Menerima Kritik sebagai Anugerah*


“Anda tidak berhak dipuji kalau tidak bisa menerima kritik”. Itulah yang diungkapkan oleh artis Halle Berry ketika menerima Razzie Award pada tahun 2005 lalu. Ketika itu Halle Berry mendapat anugerah sebagai pemain terburuk dalam film Cat Woman. Sebelumnya, tak ada satu artis pun yang berani hadir secara langsung dan lebih memilih mengirimkan pesannya lewat video.

Sebenarnya, seberapa jauh kritik itu dianggap sebagai musibah atau kehancuran? Dan siapa saja yang mampu menerima kritik layaknya saat menerima pujian? Apa pun bentuknya, kritik memang tidak disukai oleh siapa pun. Dan bisa dipastikan bahwa di dunia lebih banyak pengkritik daripada yang dikritik. Mulai dari nasehat, sindiran, lelucon, hingga caci-maki yang teramat pedas pun bisa muncul kapan saja. Dan tak ada yang bisa menjamin siapa pun bebas dari kritikan.

Ketika orang mengkritik kita, berarti kita diperhatikan orang lain. Nah, jika diperhatikan orang lain berarti ada yang ingin dibangun pada diri kita. Ketika orang orang masih mau mengkrikitk kita, sebenarnya itu adalah satu anugerah bagi kita. Mengapa harus dikritik? Ada tiga poin penting di sini. Yang pertama, kalau kita mau menerima kritik itu, ya kita terima saja semuanya. Karena munculnya kritik disebabkan adanya ketidaksesuaian menurut pandangan orang terhadap norma atau etika yang ada. Bagi pihak yang mengkritik, biasanya berpikir sah-sah saja karena memang perlu dikritik. Namun bagi yang dikritik pun, sah-sah pula jika berkata, bertindak, atau memberlakukan sesuatu. Ketika sebuah institusi atau individu melakukan aktivitas atau sebuah keputusan, maka orang lain akan menganggap itu adalah sikap institusi atu individu tersebut. Tetapi ketika suatu aktivitas atau keputusan itu menjadi sikap kelompok, maka itu akan menjadi budaya. Demikian pula ketika seseorang dari sebuah kelompok atau institusi melakukan sebuah tindakan, maka tindakan itu akan langsung dikritik dan melekat menjadi budaya kelompok atau intitusi tersebut. Padahal sesungguhnya yang terjadi tidaklah demikian.

Untuk mengatasi kritik tersebut, sepatutnya dan sesegera mungkin dilakukan klarifikasi bahwa tindakan tersebut hanyalah tindakan individu yang tidak mencerminkan budaya kelompok atau institusi. Dan akan lebih baik lagi jika dilakukan tindak lanjut yang diperlukan, termasuk perbaikan. Tetapi kalau kritik tersebut tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi, ada tiga poin yang bisa dilakukan. Pertama adalah anggap saja hal tersebut menjadi sebuah pengalaman. Kedua, anggap saja kita sebagai orang ketiga sedang melakukan ekseperimen atau observasi. Yang ketiga, it’s a business thing and nothing personal.

Kalau sampai ada yang mengkritik pada personality atau kebiasaan sebagai individu, maka itu sudah menjadi sebuah komposisi yang harus diubah. Tidak ada cara lain. Apalagi jika sudah dianggap cara berlaku yang tidak sesuai dengan norma, etika, atau peraturan pergaulan, ya ubahlah segera. Artinya tidak bisa kita bertahan tanpa penyesuaian. Apalagi jika kita sudah menyadari bahwa kita berada dalam lingkungan dan hidup bermasyarakat.

Untuk mengatasi kritik, hal yang paling penting adalah harus disadari bahwa kritik itu akan selalu terjadi dan cenderung disebabkan adanya tindakan atau perkataan yang kurang baik dan tidak sesuai dengan yang ada dan berlaku di masyarakat. Lalu bagaimana mengatasi kritik dengan bijaksana?  Terimalah kritik sebagai anugerah. Kalau ada yang mengkritik, berarti pengkritik tersebut menyayangi pihak yang dikritiknya. Lebih sulitnya adalah ketika seseorang diam dan tidak melakukan apapun.

Kritik yang positif adalah selalu membangunkan kita, apapun isi kritiknya. Apa saja yang membangkitkan dan memberikan manfaat bagi kita, maka itu akan menjadi kritik yang baik. Tetapi ketika kritik itu sudah memasuki ranah yang menyangkut jati diri dan harga diri, mungkin itu sudah tidak termasuk kategori kritik yang membangun, bahkan bisa dianggap sudah merambah dalam ranah penghinaan. Artinya, sebuah tindakan kritik yang diakibatkan karena tindakan seseorang, maka itu dianggap laik. Jadi kritik yang positif itu dibatasi pada hal yang membangun dan memberikan manfaat. Namun yang sering dilupakan adalah bahwa kita dibangun di atas perkataan dan tindakan kita sendiri. Setiap saat kita selalu berupaya membangun dalam hal pergaulan, kehidupan, aktivitas, bisnis, dan juga pencitraan diri. Sadar atau tidak, itu adalah akibat dari perkataan dan tindakan diri sendiri. Jadi perhatikanlah apa yang sedang kita pikirkan karena akan berakibat pada ucapan dan tindakan yang berujung pada kebiasaan.

Jadi, suka atau tidak suka, kritik itu baik bagi siapa saja. Maka bersyukurlah jika banyak yang mengkritik. Dan bagi siapa saja yang belum siap menerima kritik, bisa dianggap yang bersangkutan belum siap untuk hidup. Ketika kita berjalan, orang akan menilai kita. Dan kita harus siap menerima penilaian tersebut walau hanya sekedar dengan mimik dan tak diungkapkan melalui perkataan atau tindakan lainnya.

Menyangkut kasus yang terjadi antara Rumah Sakit Omni Internasional dengan Prita Mulyasari terkait dengan email keluhan layanan yang dituangkan Prita Mulyasari sebagai pasien, seharusnya bisa diselesaikan tak sampai berlarut hingga ke meja hijau. Setidaknya pihak Omni bisa memanggil Prita atau mendatanginya untuk menyelesaikan masalahnya. Hal yang bisa dilakukan pihak Omni adalah meminta maaf jika memang telah terjadi kesalahan di pihak Omni, atau meminta klarifikasi dalam bentuk pernyataan terbaru dari Prita jika terdapat kesalahpahaman dalam isi keluhannya. Akan lebih elegan jika hal itu bisa diselesaikan dalam ranah dunia maya juga. Artinya, ketika salah satu pihak seperti yang dialami Omni tidak mampu menerima kritik, kemungkinan penyelesaiannya akan memakan biaya yang lumayan besar dan hasilnya pun belum tentu memuaskan.

Andai pihak Omni sejak awal mau bersikap lebih bijak, selain tak perlu mengeluarkan biaya, juga tentunya akan mendapatkan simpati yang lebih luas dan berdampak pada pencitraan positif. Jadi sadarilah bahwa manusia itu diciptakan dengan “keterbatasan” dan sudah “tercemar” (created-limited-polluted). Bahkan banyak perusahaan besar yang rajin melakukan survey hanya untuk mengetahui kelemahannya. Sesungguhnya kritik memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membuka persepsi, wawasan, dan paradigma baru. Setidaknya, dengan kemampuan mengelola kritik yang diterima, akan melatih mental menghadapi tantangan yang mungkin saja bisa lebih berat lagi di masa mendatang. Jika perlu, hadapilah kritik dengan senyuman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s