Inovasi tetap jadi tuntutan*


Salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing adalah mendorong laju inovasi agar bisa bersaing pada tingkat local, nasional, maupun lingkungan global. Namun pertanyaan yang kerap muncul, apakah inovasi merupakan resep mujarab untuk meningkatkan daya saing? Ada tiga kunci untuk organisasi atau perusahaan untuk terus bisa tumbuh dan berkembang, yaitu kemampuan adaptif, akan lebih baik lagi kalau antisipatif, dan akan lebih luar biasa hebatnya jika mampu menjadi pemicu perubahan (trend setter). Contoh yang luar biasa di Indonesia bisa dilihat pada Air Asia. Keberhasilan itu akhirnya banyak yang meniru. Bisa dipastikan jika tidak memiliki kemampuan adaptif, pastinya tidak akan tumbuh. Artinya, ketidakmampuan adaptif akan jelas terlihat jika lingkungan itu berubah dengan cepat, sementara kita tidak bisa mengikutinya. Itulah yang menjadi penyebab pentingnya inovasi.

Lalu bagaimana mungkin bisa adaptif, antisipatif, dan menjadi pemicu perubahan tanpa melakukan inovasi? Tapi problemnya sekarang, karena lingkungan bisnis itu sangat dinamis dan perubahannya banyak dan cepat sekali, hampir bisa dikatakan perusahaan atau organisasi tidak mempunyai keberanian dan kemampuan untuk memprediksi seperti dekade sebelumnya.

Mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu, sebuah perusahaan dengan mudah bisa memprediksi nilai tukar atau inflasi untuk beberapa tahun mendatang. Namun kini tidak ada yang berani memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tiga tahun mendatang karena perubahan itu hanya bisa diprediksi dalam jangka pendek satu atau dua bulan ke depan. Dengan perubahan yang begitu cepat, sebuah perusahaan atau organisasi tetap dituntut untuk survive dengan berinovasi. Dalam hal adaptif itu mengandung unsur meremajakan apa yang sudah dilakukan saat ini. Sedangkan inovasi itu sendiri ada yang berupa inovasi efisiensi dengan tujuan meremajakan, merevitalisasi, dan menyempurnakan yang sudah ada. Ada pula inovasi evolusi seperti yang dilakukan Sari Ayu Martha Tilaar pada tahun 1987 dengan menggali nuansa etnik Indonesia sebagai tema untuk produknya. Pada saat itu, yang dilakukan Sari Ayu sifatnya evolusioner. Ada sesuatu hal yang baru dalam sebuah bidangnya. Juga ada inovasi revolusioner yang merupakan inovasi yang memang belum pernah ada sebelumnya.

Inovasi itu baru bermanfaat sebagai daya saing jika memiliki kemampuan yang lebih baik dari kompetitor. Jadi kalau misalnya sebuah produk dari perusahaan A sama baiknya dengan produk dari perusahaan B, itu bukan daya saing yang sesungguhnya. Jadi inovasi itu akan bermanfaat kalau memiliki keunggulan dibandingkan dengan pesaing. Ada beberapa faktor penting untuk mampu berdaya saing. Yang pertama adalah faktor sulit ditiru karena berbasiskan pengetahuan (knowledge) yang merupakan akumulasi dari pengalaman (intangible asset) yang harus dikelola perusahaan supaya bisa menghasilkan inovasi yang sulit ditiru.

Faktor yang kedua adalah timing. Inilah yang kerap dialami sejumlah perusahaan. Bisa jadi terlalu cepat atau terlalu lambat. Dunkin Donuts yang sudah berpengalaman dengan begitu cepat “dilibas” J.Co. Sayangnya, kemunculan iCrave yang coba melakukan inovasi dengan hiasan indah pada donatnya terbilang “terlambat” atau timing-nya kurang pas.

Faktor penting ketiga adalah inovasi yang memang basisnya sangat dikuasai. Ketika sebuah perusahaan transportasi mendirikan anak perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi informasi, mungkin banyak kalangan yang mempertanyakannya. Namun dengan layanan transportasi yang berbasis teknologi informasi, perusahaan tersebut menjadi sukses sebagai moving target yang sulit diikuti pesaingnya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah inovasi itu harus merefleksikan kebutuhan pasar.

Dengan berbagai inovasi mulai dari produk, proses, dan organisasi, bisa dilihat seberapa besar kontribusi upaya inovasi itu pada revenue dan prosesnya.

Pemanfaatan teknologi informasi itu memberikan tiga hal penting. Mulai dari keterhubungan, akses, dan difusi. Artinya teknologi informasi itu akan sangat bermanfaat untuk meng-update pengetahuan. Kecepatan inovasi itu akan sangat dipengaruhi oleh derasnya informasi yang kemudian akan menjadi ilmu pengetahuan. Ada juga yang beranggapan bahwa kita tidak bisa menghasilkan inovasi tanpa teknologi informasi. Namun dalam beberapa studi ditemukan bahwa sejumlah perusahaan mengelola pengetahuannya tanpa basis data dan teknologi.

Dengan sengitnya persaingan, memaksa dan mendorong munculnya beragam inovasi. Simak saja Pertamina yang kini semakin agresif melakukan promosi setelah kedatangan ‘tamu” seperti Shell dan Petronas. Produk oli Fastron pun segera mengemuka dan berani bersanding dengan kompetitor di pasaran. Iklim kompetisi akan berujung pada pelayanan.

Cara pandang pun bisa disebut sebagai inovasi, apalagi jika berdampak positif dan lebih luas. Dan value yang merupakan perilaku dalam menjalankan bisnis pun harus dimiliki pebisnis sebagai bagian yang memicu inovasi.

Aspek budaya itu adalah apa yang dipandang penting dalam suatu perusahaan atau organisasi. Demikian pula dengan pentingnya pengelolaan pengetahuan yang akan memicu derasnya kemunculan inovasi. Pengetahuan pun tak harus sesuai dengan bidang bisnis. Demikian pentingnya pengelolaan pengetahuan membuat sejumlah perusahaan ikut memfasilitasinya karena akan memberikan benefit bagi perusahaan. Demikian pula dengan daya serap individu dan organisasi terhadap inovasi. Daya serap itu harus di-update terus dan setiap pengetahuan itu harus selalu di-capture. Jadi organisasi juga harus menyediakan sistem dan prosedur agar pengetahuan yang diakuisisi oleh setiap individu akan tetap menjadi milik organisasi.

Dalam kondisi krisis seperti sekarang ini pun, inovasi tetap jadi tuntutan. Yang utama adalah inovasi itu harus diarahkan pada aspek organisasi (level of engagement). Hanya saja harus disiasati juga dengan biaya yang rendah, Sehingga inovasi tersebut harus difokuskan pada efisiensi dan diferensiasi produk, termasuk di dalamnya menyangkut kelayakan dan kualitas yang lebih baik.

*(Wawancara penulis dengan Ningky Sasanti Munir, Coordinator Strategic Management Expert Group PPM Manajemen)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s