Merebut Loyalitas Konsumen Light Truck


Derap krisis yang melanda perekonomian membuat sejumlah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) berupaya mempertahankan market share-nya. Khusus di kelas kendaraan niaga, terutama untuk kota besar seperti Jakarta, diperkirakan kebutuhannya mengalami penurunan. Namun demikian, beberapa produk terbaru yang mulai mencuri perhatian mencoba menyiasati dengan promosi dan layanan yang mulai ditingkatkan. Ceruk pasar di kelas ini lumayan menggiurkan. Setidaknya beberapa ATPM seperti PT Toyota Astra Motor (TAM), Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), atau PT Indobuana Autoraya (IBAR), mulai meningkatkan penetrasinya merangkul konsumen.

Lihat saja TAM yang beberapa waktu lalu menambah varian barunya di kelas light truck dengan Hilux versi double cabin. TAM menganggap segmen double cabin  yang dihuni beberapa merek akan semakin berkembang di Indonesia. Sebelumnya TAM sudah merilis Hilux single cabin yang mendapat respon cukup positif di kalangan konsumen. Tapi tak seperti pendahulunya, Hilux double cabin mengusung mesin diesel tipe 1KD-FTV berkapasitas 3.000 cc 4 silinder DOHC 16 valve yang bertenaga dan performa yang maksimal, Common Rail Direct Injection, Variable Nozzle turbo intercooler yang mampu menghasilkan tenaga dan performa yang tinggi sebesar 163 ps/3.400 rpm serta torsi 343 kgm /1.400–3.400 rpm. Transmisi manual 5 percepatannya didukung dengan kemampuan penggerak 4×4 (4WD). Ditambah desain eksterior yang proporsional, dinamis, dan modern serta desain interior yang mewah dan nyaman, Hilux siap untuk menjadi pusat perhatian di Indonesia.

Kendaraan yang mampu mengangkut lima orang penumpang ini sangat kuat dan tangguh di segala medan. Saat diluncurkan pada Januari 2009 lalu, varian baru Hilux 4×4 D-Cab diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan yang terbaik bagi penggemar kendaraan double cabin yang kuat, bertenaga, nyaman dan berperforma tinggi, yang akan menjadikan Hilux 4×4 D-Cab sebagai The Incredible Hilux.

Dengan penampilan yang lebih modern, Hilux D-Cab menjadi pesaing serius di kelasnya. Habitatnya pun kini tak lagi hanya di areal perkebunan atau pertambangan, tapi sudah menembus hutan beton di perkotaan. Dengan kondisi cuaca serta banyaknya genangan di musim hujan, Hilux D-cab mampu menjadi kendaraan operasional yang handal. Termasuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari. Yang pasti kita selalu mendengarkan suara konsumen. Peluangnya juga bisa dipastikan akan terus berkembang. Bahkan penjualan pada Mei 2009 mencapai angka tertinggi dibandingkan kwartal pertama 2009,” ujar Rouli Sijabat dari TAM.

Sementara itu IAMI lewat produk unggulannya Isuzu Elf yang pada tahun 2008 mampu terjual 9.06 unit atau mengalami peningkatan sebesar 71% dibanding tahun sebelumnya. Dengan kondisi krisis ekonomi sekarang ini, IAMI kini mencoba lebih realistis dengan mematok target total sebanyak 16.000 unit hingga akhir tahun 2009. Target sebesar itu merupakan pembagian 50:50 antara kendaraan komersial (truk) dan nonkommersial (Panther, D-max, Pick Up).

Total penjualan Isuzu pada tahun 2008 mencapai angka 25.325 unit. Dengan penjualan Isuzu Elf mencapai 9.096 unit. “Kita mengalami peningkatan penjualan Isuzu Elf sebesar 71% dibandingkan tahun 2007. Untuk Isuzu sendiri, rata-rata penjualan kendaraan Light Truck mencapai angka 750 unit per bulan, dengan market share 13%,” ungkap Maman Fathurrohman dari IAMI.

Melihat datanya, market share Isuzu di Jakarta pada tahun 2008 mencapai angka 22.2%. Lalu hingga April 2009, market share-nya telah meningkat menjadi 24.4%. Pada kategori empat ban (jenis truk yang banyak digunakan di kota besar), market share Isuzu telah mencapai 35.4% di tahun 2008 dan pada April 2009 telah meningkat menjadi 38.9%. Berjualan kendaraan komersial memang berbeda dengan penjualan kendaraan pribadi. Kendaraan komersial bisa dipastikan dibeli untuk kepentingan usaha pembelinya. ”Karena itulah Isuzu menempatkan diri sebagai business partner dari customernya. Kita juga selalu mementingkan kebutuhan after sales service sebagai faktor yang sangat penting bagi customer kendaraan komersial,” tambah Maman.

Hal lain yang membuatnya beda adalah apabila kendaraan komersial mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berjalan, maka bisnis mereka pun dipastikan akan ikut terhambat. Kendala-kendala pada saat perbaikan atau tidak adanya suku cadang, akan semakin memperlama terhambatnya bisness mereka. ”Kepercayaan ini yang sulit dibangun, dan tidak dalam waktu yang singkat,” ujar Maman lagi.

Sebagai pendatang baru, IBAR rupanya sudah berpatut diri dan tak muluk-muluk mematok target penjualan Foton.  Hal itu diungkapkan oleh Sales Department Head IBAR Anton Suryadi menyangkut total angka penjualannya yang baru mencapai rata-rata 140 unit /bulan. ”Dari jumlah itu, sekitar 50% diserap oleh konsumen di wilayah Jakarta dan sekitarnya,” ujar Anton Suryadi.

Mengenai target tahun 2009 ini, walau menyandang predikat pendatang baru, pihak IBAR tetap optimis dan mencanangkan akan mampu melepas 2.000 unit hingga Desember 2009. Rasa optimis itu dilihat dari semakin meningkatnya respon konsumen yang repeat order. ”Kita semakin yakin, karena dengan adanya repeat order, itu menandakan tumbuhnya loyalitas dan kepercayaan konsumen terhadap Foton,” tambahnya.

Foton bisa dibilang merupakan satu-satunya kendaraan niaga dengan harga paling terjangkau dengan fasilitas yang lengkap. Dengan harga Rp 95 Juta (on the road Jakarta), Foton sudah dilengkapi dengan berbagai fitur menarik seperti tilt steering, tilt cabin, full floating rear axle, serta mesin bertenaga 92,5 PS dengan standar EURO-2. Foton pun mampu mengangkat beban hingga tiga ton dan untuk versi mikrobusnya dapat membawa hingga 15 penumpang. Biaya operasionalnya pun diklaim lebih rendah hingga 30% dari pesaingnya.

Untuk meningkatkan layanan kepada konsumen individu maupun perusahaan, IBAR terus melakukan product improvement dan menyediakan suku cadang, terutama suku cadang fast moving di beberapa titik strategis di Jakarta untuk kemudahan operasional kendaraan konsumennya.

Mengenai ketersediaan suku cadang dari kelompok slow moving parts, Andi Suryadi mengungkapkan, truk Foton yang diimpor secara terurai dan kemudian dirakit di Jakarta ini, tak akan membuat konsumen merasa khawatir. “Seluruh kebutuhan suku cadang, termasuk slow moving parts selalu tersedia di pusat perakitan Foton yang berlokasi di Pulogadung, Jakarta,” ungkapnya.

Lalu bagaimana dengan kebutuhan light truck di Jakarta? Pangsa pasar light truck di Indonesia pada tahun 2008 sebelum terjadi krisis global, angka penjualannya mencapai 6.000-7.000 unit setiap bulannya. Namun sejak dilanda krisis, penjualan light truck pun menukik hingga 3.000-4.000 unit perbulan. Di wilayah Jakarta sendiri, permintaan Light truck di tahun 2008 rata-rata 760 unit/bulan. Pada tahun 2009 ini menurun menjadi rata-rata 425 unit/bulan. Nah, ceruk pasar inilah yang coba dibidik Toyota Hilux, Isuzu Elf, dan pendatang baru Foton.

Toyota Hilux D-cab, Isuzu Elf, dan Foton, boleh jadi mewakili ikon kendaran komersial dengan berbagai kelebihan dan keunggulan dari aspek fungsional, fitur, harga, hingga biaya operasional yang cukup realistis dengan kondisi krisis. Bahkan ke depannya, pangsa pasar di kelas light truck akan menjadi kue yang diperebutkan oleh sejumlah ATPM. Konsumen pun akan semakin leluasa menentukan pilihannya.

3 thoughts on “Merebut Loyalitas Konsumen Light Truck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s