NISSAN GT 2012: Komitmen dan Peluang di Tengah Krisis


Krisis ekonomi global yang berdampak terhadap kemerosotan industri otomotif menjadi momok bagi para pelakunya. Terutama sejak kasus kebangkrutan yang dialami perusahaan raksasa otomotif Amerika Serikat seperti General Motor, Ford, dan Chrysler. Tak hanya Amerika Serikat, kondisi industri otomotif di Jepang juga mengalami penurunan kinerja pada tahun 2008 walau tak separah yang dialami AS dan Eropa. Pada tahun 2008, berdasarkan data dari Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA), jumlah produksi mobil di Jepang sebanyak 11.563.629 unit atau 99,7% dari angka produksi tahun 2007.

Para analis memperkirakan pada tahun 2008 ini produksi mobil dunia tidak akan melebihi angka 55 juta unit atau terendah sejak tahun 2001. Pemulihan kinerja industri otomotif dunia diperkirakan baru akan terjadi pada 2010. Dan kawasan Asia Pasifik diprediksi akan mengalami pemulihan yang lebih cepat dibandingkan kawasan lainnya. Seiring dengan kebangkrutan para raksasa industri mobil dunia, kini peta industri otomotif global juga mengalami pergeseran pangsa produksi otomotif yang signifikan dalam satu dasawarsa terakhir. Dengan kondisi seperti itu, diyakini industri otomotif global akan semakin terkonsolidasikan, terutama untuk mengatasi kesulitan finansial, termasuk menghadapi ketatnya persaingan.
Seiring dengan pasar otomotif Amerika Serikat yang terus memburuk, membuat Nissan Motor Company membenahi diri. Salah satunya didasari anjloknya angka penjualan Nissan di AS yang menurun hingga 37%. Sebagai produsen otomotif terbesar ketiga di Jepang setelah Toyota dan Honda, Nissan tetap mengedepankan empat aspek yang meliputi environment, safety, dynamic performance, serta life on board. Menurunnya pasar otomotif dunia, justru akan memberikan peluang lebih kuat bagi industri otomotif Jepang, terutama masih terbukanya peluang pasar di sejumlah negara seperti Brazil, India, maupun China, termasuk Rusia dan kawasan Timur Tengah. Kemungkinan besar pangsa pasar produsen otomotif AS akan diambil alih oleh pabrikan dari Jepang yang memang lebih antisipatif, selain pabrikan dari Eropa. Apalagi produk otomotif Jepang dikenal lebih hemat bahan bakar dan harga yang lebih murah. Toyota dan Honda dikabarkan juga telah mempercepat proses pengembangan mobil hybrid mereka, sama seperti pengembangan mobil konvensional. Dengan begitu, diperkirakan pabrikan otomotif Jepang dan Eropa justru akan meningkatkan investasinya di kawasan yang memiliki potensi untuk tumbuh pesat, seperti di Brazil, India, China, Timur Tengah, dan Rusia. Dengan kondisi persaingan yang semakin ketat, salah satu pilihan yang paling realistis adalah merger atau akuisisi yang sudah dilakukan sejumlah pabrikan otomotif dunia sejak tahun 2005.
Nissan sendiri dikenal sebagai produk yang terus berinovasi dalam hal teknologi. Beberapa teknologi yang sudah diaplikasi di antaranya Xtronic CVT (Continuously Variable Transmission), Continuous valve Timing Control (CVTC), Vehicle Dynamic Control (VDC), Variable Intake System (VIS), serta Multi Link Beam Suspension (MLBS). Dengan tag line SHIFT_the way you move, Nissan telah memberikan produk terbaiknya. Di Indonesia, Nissan dikenal dengan jajaran produk berkualitasnya seperti All New X-Trail, Grand Livina, Livina, Livina X-Gear, Serena, Latio, Teana, dan Frontier Navara. Setelah beraliansi dengan Renault, Nissan bertekad menjadi yang terdepan dalam industri otomotif. Hal itu terlihat dari pencanangan program NISSAN GT 2012 yang berkomitmen untuk kualitas produk dan layanan yang terdepan, meluncurkan kendaraan elektrik di AS dan Jepang pada tahun 2010 dan secara massal ke seluruh dunia pada tahun 2012, serta peluncuran 60 model baru dalam lima tahun mendatang dan 15 teknologi terbaru setiap tahun mulai tahun 2009 ini.

Kebangkrutan industri otomotif global, sebenarnya justru menjadi peluang bagi peningkatan aktivitas investasi, khususnya industri otomotif di Indonesia. Kenyataannya pada tahun 2009 ini memang sulit meraih angka penjualan seperti pada tahun 2008. Namun, diyakini penurunan penjualan mobil di Indonesia tidak akan seburuk yang dialami negara-negara lain yang terimbas krisis. Volume penjualan Januari 2009 mencapai 31 ribu unit, namun pada April 2009 meningkat menjadi 34.610 unit. Hingga kwartal pertama 2009, total penjualan mobil di Indonesia sebanyak 134.868 unit. Angka tersebut mengalami penurunan 39% dibandingkan periode sama tahun 2008 dengan raihan 187.246 unit. Dari angka tersebut, terlihat tren penjualan mobil setiap bulannya mengalami peningkatan. Hingga akhir 2009 ini, penjualan diperkirakan akan naik lebih besar.

Foto: Nissan Motor Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s