Manajemen Resiko yang “Pelit”


Menyoal kondisi krisis global, aspek piutang bisa menjadi salah satu faktor penting dalam manajemen resiko. Itu pula yang membedakan konteks manajemen resiko di perusahaan pada umumnya dibandingkan dengan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan. Dan yang pasti ada resiko usaha dan resiko keuangan. Resiko usaha seperti dampak internasional sekarang ini adalah turun naiknya kegiatan usaha perusahaan karena factor eksternal pafa khususnya dan juga internal. Seperti misalnya inflasi dan resesi di Amerika yang mempengaruhi Indonesia. Para eksportir yang biasanya mengekspor produknya ke luar negeri, sekarang banyak yang di-cancle rencana ekspornya. Padahal dengan melakukan ekspor diyakini akan memperoleh pendapatan untuk mendukung operasional perusahaan dan jika meraih surplus akan bisa membantu melunasi hutangnya. Lihat saja industri tekstil yang sudah hampir 30% volume ekspornya dibatalkan. Demikian pula dengan perusahaan yang bergerak dalam bidang elektronik. Bahkan sebuah perusahaan elektronik terkemuka di Jepang yang sejak berdiri belum pernah mengalami kerugian, telah mengklaim rugi hingga 9 milyar dollar AS. Kondisi ini tentu saja akan memberikan konsekuensi kepada aspek finansial dalam sebuah perusahaan.

Menurut mantan Direktur Keuangan Perum Pegadaian DR Syamsir Kadir MBA, untuk menghadapi resiko tersebut dan mengingat tidak adanya jaminan atas pinjaman, perusahaan perlu melakukan tindakan recovery. “Artinya, dalam kondisi sulit seperti ini, biasanya yang bisa dilakukan adalah bertindak “pelit”. Jadi potonglah biaya-biaya yang tidak penting. Seperti dialami industri tekstil yang sudah mengurangi tenaga kerja. Bahkan jika dijumlahkan dengan yang tidak terlaporkan bisa mencapai lebih dari 30 ribu orang. Itu merupakan sebagian konsekuensinya. Itu sebabnya perusahaan harus membuat suatu strategi dan salah satunya adalah perekrutan karyawan outsourcing untuk menekan biaya,” ujarnya kepada penulis.

Soal prosentase antara pegawai tetap dan outsourcing, bisa dilihat dari struktur biaya dan tingkat kebutuhannya. Untuk itu, perludilihat pula sifat perusahaan yang capital intensif seperti produk industri pabrikasi dan ada pula yang labour intensif seperti industri rokok, tekstil, dan elektronik. “Jika diangkat sebagai pegawai tetap, konsekuensinya adalah penjualan dan pendapatan menurun. Tentu saja perusahaan tidak ada yang mau merugi. Dan jangan di awal saja yang meningkat, tetapi selanjutnya menukik,” paparnya. Persoalan ini memang membuat sejumlah perusahaan tidak bisa survive. Namun demikian, lanjut Syamsir Kadir, jika kondisi perusahaan itu terus bertumbuh dan menguasai pasar dengan cukup bagus, bisa saja outsourcing diangkat menjadi pegawai tetap.

Harus diakui, salah satu implikasi situasi bisnis yang kondisinya kurang kondusif adalah kinerja kredit yang tidak memadai. Berawal dari strategi manajemen risiko yang tidak tepat, perusahaan bisa mengalami kerugian berupa piutang yang tidak tertagih atas penjualannya. Karena itu, perbaikan kinerja penagihan akan meningkatkan kinerja keuangan secara signifikan, dan ujung-ujungnya akan berdampak positif dengan meningkatnya kinerja perusahaan. Namun, langkah tersebut bukanlah satu-satunya strategi yang bisa dilakukan.

Untuk recovery atau mempertahankan kinerja keuangan perusahaan, salah satu strategi yang lazim dilakukan adalah dengan membuat komposisi karyawan yang proporsional. Artinya, pekerjaan-pekerjaan yang tidak pokok, yang tidak utama, atau termasuk core business, bisa diserahkan kepada outsourcing. Bahkan kini ada perusahaan yang menyerahkan soal akunting yang merupakan salah satu rahasia perusahaan kepada outsourcing (kantor akuntan). Sah-sah saja memang. Strategi lainnya, banyak manajemen yang berupaya mengatur soal apa saja yang perlu di-cut. “Selain itu, dari segi keuangan, kalau perusahaan mempunyai hutang, ya harus dilakukan moratorium. Dengan supplier juga harus dirundingkan kembali. Itu semua sudah merupakan resiko usaha. Banyak perusahaan yang memiliki inventaris seperti rumah, mobil, dan lain sebagainya. Itu asset yang bisa dan pantas dijual. Jadi jika memang dibutuhkan bisa sewa dan mencari produk lain lagi,” kata Syamsir.

Banyak pula perusahaan yang menggunakan fasilitas kredit dalam struktur pembiayaannya. Jika produknya masih terus bertumbuh pesat, bolehlah struktur pembiayaannya dengan fasilitas kredit. Tapi yang penting, jangan gunakan kredit lebih banyak dalam struktur pembiayaan perusahaan.

“Jangan lupa pula, dalam kondisi krisis seperti ini, justru ada yang berkembang. Seperti pegadaian contohnya. Saat bank secara ketat menyalurkan kredit, maka pegadaian justru membuka peluang sebanyak-banyaknya. Itu diteruskan oleh manajemennya hingga sekarang. Pertumbuhannya luar biasa dan kini mencapai 40%,” tambahnya.

Menyangkut kinerja keuangan perusahaan, perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi. Yang pertama, urai Syamsir, harus diklasifikasikan dulu siapa saja klien yang bisa di-maintain. Bisa juga dengan rescheduling. Atau jika perusahaan memang membutuhkan cash flow yang begitu keras, bisa dilakukan dengan menjual piutang kepada pihak lain. “Dan yang pasti, di saat krisis memang ada pihak yang diuntungkan dan pihak yang merugi,” tandasnya.

Timbulnya piutang itu bisa jadi lebih banyak didorong oleh keinginan perusahaan untuk meningkatkan penjualan. Namun, tidak ada pula perusahaan yang menjual semua produknya dengan tunai. Dan itu semua tergambar jelas dalam management of account risk. Di satu sisi memang untuk mengejar peningkatan penjualan. Sementara di sisi lain ada resiko tidak tertagih. Di sinilah diperlukannya membuat suatu cadangan penghapusan piutang. “Penghapusan piutang itu bukan berarti tidak menagih, tetapi dalam konsep akuntansi dianggap sebagai biaya. Kalau ada laba, dengan adanya penghapusan piutang itu bisa mengurangi laba dan pajak. Itu memang dimungkinkan oleh aturan pajak yang berlaku. Dalam keadaan normal, ketentuan itu jangan diabaikan,” katanya. Jadi sejak awal pilihlah klien atau customer yang layak diberikan piutang. Itu salah satu kuncinya.

Sama juga halnya dengan bank yang hingga kini belum berani memberikan kredit lebih banyak lagi untuk sektor ril karena belum yakin dengan perbaikan ekonomi saat ini. Kini bank justru banyak memberikan kredit konsumtif seperti rumah, mobil, atau pun kartu kredit yang semakin mudah di dapat yang semua itu memiliki resiko lebih kecil. Atau bisa juga dengan lebih teliti melalui evaluasi klien atau customer secara bertahap.Strategi lainnya adalah dengan kebijakan memberikan insentif berupa diskon secara cash maupun kuantitas produk bagi yang membayar tepat waktu.

Hal senada juga diungkapkan oleh President Director Mandiri Tunas Finance Halim Gunadi. Menurutnya, Kalau dalam kondisi ekonomi yang kurang menggembirakan seperti saat ini, biasanya bisa dilihat dari beberpa indikator. Salah satunya adalah dari aspek tagihan dengan tren penunggakan yang mulai meningkat. “Dengan kondisi seperti itu, kita berupaya melakukan program-program recovery (preventif) seperti penagihan yang lebih cepat atau mengingatkan jadwal pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo. Bagi kami sendiri, kondisi saat ini boleh dibilang dengan istilah “masih terkendali”. Jelasnya, kita harus lebih memperhatikan pelayanan yang lebih baik dan disertai enforcement yang ketat,” ujarnya.

Mandiri Tunas Finance (PT Tunas Financindo Sarana) merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembiayaan kredit kendaraan bermotor (multifinance/leasing). Bicara soal manajemen resiko, menurut Halim Gunadi, setiap kredit selalu yang pertama dipikirkan adalah mengenai memenej resikonya. Namun demikian, Halim juga mengingatkan bahwa manajemen resiko antara bidang industri yang satu dengan yang lainnya berbeda. Untuk kredit kendaraan bermotor, menurutnya resikonya boleh dikatakan nyata dan bisa dihitung. “Contohnya, kalau kredit sebuah mobil mengalami macet, maka unitnya langsung bisa ditarik dan saya bisa dapat kembali dengan menjualnya. Namun demikian, cara menentukan resikonya kurang lebih sama,” ujar Halim.

Coba saja cermati resiko kredit, pasar, finansial, dan sebagainya. Biasanya, aplikasi di lapangan, seperti di industry otomotif, adalah besaran kredit yang harus dibiayai. Dan itu artinya harus ada uang muka. Untuk mobil truk dan passenger (penumpang), pembiayaannya sudah pasti berbeda. Demikian pula dengan calon customer atau pelanggan, termasuk tenornya (masa angsuran). Itu adalah beberapa ukuran praktis yang dilakukan di lapangan. “Artinya kita memiliki sejumlah parameter resiko sebelum memberikan kredit. Setiap eksekusi aplikasi kredit, selain resiko yang sudah dibuat parameternya, kita juga melakukan ligitasi dengan melihat resikonya,” jelasnya lagi.

Sementara itu, untuk penagihan, Syamsir Kadir dan Halim Gunadi sepakat untuk terus mengupayakan tetap berjalan dan jangan kendor. Syamsir Kadir bahkan menekankan, selain kepada bagian produksi dan pemasaran, berikan juga insentif kepada bagian keuangan. “Seperti yang dilakukan oleh perusahaan asuransi di mana dalam upaya mencari kliennya, mendapat komisi, sekaligus bertanggung jawab untuk menagihnya dalam beberapa tahun pertama. Namun setelah itu, penagihan menjadi tanggung jawab bagian keuangan,” tambah Syamsir lagi.

Dalam bisnis, khususnya untuk penagihan, pada praktiknya memang sampai menggunakan debt collector, bahkan hingga ke pengadilan. Namun, upaya itu sebenarnya menjadi pilihan upaya terakhir yang bisa dilakukan mengingat biaya dan hasilnya yang justru kerap tidak memuaskan. Istilahnya, nilai uang saat ini menjadi lebih penting ketimbang nilai uang pada waktu mendatang. Di sini pula akan terlihat betapa pentingnya peranan analisis laporan keuangan perusahaan.

Halim Gunadi sendiri masih mengingat  salah satu resiko yang tidak bisa dikendalikan seperti kondisi ekonomi yang terjadi pada tahun 1998. Semuanya saat itu menjadi macet. Demikian pula dengan kenaikan harga bahan bakar minyak pada tahun 2005. Juga dengan anjloknya komoditi beberapa waktu yang lalu. “Semua itu resikonya berbeda. Jadi dengan kondisi resiko pada situasi yang tidak normal, maka resikonya pun juga akan meningkat. Tapi itu juga masih tergantung kondisi kongkretnya seperti apa. Namun sebaliknya, jika kondisinya normal-normal saja, sejauh parameter di awal sudah diperhitungkan resikonya dengan baik, semua akan aman-aman saja,” katanya.

Dengan masuknya Bank Mandiri sebagai pemegang saham sebesar 51% di Mandiri Tunas Finance, lanjut Halim Gunadi, kini sedang dilakukan konsolidasi resiko yang dianggap oleh bank sebagai resiko dan harus diimplementasikan sedemikian rupa. Mungkin itu pula yang menyebabkan Mandiri Tunas Finance sangat diharapkan menjadi lebih prudent dengan tantangan yang lebih besar lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s