Menghindari Dunia dari Sumber Konflik Terbesar


Studi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon

Sebuah studi bertajuk “Understanding Carbon Capture and Storage Potential in Indonesia” telah diluncurkan di Jakarta, 10 November 2009 lalu. Studi tersebut merupakan hasil kerjasama antara kelompok kerja Carbon Capture and Storage (CCS) yang terdiri atas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian Negara Lingkungan Hidup, PT PLN (Persero), Komite Nasionel Indonesia–World Energy Council (KNI-WEC), Kedutaan Besar Inggris Jakarta, International Energy Agency (IEA), the Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), Expert Group On Clean Fossil Energy (EGCFE), serta sektor swasta. Studi CCS ini secara resmi diluncurkan Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh, serta Duta Besar Inggris yang diwakili oleh Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Inggris Jakarta Matthew Rous.

Peluncuran studi ini akan mengajak para pemegang kebijakan, peneliti, praktisi industri, dan masyarakat untuk membahas dan mendiskusikan pokok-pokok hasil studi, perkembangan teknologi CCS saat ini dalam skala internasional dengan berfokus pada kebijakan, termasuk aspek-aspek teknis, lingkungan, kesadaran masyarakat akan teknologi ini dan peraturannya. Menurut Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Inggris Jakarta Matthew Rous, kelompok kerja ini telah bekerja bersama selama satu tahun sejak diselenggarakannya Pelatihan CCS Nasional I yang berlangsung pada bulan Oktober 2008 lalu. Temuan-temuan awal studi ini menjelaskan CCS sebagai pilihan yang memungkinkan bagi Indonesia, mengingat beragamnya sumber-sumber emisi di Indonesia seperti gas asap, industri produk sampingan, pembangkit listrik, serta tempat penyimpanan geologis terpilih. Selain rancangan teknis proyek CCS di Indonesia, diperlukan juga mengembangkan sebuah kerangka regulasi nasional yang komprehensif dan mengumpulkan dukungan dari komunitas internasional untuk mempercepat pembelajaran teknologi implementasi demi mengurangi emisi dan menjaga ketahanan energi.

Di Indonesia, wilayah Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan merupakan kawasan yang sangat potensial dalam pengembangan CCS di Indonesia. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh, di kedua kawasan tersebut terdapat banyak reservoir kosong yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan proyek CCS. “Keberadaan reservoar-reservoar kosong di Kalsel dan Sumsel, berada di dekat aktivitas pertambangan migas dan pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang berpotensi menghasilkan karbondioksida dalam jumlah yang cukup besar,” ujar Darwin Zahedy Saleh.

Selain kedua kawasan tersebut, lanjut Darwin, karakter yang hampir sama juga dimiliki Kepulauan Natuna, sekaligus sebagai wilayah yang cukup menjanjikan bagi pengembangan proyek CCS. Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dengan 3.000 ilmuwan yang tergabung di dalamnya yang meraih nobel perdamaian pada tahun 2007, CCS memiliki potensi untuk membantu mengurangi separuh dari total emisi yang dapat mendukung stabilnya tingkat CO2 secara global pada akhir abad 21 ini sekaligus menghindari dampak perubahan iklim yang lebih ekstrim dari sekarang. Penangkapan dan Penyimpanan Karbon yang lebih dikenal dengan CCS tersebut merupakan sebuah proses pemisahan CO2 yang terintegrasi dan diterapkan pada pembangkit industri seperti pembangkit listrik bertenaga batubara, pembangkit pemroses minyak dan gas, dan sebagainya, yang dikirimkan ke tempat penyimpanan, dan diinjeksi ke dalam formasi di bawah tanah.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2005 lalu tercatat hampir 293 juta ton emisi CO2 yang dihasilkan dari sektor energi nasional. Dari sektor ini pula, teridentifikasi akan tercipta 1.150 juta ton CO2 pada tahun 2025. Harus diakui, hingga kini belum ditemukan solusi terbaik yang dapat membatasi emisi CO2. Hal itu lebih banyak dipicu oleh peningkatan permintaan energi, serta ketergantungan dunia terhadap energi fosil yang terus saja berlanjut. Nah, di sinilah letak peran CCS yang akan menawarkan potensi yang baik dalam upaya mengurangi emisi CO2 dari berbagai sumber penghasil terbesar seperti pembangkit listrik bertenaga batubara serta pengolah minyak dan gas di Indonesia. Tantangan utama dalam penyebaran sistem ini diperkirakan akan muncul dari sejumlah aspek nonteknis seperti kebijakan dan berbagai elemen komersial. Walau begitu, upaya-upaya semacam ini perlu mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, melakukan upaya efektif secara kongkret untuk menghindarkan dunia dari bencana lingkungan yang dapat menjadi sumber konflik terbesar pada masa mendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s