punya pekerjaan baru. Semua melakukan pekerjaan yang mungkin tidak terelakkan. Semua orang Yogyakarta yang diberikan keselamatan itu harus melakukan kegiatan yang lebih bersifat menolong. “Saya, Jaduk, dan beberapa rekan di padepokan jadi relawan mengurusi barang-barang bantuan untuk didistribusikan,” katanya sambil mengenang.

Semua foto: Trisna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s