Kompak Menjadi Pemandu Sorak Nasionalisme


Iwan Esjepe dan Indah Esjepe. Pasangan suami istri ini kompak menjadi pemandu sorak melalui INDONESIA BERTINDAK, sebuah gerakan yang mengajak untuk cinta dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Walau sempat dipandang sebelah mata oleh birokrat dan sempat bertanya pada diri sendiri, namun berkat dukungan dari berbagai kalangan dekatnya, Iwan dan Indah terus bergerak. Berkampanye. Ya, Iwan (42 tahun) dan Indah (38 tahun) bahu membahu berkampanye bersama siapa saja untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Politikus, pengusaha, selebritis, mahasiswa, penjahit, sampai tukang becak dirangkulnya. Pernah suatu kali Iwan mendatangi penjahit di salah satu sudut Pasar Tanah Abang untuk membordir salah satu tema kampanyenya. Ketika penjahit bertanya dan Iwan menjelaskan, kontan penjahit tersebut menolak meminta bayaran sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsanya. “Mungkin tak ada yang tahu, tapi saya merasa ikut berjuang untuk bangsa ini,” ujar Iwan menirukan ucapan sang penjahit. Hampir seluruh kota besar di Indonesia sudah dijelajahi Iwan dan Indah dengan INDONESIA BERTINDAK-nya, bahkan kini sudah merambah ke lima benua.

Indonesia Bertindak

Saat terjadi musibah tsunami di Aceh, 26 Desember 2004, Iwan, Indah, dan anak mereka, Ikyu, sedang berlibur di Bali. Info tsunami yang diterima Iwan via pesan singkat dari kerabatnya di Australia saat itu, langsung menggugah dan menyentuh nuraninya untuk membantu. Begitu pula ketika terjadi gempa tektonik yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, 27 Mei 2006, Iwan dan Indah berupaya membantu dengan cara sederhana dan mengingatkan nasib sesama dengan menjual kaos oblong sederhana bersablon “Eling Sedulur” yang seluruh keuntungannya mereka sumbangkan bagi korban bencana. Indah masih ingat ketika mendesain kaos “Eling Sedulur” yang hanya membutuhkan 10 menit dan menjadi bagian dari embrio gerakan mereka.  Itulah cikal-bakal berdirinya INDONESIA BERTINDAK yang memunculkan kampanye provokatif TRAVEL WARNING: INDONESIA DANGEROUSLY BEAUTIFUL. Iwan memang mengakui bahwa Indonesia, seperti  juga dengan berbagai negara lain, bukanlah sebagai tempat yang benar-benar 100% aman. Namun demikian, Iwan dan Indah pun sepakat bahwa gerakan yang mereka cetuskan adalah untuk membuktikan bahwa Indonesia tetap memiliki kecantikan yang luar biasa yang patut dikunjungi siapa pun.

“Kini bukan lagi eranya “bambu kuning” untuk berjuang. Penjahit atau tukang becak pun ikut berjuang dengan caranya dan nasionalismenya mungkin lebih tinggi daripada politikus atau wakil rakyat yang duduk di DPR,” ujar Iwan. Menurut Iwan, ada tiga hal yang mendasari gerakan INDONESIA BERTINDAK, yaitu menambah rasa cinta, membangun rakyat untuk introspeksi, dan membela bangsa secara eksternal. Dengan dasar itulah INDONESIA BERTINDAK menggelar sejumlah event sepeti “Ayo Bangun Indonesia” dalam ranggka menyambut 100 tahun Kebangkitan Nasional pada tahun 2008, Kemah Merah Putih setiap Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Kemah Pelangi sebagai sarana penyegaran dan tukar pikiran, lomba poster propaganda pariwisata Indonesia, termasuk berbagai bentuk kampanye di sejumlah tempat dan media. Indah menambahkan, INDONESIA BERTINDAK juga akan melebarkan sayap melalui kampanye sebutir telur tiap hari mengingat Indonesia merupakan negara dengan asupan protein terendah di Asia Tenggara.

Indonesia Bertindak di tvone

Iwan Esjepe sendiri kini aktif sebagai Executive Creative Director di IDEASPHERE dan aktif dalam berbagai agenda dunia periklanan, termasuk juri dalam berbagai ajang lomba iklan, serta juri Anugerah Kebudayaan 2005, 2006, dan 2007. Berlatar belakang pendidikan jurnalistik di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Iwan kerap menulis untuk majalah remaja Hai dan Femina. Namun sejak tahun 1992, Iwan mulai menulis naskah iklan dan sempat bergabung di beberapa agensi multinasional. Sejumlah kota di Indonesia dan mancanegara yang pernah dikunjunginya membuatnya lebih matang berkomunikasi dengan orang lain melalui berbagai media. Sementara Indah yang sejak kecil hobi membaca dan menggambar, menyelesaikan studinya di desain grafis Universitas Trisakti. Bidang periklanan pun pernah digelutinya saat bergabung di Grey Indonesia, hingga akhirnya memutuskan menjadi desainer grafis independen dengan alasan tak cocok dengan ritme jam kantor. Di rumahnya di kawasan Bintaro, aktivitas Indah sempat menjadi sorotan para tetangganya lantaran Indah selalu berkutat dengan desain, dan bahkan alat sablon yang selalu siap menjadi teman perjuangannya di INDONESIA BERTINDAK. “Alhamdulillah, setelah mereka mengetahui aktivitas kami, akhirnya mereka ikut mendukung dan menyemangati,” ujar Indah.

Ada satu hal yang membuat Iwan, dan juga Indah merasa prihatin, yaitu semakin maraknya budaya saling curiga dalam kehidupan masyarakat Indonesia. “Saya prihatin ketika sebagian besar masyarakat Indonesia lebih melihat siapa dan bukan apa yang diucapkan atau dilakukan,” ungkap Iwan. Demikian pula ketika Iwan dan Indah melihat “konfrontasi” antara Indonesia dan Malaysia yang menurut mereka sangat tak mungkin mendukung untuk “mengganyang” atau meng-counter Malaysia. Iwan lebih memilih kampanye lewat kaos yang didesain Indah dengan tulisan “Kibarkan Merah Putih di Kuala Lumpur” dan “Saya Kapok Melancong ke Malaysia”. Artinya, Iwan lebih mengedepankan prestasi daripada konfrontasi. Dari situ pula Iwan mencoba mengajak semua elemen bangsa Indonesia untuk bersama-sama menghindari nasionalisme yang sempit.

Untuk itulah Iwan merasa penting bahwa bangsa Indonesia sangat membutuhkan kehadiran Departemen Propaganda atau Departemen Penerangan untuk memicu kekompakan. Di lain sisi, Iwan juga sangat berharap sektor pendidikan mendapat perhatian serius untuk memerangi tarik-menarik konsumerisme yang setiap jengkal selalu membuntuti langkah kita dengan berjuta iming-iming.

Iwan dan Indah mengakui bahwa berbagai upaya yang dilakukan melalui INDONESIA BERTINDAK hanyalah langkah kecil yang sebenarnya juga bisa dilakukan oleh siapa pun. Begitu pula dengan keberadaan Provotoko di kawasan Kemang Timur sebagai toko propaganda pro Indonesia pertama di Indonesia yang kerap dikunjungi wisatawan asing atau ekspatriat. Menurut Iwan dan juga Indah, produk yang ada di Provotoko setidaknya bisa mencerminkan sikap bangsa ini walau hanya berupa cindera mata seperti kaos atau pernak-pernik lainnya. Filosofi “pasir” pun diadaptasi Iwan dan Indah untuk mengajak siapa pun bergabung memberikan spirit bagi bangsa Indonesia. Iwan dan Indah pun rela jika dijuluki sebagai pemandu sorak, “kompor”, agen provokator, atau sejenisnya. Dan yang pasti, menurut Iwan, INDONESIA BERTINDAK bukan penjual kaos, melainkan menawarkan semangat nasionalisme. Kaos bagi Iwan dan Indah hanyalah alat propaganda. Dan pemikiran Iwan dan Indah memang membutuhkan begitu banyak dukungan. Setidaknya, gerakan atau hal-hal yang sudah dilakukan oleh Iwan dan Indah, diakui atau tidak, telah memberikan inspirasi bagi siapa saja yang mengaku menjadi komponen bangsa Indonesia. Itu saja dulu, boleh kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s