“Wow, wow…, beautiful…!”


Scotty Graham, fotografer underwater

Kesibukannya sebagai pengajar matematika di Jakarta International School, ternyata tak mengurangi keinginannya menyibak tabir kehidupan biota laut. “Fotografi di dunia memang didominasi oleh above the land. Jadi saya sangat tertarik untuk melihat beraneka ragam biota laut lewat fotografi,” ungkap Scotty Graham kepada penulis.

Berawal dari Scuba Diving
Pria ramah dan murah senyum ini, pertama kali mengenal kamera pada usia 15 tahun dan setelah lulus sekolah setingkat SMA, Scotty melanjutkan ke perguruan tinggi dan mulai mengenal scuba diving pada tahun 1982. Kamera Nikon pertama yang dipakainya pada tahun 1993 adalah Nikon FM2. Salah satu faktor yang menyebabkan Scotty jatuh cinta kepada underwater photography, yaitu aktivitasnya saat menjadi instruktur profesional scuba diving di Hawaii tahun 1988. “Saya sangat “crazy” dengan scuba diving dan sempat menjadi instruktur professional di Hawaii. Pada saat itu sebenarnya saya sudah tertarik dengan fotografi, tetapi tidak terlalu serius untuk ditekuni alias hanya hobi,” katanya.
Dengan scuba diving, Scotty mulai mencoba mengekspresikan hobi fotografinya dengan kamera Nikonos 5 serta satu strob 103. Dengan satu strob dan satu lensa, saya mencoba mengambil gambar kehidupan biota laut. “Ternyata sulit sekali dengan peralatan yang memang kurang memadai,” akunya. Tingkat kesulitan underwater photography diakuinya memang berbeda dengan bidang fotografi lainnya, terutama soal pengaturan lighting yang dirasakannya memang sangat sulit sekali saat di bawah air. Apalagi cahaya matahari tak sepenuhnya bisa menembus ke bawah laut.

Kehilangan Nikon D1h
Scotty yang juga pernah menjadi pilot helikopter ini, mengawalinya dengan menjadi instruktur scuba diving pada tahun 1988 di Guam. “Sejak saat itu, saya berusaha mencoba menekuni underwater photography dengan belajar sendiri melalui bacaan berbagai majalah dan internet,” tambahnya. Scotty mulai serius menekuni underwater photography pada tahun 1990. Hanya saja, hingga kini dirinya enggan dikatakan sebagai fotografer profesional. “Saya menganggap diri saya fotografer semi-profesional,” ujarnya sambil tersenyum.
Dari situ, Scotty kembali membeli Nikon N90X (sama dengan Nikon F90X yang dipasarkan di Asia) berikut housing-nya. Fanatisme Scotty terhadap kamera SLR digital Nikon boleh dibilang sangat tinggi. Saat salah satu kamera kesayangannya Nikon D1h hilang, dia sempat sangat kecewa dan tak ingin menceritakannya kembali. Akhirnya Scotty pun kembali membeli Nikon D2h di Singapura tahun 2003.
Walau telah memiliki Nikon D2h, Scotty mengaku hanya menggunakan Nikon D70 untuk aktivitas photography underwater-nya. “Dengan D70, saya bisa menggunakan housing Nexus untuk D70 yang harganya lebih murah dari housing untuk Nikon D2h,” katanya. Scotty juga berniat menjual Nikon D2h miliknya dan akan membeli Nikon D2x.
Tentang komunitas fotografer underwater, menurutnya hanya sedikit fotografer di bawah laut dibandingkan dengan fotografer arsitektur. lanskap, dan lain sebagainya. Namun demikian, hasil dari fotografi underwater menjadi sangat menarik dan banyak dikagumi oleh berbagai kalangan. “Banyak orang yang setelah melihat foto underwater menjadi kagum. Wow, wow…, beautiful…! Begitulah ekspresinya,” ungkap Scotty mencontohkan ekspresi penikmat fotografi underwater.

Mengagumi Papua
Lensa favorit yang kerap digunakan Scotty adalah Nikkor 12-24 mm dengan diopter-nya, di samping beberapa lensa Nikkor lain seperti 10,5 mm, 105 mm, dan 60 mm makro, “Saya pun banyak belajar juga dari internet seperti underwaterphotography.com. Selain itu, saya pun mencoba berkomunikasi dengan sejumlah fotografer. Yang jelas, saya selalu belajar dan belajar untuk menghasilkan foto terbaik,” tambahnya.
Khusus di Indonesia, Scotty sangat mengagumi keindahan alam bawah laut di Papua yang sudah beberapa kali dikunjunginya. “Sangat indah dan sangat berbeda dengan lokasi lainnya di dunia. Saya juga pernah ke Bali dan Bunaken, biota lautnya juga sangat indah,” kata Scotty.
Keinginan Scotty untuk menghasilkan karya foto underwater yang prima bukannya tanpa hambatan. Selain kesibukannya mengajar, Scotty juga harus membagi waktunya untuk keluarga. “Saya selalu coba mengatur waktu, bahkan mengambil cuti untuk bisa pergi, hahaha…,” katanya sambil tertawa lepas.

Semua foto: Trisna

One thought on ““Wow, wow…, beautiful…!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s