Perlunya Etika dalam Berbisnis


Etika dalam berbisnis kembali mengemuka menyusul sejumlah kasus yang dianggap banyak pihak lebih disebabkan kurangnya pemahaman etika. Secara umum, etika bermakna tentang hal-hal yang baik dan buruk, termasuk juga tentang hak dan kewajiban moral atau perilaku. Umumnya, setiap pebisnis atau pengusaha sudah memahami kelaziman dalam perilaku berbisnisnya. Namun demikian masih saja kerap ditemui hal-hal yang dianggap menodai etika dalam berbisnis.

Simak saja kasus Rumah Sakit OMNI International yang sempat menjadi sorotan masyarakat luas ketika menuntut pasiennya sendiri Prita Mulyasari yang mencoba menyampaikan keluhannya melalui dunia maya. Demikian pula dengan kasus Bank Century yang diambil alih oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) sejak November 2009. Kedua kasus tersebut sarat dengan perilaku dalam berbisnis dan pelayanan terhadap konsumen.

Dalam dunia bisnis memang terkandung tiga unsur penting yaitu etika, perilaku, dan moral. Ketiga unsur itu memang tak bisa dipisahkan. Jadi pebisnis pun tak melulu semata mengejar keuntungan sebesar-besarnya, tetapi juga bagaimana menjalin hubungan baik dengan konsumennya. Apalagi ketika dalam menjalankan bisnisnya berhubungan langsung dengan konsumen yang memang lebih banyak berlindung di balik prinsip “pembeli adalah raja”. Dalam ranah inilah ketiga unsur itu berperan.

Dari sisi pebisnis, menjalin hubungan dengan konsumen sebenarnya merupakan salah satu bentuk edukasi sekaligus menanamkan imej produknya. Dan itu merupakan salah satu bentuk layanan yang akan berbuah manis untuk jangka panjang. Ketika kepuasan sudah melekat di hati konsumen, soal harga pun bisa menjadi nomor urut berikutnya. Apalagi dalam dunia bisnis juga berlaku seleksi alam. Artinya, sebuah perusahaan dengan kualitas produk dan layanan yang bagus akan mendapat penghargaan (reward) dari konsumennya. Sebaliknya, dengan jejak rekam yang buruk, siapa pun harus siap menerima hukumannya (punishment). Itulah dua kutub dengan dua kompensasi yang berbeda.

Perkembangan dalam dunia usaha kian hari memang semakin ketat, termasuk juga sistem dan pengawasannya. Namun demikian, kita tidak bisa beranggapan bahwa dalam lingkup dunia bisnis hanya digeluti oleh individu-individu yang menjunjung tinggi kejujuran, berhati mulia, atau pun selalu berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Yang pasti, nyaris tak satu pun bisnis yang meraih kesuksesan dengan mengabaikan etika. Bahkan banyak kalangan mengakui jika aspek spiritual juga ikut andil dalam kisah sukses sebuah bisnis. Di sinilah

Etika dalam berbisnis sebenarnya bukan hanya kemampuan melayani, tetapi juga melakukan pengembangan sebagai langkah antisipatif ke depan. Dalam sebuah studi disebutkan bahwa pengembangan produk ramah lingkungan atau peningkatan environmental compliance bisa meningkatkan pendapatan persaha (earning per share) perusahaan. Selain itu juga akan mendongkrak keuntungan dank e depannya akan lebih mudah untuk meningkatkan investasinya. Bahkan pada tahun 1999, jurnal Business and Social Review mengungkapkan terdapat 300 perusahaan besar yang telah melakukan komitmen dengan publik yang berlandaskan kode etik, mampu meningkatkan market value added hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan perusahaan lain yang tidak melakukannya. Demikian pula dengan riset DePaul University (1997) yang mendapatkan sejumlah perusahaan yang merumuskan komitmen korporatnya untuk menjalankan prinsip beretika berdampak positif terhadap kinerja finansial (revenue) yang lebih baik daripada perusahaan lain yang tidak menjalankannya.

Nah, yang menarik untuk ditelusuri adalah sejauh mana prinsip-prinsip etika bisnis bisa berjalan dengan baik. Harus diakui, sebenarnya banyak perusahaan yeng telah berupaya menjalankannya walau dengan prinsip yang berbeda-beda. Namun demikian, semua itu harus dibangun dalam bentuk budaya perusahaan (corporate culture) yang didasari visi dan misi yang kuat, termasuk pengaruh gaya kepemimpinan dalam melakukan evaluasi dan penyegaran yang berkelanjutan. Hingga pada akhirnya akan memberikan motivasi kepada seluruh unsur organisasi yang terlibat di dalamnya untuk bersikap dan berperilaku yang relatif sama.

Dalam situasi dan kondisi perekonomian dunia saat ini, baik pebisnis maupun konsumen, sebenarnya sudah membentuk sebuah simbiosis yang saling menguntungkan. Rasanya tak ada lagi perusahaan yang menutup diri atau enggan untuk melakukan perbaikan demi kemajuan bisnisnya. Mereka secara sadar mengakui bahwa jika bisnisnya tidak terbuka dan tidak melakukan pembenahan, cepat atau lambat pelanggannya akan beralih dan meninggalkannya.

Untuk perkembangan dan kelangsungan sebuah perusahaan dalam jangka panjang, diperlukan sebuah tanggung jawab sosial dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial yang akan menjadi sebuah nilai positif bagi perusahaan. Setidaknya pencitraan positif sedang dibangun dan dianggap sebagai investasi jangka panjang. Artinya, walau berbagai kegiatan sosial memerlukan biaya yang cukup besar, namun akan sangat kondusif dan menguntungkan perusahaan dalam jangka panjang.

Dalam kasus RS OMNI International versus Prita Mulyasari maupun kasus yang dialami Bank Century dan nasabahnya, terlepas dari persoalan siapa yang benar atau siapa yang bersalah, ada benang merah yang bisa ditarik dan dijadikan pelajaran, khususnya bagi pebisnis. Selain kurangnya pengawasan dari institusi pemerintah terkait, diperlukan transparansi pihak pebisnis kepada publik atau konsumennya untuk menghindari terjadinya benturan. Juga dibutuhkan itikad baik untuk menjalin hubungan dengan konsumennya. Konsumen adalah partner bisnis terbaik yang pernah ada dan harus dirangkul. Artinya, seberat apa pun persoalan yang muncul, pebisnis harus memiliki sikap yang profesional dan berlandaskan etika dan moral dalam upaya mencari solusi terbaik. Persoalan itu juga harus dicermati sebagai masukan untuk dilakukan perbaikan. Namun ketika persoalan itu dipandang oleh pebisnis sebagai hal yang merugikan dan dianggap dengan sebelah mata saja, maka bersiaplah dengan penilaian konsumen dan masyarakat luas. Dan ranah bisnis yang digelutinya pun akan bekerja sesuai dengan sistem dan aturan yang berlaku. Bersiaplah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s